NovelToon NovelToon
Menikahi Perempuan Gila?

Menikahi Perempuan Gila?

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Kyky Pamella

"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MPG_11

“Apa arti paras cantik jika memiliki gangguan mental?” Kalimat itulah yang kujadikan tameng paling ampuh untuk menampik fakta bahwa perempuan itu—istriku—terlalu jauh dari kata biasa saja. Aku mengulang kalimat itu berulang kali di dalam kepala, seolah dengan begitu aku bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa kecantikannya tidak berarti apa-apa.

Setelah seluruh rangkaian acara pernikahan selesai, mamah Fani mengumpulkan semua keluarga besar untuk makan siang bersama. Suasananya hangat, penuh tawa, doa, dan ucapan selamat. Namun bagiku, semua itu hanya terdengar seperti dengung samar. Aku duduk di sana dengan tubuh hadir sepenuhnya, tetapi pikiran dan hatiku tertinggal entah di mana

Aku berjanji pada Ajeng, bahwa pernikahan ini hanyalah sementara. Aku berjanji tidak akan memberikan jiwa dan ragaku kepada siapa pun selain dirinya. Dan itu berarti satu hal: pernikahanku ini akan menjadi pernikahan yang tidak normal. Berbahaya. Jika sampai orang tua kami mengetahui kebenarannya, bisa-bisa aku benar-benar kehilangan Ajeng.

Keputusan itu akhirnya kuambil tanpa banyak pertimbangan lain. Aku membawa Rayna pindah ke penthouse-ku malam itu juga.

Kami tiba ketika hari sudah petang. Langit berwarna jingga keabu-abuan, lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu. Lift bergerak naik dalam keheningan yang canggung. Tak ada obrolan, tak ada basa-basi. Bahkan suara napas kami terasa terlalu keras di telingaku sendiri.

Malam pertama yang seharusnya menjadi malam paling indah bagi sepasang pengantin baru, justru kami isi dengan perdebatan panjang dan melelahkan. Perdebatan yang membuka banyak hal.

Rayna—perempuan yang sejak awal kupikir memiliki gangguan jiwa—ternyata adalah wanita yang sangat tegas, cerdas, dan penuh perhitungan. Setiap argumennya tajam, terstruktur, dan masuk akal. Berkali-kali aku mencoba memancing emosinya, berharap ia akan menunjukkan sisi “gila” yang selama ini diceritakan orang-orang.

Namun tidak.

Lagi dan lagi, aku tak menemukan satu pun tanda ketidakwarasan dalam dirinya. Hingga akhirnya, pertikaian itu mencapai sebuah kesepakatan.

Rayna bersedia melindungi hubunganku dengan Ajeng—dengan syarat, aku harus memenuhi lima syarat yang akan ia ajukan. Tanpa berpikir panjang, aku mengiyakannya. Saat itu, tidak ada yang lebih penting bagiku selain menyelamatkan hubunganku dengan Ajeng.

Jika aku harus berpoligami—secara emosional, secara situasi—maka biarlah itu terjadi. Begitu pikirku saat itu.

Namun aku tidak menyangka, Syarat pertama yang diajukan Rayna justru menjadi awal dari segalanya. Dengan syarat itu, ia berhasil menyingkirkan Ajeng dari penthouse ku. Dari wilayah kekuasaanku.

Tapi aku menghibur diriku sendiri dengan satu keyakinan, vahwa dia bisa memiliki tempat ini tetapi ia tidak akan pernah memiliki hatiku.

POV NARENDRA END **

Seperti biasa, setelah mandi aku hanya mengenakan handuk besar yang kulilitkan sebatas dada hingga paha, dan sebuah handuk kecil untuk membungkus rambutku yang masih basah. Udara kamar terasa sejuk, aroma sabun bercampur pelembap tubuh masih menggantung tipis di udara.

Tit… tit… tit…

Lamat-lamat aku mendengar bunyi papan passcode dari luar kamar.

Ceklek. Pintu terbuka.

“Astagfirullahaladzim!” pekik Narendra nyaring, hampir bersamaan dengan gerakan refleksnya menutup pintu kamar kembali.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Terlalu cepat. Hingga aku hanya bisa berdiri mematung, otakku kosong, jantungku berdetak jauh lebih kencang dari seharusnya.

“Kamu ngapain sih pakai kostum kayak gitu?!” teriak Naren dari balik pintu.

“Ya orang baru mandi!” sahutku ketus. “Lagian kamu juga ngapain masuk kamar orang nggak ngetuk pintu dulu?” Aku menghela napas panjang sambil menepuk-nepuk jidatku sendiri.

Oh God, dia tadi sempat lihat paha gue nggak, ya? Jangan-jangan malah lihat gundukan harta karun gue. Aku menggeleng cepat, mencoba menenangkan diri.

Ah, nggak mungkin. Tadi cepet banget. Nggak ada sepuluh detik. Pasti nggak kelihatan apa-apa. Tapi bayangan wajah Naren yang terlihat sangat kaget membuat pikiranku kembali berisik.

Suara dari balik pintu membuyarkan lamunan itu.

“Buruan siap-siap. Mamah papah ngundang kita buat lunch di rumah utama.”

“30 menit,” pintaku.

“No. Sepuluh menit,” jawabnya tanpa kompromi.

Sebenarnya aku sudah tahu rencana makan siang itu. Mamah Farah sudah meneleponku lebih dulu. Lima belas menit kemudian aku sudah siap, mengenakan gamis hijau toska yang senada dengan kemeja yang dikenakan Naren hari itu. Aku memadukannya dengan pashmina putih sederhana.

Untuk sesaat, aku menangkap Naren tertegun menatapku. Pandangannya hanya singgah sebentar sebelum ia buru-buru memalingkan wajah ke arah lain.

Tanpa aba-aba, ia melangkah keluar. Aku mengikutinya dari belakang.

Di dalam mobil, suasana benar-benar hening. Canggung. Efek samping dari insiden “penampakan” tadi.

Ponsel Naren berdering. Ia langsung mengangkatnya.

“Halo, sayang.”

Aku meliriknya. Wajah datar yang sejak tadi ia pertahankan mendadak berubah. Ada senyum kecil yang muncul tanpa ia sadari.

Entah apa yang dibicarakan Ajeng di seberang sana, karena tak lama kemudian senyum itu memudar, berganti dengan ekspresi sendu.

“Maafin aku, yang,” suaranya terdengar lebih pelan. “Aku nggak bisa ngelawan permintaan papah. Kamu sabar dulu, ya. Tolong ngerti posisi aku.” Telepon ditutup.

‘Sepertinya aku memang harus mulai memikirkan syarat keduaku,’ batinku.

Citttt— Rem berdecit nyaring

Mobil berhenti mendadak. Naren hampir saja menabrak seorang ibu-ibu yang memotong jalan tanpa menoleh ke belakang. Untung refleksnya masih cukup baik untuk menginjak rem.

“Astagfirullah! Hati-hati dong, Mas!” omelku spontan. “Kalau ibu tadi ketabrak gimana?”

“Maaf,” jawabnya singkat. “Lagian ibu itu juga yang salah.”

Namun kemudian aku mendengar sesuatu yang membuat dadaku berdesir. Suara Naren bergetar.

Aku menoleh. Ia masih menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, matanya berkaca-kaca.

‘Kata orang, kalau laki-laki sampai menitikkan air mata untuk seorang perempuan, itu tandanya cintanya sudah mentok,’ ratapku dalam hati. ‘Ya Tuhan … segininya.’

Tanpa banyak bicara, aku mengambil ponselku dan menelepon mamah Farah.

Baru satu dering, panggilan itu langsung diangkat.

“Halo, Assalamu’alaikum, Mah.”

“Wa’alaikum salam, sayang. Kalian sudah sampai mana?”

“Mah, Rayna mau ngomong—”

Belum selesai aku bicara, Naren langsung menoleh dan menatapku tajam.

“Ngapain nelepon mamah?” bisiknya. “Mau ngomong apa?”

“Mau bilang kalau kita nggak bisa lunch bareng karena ada urusan,” balasku pelan.

“Sayang, kok malah bisik-bisik? Mau ngomong apa, sayang?” suara mamah terdengar dari seberang.

Naren langsung merebut ponselku.

“Nggak, Mah. Nggak jadi,” katanya cepat. “Tadi Rayna mau ngadu ke mamah. Katanya Naren jahilin dia terus dari tadi. Udah dulu ya, Mah. Lima belas menit lagi kita sampai. bilangin Para Dayang. Buruan gelar karpet merahnya.” sarkas Naren. sebelum Sambungan diputus.

“Kenapa dimatiin?” protesku sambil merebut kembali ponselku.

“Maksud kamu apa sih?” nada suaranya meninggi. “Kita sebentar lagi sampai, dan kamu mau bilang kita nggak jadi datang?”

“Niatku baik,” jawabku jujur. “Aku mau bilang ke mamah kalau kita ada urusan, atau aku nggak enak badan, atau apa pun. Supaya kita nggak perlu lunch di sana hari ini. Jadi kamu bisa nemuin Ajeng.”

Sorot mata Naren langsung berubah.

“Nggak usah aneh-aneh,” katanya singkat.

Benar saja. Lima belas menit kemudian, kami tiba di sebuah rumah besar bergaya Eropa klasik. Tiang-tiangnya tinggi menjulang, warna putih berpadu emas mendominasi, memancarkan kemewahan yang nyaris menyilaukan. Sangat berbeda dengan rumah keluargaku yang bernuansa Jawa.

Dua pengawal segera membukakan pintu mobil kami.

Begitu turun, Naren langsung menggenggam tanganku dan menuntunku masuk.

“Enjoy your drama,” bisikku lirih.

Ia hanya mengangkat kedua alisnya, seolah menantang.

“Sayang!” pekik mamah sambil berlari kecil menuruni tangga.

“Mah,” aku segera menghampiri dan mencium punggung tangannya, disusul Naren.

“Kalian apa kabar?”

“Baik, Mah. Maaf baru sempat datang,” jawab Naren sambil masih memainkan telapak tanganku.

“Papah mana?” tanya Naren. “Katanya sudah nggak sabar ketemu mantunya.”

“Bentar. Mamah panggil dulu,” jawab mamah santai. “Biasa, papahmu lagi nongkrong sama tetangga di pos ronda.”

Aku terkekeh kecil. “Sultan juga suka nongkrong di pos ronda, ya?”

1
Wina Yuliani
eng ing eng di gantung nih kita, kayak jemuran yg gk kering kering
plisss dong kk author tambah 1 lagi
Nurhartiningsih
woilahhh ..knp rayna??
lovina
kirain cwenya hebat taunya luluh jg bego...pasaran ceritanya..kirain beda..bkn hasil dari otak author haisl baca2 novel lain🤣, dan ini semua para author lakukan..
PanggilsajaKanjengRatu: coba baca punya aku kak, Siapa tau gak pasaran🤭 judulnya “Cinta Yang Tergadai ” ada juga soal cinta virtual yang berhasil ke pelaminan “Akara Rindu dalam Penantian”
total 1 replies
Nurhartiningsih
baru awal baca udah nyesek
Wina Yuliani
seru.... ceritanya ringan tp bikin gereget, penasaran, ada sedih tp ada manis manisnya juga, gaskeun lah pokonya mah 👍👍👍👍
Wina Yuliani
rayna yg di kasih kartu aku yg ikut kelepek2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!