"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8. Nadira pingsan
Rumah yang kini telah di atas namakan Nadira tampak ramai. Para warga datang untuk melakukan tahlilan untuk almarhumah simbok Minah.
mereka heran kenapa paklek Saruji masih belum muncul juga. disaat isteri yang sudah tua ia tinggal walaupun ada Nadira dan Elsa. Namun, bukankah aneh jika suami meninggalkan sang isteri begitu saja? Tanpa pamit tanpa penjelasan hingga sang isteri meninggal pun ia tidak tahu
"nduk, apa pakde Saruji belum ada pulang?" tanya Bu Ratna tetangga dekat rumah Nadira yang hanya berjarak dua bidang tanah
"belum bude, nggak tahu kemana. Kalo nggak salah udah sekitar dua hari paklek nggak keliatan" ucap Nadira
"semakin aneh aja tingkahnya" celetuk ibu-ibu yang duduk di sebelah Bu Ratna
"aneh gimana Bu?" tanya Elsa
"ah itu, paklek semenjak kalian tinggal ke kota dan menjaga rumah ini. Sering bersikap agak aneh. Dulu ia orangnya ramah dan suka menolong orang yang membutuhkan"
"tapi sejak tujuh tahun belakangan ini. banyak warga sini yang melihat pakde Saruji keluar masuk hutan larangan yang ada di ujung kampung" jelas Bu Dewi yang duduk di sebelah Bu Ratna
"Hutan larangan? Bukankah dulu hutan disini aman saja. Banyak kan yang mencari kayu bakar dan membawa ternak kesana untuk makan rumput" Nadira bingung karena mendengar adanya hutan larangan
Karena dulu ia selalu ikut kakeknya keliling kampung dan bermain dilapangan dekat hutan. bahkan banyak warga yang mencari kayu bakar atau bahkan mencari rumput untuk ternak mereka.
"ya, kamu kan dulu terkahir kesini umur sepuluh tahun, kalo nggak salah udah dua belas tahun lebih hutan itu sering memakan korban" ucap Bu Ratna
"maksud ibu?" tanya Elsa yang semakin penasaran
"setiap orang yang masuk ke hutan maka tidak akan pernah kembali. Bahkan hewan ternak pun tidak ada yang kembali walau hanya bulunya" ucap Bu Ratna
"astaghfirullah!"
"aaaggghhhh!!!
"toloongg!!!"
mendadak keadaan dalam rumah ricuh. para ibu-ibu yang didalam rumah berlarian dan bapak-bapak juga berdiri semua
"ada yang kesurupan!!" teriak orang-orang
tampak seorang wanita berkerudung coklat menggeliat dengan mata yang hanya nampak putih semua. Ia bergerak kesana kemari dengan posisi kayang.
"hehehe kalian semua akan mati...!!!
Hihihihi
Matiii...
Matiii...
"kau darah pilihannnn kau malapetaka untuk mereka hihihihi!!!!" wanita itu menunjuk Nadira yang tertegun dengan perkataannga
"malapetaka?" gumam Nadira
Nadira tidak menyadari jika wanita tadi sudah berada didepannya dengan air liur yang menetes
"Nadira awaassss!!!" teriak Elsa
hap
bughh
Nadira berhasil menghindar dan memegang kepala wania itu dengan mendudukkan tubuhnya kelantai
"a'udzulahiminasyaitonironim Allahulla illahailla huwal hayyul qoyyum..
Nadira membawa ayat kursi dan surah al-jin yang ia ulang-ulang hingga membuat wanita yang kesurupan tadi menggelepar seakan tubunya sedang terbakar
"aaaaggghhh!!!!! Panaasssss!!!! Hentikkaaannn!!!"
Nadira tidak menghentikan bacaannya hingga wanita berkerudung coklat itu lemas dan jatuh tak sadarkan diri.
"Alhamdulillah ya Allah terima kasih engkau telah menolongku" ucap Nadira dengan nafas tersengal
"Nadira, kamu nggak papa?" Elsa langsung menghampiri sahabatnya
"Nadira! Apa yang terjadi?" tanya Aksara yang baru saja datang
"wanita itu kesurupan Ak, dia- jin yang merasukinya menyebutku malapetaka! apa maksudnya Aksara?! Aku malapetaka hiks hiks" Nadira terduduk dengan terisak
"Nadira hei dengarkan aku! Kamu bukan malapetaka, kamu cahaya untuk kami disini kamulah penolong kami Nadira" ucap Aksara
"ap-apa maksud semua ini aksara? Kamu pasti mengetahui sesuatu kan?" Nadira mendesak aksara
"aku tidak bisa memberi tahumu sekarang" ucap Aksara
"hiks hiks aku bukan malapetaka!!" teriak Nadira hingga dia kehilangan kesadaran
"Nadira! bangun Nad" Elsa histeris melihat Nadira pingsan padahal gadis itu tidak pernah pingsan seperti ini
"Aku akan melindungimu Nadira" bisik Aksara didekat telinga Nadira dan segera menggendong Nadira untuk dibawa ke kamarnya
.
"em maaf namamu Elsa kan? tolong kamu hubungi om Wijaya dimana mereka sekarang" pinta Aksara
"oh baiklah," Elsa segera menghubungi Ayah Nadira namun hingga panggilan ketiga tidak juga di angkat
"nggak di angkat" ucap Elsa
"astaga apa yang terjadi? Seharusnya mereka sudah sampai" ucap Aksara
kamu jagakan Nadira, aku akan meminta ibuku untuk menemani kalian disini
Aksara segera keluar dari kamar untuk mencari keberadaan orang tuanya dan pak Hamdan.
"Bu, tolong temani Nadira dan Elsa mereka tidak bisa ditinggal sendiri" ucap Aksara pada ibunya
"baiklah, oh iya kami dicari pak Hamdan tadi" ucap Bu Mutia
"baik bu, aku akan menemuinya dulu. Dan berusaha berkomunikasi dengan mas Zayn." ucap Aksara
"memangnya ada apa?" tanya Bu Mutia.
"mereka dalam perjalanan kesini, harusnya sudah sampai dari tadi. Ini tadi Elsa menghubungi tapi tidak di angkat" jelas aksara
"ya Allah! cepat lah kalo begitu ibu akan kekamar Nadira dulu"
Aksara segera menemui pak Hamdan yang berada di teras dengan bapak-bapak yang lain.
"maaf bapak mencari saya tadi?" tanya Aksara
"oh iya, mati kita cari tempat untuk bicara" ucap pak Hamdan
"jadi Wijaya dan keluarga menuju kemari?" tanya pak Hamdan
"iya pak, tapi entah kenapa belum sampai dan tidak bisa dihubungi" ucap Aksara
"kamu sudah menguasai ilmu telepati kan? Maka coba hubungi Wijaya atau Zayyan" ucap pak Hamdan dan di angguki oleh aksara
Aksara duduk bersila dengan mata yang terpejam, ia mencoba fokus untuk menghubungi Zayyan
"Assalamu'alaikum mas"
"wa'alaikumsalam ak, ada apa"
"kalian dimana mas? kenapa belum sampai? Nadira pingsan mas"
"apa?! bagaimana bisa? Apa yang terjadi disana?
"tadi ada gangguan saat tahlilan, dan apa yang membuat mas dan keluarga belum sampai?
"kami juga ada gangguan, tapi tenang saja sebentar lagi kami akan tiba"
"baiklah jika seperti itu assalamualaikum"
"wa'alaikumsalam
Aksara membuka matanya dan mendapati wajah cemas pak Hamdan
"bagaimana ak? Apa yang terjadi?" tanya pak Hamdan
"mereka juga mengalami gangguan pak tapi sebentar lagi akan tiba disini" jelas aksara
"Astaghfirullah! Bagaimana ini? Dia pasti sudah tau jika Nadira disini. Kita harus waspada dan tugasmu berat Aksara! Melindungi darah pilihan agar dia juga bisa melindungi desa ini. Jika dia berhasil dalam cengkeramannya maka seluruh warga desa akan terkena dampaknya juga dan menjadi malapetaka besar!" ucap pak Hamdan
"saya akan berusaha dengan keras untuk melindungi Nadira pak! bahkan jika ia mencengkram jiwa Nadira, maka aku yang akan mengambil paksa jiwa Nadira darinya" ucap Aksara bersungguh sungguh
"aku akan melindungimu Nadira! Apapun akan aku lakukan demi menyelamatkan mu" batin Aksara
.
sedangkan Nadira yang tak sadarkan diri tampak gelisah dan mengeluarkan keringat didahinya. Ia bermimpi aneh dalam mimpinya
"dimana ini? Kenapa aku tidak bisa melihat apapun!" gumam Nadira
Tolong...
tolong kami...
Tolong lepaskan rantai ini...
toloongg!!!
Nadira menutup kedua telinganya dengan tangan karena mendengar suara minta tolong yang amat keras dan mungkin jumlahnya banyak
"suaranya sangat keras, tapi dimana mereka"
Nadira terus berjalan maju dengan pelan hingga matanya menyipit karena didepannya ada sebuah cahaya merah terang. Nadira memasuki cahaya itu dan terkejut melihat apa yang ada dipandangannya kini
"Simbaahh!!!!!!"