Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Shela melangkah ringan di trotoar, merasakan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, sambil sesekali menendang batu kecil yang menghalangi jalannya. Tangan kirinya memeluk erat gitar baru yang baru saja dibelinya. Tersenyum tipis, dia berbisik pada dirinya sendiri bahwa mulai esok, ia akan menekuni seni memetik senar itu.
Bersenandung lembut, Shela berusaha melupakan segala kesulitan hidup yang sering menghantui pikirannya. Berjalan menyusuri jalanan menuju rumah, Shela merasa ringan tanpa beban. Menjauhi mereka yang tak peduli padanya terbukti membawa perubahan besar dalam hidupnya. Sejak memutuskan untuk berubah, dunianya seolah berwarna lebih cerah. Dia kini lebih bebas, menjalani hari-harinya sesuai keinginan hati. Namun, begitu sampai di depan pintu rumah, semua keceriaan itu seakan terkunci rapat.
Ekspresinya berubah, langkah yang semula riang berubah hati-hati. Dia membuka pintu rumah dan disambut dengan tatapan tajam yang membeku dari ketiga kakaknya dan para anggota Geng Black Eagle yang mendominasi ruangan. Udara di ruang tamu itu tiba-tiba terasa lebih berat dan dingin.
Shela menghela napasnya, kenapa para manusia ini tidak menghilang saja dari hidupnya, dan juga kenapa black Eagle belum juga kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Dari mana saja lo, Shela? Lo kira pantas pulang larut malam begini? Lo itu perempuan!" kata Sagara dengan nada yang menusuk. Shela hanya diam, wajahnya datar, seolah-olah tak tergugah oleh kata-kata sinis itu.
"Bisa berbicara, kan? Kalau ditanya, jawab!" Dika menyela dengan tajam.
"Bukan urusan kalian, mau kemana pun gue pergi, itu hak gue. Gak usah sok peduli!" seru Shela, kemudian dengan langkah mantap dia meninggalkan kakak serta teman-temannya yang hanya menambah beban pikirannya.
Sampai di kamar, Shela menaruh gitarnya di samping meja belajar dan merebahkan tubuh di atas kasur, memandang langit-langit kamar yang sepi. Sebuah realisasi menyambar; perubahan yang ia lakukan ternyata memberikan dampak besar terhadap hidupnya. 'Mengapa baru sekarang?' gumamnya dalam hati.
Dengan napas berat, Shela mencoba untuk mengabaikan segala gundah. Ia menutup matanya, dan perlahan, memasuki alam mimpi, berharap dapat menemukan ketenangan yang belakangan ini begitu sulit diraih.
..
Shela mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha mengusir kabut tidur yang masih menempel. Jam di dinding berdetak pelan, menunjukkan pukul setengah lima pagi. Dia terbangun tengah malam, tenggorokannya terasa seperti padang pasir kering. Shela menyingkirkan selimutnya, turun dari ranjang dengan langkah gontai, dan memutuskan untuk turun ke dapur mencari oasisnya — segelas air minum.
Menyusuri anak tangga, dia memperhatikan beberapa sosok tak asing, teman-teman kakaknya, yang terkapar di ruang tengah, tubuh mereka tersebar seperti kapal-kapal yang karam di lautan karpet. "Mengapa mereka masih di sini?" gumamnya pelan, seraya menggelengkan kepala.
Dengan langkah yang hampir tak terdengar, Shela melintasi ruang tengah menuju dapur. Mencapai kulkas, ia membukanya dengan lembut dan menuangkan air mineral ke dalam gelas. Ketika gelasnya terisi, ia memutar badan dengan niat kembali ke peraduannya, tetapi tak sadar bahwa ada sosok berdiri tepat di belakangnya. Kontak itu begitu mendadak, menyebabkan tubuhnya terhuyung ke belakang, punggungnya bersandar keras pada kulkas. Napas tercekat, ia melirik isi gelasnya yang menari-nari tapi untungnya masih utuh, tak tumpah sedikit pun.
Shela terkejut saat dirinya mendongak dan bertatapan dengan Marvin, yang tak sengaja ia tabrak. Tanpa peringatan, Marvin mengurung tubuh Shela diantara dinding kulkas dan dirinya yang menjulang tinggi. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hanya beberapa senti memisahkan mereka; napas mereka berkejaran, menguap ke angkasa di antara helaan napas yang tegang.
Shela hanya bisa terpaku, matanya memancarkan ketidakpedulian yang jelas terbaca saat ia menatap tajam ke dalam mata Marvin. Raut wajahnya, yang biasanya bisa dengan mudah tersenyum atau merona, kali ini tak lebih dari topeng ketenangan yang menggambarkan dinginnya gadis itu.
Marvin, yang terbiasa mendapatkan sambutan riang dari Shela, kini hanya bisa meraup kebingungan. Sudah dekat, sangat dekat—bahkan biasanya jarak ini akan membuat Shela bersorak gembira. Namun, sekarang ini tidak ada tanda-tanda gugup atau riang, hanya aura dingin yang menyesakkan dada Marvin, membuatnya bertanya-tanya apa yang telah berubah dalam sekejap antara mereka berdua.
Justru sekarang tanpa disadari Marvinlah yang merasa gugup. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat ketika melihat cantiknya Wajah Shela yang dilihat dari jarak dekat. Marvin berdeham untuk menghilangkan rasa gugupnya, dia juga berusaha memasang wajah dingin untuk menyembunyikan rasa gugupnya.
"Gue akui drama Lo cukup bagus, tapi sayangnya gue sama sekali gak tertarik. Lo pikir dengan merubah sikap dan penampilan lo, gue akan tertarik sama lo?" suara Marvin mencela dengan tatapan yang meremehkan.
Shela, dengan senyuman sinis, menanggapi,"Jadi, secara tidak langsung lo menyatakan ketertarikan lo terhadap drama gue. Sayang sekali gue tidak berakting untuk pujian lo. Lo pikir lo begitu sempurna hingga gue harus bermain drama gak jelas ? Tingkat narsisme lo sudah melampaui batas, gue sarankan lo kurangi sedikit, agar lo tidak tenggelam dalam kehinaan." Selesai berkata, Shela menginjak kaki Marvin dengan keras. Rasa sakit membuat laki-laki itu mengerang, kehilangan keseimbangan sejenak. Shela mendorong tubuh Marvin dengan tegas dan meninggalkan dia yang masih menahan sakit, terduduk lemas di lantai dengan air muka yang memucat.
Tanpa keduanya sadari, sedari tadi seseorang menyaksikan itu semua. Reygan, dia menyaksikan itu semua, dia tersenyum tipis ketika melihat bagaimana Shela menghadapi Marvin sekarang, hal itu terlihat keren di matanya. Seharusnya sedari dulu Shela melakukan hal itu.
Shela melangkahkan kaki untuk kembali ke kamarnya, di sana ia melihat beberapa orang sudah terbangun, sebagain dari mereka juga tengah menatapnya. Shela tak peduli dan kembali melanjutkan langkahnya.
Sedangkan di dapur Marvin masih meringis, kakinya terasa berdenyut karena diinjak sekuat tenaga oleh Shela. Ia jadi bertanya-tanya kenapa Shela yang selalu cari perhatian itu,jadi sedingin dan sekuat ini?
----
Di kamar, Shela memilih tidak kembali tidur karena ini sudah pagi, takut jika tidur lagi dia malah membuatnya telat ke sekolah. Sambil menunggu matahari terbit, dia merapihkan tempat tidurnya dan menyiapkan segala peralatan sekolah. Mulai hari ini, dia tidak perlu menyembunyikan ambisi dan kepintarannya. Lihat saja, gadis yang selalu dianggap tidak berguna ini akan membuat mereka terkejut dengan kemampuan dia yang sebenarnya.
Setelah merapikan alat tulisnya, dia mengambil seragamnya yang ternyata masih kusut. Dia mengambil seragam itu, dia kembali ke luar kamar menuju ruang laundry. Kebetulan di sana sudah ada mbok Inah dan satu asisten rumah tangga lain.
"Neng Shela, ada apa?" tanya Mbok Inah dengan nada kekhawatiran ketika melihat gadis itu berdiri dengan seragam sekolahnya yang kusut di tangan. "Ini Mbok, seragam aku tampak seperti baru saja diinjak-injak, terlalu lama bertumpuk bersama pakaian lain dan jadi keliatan kusut lagi."
"Oh, yasudah simpan saja di sini, nanti Mbok antar ke kamar Non ya," Mbok Inah berusaha mengambil seragam itu dari tangan Shela.
Shela, dengan tekad yang membara, menggeleng keras. "Aku mau belajar menyetrika sendiri, Mbok."
Baik Mbok Inah maupun asisten rumah tangganya yang lain terkejut mendengar keinginan Shela yang tiba-tiba. "Eh, jangan Non. Setrika itu panas, bisa membakar kulit non. Lagipula, menyetrika sudah menjadi bagian dari tugas kami, biarkan kami yang melakukannya."
Namun, wajah Shela memerah, seakan ada bara yang menyala di dalam hatinya. "Yah, Mbok, biarkan aku belajar. Aku juga perlu mandiri. Bagaimana jika suatu hari nanti Mbok dan Bibi harus pulang kampung?"
Mendengar itu, Mbok Inah menghela napas panjang, sebuah keputusan terukir di wajahnya. "Baiklah, yaudah. Mari sini, Mbok ajarin cara yang benar menyetrika seragammu."
Pada saat itulah, pelajaran bukan hanya tentang menyetrika, tetapi juga tentang keberanian dan kebebasan.
Shela lalu memperhatikan mbok Inah yang sedang menyetrika seragamnya sambil menjelaskan cara-caranya. Shela mengangguk sekali melihat dia langsung paham, ternyata menyentrika tidak sesulit yang dia kira. Sebagai percobaan pertama, Shela pun berinisiatif untuk menyetrika baju lain miliknya yang belum sempat si setrika oleh asisten rumah tangganya. Sekali percobaan dia langsung bisa mempraktekkannya dengan baik.
Mbok Inah tersenyum lebar, mengamat-amati Shela dengan kebanggaan yang meluap-luap. "Bagus sekali, non! Non cepat belajarnya. Sekarang non siap-siap aja ya untuk sekolah, seragam sekolah non juga sudah disiapkan,ini."
Shela mengangguk, matanya bersinar-sinar. "Terima kasih, Mbok. Nanti ajari aku memasak, ya," katanya seraya bergegas menuju kamarnya. Pada langkah menuju kamarnya, Shela tak sengaja berpapasan dengan Dika.
Dia hanya memandang dengan tatapan yang datar dan dingin, lalu mengalihkan pandangannya dengan segera dan melanjutkan langkahnya. Dika berhenti sejenak, kesepian menyelimuti hatinya, dan rasanya ada sayatan kecil di hatinya. Dika masih memandang Shela dari kejauhan, mengamati setiap gerakan adiknya sampai akhirnya gadis itu menghilang di balik pintu. Perasaan asing dan dingin itu kembali menghantui Dika. Dulu inilah yang sangat diinginkannya. Namun, kini, semuanya terasa begitu jauh dan asing, seolah mereka berdua terperangkap dalam dimensi yang berbeda.