NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Labirin Memori dan Jantung Navasari

Tanah di bawah fondasi mercusuar Navasari ternyata tidak sedingin yang Elian bayangkan dalam mimpi-mimpi buruknya selama ini. Alih-alih merasakan beku yang menusuk, semakin dalam ia menghujamkan sekop ke perut bumi, udara justru terasa semakin berat, pengap, dan lembap. Suasana di bawah sana seolah-olah memiliki paru-paru sendiri yang bernapas dalam ritme yang lambat dan menyesakkan. Bau tanah basah yang purba berbaur dengan aroma tajam logam berkarat yang menyengat indra penciuman, menciptakan sensasi seolah Elian sedang menggali ke dalam bangkai raksasa yang belum sepenuhnya mati.

Dengan sekop di tangan yang kini sudah lecet di bagian telapak, dan sebuah senter kecil yang ia jepit dengan susah payah di antara bahu dan telinganya, Elian berkali-kali menyeka keringat yang bercampur debu tanah. Butiran keringat itu terasa perih saat masuk ke matanya, namun ia tak boleh berhenti. Di atas sana, di menara observasi yang menjulang tinggi ke langit kelabu Navasari, Alana sedang berjuang mempertahankan eksistensinya.

Melalui frekuensi batin yang kini terasa seperti getaran halus di dalam sumsum tulangnya, suara Alana terdengar parau dan terputus-putus. "Dua meter ke arah timur dari tangki oli tua itu, Elian... geser sedikit lagi. Aku merasakannya. Ada sesuatu yang berdenyut di sana... sebuah detak jantung yang tidak selaras dengan detak jantung bumi. Cepat, Elian... waktuku tidak banyak."

Elian menggeram, mengerahkan sisa tenaga di lengannya untuk menghantamkan ujung sekop sekuat mungkin. Ting!

Bunyi logam bertemu logam yang sangat nyaring bergema di ruang bawah tanah yang sempit itu, memantul di dinding-dinding tanah yang mulai rapuh. Elian segera melempar sekopnya ke samping. Dengan napas memburu, ia berlutut dan menyikat sisa-sisa tanah menggunakan jemarinya yang gemetar. Di bawah lapisan tanah merah itu, nampak sebuah piringan baja berkarat yang sangat masif. Di permukaannya, terukir sebuah lambang yang membuat jantung Elian berhenti berdetak sejenak: Lambang Rasi Cygnus, simbol yang sama dengan yang selalu ia temukan di buku catatan tua milik kakeknya, Surya.

"Aku menemukannya, Alana," bisik Elian terengah-engah. Suaranya terdengar hampa di antara dinding-dinding tanah, sebuah perpaduan antara rasa lega yang luar biasa dan ketakutan yang mencekam akan apa yang ada di bawah piringan itu.

Namun, saat tangan Elian yang kotor mencoba memutar tuas besi di tengah piringan tersebut, sebuah getaran hebat mengguncang fondasi mercusuar. Getaran itu bukan sekadar guncangan fisik; itu adalah gelombang energi yang membuat telinga Elian berdenging hebat. Kayu-kayu tua di langit-langit berderit hebat, menjatuhkan debu dan serpihan kayu yang memenuhi udara. Di atas sana, Alana menjerit. Jeritannya tidak terdengar lewat telinga, melainkan meledak di dalam kepala Elian seperti pecahan kaca yang menyayat kesadarannya.

"Elian, berhenti! Jangan dipaksa!" Alana memperingatkan dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan. Suaranya kini terdengar sangat jauh, seolah ia sedang berbicara dari balik dinding air yang tebal. "Kakek Surya memasang sistem pengaman frekuensi pada piringan itu. Ia tidak dirancang untuk dibuka dengan kekuatan fisik. Piringan itu tersambung langsung dengan detak jantung energi mercusuar. Jika kau memaksanya secara ilegal, sistem keamanan akan menganggapmu sebagai anomali atau penyusup, dan ia akan memutus seluruh aliran energi ke menara!"

"Lalu aku harus bagaimana?" Elian berteriak frustrasi, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang merah. "Kita tidak punya waktu lagi untuk mencari kunci atau kode! Kau bisa lihat sendiri apa yang terjadi padamu!"

Elian mendongak, menatap melalui celah-celah lantai kayu yang lapuk di atas kepalanya. Pemandangan itu membuatnya mual karena ngeri. Melalui celah sempit itu, ia bisa melihat kaki Alana. Namun, kaki itu tidak lagi terlihat seperti kulit dan daging. Alana mulai tampak transparan, tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi pendaran kabut indigo yang halus. Setiap kali angin pegunungan berembus masuk lewat jendela menara, sebagian kecil dari sosok Alana seolah-olah tersapu, menguap menjadi ketiadaan.

Alana sedang menghilang. Ia sedang dihapus dari realitas ini.

"Gunakan darahku," kata Alana tiba-tiba. Ketenangannya di tengah situasi ini terasa jauh lebih mengerikan daripada teriakan histeris. "Kakek Surya adalah orang yang pragmatis sekaligus paranoid. Ia merancang tempat ini hanya untuk keturunannya yang memiliki resonansi frekuensi yang sama. Cairan di tubuhku sekarang... energi indigo ini... adalah kunci frekuensi yang paling akurat bagi mesin-mesin kuno ini."

Sebelum Elian sempat memprotes, Alana memusatkan sisa-sisa energinya yang semakin menipis. Elian melihat sebuah tetesan cahaya indigo yang sangat pekat, kental seperti sirup namun bersinar seperti bintang, merembes menembus sela-sela lantai kayu. Tetesan itu jatuh perlahan, melawan gravitasi sejenak, sebelum akhirnya mendarat tepat di pusat ukiran Cygnus pada piringan baja.

Seketika, mesin kuno yang terkubur selama puluhan tahun itu menderu hidup. Suaranya seperti raungan mesin jet yang tertahan di bawah tanah. Piringan baja itu berputar perlahan dengan suara gerigi logam yang saling beradu, lalu terbelah menjadi dua bagian. Di bawahnya, sebuah lubang gelap menganga, menyingkapkan sebuah tangga spiral yang sangat ganjil. Tangga itu bukan terbuat dari batu atau semen, melainkan jalinan akar pohon pinus purba yang telah membatu menjadi keras seperti besi dan dilapisi dengan lapisan tembaga tipis yang masih berkilau meski di tengah kegelapan.

Elian menelan ludah, mencengkeram senternya lebih erat, dan mulai menuruni tangga itu. Setiap langkah yang ia ambil memicu suara berdenting pelan saat sepatunya bersentuhan dengan tembaga. Semakin dalam ia turun, udara terasa semakin kaya akan ozon, segar namun mengandung listrik statis yang membuat rambut di lengannya berdiri.

Di dasar tangga, Elian menemukan dirinya berada di sebuah ruangan yang luasnya benar-benar tidak masuk akal. Secara matematis, ruangan ini jauh lebih besar daripada diameter fondasi mercusuar di atasnya, seolah-olah Kakek Surya telah melipat ruang dan waktu di bawah tanah Navasari.

Dinding ruangan itu tidak rata. Seluruh permukaannya dilapisi oleh rak-rak kayu yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit yang tak terlihat ujungnya. Di rak-rak itu, berjejer ribuan mungkin puluhan ribu botol kaca kecil yang masing-masing berisi cairan berpendar redup. Ada yang berwarna biru pucat, kuning temaram, hingga merah darah.

Di tengah-tengah ruangan yang luas itu, terdapat sebuah pemandangan yang membuat Elian terhenti. Sebuah peti kristal besar berdiri di sana. Namun, bukannya berisi jenazah seperti yang Elian duga, di dalamnya terdapat sebuah jantung mekanis raksasa seukuran lemari pakaian. Jantung itu terbuat dari perpaduan emas dan tembaga, dengan piston-piston kecil yang bergerak ritmis. Dug-dag... dug-dag... Jantung itu masih berdetak, mempompa energi melalui kabel-kabel tembaga yang merambat seperti sistem saraf ke seluruh penjuru pondasi Navasari.

"Ini bukan lab penelitian biasa," Elian berbisik dengan nada takjub sekaligus ngeri. Ia menyinari barisan botol itu dengan senternya. "Alana... ini bukan sekadar koleksi. Ini adalah arsip. Setiap botol ini memiliki label..."

Elian mendekati salah satu botol terdekat dan membaca label tua yang sudah menguning: Subjek 442: Memori Kegembiraan - Anak Kecil.

Ia beralih ke botol lain: Subjek 890: Ketakutan akan Ketinggian.

Langkah Elian membawanya ke sebuah meja kerja di sudut ruangan yang dipenuhi dengan tumpukan kertas yang sudah lapuk dan coretan tangan kakeknya yang tampak panik, seolah-olah ditulis saat melarikan diri dari sesuatu. Di tengah meja, sebuah dokumen besar terbuka lebar dengan tinta hitam yang tebal dan tegas:

EKSPERIMEN 01: KEGAGALAN SINKRONISASI TANAH. SUBJEK: MARTHA.

Di bawah judul itu, terdapat catatan tambahan yang mengerikan: Subjek menunjukkan penolakan terhadap frekuensi bumi. Kesadaran terbelah. Tubuh fisik tak lagi mampu menampung resonansi. Harus diisolasi sebelum frekuensi perak menginfeksi sistem utama.

Alana yang memantau melalui mata batin Elian merasakan dunianya seolah runtuh berantakan. "Apa? Martha adalah subjek eksperimen kakek? Elian... selama ini kita mengira kakek Surya adalah penjaga Navasari yang heroik, tapi dia... dia memperlakukan manusia seperti baterai?"

Suara Alana menghilang dalam keheningan yang mencekam. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga spiral.

Tap. Tap. Tap.

Langkahnya pelan, sangat berirama, dan menunjukkan ketenangan yang tidak wajar. Elian segera mematikan senternya, menyisakan ruangan dalam keremangan cahaya dari botol-botol memori. Ia bersembunyi di balik meja kerja, jantungnya berdegup kencang hingga ia takut suara detaknya akan terdengar oleh siapa pun yang datang. Ia sempat berpikir mungkin itu adalah Reno, vlogger sialan yang terus mengikutinya, atau mungkin penduduk desa yang curiga.

Namun, saat sosok itu muncul di dasar tangga, cahaya pendar dari jantung mekanis menyinari siluetnya. Itu adalah seorang wanita tua. Punggungnya bungkuk, namun cara berjalannya sangat tegap dan penuh otoritas.

"Kau seharusnya tidak pernah turun ke sini, Elian," suara itu terdengar.

Suara itu dingin, hampa dari emosi manusia, dan memiliki nada distorsi seperti frekuensi radio yang rusak. Elian mengenalnya. Ia sangat mengenalnya, tapi nada bicara itu bukan milik orang yang ia ingat. Elian menyalakan senternya tepat ke arah wajah wanita itu.

Cahaya putih senter menyinari sosok Bu Ratna, pemilik kedai kopi di desa yang selalu memberikan Elian roti hangat setiap pagi. Namun, Bu Ratna yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah wanita tua ramah yang ia kenal. Matanya yang biasanya berwarna cokelat teduh kini telah berubah total; bola matanya bersinar perak pekat, cair dan bergerak-gerak seperti merkuri di bawah lampu laboratorium. Itu adalah warna mata yang sama dengan Martha saat menyerang mereka semalam.

"Bu Ratna? Apa yang terjadi denganmu? Mengapa kau ada di sini?" Elian mundur selangkah demi selangkah, tangannya kini mencengkeram gagang sekop yang tadi ia bawa turun sebagai satu-satunya pertahanan.

"Bu Ratna yang kau kenal sedang tidur nyenyak di kedainya, bermimpi tentang adonan roti yang tidak akan pernah ia panggang," ucap sosok itu dengan senyum miring yang kaku, seolah otot-otot wajahnya tidak terbiasa melakukan gerakan itu. "Dia hanyalah 'surat' yang kupinjam. Tubuh tua ini memiliki residu frekuensi kakekmu, menjadikannya kunci yang sempurna untuk masuk ke sini tanpa memicu alarm frekuensi yang menyebalkan itu."

Sosok itu melangkah maju, mendekati peti kristal berisi jantung mekanis. "Sekarang, Elian, jadilah anak baik. Serahkan kunci Akar Bumi yang kau temukan di saku jaket kakekmu, atau aku akan memastikan Alana menguap menjadi debu bintang yang tak berarti sebelum matahari pertama menyentuh puncak Navasari."

Di lantai atas, Alana merasakan perisai cahaya di sekitar menara observasi mulai retak dengan suara memekakkan telinga. Seseorang atau sesuatu sedang mencoba memutus aliran energi utama dari pusat kendali bawah tanah.

"Elian, lari! Dia bukan Bu Ratna! Dia adalah Frekuensi Perak yang kakek peringatkan!" Alana berteriak melalui frekuensi batinnya, namun suaranya tiba-tiba terputus oleh denging tinggi yang membuat Elian jatuh berlutut sambil memegangi telinganya yang mulai berdarah.

Tepat saat Elian mencoba bangkit untuk lari menuju tangga, pintu keluar di atas sana tertutup rapat. Akar-akar tembaga yang tadi diam kini bergerak sendiri seperti ular-ular yang kelaparan, menjalin diri dengan rapat hingga tak ada celah sekecil apa pun untuk lolos.

Pendaran indigo di ruangan bawah tanah itu tiba-tiba padam total, seolah-olah ditarik paksa oleh kegelapan. Satu-satunya cahaya yang tersisa hanyalah sepasang mata perak Bu Ratna yang menyala di tengah kegelapan yang mencekam. Bau belerang yang menyengat mulai memenuhi ruangan, dan Elian menyadari bahwa ia tidak hanya terjebak di bawah tanah; ia terjebak di dalam makam dari rahasia paling gelap di Navasari.

"Waktunya habis, Elian," bisik sosok itu, yang kini suaranya terdengar dari segala penjuru ruangan. "Berikan kuncinya, atau lihatlah gadismu hilang dari sejarah."

Elian berdiri di kegelapan, menggenggam sekopnya dengan tangan yang kini tidak lagi gemetar karena takut, melainkan karena kemarahan yang mulai membakar. Ia tahu, jika ia menyerahkan kunci itu, Navasari dan Alana bahkan hancur selamanya. Namun jika ia tidak melakukannya, ia harus melawan sesuatu yang bahkan kakeknya pun gagal taklukkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!