Demi uang, Keysa setuju berpura-pura menjadi kekasih pria kaya raya. Namun, jebakan ini seharusnya untuk sahabatnya. Kini, ia terperangkap di bawah kendali pria itu. Keysa harus memainkan peran yang bukan miliknya, sebelum rahasia pertukaran identitas ini menghancurkan mereka semua..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon marwa18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 PENYAMARAN YANG MEMATIKAN
eksperimen
"SEMPURNA” seru Dila, melompat mundur dengan ekspresi puas yang licik, matanya berkilauan kaya seniman gila yang baru aja menyelesaikan mahakarya terbesarnya.
Keysa cuma mampu menelan ludah,dengan susah payah melihat bayangan dirinya di cermin kamar mandi kecil Dila. Wajah yang dipantulkan lagi itu bukanlah dirinya. Itu adalah hasil dari sebuah eksperimen kegagalan yang benar- benar mengerikan.
Dila udah melarangnya melihat cermin selama dua jam penuh, menjanjikan penampilan yang akan menyelesaikan semua masalah perjodohan ini dengan cepat. Keysa, yang panik karena harus bertemu dengan pria asing kaya raya di pertemuan privat yang diatur oleh orang tuanya, cuma bisa pasrah. Dila, sahabat karibnya, bersumpah bahwa ini adalah satu-satunya jalan keluar. Tujuannya sederhana: membuat sang calon tunangan kabur tanpa perlu sepatah kata pun.
Aku cuma mau pastiin kalau pria itu, siapapun dia,bakal lihat kamu dan langsung berpikir, "Enggak, terima kasih" jelas Dila sebelumnya dengan nada tegas, mengoleskan sesuatu yang Keysa curigai adalah abu rokok palsu di pipi Keysa.
Dan Dila berhasil. Sangat berhasil.
Rambut hitam gelap Keysa, yang biasanya dia di sisir rapi dan di ikat rambut ketat saat bekerja, sekarang di urai gak beraturan, beberapa helai diikat asal-asalan dengan karet gelang bekas, memberikan kesan kaya sarang burung yang ditinggalkan. Riasan wajah, kalau itu bisa disebut riasan adalah perpaduan warna noda abu-abu gelap di bawah mata, bedak tebal yang retak di dahi, dan lipstik merah cerah yang sengaja dioleskan melenceng dari garis bibir, membuatnya terlihat kaya badut yang baru aja bertengkar di tempat sampah.
Pakaiannya gak kalah sangat buruk: kemeja longgar yang terlihat udah usang dan bernoda kecokelatan yang gak ada bersihnya, ditambah dengan celana panjang kebesaran yang digulung . Keysa benar-benar terlihat kumuh, gak rapi, acak-acakan, seolah dia baru aja keluar dari mimpi buruk yang paling menjijikkan.
Jantung Keysa berdebar gak karuan.
"Dil, ini aku kaya orang gila. Aku bisa ditangkap keamanan" bisiknya, suaranya tercekat.
"Bagus! Itu tujuannya! Ingat, kamu harus berakting meyakinkan. Tunjukkan kalau kamu sama sekali gak berhasrat pada hartanya, atau dirinya. Tunjukkan kalau kamu adalah bencana alam yang harus dihindari” Dila memberinya tepukan keras kaya lagi di punggung.
“Sekarang, pergi! Dan pastikan perjodohan ini batal sebelum hidangan penutup disana disajikan!”
Keysa menarik napas gemetar.
Misi: Menyelamatkan diri dari perjodohan dengan cara yang paling memalukan. Dia mengangguk pasrah dan bergegas menuju lokasi pertemuan yang udah diatur, sebuah restoran di kawasan bisnis elit di sebuah kota besar.
Sementara itu, di lantai teratas restoran mewah yang berdekorasi perunggu dan marmer Italia "Wira" yaitu nama pria yang akan bertemu dengan Dila lagi nunggu dengan kesabaran yang hampir habis.
dia duduk di ruang pertemuan privat yang mewah,yang diberi aroma harum dan ketenangan yang mahal.
"Wira" CEO muda dari sebuah perusahaan terkenal, dia dikenal karena ketelitian, kerapihan, dan kesempurnaannya yang hampir gak ada cela. Penampilannya hari ini adalah cerminan dari reputasinya: setelan jas biru laut yang dibuat khusus, dasi sutra berkualitas tinggi, dan jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangannya. Wira adalah definisi sempurna dari pria yang diidam-idamkan
: tampan, berkuasa, dan sangat elegan.
dia benci perjodohan ini. dia benci dipaksa ketemu sama wanita yang menurut ibunya cantik, rapi, cerdas, dan pasti sangat elegan’ wira cuma datang untuk membatalkan formalitas ini. dia yakin wanita yang dipilihkan orang tuanya pasti terlalu sempurna, terlalu patuh, dan terlalu membosankan.
lamunannya Terganggu sama ketukan pintu yang pelan. Seorang pelayan dengan setelan rapi langsung membukakan pintu, dan Wira bersiap memasang wajah profesionalnya yang dingin kaya es.
"Nona Dila udah tiba, tuan" lapor pelayan itu dengan nada ramah.
Wira mengangguk, tapi senyum formal yang baru aja dia siapkan langsung hilang tanpa jejak, diganti sama ekspresi horor yang terlihat terkejut, dan jijik yang gak bisa disembunyikannya.
Sosok langkah yang masuk ke dalam ruangan itu adalah kebalikan mutlak dari segalanya.
Keysa, dengan langkah yang sangat kaku dan mata melebar penuh ketakutan, melangkah masuk. dia langsung berhenti di depan pintu, lihat sekeliling ruangan yang terlalu mewah dan mengintimidasi.
Wira melihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan matanya menyipit penuh kebingungan. Wanita di hadapannya memiliki pakaian bernoda, rambut kusut yang terlihat belum di sisir selama seminggu, dan terlihat mata yang terlalu lebar, hampir gila. seolah dia baru aja melarikan diri dari sebuah kejadian yang buat dia trauma.
Wira menyandarkan punggung ke kursi, tatapannya dingin. Dalam hati dia bilang
"Apa ini? kenapa ada gelandangan di sini?
"kamu yakin tempat ini benar, Nona?" tanya wira suaranya pelan dan tajam, ditujukan kepada pelayan.
Keysa, yang mendengar pertanyaan itu, sontak menoleh ke belakang, ke arah pelayan. dia memastikan kembali
"Apakah ini tempat pertemuan privat untuk Wira?"
Pelayan itu, dengan ekspresi tenang,dan profesional, membenarkan.
"maaf nona apa maksud kamu tuan Aksa ?
Kesya terdiam sejenak,menelan ludah.dia cuma mampu menjawab dan ragu
"Mungkin iya"jawab kesya.
Pelayan itu mengangguk singkat
"Baik,tuan aksa udah nunggu kamu"
Mendengar informasi itu, Keysa merasa darahnya surut seketika.dia tau dia udah ada di tempat yang tepat untuk pertemuan itu.tapi,dia di landa keheranan yang mendalam setelah mendengar nama tersebut.
"Kenapa namanya Aksa"?batinnya,
kesya merasa nama itu sangat gak asing di telinganya,nama familiar itu mengingatkan ingatan yang samar dan mengganggu.tapi dia langsung menepisnya.dia memaksa dirinya untuk berfikir positif.
"Ah, ini pasti cuma kesamaan nama belaka.gak mungkin"pikir kesya,berusaha menenangkan gejolak di hatinya.
kesya memutar tubuhnya perlahan kembali mengahadap pria yang duduk di meja . Matanya, yang sebelumnya di penuhi kecemasan,dan keheranan,sekarang melebar karena merasakan Syok yang jauh lebih besar dari sebuah guncangan yang gak pernah dia duga.
Saat kesya benar-benar menoleh ke arah pria itu .dia melihat:
Pria yang duduk disana,pria yang nunggu di jodohkan dengannya,pria yang melihatnya dengan ekspresi Jijik yang mendalam.
Itu adalah "Aksa Perwira"
CEO-nya sendiri. Atasannya yang paling dihormati sekaligus ditakuti di kantor Swastamita Karya.
Keysa merasa kaya mati berdiri. dia syok, kaku, dan sekujur tubuhnya langsung terasa dingin.dia membayangkan skenario terburuk: Aksa mengenalinya, Keysa dipecat dengan enggak hormat karena mempermainkan acara formalnya, dan dia akan di-blacklist dari dunia kerja seumur hidup.
tapi, Aksa gak menunjukkan tanda-tanda pengenalan. Matanya cuma menunjukkan kebingungan dan keheranan .
Dila benar, Riasan dan penyamaran ini udah berhasil menyembunyikan identitas aslinya Keysa si karyawan,dari mata sang CEO.
"Aksa merenung. Tatapannya dingin.
Orang tua macam apa yang ingin menjodohkan putra mereka sama wanita yang kayanya tersesat dan putus asa mencari makanan? Atau mungkin ini adalah semacam tes ekstrim dari Ayah? Aksa bergidik. dia gak bisa menahan dirinya dari pikiran bahwa wanita yang duduk di depannya ini benar-benar gila yang entah gimana bisa lolos masuk ke gedung pertemuan ini.
Tepat pada puncak kepanikan yang tertekan,ponsel di saku kesya bergetar menampilkan nama Dila . Keysa langsung mengangkatnya, menempelkannya ke telinga sambil tetap menunduk, mati-matian menghindari kontak mata dengan Aksa.
"Keysa! Aku baru cek lagi nama belakangnya. Perwira.
Wira itu adalah Aksa Perwira! Bos kamu!"bisikan panik terdengar memecah keheningan
"Ya tuhan, aku sangat takut. Kamu harus pergi sekarang! Keluar dari sana sebelum dia mengenali kamu! sebelum kamu dipecat!"
Keysa menggigit bibirnya sampai terasa perih. dia mau banget buat jawab, menjelaskan kalau itu udah terlambat, kalau Aksa udah melihatnya sama tatapan meremehkan.tapi,sebelum dia sempat berucap sepatah kata pun,
Dila menjerit kecil.
"Sial! Baterai habis! Keysa, cepat kab..
Tut.tut.tut Sambungan terputus.
Keysa merasakan keputusan yang luar biasa yang menyergapnya ,dia merasa terkepung dan terjebak.dikelilingi oleh kemewahan ruangan yang menyesakkan,tatapan dingin atasannya, dan penyamaran konyolnya.
Aksa yang Dingin dan Keysa yang Kaku
Aksa berdeham keras, menarik perhatian Keysa yang masih menunduk.
"Silakan duduk" perintah Aksa, suaranya kembali dikuasai profesionalitas yang dingin, seolah dia lagi nyuruh seorang pekerja kantor,bukan calon tunangan. dia memutuskan untuk menghadapinya. Semakin cepat ini berakhir, semakin baik.
Keysa melangkah dengan kaku,dia langsung duduk di pinggir kursi .punggungnya tegak dan pandangannya terpaku pada lantai marmer yang mengkilap .dia sama sekali gak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Aksa.
Aksa menyilangkan tangannya di dada,tatapannya tajam "Baik. Karena tampaknya kita udah membuang banyak waktu" katanya dengan nada tajam yang menusuk.
"Saya Aksa Perwira, CEO dari perusahaan Swastamita Karya"
Keysa tersentak hebat. Wira. Benar, Dila memang menyebutkan nama itu ,tapi Keysa terlalu merasakan kepanikan untuk mencocokkan nama Wira dengan nama belakang Aksa. Sekali lagi, dia merasakan badannya lemas yang merayap di sekujur tubuhnya.
Kesya cuma bisa menjawab dengan suara pelan yang hampir dan enggak terdengar. Aksa harus beringsut sedikit ke depan dan memiringkan kepala untuk bisa menangkap kata-katanya.
"aku ingin memastikan, Nona"Tanya Aksa
suaranya dipenuhi ketidakpercayaan .
"kamu Dila? Putri dari teman baik Ayahku?" tanya Aksa.
Dalam keadaan panik hebat dan tanpa rencana cadangan sedikitpun, Keysa cuma punya satu pilihan konyol. dia harus menyelesaikan sandiwara ini sampai beres.
"Ya" jawab Keysa, suaranya bergetar hebat.
Aksa menghela napas panjang, ekspresi kekecewaan bercampur ekspresi jijik kembali terlihat jelas. "Nona Dila. aku gak tahu harus berkata apa tentang hal ini. Kita akan membahas kemungkinan masa depan soal pernikahan. Tapi, apa kamu gak sempat pergi ke salon? Atau seenggaknya, berdandan rapi, menyisir rambut kamu, sebelum menemui aku?"
Keysa, yang terbiasa menerima pujian atas kerapiannya di kantor, merasa panas dingin. Hinaan aksa itu, meskipun ditujukan pada 'Dila' yang kumuh, terasa seperti cambukan langsung ke harga dirinya. dia cuma memilih diam, memilih untuk menelan rasa malu, daripada mengungkapkan identitas aslinya yang pasti akan berujung pada pemecatan.
tapi,Di tengah keheningan yang menekan itu, Keysa tiba-tiba merasa cukup. Cukup dengan rasa malu ini, cukup dengan ketakutan dipecat, dan cukup dengan sandiwara konyol ini. Aksa harus segera pergi, dan perjodohan ini harus berakhir sekarang juga. Rasa panik yang membuatnya takut memberinya dorongan keberanian yang nekat dan gak diduga.
kesya mendongak cepat, cuma sepersekian detik ia berani menatap Aksa, sebelum ketakutan membuatnya langsung balik menunduk ke arah lututnya.
"Mohon maaf," kata Keysa spontan, dengan suara yang terdengar tegar dan tegas, mengejutkan dirinya sendiri dan jelas ,mengejutkan Aksa.
"kayanya aku gak akan bisa melanjutkan perjodohan ini dengan kamu"
Keysa nunggu.dia mengharapkan ledakan amarah, cibiran tajam, atau perintah dingin untuk cepat meninggalkan ruangan itu. dia bahkan udah membayangkan sanksi dan hukuman disiplin di kantor esok hari.
tapi, Aksa gak marah.dia justru tersenyum tipis. Senyum yang penuh ledekan penuh kecewa dan senyum yang hampir gak terlihat.
"Menurut kamu aku datang ke sini cuma untuk menemui kamu ,nona?" tanya Aksa, nadanya sangat menghina.
"kamu pikir aku akan setuju gitu aja sama perjodohan konyol ini?aku yang harus membatalkan rapat penting yang bernilai,cuma untuk duduk disini dan bertemu dengan kamu?yang benar aja!"
Aksa melanjutkan, suaranya kini menajam. "aku pun sama. aku sama sekali gak tertarik untuk melanjutkan urusan perjodohan ini. aku udah memiliki pandangan dan kriteria yang jauh, sangat jauh, berbeda dari apa yang aku lihat sekarang. kayanya, kita emang udah sepakat buat membatalkan perjodohan ini"
Kemudian, Aksa mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tatapannya menjadi tajam dan tegas.
"Dan aku minta satu hal ,jangan pernah bertemu dengan aku lagi.gak di mana pun."
Napas Keysa tertahan. Bukannya mendapat hukuman, dia justru mendapat tiket keluar yang dia impikan. Misi berhasil! Rasa lega luar biasa membuncah di dalam dirinya.
Kesya merasakan rasa kelegaan yang luar biasa, meskipun bercampur sama sisa rasa sakit dari penghinaan yang baru aja dia terima. Keysa cuma mengangguk kecil, menundukkan kepala semakin dalam, memastikan Aksa gak akan sedikit pun melihat asli wajahnya yang familiar dari kantor. dia harus sangat berhati-hati agar Aksa gak melihat pergerakan matanya, atau bentuk wajahnya yang asli. kalau Aksa sampai mengetahui bahwa dia adalah Keysa, bawahannya, pemecatan adalah harga mati yang harus dia bayar.
Keysa nunggu Aksa pergi, terperangkap dan gak berdaya dalam penyamaran kumuhnya.
Aksa bangkit berdiri, merapikan jasnya seolah kehadirannya di ruangan itu dan kehadiran kesya udah menodai kesempurnaan setelan mahalnya. dia bahkan gak usah repot-repot menoleh mengucapkan perpisahan.
"Pelayan akan mengantar kamu keluar" ujar Aksa. datar dan singkat, lalu dia langsung berbalik dan berjalan menuju pintu lain di ruangan itu, pintu yang terhubung langsung menuju ke lift pribadinya.
Dalam beberapa detik, Aksa hilang sepenuhnya, meninggalkan Keysa sendirian dan berdiri kaku di kursi mewah.dia seperti tenggelam dalam kelegaan dan rasa malu yang mendalam. Perjodohan itu emang batal, sesuai kemauan Dila, tapi harga yang dia bayar sangat mahal
penghinaan langsung dari CEO-nya sendiri, yang sekarang yakin kalau Keysa adalah seorang wanita kumuh, gak waras dan sama sekali enggak diinginkan.
Keysa nunggu beberapa saat lagi, memastikan Aksa benar-benar hilang dari pandangan. Begitu dia yakin, dia langsung bangkit. dia harus cepat melarikan diri dari tempat itu sebelum Aksa mengubah pikiran, atau lebih buruk lagi, sebelum Aksa tanpa sengaja melihatnya lagi dan menyadari penyamarannya.
Keysa bergegas keluar, secepat yang dia bisa hilang dari keramaian di antara keramaian, sambil memeluk erat rahasia identitasnya yang hampir terbongkar .