NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak di Mesir

Beberapa minggu setelah kembali dari Florence, suasana di perpustakaan kecil di Semarang semakin meriah. Rak-rak buku yang dulunya hanya menampilkan koleksi lokal kini juga menyimpan salinan Cinta yang Menghubungkan Benua dalam bahasa Italia, Prancis, dan Jerman. Di sudut ruangan, sebuah peta dunia besar terpampang dengan benang merah yang menghubungkan kota-kota yang telah mereka kunjungi—Semarang, Johannesburg, Kyoto, Valencia, Florence—dan satu titik baru yang sedang bersinar terang: Kairo.

Rian telah menyusun jadwal perjalanan yang meliputi kunjungan ke Piramida Giza, pasar khas Khan el-Khalili, dan pertemuan dengan komunitas penulis serta ahli kuliner Mesir. “Penerbit di Kairo bernama Amira,” jelasnya sambil menunjukkan foto pada layar laptop. “Dia juga seorang sejarawan kuliner yang fokus pada tradisi makanan dalam upacara kuno. Katanya, ada banyak cerita yang tertanam dalam hidangan seperti kushari, ful medames, dan basbousa—cerita yang menghubungkan masa lalu dan sekarang.”

Rama telah mempersiapkan lensa khusus untuk menangkap detail arsitektur kuno dan warna-warni pasar Mesir yang penuh semangat. “Saya ingin menangkap bukan hanya pemandangan,” katanya sambil membersihkan kamera. “Tapi juga ekspresi wajah orang-orang ketika mereka berbagi makanan dan cerita—seperti bagaimana mata mereka bersinar ketika berbicara tentang keluarga dan tradisi.”

Siti telah melengkapi buku catatannya dengan catatan baru tentang hubungan antara makanan dan spiritualitas di berbagai budaya. “Di Italia, makanan adalah tentang keluarga dan persatuan,” tulisnya. “Di Afrika, itu tentang rasa memiliki bersama. Di Mesir, saya rasa akan ada hubungan yang dalam dengan sejarah dan identitas bangsa.”

Ketika mereka mendarat di Bandara Internasional Kairo, udara hangat dan lembap menyambut mereka. Di pintu keluar, seorang wanita dengan rambut hitam yang diikat rapi dan mengenakan gaun warna biru laut dengan bordir emas sudah menunggu dengan senyum lebar. “Saya Amira,” ujarnya dengan suara yang kuat namun lembut. “Selamat datang di tanah air saya—tempat di mana setiap pasir memiliki cerita, dan setiap hidangan membawa doa.”

Perjalanan menuju kota pusat melalui jalan raya yang ramai membawa mereka melewati pemandangan yang menarik—gedung-gedung modern berdampingan dengan bangunan bersejarah bergaya Koptik dan Islam, sementara suara seruan shalat dari masjid-masjid menyatu dengan kebisingan lalu lintas dan tawa anak-anak yang bermain di tepi jalan. “Ini seperti perjalanan melalui waktu,” bisik Siti sambil melihat keluar dari jendela mobil. “Sama seperti ketika kita berada di Kyoto dan melihat bagaimana tradisi kuno hidup berdampingan dengan kemajuan teknologi.”

Mereka tinggal di sebuah rumah tua yang telah direnovasi menjadi penginapan kecil di dekat Jalan Al-Azhar. Dari balkon atas, mereka bisa melihat kubah masjid-masjid yang menjulang tinggi dan hamparan pasar yang penuh warna di kejauhan. Malam pertama, Amira mengajak mereka ke sebuah rumah makan keluarga yang terletak di belakang pasar Khan el-Khalili. Tempat itu terletak di sebuah gang sempit yang hanya bisa ditemukan jika tahu jalannya, dengan dinding yang dihiasi lukisan cerita rakyat Mesir kuno.

“Kakek buyut saya membuka tempat ini pada awal abad ke-20,” cerita Amira sambil menyajikan piring ful medames yang hangat—kacang polong yang dimasak perlahan dengan bawang merah, bawang putih, dan rempah-rempah khas Mesir. “Resepnya berasal dari nenek saya yang tinggal di desa dekat Luxor. Katanya, hidangan ini sudah ada sejak zaman Firaun—dihidangkan dalam upacara untuk menghormati dewa-dewa dan merayakan musim panen.”

Di sudut rumah makan, seorang pemuda sedang memainkan alat musik tradisional Mesir yang bernama oud. Melodinya yang merdu dan sedikit melankolis membuat Siti ingat akan biola yang dimainkan di rumah makan di Florence, dan nyanyian nenek Lwazi di Afrika. “Musik dan makanan adalah bahasa universal yang tidak perlu diterjemahkan,” ujar Rama sambil mengambil foto alat musik tersebut.

Keesokan paginya, mereka bertemu dengan Karim, seorang ahli kuliner dan sejarawan yang akan membimbing mereka dalam eksplorasi tradisi makanan Mesir kuno. Mereka pergi ke sebuah museum kecil yang tidak terlalu dikenal, di mana banyak artefak kuno ditampilkan—termasuk mangkuk dan sendok yang digunakan ribuan tahun yang lalu, serta prasasti yang menggambarkan hidangan yang disajikan dalam upacara kerajaan.

“Pada zaman kuno, makanan bukan hanya untuk memenuhi lapar,” jelas Karim sambil menunjukkan replika prasasti. “Setiap hidangan memiliki makna tertentu—beberapa untuk membawa keberuntungan, yang lain untuk menghormati leluhur, dan yang lainnya untuk memperkuat hubungan antar suku. Misalnya, kushari yang kini menjadi makanan jalanan populer sebenarnya berasal dari tradisi menyatukan berbagai bahan yang mewakili keberagaman suku di Mesir.”

Setelah itu, mereka pergi ke pasar Khan el-Khalili untuk membeli bahan makanan bersama Karim. Pasar yang ramai dengan pedagang yang bersorak-sorai menawarkan segala sesuatu—dari rempah-rempah harum seperti jintan, ketumbar, dan kunyit, hingga buah-buahan segar seperti kurma, anggur, dan delima. Mereka bertemu dengan seorang pedagang kurma bernama Hassan yang telah menjual produknya selama tiga generasi.

“Kurma adalah buah suci bagi kita,” ujar Hassan sambil memberikan beberapa buah kurma yang manis kepada mereka. “Kita makan kurma saat berbuka puasa, menghidangkannya dalam acara penting, dan bahkan memberikannya kepada tamu sebagai tanda hormat. Seperti pasta di Italia atau mochi di Jepang, buah ini membawa cerita tentang keluarga dan tradisi.”

Pada saat yang sama, pesan video datang dari teman-teman di seluruh dunia. Maria sedang di Valencia merencanakan acara paella yang akan dihadiri oleh petani saffron dari seluruh Spanyol. Sofia telah menyelenggarakan workshop tari Samba yang sukses di Brasil, dengan anak-anak yang tidak hanya belajar menari tapi juga membuat kostum tradisional sendiri. Zoe sedang mengajak kelompok anak-anak Aborigin untuk mengumpulkan tanaman obat sesuai dengan ajaran leluhur mereka. Ken telah menanam pohon sakura ketiga di halaman belakang rumahnya, dan kelas pembuatan mochi semakin banyak diminati. Di Florence, Giulia sedang menyusun acara baru untuk menghubungkan komunitas penulis dari seluruh Eropa.

“Ini adalah saat yang tepat untuk mengadakan pertemuan kecil di sini juga,” usulkan Amira. “Kita bisa mengundang keluarga dan teman-teman lokal, serta beberapa mahasiswa dari universitas yang datang dari berbagai negara—seperti Australia, Kanada, dan Jepang. Kita akan menyajikan hidangan tradisional Mesir dan mendengarkan cerita dari setiap tamu.”

Hari berikutnya, di halaman belakang rumah tinggal mereka yang dihiasi dengan tanaman palem dan bunga mawar merah, meja panjang disusun dengan kain berwarna emas dan biru—warna yang melambangkan kemakmuran dan kehormatan dalam budaya Mesir. Karim dan timnya menghidangkan berbagai hidangan khas, mulai dari kushari yang gurih, hingga basbousa yang manis, dan tagine daging dengan buah-buahan kering. Tamu lokal membawa makanan khas dari daerah masing-masing—seperti fatirah dari Alexandria dan mulukhiyah dari Kairo.

Pelajar dari berbagai negara juga datang dengan hidangan mereka—pie dari Australia, poutine dari Kanada, dan sushi dari Jepang. Meskipun bahasa yang digunakan berbeda-beda, senyum dan tawa menjadi bahasa yang menyatukan semua orang. Ketika seorang mahasiswa Jepang bernama Yuki mulai menari dengan gaya tradisional Bon Odori, seorang penari Mesir bergabung dengan gerakan yang penuh semangat, diikuti oleh seorang anak muda dari Australia yang menari dengan gaya folk lokal.

Rama merekam bagaimana matahari terbenam di balik kubah masjid Al-Azhar, menerangi langit dengan warna oranye dan magenta yang memesona. Siti mencatat cerita Hassan tentang bagaimana kakeknya pernah berbagi semua kurmanya dengan tetangga yang mengalami kesulitan selama musim kemarau panjang. “Ini juga Ubuntu—kita saling membutuhkan satu sama lain,” kata Hassan dengan senyum hangat.

Di malam terakhir sebelum kembali ke Semarang, mereka melakukan panggilan video dengan semua teman di seluruh dunia. Layar ponsel penuh dengan wajah-wajah ceria dari berbagai benua—dari Kairo hingga Florence, dari Kyoto hingga Brasil. Setiap orang berbagi cerita terbaru: anak-anak di Afrika telah mulai membuat makanan tradisional sendiri, kelas pembuatan dumpling di Cina telah menghasilkan buku resep kolektif, pohon sakura milik Ken telah mulai berbunga, dan di Valencia, acara paella akan dihadiri oleh lebih dari seratus orang dari berbagai negara.

Amira mengambil sebuah mangkuk tradisional Mesir yang dihiasi ukiran indah, lalu berkata, “Di Mesir, kita bilang bahwa makanan yang dibagikan dengan cinta akan membawa berkah bagi semua orang yang memakannya. Buku kalian telah membawa berkah ini ke banyak negara, dan sekarang kita ingin menambahkan cerita Mesir ke dalamnya.”

Rian kemudian menunjukkan pesan baru dari seorang penerbit di Meksiko. “Mereka ingin kita datang ke Meksiko City,” katanya dengan mata bersinar. “Mereka bilang ada tradisi makanan yang terkait dengan perayaan dan ritual kuno—tentang bagaimana cacao dan jagung menjadi bagian penting dari identitas budaya mereka.”

Siti melihat ke arah semua wajah di layar, lalu mengetik pesan yang sudah menjadi bagian dari diri mereka semua: “Cerita kita tidak akan pernah berakhir—setiap tempat yang kita kunjungi, setiap orang yang kita temui, akan menambah lembaran baru pada buku kita. Mari kita mulai cerita baru di Meksiko, bersama-sama lagi.”

Dalam sekejap, balasan datang dari setiap sudut dunia—dengan kata-kata yang telah menjadi janji dan harapan bersama: “Mari kita mulai cerita baru ini bersama.”

1
Sri Peni
thanks cerita edukasinya🙏🙏
Sri Peni
bikin yg bc puyeng serasa dipaksa sehinhha logika
Sri Peni
kok lila sm siti umurnya berubah jd terpaut 1 thn. inicerita hsl fc ya
Sri Peni
logika itu hrs jg dipakai wl hny cerita. sang tokoh lila kok jaraknya dgn adiknya terpauh 7th
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!