Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menata Masa Depan
Ninda dan Sunak sedang sibuk-sibuknya, seharian mereka barada di Bk city untuk mengerjakan tugas mereka.
BK City adalah laboratorium untuk anak fakultas Arsitektur dan Binaaan lingkungan.
"Kamu sudah membuat designnya?" tanya Sunak sambil mendekat ke arah Ninda.
"Sudah coba lihat ini, bagaimana menurut mu?" ucap Ninda sambil memberikan hasil designnya. Sunak tampak memperhatikan hasil design Ninda dengan seksama.
"Kau memang seniman yang hebat, tapi sebagai arsitek kita bukan hanya membangun bangunan indah perhatikan fungsinya"
Ninda terdiam kemudian merenung memperhatikan designnya. dia mendengarkan saran Sunak, karena Sunak bisa mengerjakan projek itu dengan Nilai sempurna.
"Pikirkan Isu yang membuat mu mendesign bangunan itu," kata Sunak lagi.
"Isu maksud mu?" tanya Ninda bingung.
"Ya ada masalah yang bisa kau pecahkan dari lingkungan, dan fungsinya," Jawab Sunak sedikit menjelaskan. Ninda mengerti apa yang di maksud Sunak, hanya saja Ninda bingung harus mulai dari mana untuk mengerjakan projek itu.
"Ini hanya pendapat ku saja, dengan design itu kau tidak akan lulus mata kuliah ini," ungkap Sunak sambil memberikan design itu kembali kepada Ninda.
"Jadi menurut mu begitu?" Tanya Ninda. Dia mendengarkan saran Sunak yang sudah menyelesaikan kelas itu pada semester lalu.
"Ya, perhatikan semua faktor yang ada, dengan budget dan fasilitas seadanya kamu harus membuat karya yang bagus dan memiliki nilai fungsional,"
"Dengan design mu jelas itu nggak masuk budget," Ungkap Sunak lagi.
"Aku bisa lulus dengan nilai sangat baik, di karena merancang rumah murah yang cocok untuk kawasan padat di New Delhi"
"Sebetulnya di tempat asalku juga memiliki isu yang sama," tiba-tiba Ninda mendapat inspirasi.
"Secara budaya pasti berbeda karena design itu harus besinergi dengan lingkungan dan alam sekitar," ungkap Sunak lagi mencoba menjelaskan garis besarnya.
Ninda manggut-manggut sambil meriset berbagai sumber dari Internet, sedang Sunak sedang mengejarkan projek berikutnya.
Ninda sangat bersyukur karena Sunak mau menemani dan membantu Ninda sampai larut malam.
"Jessica mana?" tanya Sunak mulai teringat kepada Jesica.
Ninda mengangkat bahunya, sambil fokus kembali pada laptopnya.
"Dia belum mengerjakan sama sekali projek ini," ungkap Sunak sedikit kuatir.
"Tak usah memikirkan Jessica, walaupun dia di Do itu tidak akan membuat hidupnya sulit," celetuk Ninda di ikuti senyuman Sunak.
"Yang harus kau kuatirkan adalah aku, kalau nilai ku jelek, dan beasiswa ku di cabut masa depanku pun ikut hancur," ungkap Ninda lagi.
"Makannya jangan pacaran terus dong," ucap Sunak membuat Ninda menoleh ke arahnya mereka pun saling melepar tawa.
Ninda mengerjakan tugasnya sampai larut malam sekali, setelah beberapa jam akhirnya tugas Ninda selesai juga. Mereka berdua bisa bernafas dengan lega sekarang.
Awalnya Ninda dan Sunak mau langsung pulang, namun mereka di hampiri oleh seorang senior.
"Hi, kalian mau bergabung ke pub?" tanya Anna sambil menghampiri mereka berdua. Sunak dan Ninda tampak sungkan menolak ajakan Anna.
"Ok, baik lah" jawab Sunak di ikuti anggukan Ninda.
kemudian dua orang senior yang lain yaitu Sean dan Mark bergabung dengan mereka.
Sebetulnya Pub yang di maksud masih ada di lingkungan kampus, Sunak dan Ninda harus bisa berbaur karena tugas projek yang mereka kerjakan kadang harus melibatkan orang lain secara tim ada kalanya mereka butuh bantuan senior begitu pun sebaliknya.
Mereka duduk sambil memesan bir, kebetulan pub lagi ramai karena sedang final UEFA antara Belanda vs German.
"Percuma kalian pulang pasti kalian nggak bisa lewat," ungkap Sean sambil tersenyum ke arah Ninda.Ninda balas tersenyum menanggapi Sean.
"Kau Ninda bukan?" kata Sean memastikan, Ninda mengangguk menanggapi seraya berkata.
"Ya,Aku Ninda," sahut Ninda masih tersenyum.
Sunak hanya melirik ke arah Ninda sambil menaikan alis matanya, memberikan isyarat kalau seniornya itu lagi pedekate.
"kalian anak beasiswa internasional juga kan?" tanya Mark.
"Iya kami anak beasiswa Internasional, kelihatan dari tampang kita bukan orang kaya, aku dari India, dan Ninda dari indonesia" mereka semua tertawa kecil mendengar celotehan Sunak.
"Indonesia?" Anna tampak asing dengan nama negara indonesia.
"Bali," ucap Ninda menjelaskan.
"Oya, Bali," kata Anna lagi mulai sadar.
"Aku tau Indonesia, kebanyakan orang Belanda tau indonesia," ucap Sean sambil mesem ke arah Ninda. tatapan Sean terus tertuju ke arah Ninda.
"Aku dari Irlandia aku baru mendengarnya," Sahut mark.
"Aku juga dari Francis, aku tau Bali tapi aku baru dengar Indonesia," Sambung Anna.
Ninda hanya mesem mendengar tanggapan mereka, sedang Sunak hanya bengong saja mendengar perbicangan itu, tak ada satupun yang bertanyakan negaranya di pastikan orang eropa sangat tau India karena banyak sekali imigran India di eropa.
Mereka masih berbincang-bincang karena final UEFA masih setengah jam lagi, mereka beruntung bisa mendapatkan meja di pub itu. Sedang teman-teman di fakultas ada yang sampai memasang infocus di dalam kelas.
Di sela perbincangan yang hangat, tiba-tiba ponsel Ninda bergetar Ninda kemudian mengambil ponselnya dia menatap layar ponsel itu, terlihat Noah menghubunginya.
"Ninda kau masih belum pulang?" terdengar suara Noah dari ponsel Ninda.
"Aku di pub fakultas, lagi nonton final UEFA sama temen-temen kampus," sahut Ninda menjelaskan.
"Ada cowoknya?" tanya Noah, Ninda terdiam sejenak.
"Ada Sunak" Jawab Ninda cepat.
"Ada yang lain?" tanya Noah lagi. Ninda tiba-tiba ngebleng dari pada dia harus malu karena di samperin Noah akhirnya dia memilih untuk pura-pura nggak denger.
"Noah, hallo aku tak bisa mendengar mu, hallo," kata Ninda pelan pura-pura. dan sambungan telpon itu terputus. Sunak yang melihat tingkah Ninda kemudian tertawa.
Sean, Anna dan Mark sontak menoleh heran melihat reaksi Sunak.
"Ada apa?" tanya Anna penasaran.
"Ninda di cariin pacarnya" celetuk Sunak masih tertawa Sontak membuat Sean penasaran.
"kau punya pacar?" tanya Sean kaget menatap ke arah Ninda.
"hm, iya" sahut Ninda tersenyum ke arah Sean.
"Hebat aku bahkan tak punya waktu untuk bertemu perempuan," ungkap Mark wajah tampak lemas.
"Trus aku ini apa." Celetuk Anna
"Kau bukan tak punya waktu, hanya saja tidak ada perempuan yang mau kepada mu," celetuk Anna lagi di ikuti tawa Sunak, Sean, dan Ninda.
"Kalau Ninda cantik pasti banyak yang deketin," ucap Sean sambil meneguk birnya. kemudian Mark berdehem Anna pun melakukan hal yang sama.
"Nggak ada, kebetulan memang pacar ku suka aja sama aku," ungkap Ninda sedikit humble.
"Dia tuh udah lama merhatiin kamu tau," celetuk Anna sambil tersenyum ke arah Sean. kemudian Sean menatap Ninda.
"Tapi dia nggak pernah berani ngajak kamu kenalan," kata Anna lagi. Sean masih tersenyum ke arah Ninda.
"kita sering di kelas yang sama," ungkap Sean sambil menatap Ninda dengan sorot mata yang tajam.
"Benarkah, " ungkap Ninda kaget.
Pasalnya Ninda tidak pernah melihat Sean sebelumnya. Sean hanya tersenyum mendengar ucapan Ninda,.
"Lain kali kalau kita satu kelas sapa aku," ungkap Sunak sambil mengangkat gelasnya.
"Ya tentu," sahut Anna.
"Mungkin kita bisa satu kelompok kalau ada projek, " celetuk Mark.
Jelas para senior itu tau kalau Sunak jenius, tentu akan sengat menguntungkan kalau mereka satu tim dengan Sunak.
"Apa kau mengambil slot lebih banyak tahun ini Sunak," tanya Anna.
"sepertinya iya," sahut Sunak singkat.
"Kalau Ninda?" tanya Sean, yang lain mulai berdehem siap menggoda mereka.
"Aku mengambil tambahan tapi tidak sebanyak Sunak," sahut Ninda
"Kalau kau butuh partner belajar kau bisa hubungi aku," Anna dan Mark mulai ketawa kecil melihat Sean yang ugal-ugalan mendekati Ninda.
"Iya, klo Sunak sudah tidak mau membantuku mungkin akau akan menghubungi mu," sahut Ninda di tanggapi dengan bercadaan oleh teman-temannya.
"Hmm, kamu memang pintar memilih partner belajar," Ungkap Sean di ikuti tawa teman-temannya yang lain.