Hallo pembaca hebat, saya membawakan cerita baru dengan judul "PANGGIL AKU MAS!"
Kisah pemuda yang tampan, pekerja keras dan hidup mandiri. Dia sudah satu tahun hidup di ibukota, dan jauh dari keluarga.
Prasetya Wardana, pemuda 24 tahun kelahiran Boyolali dan lulusan Sarjana Informatika dari Universitas Negeri di kota Semarang.
Pasetya yang sering dipanggil dengan nama Pras itu, dia bekerja di sebuah perusahaan swasta ternama di kota Jakarta.
Pras yang sering menggunakan logat Bahasa Jawa.
Pras yang tampan banyak di gemari gadis, tapi dia juga pernah di tolak saat melamar gadis.
Mau tahu tahu kisah Prasetya Wardana?
Gadis cantik mana yang akan mendampingi Prasetya?
Apakah Pras akan terus tinggal di ibukota?
Keluarga, cinta, pekerjaan dan kasih sayang akan ada dalam cerita ini.
Cerita ini hanya karangan belaka, bila ada kesamaan nama karakter dan nama tempat, mohon dimaklumi.
Penulis berharap kepada para pembaca untuk memberikan like, koment, rate dan vote.
Terima kasih 🙏
"Panggil aku mas!" 😎 Jangan lupa "Panggil aku mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie_Gv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepasang Suami Istri
Pras melekatan peci diatas meja dalam ruang kamar yang sudah disiapkan Evan, tadi ia juga memakai jas di kamar ini.
Pras perlahan melepas jasnya dan menaruh kembali ketempat jas itu. Pras masih tidak percaya akan hari ini. "Aku ngimpi?" Gumam Pras yang melepas kancing kemejanya.
Tok tok tok
Pras mengancingkan kembali kemeja berwarna putih itu lalu membuka pintu kamarnya.
Sepasang mata yang berbinar dan sangat berkilau menatap teduh sosok Pras "Pras, ayo kita makan. Semua sudah menunggu kamu di ruang makan." Ucap Britney dengan suara pelan.
"Baik, saya mau ganti baju dulu." Ucap Pras yang masih kaku.
"Iya, silahkan." Ucapan Britney juga menjadi canggung.
Britney berjalan pergi dan Pras menutup pintu kamar itu, sesaat Pras bersandar disisi pintu. "Aku ora ngimpi. Gusti aku kudu piye?"
Pras dengan cepat melepas satu persatu kancing kemeja itu, lalu berganti dengan kaos yang ada didalam tas ranselnya. Kaos berkerah berwarna hitam bergambar wayang.
Pras menyemprotkan parfum, lalu membenahi rambutnya. Pras kemudian mencuci tangannya di wastafel kamar mandi yang ada di kamar itu. Kamar yang cukup besar dan sangat mewah bagi seorang Pras.
Pras menuruni tangga rumah itu, dan mereka semua menatap Pras yang begitu tampan. Bahkan Maeva juga terpesona akan sosok pria yang berjalan mendekat ke arah mereka.
"Pras, ayo duduk sini." Sarah menyuruh Pras duduk disebelah kanan Britney.
Britney yang menjadi canggung saat ini hanya diam dan bingung harus berbuat bagaimana.
"Britney, harusnya kamu memperhatikan suami kamu. Bukannya Mamah aku." Ucap Maeva.
Britney hanya diam tidak menghiraukan ucapan ketus Maeva.
"Pras, ayo makan. Jarang sekali kita makan bareng begini. Apalagi ini hari kerja." Ucap Evan yang terlebih dulu mengambil nasi.
Ferdi tersenyum dan menatap Pras "Pras, kamu tidak perlu canggung. Anggap saja kamu di rumah sendiri. Britney juga putri saya, dan kamu menantu saya. Mari kita makan."
Britney dengan lebih dulu mengambil piringnya Pras dan mengambilkan makanan, setidaknya Britney sudah tahu kalau Pras suka ayam goreng dan sambal. Britney mengambilkan sayur asem di mangkok kecil dan Pras mulai tersenyum.
Maeva merasa dua orang ini aneh. Mereka pengantin baru tapi seperti baru pertama kali pacaran. "Hei, kalian berdua masih kaku ajah."
"Maeva.. Makan dulu sayang." Ucap Sarah.
"Saudaraku yang cantik, bulan depan kamu juga seperti aku. Aku akan menyaksikannya kalian." Ucap Britney dengan tersenyum.
"Tapi aku tidak akan disini. Aku akan tinggal berdua saja dengannya." Ucap Maeva.
"Benar, aku juga akan mengikuti suamiku." Ucap Britney.
"Eheemmss... Pras apa kamu punya adik Perempuan? Memiliki dua adik perempuan ini sangat tidak enak." Ucap Evan.
"Saya juga memiliki dua saudara perempuan." Ucap Pras.
Pras tersenyum dan memegang tangan Britney "Nanti kamu mau ikut aku?"
Britney mengangguk dan semua tersenyum menatap Britney.
Sudah hampir sore, Britney menata bajunya dalam koper. Apalagi besok pagi mereka juga pergi ke Semarang.
Pras, Ferdi, Evan dan Sarah berbincang di ruang keluarga. Mereka semakin akrab, bahkan Sarah ingin sekali nantinya berkunjung ke rumah orang tua Pras.
Ferdi hampir lupa, dia tidak mengabari Restu tentang hal ini. Lalu Sarah mengatakan besok saja berkunjung ke rumah kakeknya Britney dan memberitahunya pelan-pelan.
Evan juga setuju dengan Mamahnya, apalagi tentang keyakinan Britney sekarang.
Pras bahkan belum pernah bertemu dengan pemilik perusahaan dimana dia bekerja. Pras hanya mengenal Ferdi dan Evan karena mereka atasannya di kantor dan Kakeknya Britney sudah tidak aktif ke kantor.
Britney meminta Evan untuk mengantarkannya ke kostnya Pras, yang tidak jauh dari rumah Ferdi. Sarah tersenyum dan tidak menahan Britney.
Maeva tersenyum, ternyata saudara perempuannya saat ini sudah kalah dengannya. Maeva berfikir Pras cuma menang tampan dan Pras hanya dari keluarga sederhana.
Berbeda dengan Keluarga Husein yang terkenal dengan juragan kontrakan dan memiliki beberapa lahan.
"Aku pergi, tidak ada lagi yang akan mengganggumu." Ucap Britney.
"Emms.. Baguslah. Nanti aku akan siapkan kado yang cocok buat kalian." Ucap Maeva.
Britney memeluknya dan berbisik "Aku tahu uangmu sangat banyak. Cukup belikan aku rumah mewah. Pasti aku akan kalah denganmu."
Maeva geram, Britney sangat menggoda dia yang tidak memiliki pekerjaan apapun, bahkan diusianya saat ini, dia masih meminta kedua orang tuanya dan juga kakaknya.
Pras berpamitan dengan mereka dan mengatakan akan berkunjung lagi nanti setelah dari Semarang.
Ngeeeeng!!!
Evan mengikutinya dari belakang dan berbincang dengan Britney. Evan memberi beberapa nasehat untuk Britney dan Britney merasa abangnya tidak berubah "Aku mengerti, terima kasih abangku."
Evan tersenyum dan berharap adiknya akan bahagia bersama Pras.
Sesampai di kost, Evan tidak turun dari mobilnya. Dia mendapat telfon dari karyawan yang di proyek. Britney turun dari mobil dan Pras mengambil koper Britney.
Evan pergi dengan rasa tenang. Apalagi melihat sosok Pras yang cukup perhatian kepada adiknya.
Britney dengan tenang mengikuti langkah Pras berjalan, karena banyak yang menatap Pras, akhirnya Pras mengandeng tangan kanan Britney. Britney merasa aneh, tapi Britney menurut apa yang Pras lalukan.
"Iki kamar kita. Kamu tidak keberatan?" Tanya Pras.
"Aku tahu. Aku tidak keberatan." Ucap Britney.
Pras bingung mau bagaimana.
"Kamu disini dulu, aku mau melapor sama pemilik kost."
"Baik."
Pras menutup pintunya dan keluar. Anton yang baru pulang dari kampus melihat Pras berjalan cepat. "Kak, mau kemana?"
"Ke rumah ibu kost."
Anton melihat sepertinya Pras sangat buru-buru, Anton berjalan masuk dan bertemu teman kostnya mereka mengatakan kalau Pras pulang membawa gadis cantik.
Cukup lama Pras baru kembali ke kamarnya.
"Kamu tidur." Pras melihat istrinya tidur.
Sudah hampir maghrib Pras membangunkan Britney. Britney merasa ini sebuah mimpi, Britney terkaget saat melihat sosok Pras yang duduk disampingnya. Dengan cepat Britney duduk dan salah tingkah. "Maaf, tadi aku ketiduran."
Dengan lembut tangan Pras mengusap keningnya yang berkeringat. "Kenapa tidak menyalakan AC, kamu sampai keringetan."
"Iya, tidak apa-apa. Aku akan mandi."
"Sebentar lagi sudah adzan Maghrib."
Pras mengambilkan minum untuk Britney, kedua tangan halus menerima gelas bening itu dan Pras tersenyum melihat Britney yang sangat polos.
Britney beranjak dari kasur, meletakan gelas itu di meja. Menuju kamar mandi, tapi dia lupa membawa bajunya. Kembali lagi dan membuka koper mengambil peralatan mandi dan juga satu stel baju tidur lengan pendek berwarna biru muda.
Pras yang diluar dan mengobrol dengan Anton dan lainnya. Pras mengatakan kalau yang didalam adalah istrinya. Tadi siang mereka menikah dan besok pagi berangkat ke Semarang. Pras berpesan agar Anton tidak memberitahu Rendy.
Pras mengimami istrinya, Britney sebagai makmum dia dengan khusyuk mengikuti gerakan imamnya. Mereka berdua sholat magrib bersama, di ruangan yang cukup sempit untuk dua orang. Tapi mereka berdua tetap khusyuk dalam sholatnya.
Britney mencium tangan Pras dan Pras lalu melanjutkan berdo'a. Britney masih dalam mukena pemberian Pras saat menikah, lalu Pras menyuruh Britney duduk disebelahnya.
Pras menyentuh ubun-ubun Britney dan melafalkan sebuah do'a dalam hatinya. Britney tanpa sadar ada yang menetesi pipinya.
Deg Seerrr!
Pras menatap Britney "Kamu istriku dan aku suamimu. Mulai sekarang kamu tanggung jawabku. Aku juga berharap kamu mengerti keadaanku."
"Iya.. Aku tahu."
"Panggil aku mas!"
"Mas?"
"Iya.. Panggil aku mas!"
"Baik, Mas."
Pras memeluk Britney dengan perasaan dalam hatinya. Perlahan rasa dingin tangan Britney mulai menyentuh punggung Pras.
.
.
.
Maaf kalau masih banyak Typo dalam tulisan ini. Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar, Rate dan Vote. Terima kasih semuanya. 🙏
.
bahagia nya Brithney...❤️