Tujuh belas tahun lalu, Ethan Royce Adler, ketua geng motor DOMINION, menghabiskan satu malam penuh gairah dengan seorang gadis cantik yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Kini, di usia 35 tahun, Ethan adalah CEO AdlerTech Industries—dingin, berkuasa, dan masih terikat pada wajah gadis yang dulu memabukkannya.
Sampai takdir mempertemukannya kembali...
Namun sayang... Wanita itu tak mengingatnya.
Keira Althea.
Cerewet, keras kepala, bar-bar.
Dan tanpa sadar, masih memiliki kekuatan yang sama untuk menghancurkan pertahanan Ethan.
“Jangan goda batas sabarku, Keira. Sekali aku ingin, tak ada yang bisa menyelamatkanmu dariku.”_ Ethan.
“Coba saja, Pak Ethan. Lihat siapa yang terbakar lebih dulu.”_ Keira.
Dua karakter keras kepala.
Satu rahasia yang mengikat masa lalu dan masa kini.
Dan cinta yang terlalu liar untuk jinak—bahkan ol
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Grup Gosip Kantor
Mobil hitam berhenti di area parkir utama kantor.
Rowan turun lebih dulu, membukakan pintu belakang untuk Ethan.
Sementara itu, Keira yang juga baru saja turun tersenyum kikuk kepada Ethan. “Terima kasih ya, Pak Ethan. Saya bener-bener berutang kali ini.”
Ethan hanya menatapnya sebentar—dingin dan datar seperti biasa. “Tak masalah. Lain kali pastikan mobilmu dalam kondisi baik.”
Keira tertawa canggung sambil mengangguk. “Iya, Pak. Siap.”
Ia lalu buru-buru berbalik dan berjalan cepat menuju lobi, sambil dalam hati ngedumel sendiri. “Ngeri amat tatapannya, kayak lagi sidang skripsi.” desisnya pelan.
Tanpa mereka sadari, seorang karyawan dari divisi lain, Riska, melihat kejadian itu dari jendela lantai dua.
Mata Riska langsung membesar. Ia cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dan cekrek!—mengambil foto dari belakang, yang hanya menampakkan sosok wanita berbaju kerja sedang turun dari mobil CEO.
Beberapa menit kemudian...
Grup gosip kantor, “Kantorku Hot News 🔥”, langsung meledak:
Riska: “Guys, barusan gue liat Pak Ethan datang bareng cewek! Nih buktinya 👀🔥”
(mengirim foto dari belakang Keira)
Komentar langsung membanjir:
Livia: “HAH?! Cewek siapa tuh?! Gaya kerjanya rapi banget, pasti dari divisi atas.”
Nolan: “Gue sumpah demi kuteks baru, itu kayaknya pegawai kita! Tapi siapa, yah? Gue liat punggungnya doang, kok kayak familiar 😭”
Riska: “Gossip of the day! CEO kita ternyata punya pasangan rahasia!”
Dalam hitungan menit, hampir semua karyawan sudah sibuk menatap layar ponsel mereka, bisik-bisik sambil menerka-nerka identitas si “wanita misterius.”
Sementara itu, Keira yang baru sampai di meja kerjanya belum sadar sama sekali kalau dirinya baru jadi topik utama gosip kantor hari itu.
...----------------...
Keira baru menaruh tas di kursinya ketika dua sahabatnya langsung menyerbu seperti wartawan infotainment.
Livia berteriak pelan. “KEIRA!!! Cepetan buka grup kantor! Ada gosip panas, sumpah ini pecah banget!”
Nolan dengan gaya lebay, melambai-lambai tangan. “Ya ampuuun, say! CEO kita yang dingin itu ternyata punya pasangan rahasiaaa~ Aku sampe nggak kuat liatnya! Aura-aura tajir bercinta, sis! 🔥”
Keira masih separuh sadar karena efek mabuk semalam belum sepenuhnya hilang. Ia menatap dua temannya dengan dahi berkerut. “Hah? Gosip apaan lagi pagi-pagi gini? Gue baru juga duduk loh.”
“Ya ampun, ini bukan gosip ecek-ecek, Kei! Nih liat—foto cewek yang turun bareng Pak Ethan dari mobil hitamnya!” seru Livia heboh.
Livia langsung sodorin ponselnya.
Keira melirik layar itu, matanya menyipit. Sebuah foto buram dari belakang, memperlihatkan seorang wanita bersetelan kerja sedang turun dari mobil hitam berkilat.
Nolan langsung nyolot sambil pegang dada dramatis. “Liat tuh, liat tuh! Stylenya formal banget, rapi, anggun, ya kan? Keliatan elegan banget! Duh, aku iri deh! Itu siapa sih, cewek beruntung banget bisa satu mobil sama Pak Ethan~”
Livia menyenggol Keira. “Kalau menurutku kayak dari divisi kita deh… bahunya kayak familiar banget. Tapi siapa ya?”
Keira diam. Matanya masih terpaku di layar ponsel itu.
Punggung itu… setelan blazer itu… bahkan tasnya.
Keira mendesis pelan dalam hati. “Lah… ini kan gue.”
Wajahnya langsung menegang, tapi ia berusaha tetap santai.
Dengan cepat ia menegakkan tubuh, menahan ekspresi panik, lalu ikut nyengir pura-pura santai. “Hmm… ya ampun, kalian tuh kalo ngomong lebay banget. Mungkin aja itu staf biasa yang kebetulan bareng lewat.”
Livia geleng-geleng. “Bisa aja lo, Kei. Tapi coba pikir deh, CEO turun dari mobil bareng cewek misterius, terus nggak ada yang tau siapa? Kan aneh!”
Nolan mengibas tangannya dramatis. “Aduh aku jadi kepo, sumpah! Kalo cewek itu muncul di depan aku, langsung aku todong mic biar ngaku, beb~”
Keira menahan tawa, padahal dalam hati udah keringetan dingin.
Ia pura-pura nyengir santai. “Ih kalian ini gosip mulu kerjaannya. Daripada nebak-nebak, mending bantuin aku bikin laporan kemarin. Nih deadline udah numpuk.”
Livia tertawa. “Iya deh, Bu Serius. Tapi sumpah ya, cewek di foto itu kayak punya pesona tersendiri. Kalo aku jadi dia, aku udah posting di Instagram: ‘Morning ride with my CEO’.”
Nolan ketawa ngakak. “Aduh Liv, bisa langsung viral tuh! Tag-nya: #CintadiBalikKantor!”
Keira ikut tertawa meski dalam hati masih deg-degan. “Untung cuma kelihatan dari belakang. Kalo sampe keliatan muka gue… tamat.” batinnya lega.
Keira meneguk kopinya yang tadi dibuat di pantry, memasang ekspresi paling datar dan santai sedunia. “Aduh, gosip kantor emang nggak ada matinya.” ucapnya pelan, sambil buka laptop.
Lalu pura-pura fokus kerja, padahal tangan yang memegang mouse sedikit gemetar.
...----------------...
Ruang Kerja CEO
Ruangan itu sunyi. Hanya terdengar suara detak jam dinding dan desiran halus AC.
Ethan duduk di kursinya, menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya berputar pada satu nama—Keira.
Wajah wanita itu terlintas lagi di kepalanya. Tatapan matanya, cara ia bicara, bahkan ekspresi canggungnya tadi pagi saat berterima kasih di depan kantor.
Ethan menghela napas pelan, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. “Bagaimana caranya aku bisa tetap di dekatmu tanpa terlihat bodoh, Keira…” desisnya pelan.
Tiba-tiba suara ketukan pelan terdengar di pintu, diiringi suara Rowan. “Permisi, Pak.”
Ethan sontak menegakkan tubuh, sedikit terkejut. “Masuk.”
Rowan melangkah masuk sambil membawa beberapa berkas, tapi matanya langsung memperhatikan ekspresi bosnya yang jelas-jelas sedang melamun berat.
Rowan menatapnya heran. “Bapak mikirin apa, tuh? Hmm… jangan bilang—Bu Keira lagi ya?”
“Berisik.” ucap Ethan dingin.
Rowan terkekeh kecil, menaruh berkas di meja. Lalu tersenyum menggoda menatap Ethan. “Saya perhatiin sejak hari pertama Bapak datang ke kantor cabang ini, Bapak udah keliatan tertarik banget sama Bu Keira. Apa karena beliau cantik, Pak?”
“Itu salah satunya.” jawab Ethan tanpa menatap Rowan.
Rowan menaikkan alis, ekspresinya makin usil. “Salah satunya? Wah, berarti ada alasan lain dong?”
Ethan menyilangkan tangan. “Hm.”
Rowan semakin penasaran. “Apa itu, Pak?”
Ethan akhirnya menatapnya datar. “Kau ini asistenku… atau wartawan, Rowan?”
Rowan tertawa canggung. “Hehehe… ya, cuma nanya dikit, Pak. Soalnya wajah Bapak tuh udah kayak orang jatuh cinta berat. Kayak cowok yang lagi bingung nyari cara ngajak gebetan ngopi.”
Ethan mendengus pelan. “Kau banyak bicara.”
Rowan menirukan gaya serius Ethan. “Baik, Pak. Saya diam.”
Ethan menghela napas pelan, menatapnya lurus. Sorot mata dingin itu kali ini justru memancarkan sesuatu yang lebih dalam—seperti ada rahasia lama yang siap dibuka. “Dia adalah wanita yang dulu… pernah tidur bersamaku.” ucapnya
Rowan membeku.
Wajahnya yang biasanya santai langsung berubah kaku, mulutnya terbuka tapi tak ada suara keluar. “T-tidur? Maksud bapak… tidur beneran, tidur?” tanya Rowan tergagap.
Ethan hanya menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. “Aku tidak perlu mengulang dua kali, Rowan.” jawabnya dingin.
Rowan langsung meneguk ludah, mencoba menenangkan diri. “Jadi… Bu Keira itu—yang selama ini Bapak cari…?” tanyanya pelan, masih shock.
Ethan menatap ke luar jendela, suaranya dalam dan tenang. “Ya. Dan sekarang dia bahkan tidak mengingatku.”
Suasana hening sejenak.
Rowan akhirnya menarik napas panjang dan berusaha mengubah ketegangan jadi santai.
Dengan setengah bercanda, tapi masih gugup, Rowan kembali membuka suara. “Yaaah… kalau begitu, Pak, ini bukan cuma urusan kantor lagi. Ini… urusan masa lalu yang belum kelar.”
Ethan tak menjawab. Tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. “Mungkin.”
Beberapa menit berlalu, Rowan masih berdiri di depan meja Ethan, menatap bosnya yang tampak kembali termenung setelah ditanya.
Ethan menautkan jemarinya di depan dada, wajahnya datar tapi jelas—ada sesuatu yang ia pikirkan dalam-dalam.
Rowan yang masih penasaran kembali bertanya. “Jadi… bapak beneran suka Bu Keira, ya?”
Ethan menatapnya sekilas, tapi tidak menjawab.
Rowan langsung menepuk dahinya sendiri dengan ekspresi “ya ampun”.
“Ya ampun, Pak… kalau suka tuh jangan ditunda! Keburu ditikung orang, loh. Bu Keira tuh primadona di kantor cabang ini. Banyak yang antri, dari staf sampai kepala divisi.” ucap Rowan setengah berbisik tapi nyolot.
Ethan menghela napas pendek, lalu menatap layar laptop tanpa fokus. “Susah.”
Rowan memiring kepala. “Apanya yang susah, Pak? Jangan-jangan…” menyipitkan mata jahil. “Bapak bingung ya, cara deketinnya?”
Ethan menatapnya dingin, tapi tidak menyangkal. “Hm.”
Rowan langsung tersenyum lebar, ekspresi seperti anak kecil yang baru nemu ide nakal. “Kalau gitu… gimana kalau Bu Keira dijadiin sekretaris Bapak aja? Sekalian Bapak bisa deket tiap hari—eh, maksud saya, biar koordinasinya gampang, kan posisi sekretaris masih kosong tuh.”
Ethan terdiam. Ujung jarinya mengetuk meja pelan—tanda ia sedang menimbang serius. “Kau yakin itu ide bagus?”
Rowan mengangguk mantap. “Yakin banget, Pak! Profesional, efisien, dan… manfaat pribadi sedikit, hehe.”
Ethan menatapnya tajam. “Kau ini terlalu banyak alasan, Rowan.”
Rowan angkat tangan. “Hehe, maaf, Pak. Tapi serius, Bu Keira tuh kompeten. Cocok banget jadi sekretaris CEO. Anggap aja ini strategi bisnis… bukan strategi PDKT.”
Ethan diam sesaat, lalu menghela napas dalam. “Siapkan berkas rekomendasinya.”
Rowan langsung sumringah. “Siap, Pak! Saya urus sekarang. Wah, ini bakal menarik banget.”
Begitu Rowan keluar, Ethan bersandar di kursinya, menatap ke luar jendela dengan senyum samar di sudut bibirnya. “Sekretaris? Sepertinya ide itu… tidak buruk.”
...****************...
tutur bahasanya rapi halus tegas jarang tipo atau mungkin belum ada
semangat tor 💪💪💪