Ambivalen adalah dua hal yang bertentangan seperti mencintai dan membenci sekaligus terhadap orang yang sama.
Kisah ini tentang seorang lelaki nasrani bernama Jonathan Yohve Sheehan yang mencintai gadis muslim bernama Mazea Arbiansyah.
Mereka dipertemukan di awal semester kelas XII GEOMATIKA dengan beberapa ketidak sengajaan yang berlanjut sampai kuliah.
Apakah Jonathan akan memendam rasa? Atau akan mengungkapkan rasa meskipun tau tidak akan bersama?
Atau Jonathan akan mencari gadis lain yang seiman? Apa justru mengikuti perasaannya?
Lalu bagaimana respon dari keluarganya jika mengetahuinya?
Jadi sempatkan waktu untuk membaca kisah mereka di novel dengan judul “AMBIVALENSI LOVE”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
MAZEA POINT OF VIEW:
🐈🐈🐈
Kami masih mengikuti pelajaran seperti biasanya. Dan aku benar benar kehilangan laki laki bernama Jonathan itu, dia tidak pernah lagi menatapku. Bahkan dia tidak lagi melihatku ketika kami berpapasan. Dia juga tidak menoleh kearahku ketika lewat di depan bangkuku.
Rasa sesak tiba tiba merambat di dalam hati dan jiwaku, rasanya ada yang hilang dalam hidupku. Aku kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah ku miliki. Sekali lagi aku menepuk pelan dadaku untuk menghilangkan rasa sakit yang menjalar di hatiku.
Sepulang sekolah, aku bingung mau kemana? Jam segini biasanya Jo mengajakku makan sepuas nya di restaurant mahal ber-merk R-STORY. Tapi sekarang aku bahkan tidak punya tujuan.
Apa aku harus pulang? Aku rasa menambah beban pikiran saja jika pulang ke rumah. Akhirnya aku putuskan untuk pergi ke rumah tanteku. Aku memasuki pagar dan masuk ke halaman nya yang sangat asri itu. Ku lihat dua gadis seumuran yang sedang memakai seragam SMA duduk bercanda di rumput.
“Kak Zea,” sapa Kayla.
Kayla adalah anak kedua tante Chika dan Om Kevin. Dia memiliki kakak laki laki yang umur nya beberapa tahun diatasku nama nya Gibran.
“Hi… Sedang apa kalian?” sapaku sambil berbasa basi.
“Kenalkan, dia sahabatku namanya Brianna,” kata Kayla memperkenalkan gadis di sebelah nya itu.
“Hi, Brianna. Senang berkenalan denganmu,” kataku tersenyum dan duduk di antara mereka berdua.
“Tumben kesini?” Tanya Kayla padaku.
“Aku mau minta makan sama om Kevin, bosan makan di rumah,” kataku terkekeh.
“Cepat makanlah kak, setelah itu bantu kami ya?” kata Kayla.
“Bantu apa?”
“Kami berdua mau membuat video keren yang akan kami unggah. Kakak bisa kan mengatur camera nya untuk mengambil video kami dari sudut terbaik, ” kata kayla.
“Kamu pikir mengintip dari theodolite sama dengan juru kamera?” celetukku.
“Kak Zea seorang surveyor?” Tanya Brianna dengan tatapan berbinar binar.
“Calon surveyor,” sahutku.
“Mommyku juga surveyor,” sahut Brianna.
“Kebetulan sekali sih, banyak orang yang ku kenal orangtua nya tuh jurusan geomatika semua. Kamu orang kesekian yang dari keluarga geomatika. Kenapa pilih sekolah SMA?” sahutku tersenyum pada nya.
“Aku ingin jadi dokter,” jawab Brianna.
“Wow, keluarga kaya,” kataku cepat.
“Mama nya pemilik R-STORY kak, kakak pasti tidak pernah makan di tempat semahal itu kan?” ledek Kayla.
Ya Tuhan, R-STORY? Mengingatkanku pada Jonathan saja. Aku jadi memikirkan laki laki itu lagi, sedang apa dia sekarang?
“Kakak… kenapa bengong?” Tanya Kayla.
“Aku lapar, kakak makan dulu ya,” sahutku berlalu masuk ke dalam rumah itu.
Aku melewati ruang tamu dan melihat tante Chika duduk sambil meminum jus jeruk di sofa ruang tamu.
“Zea, kamu lama sekali nggak kesini? Tante kangen tau,” kata tante Chika mendekati dan memelukku.
“Rasa nya aku ingin tinggal disini dengan tante dan Om Kevin,” sahutku.
“Ada apa sayang?”
“Mama papa uda nggak sayang Zea,” kataku mulai terisak.
Tante Chika memelukku erat penuh kasih sayang. Dia mengusap punggung dan rambutku beberapa kali. Sesekali dia menghapus air mataku dengan ibu jari nya dan memelukku lagi.
“Ayo duduk dulu, cerita sama tante,” kata tante chika.
Aku mulai duduk di samping nya dan menceritakan semua masalahku dengan Chelsea dan sesekali menangis lagi. Tante Chika mendengarkanku dengan seksama penuh perhatian. Kenapa bukan mereka saja yang jadi orangtuaku?
“Apa tante harus bercerita semua padamu?” Tanya tante chika.
“Apa tante akan bercerita tentang mamaku yang merebut papa dari tante citra?” kataku sedih.
“Tidak seperti itu sayang, apa aku harus membuka aib seseorang?”
“Aib mama ya tante?” tanyaku semakin frustasi.
“Janji jangan bilang siapa siapa ya? Rahasia kita berdua,” kata tante Chika mulai mengulurkan jari kelingking nya seperti anak SD yang sedang mengadakan perjanjian dengan teman sebaya nya. Dengan reflek ku terima uluran jari kelingking nya itu dengan menautkan jari kelingkingku pada kelingking nya.
“Mamamu tidak pernah merebut siapapun termasuk papamu,” kata tante chika.
“Lalu?” tanyaku penasaran.
“Cerita nya panjang Zea, dulu mama sama papa kamu memang pacaran,”
“Benarkah? Tapi kenapa papa menikah dengan tante Citra?” tanyaku mulai bersedih lagi.
“Sampai akhirnya tante Citra hamil Chelsea di luar nikah, jadi papa kamu menikahi nya,”
“Apa papa melakukan hubungan di luar nikah dengan tante citra? Berarti papa yang menghianati mama?” tanyaku mulai terisak.
Aku bukan anak kecil lagi, semua anak seumuranku juga tau apa itu hubungan suami istri meskipun tidak detail.
“Tidak, Chelsea bukan anak papamu,” kata tante Chika yang membuatku cukup terkejut sekaligus ada aliran hangat di dalam hatiku. Rasanya berita ini sangat menyejukkan jiwaku.
“Lalu anak siapa?”
“Tentu saja putri Om Marchel,” sahut tante chika.
“Tapi kenapa nikah nya sama papa? Kenapa di akta kelahiran ada nama papa?” tanyaku tidak terima.
“Akta kelahiran kan bisa saja bukan asli nya, saat itu tidak ada yang mau bertanggungjawab selain papa kamu,”
“Inti nya papa berkorban?”
“Bukan papa kamu saja, mamamu juga mengorbankan perasaan nya,”
“Apa kisah mereka rumit sekali?” aku menyesal membuat mama bersedih.
“Begitulah, semoga kamu mau mengerti keadaan nya,” kata tante chika menenangkanku.
Sekarang tante Chika menemaniku makan di meja makan dengan masakan yang sudah tersedia mulai tadi siang. Dia menghangatkan masakan nya untukku dan aku melahap nya dengan mata berbinar binar. Masakan nya benar benar enak. Aku bahkan menambahkan nasi di piring yang sudah kosong dan melahap nya lagi.
“Tante, aku pamit pulang,” seorang gadis memakai tas pink mendekati kami.
“Cepat sekali, Brianna?” sahut tante Chika.
“Ini sudah mau gelap, nanti bibiku akan mengkhawatirkanku,” kata Brianna.
“Mengapa bibimu yang khawatir? Mama dan papamu?” tanyaku.
“Mereka sibuk bekerja, biasanya baru pulang jam 7 malam. Aku kan sudah bilang jika mommyku surveyor kak, apa kak Zea mau ikut ke rumahku?” Tanya Brianna.
“Untuk apa?” tanyaku.
“Aku akan meminjamkan satu theodolite mamaku untukmu, koleksi nya banyak sekali,” sahut Brianna.
“Itu kan barang mahal, apa boleh?” tanyaku hati hati.
“Tentu saja, mamaku akan senang jika ada yang tertarik dengan theodolite. Tapi jangan pinjam yang tipe terbaru. Mama akan menggunakan theodolite tipe terbaru dalam pekerjaan nya,”
“Apa mamamu juga bersedia mengajariku menghitung data?”
“Tentu saja kak,”
“Apa aku boleh ikut sekarang?” tanyaku tertarik.
“Boleh, kita main dulu menunggu jam 7 malam. Mommy baru pulang jam 7,”
“Main?” aku menggaruk kepalaku bingung.
“Maksudku ngobrol di rumahku untuk menunggu mommyku pulang,”
“Baiklah, aku juga belum mau pulang,” kataku tersenyum.
Aku memasuki mobil Brianna yang lumayan mewah. Ada sopir pribadi yang setia mengantar jemputnya kemana mana. Tentu saja dia kaya, putri dari pemilik R-STORY sih. Setelah mobil melaju cukup lancar tanpa hambatan, akhirnya kami sampai di sebuah rumah yang megah.
Apa ini benar rumahnya? Aku menelan ludah, sekaya apa dia?
Dia menarikku untuk masuk ke rumah nya. Dengan bahagia nya dia memperkenalkanku pada bibi nya. Aku duduk manis di sofa ruang tamunya sambil menunggu dia berganti pakaian.
Aku melihat sekeliling memperhatikan ruang tamu rumah nya. Ada tanda salib di tembok dengan ukuran besar, apa dia nasrani? Kenapa aku jadi ingat Jo lagi sih? Kenapa banyak sesuatu yang mengingatkanku pada nya.
“Apa menunggu lama?” Tanya Brianna yang tiba tiba muncul dengan baju santai nya. Dia terlihat cantik sekali.
“Tidak,” sahutku tersenyum padanya sambil menyeruput jus jeruk yang dibuatkan bibi tadi.
“Apa kakak sudah punya pacar?”
“Belum,” sahutku malu karena belum punya pacar.
“Kenapa kita senasib sih? Aku tadi langsung suka melihat kak Zea,”
“Kenapa?” tanyaku tersenyum.
"Gaya kita sama, serba pink dan sepertinya selera kita juga sama. Aku lihat model sepatu kakak, tas kakak dan model rambut kita juga sama,” kata Brianna.
“Ya, kenapa aku baru sadar,” kataku terkekeh.
“Kenapa orang seperti kita sulit punya pacar ya kak?” Tanya Brianna.
“Kenapa? Kamu menyukai seseorang?” tanyaku santai.
“Begitulah, aku menyukai nya sejak dulu.Tapi sepertinya dia tidak menyukaiku,” sahut Brianna dengan menghembuskan napas kasar.
“Apa kamu sudah mengungkapkan perasaanmu?”
“Apa tidak masalah jika perempuan mengungkapkan perasaannya duluan?”
“Apa salahnya? Yang penting hatimu lega,” kataku.
“Kak Zea… kamu benar benar bisa membuatku semangat lagi,” kata Brianna.
Tiba tiba suara pintu terbuka dan datanglah wanita cantik dengan gaya casualnya yang lumayan keren. Apa ini mommy nya? Pemilik R-STORY? Cantik sekali.
Aku tersenyum hormat padanya dan kami ngobrol sebentar sehingga suasana menjadi hangat. Beliau mengajakku menuju sebuah ruangan yang terdapat banyak type theodolite yang terpajang di etalase.
Kemudian beliau mengajariku cara menghitung data dan lain sebagainya. Bahkan beliau akan memberiku software terbaru padaku tapi menunggu jika ada waktu senggang.
Sekitar satu jam kami bertiga bercengkrama, kami keluar dari sebuah ruangan dan aku menghentikan langkahku ketika seseorang bernama Jonathan berdiri di hadapan kami dengan tatapan dinginnya.
“Sudah pulang Jo?” Tanya mama nya Brianna yang ku kenal dengan nama tante Rere itu.
“Kak Jo, kenalkan namanya kak Zea,” kata Brianna masih memeluk lenganku.
Jonathan masih menatapku dengan tatapan dingin tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sampai akhirnya dia berbalik badan dan meninggalkan kami. Rasanya hatiku sakit, kenapa dia berubah secepat itu? Apa dia benar benar membenciku sekarang? Aku mulai meremas ujung seragam bawahku karena merasa diabaikan oleh Jo. Apa ini keluarganya? Sepertinya aku salah masuk rumah.
“Abaikan saja, kakakku memang dingin seperti itu,” kata Brianna tersenyum menghiburku yang sudah terlihat pucat.
“Iya, nggak papa,” kataku singkat mencoba untuk tersenyum.
“Dia sedang banyak masalah, makanya bersikap seperti itu. Sebenarnya dia baik,” sahut brianna lagi.
“Masalah?” tanyaku.
“Cinta monyet Zea, dia jatuh cinta pada perempuan muslim. Kami dari keluarga Kristen, kamu pasti tau dengan melihat hiasan di tembok kami kan?” kata tante Rere tersenyum.
Aku hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum pertanda mengiyakan.
“Kamu muslim kan? Aku rasa kamu juga tidak mungkin berpindah agama demi cinta kan?” Tanya tante Rere.
“Tentu saja tidak, tante… Sepertinya sudah malam, Zea pamit dulu ya tante,” kataku tersenyum.
“Biar Jo yang anter kamu, supir keluarga kami sudah pulang semua,” kata tante Rere.
“Zea bisa pulang sendiri tante,” kataku.
Jonathan mencoba mencari sesuatu di lemari yang berisi banyak buku di ruang tamu tersebut tanpa memandang kearah kami. Dia masih sibuk memilah milah buku dengan santai nya.
“Jo… Antar Zea pulang,” kata tante Rere.
Laki laki itu masih sibuk dengan bukunya masih mengacuhkan kami.
“Zea bisa naik angkutan umum,” kataku tau diri.
“Zea, ini sudah malam. Bahaya jika naik angkutan umum,” sahut tante Rere.
“Nggak papa tante, Zea pamit dulu,” kataku mulai beranjak dari kursi itu.
“Aku antar,” kata Jonathan mulai memakai jaket nya.
“Aku ikut,” kata Brianna.
“Aku mau pake motor,” sahut Jo.
“Aku takut kak Jo bakalan ngambil kesempatan untuk cewek secantik kak Zea,” sahut Brianna.
“Apaan sih?” kata Jo kesal tapi masih dengan tatapan dingin.
“Bawa mobil aja Jo, uda malam juga,” sahut tante Rere.
Akhirnya kami bertiga menaiki mobil tante Rere dengan posisi Brianna dan Jo di kursi depan, sedangkan aku duduk di belakang. Sepanjang perjalanan, Aku dan Jo masih terdiam dengan pikiran masing masing, hanya terdengar suara Brianna yang sedang mengajak kami ngobrol.
“Berhentilah bicara, suara cempreng mu itu menggangguku,” kata Jo.
“Aku sedang tidak berbicara padamu kak Jo, Aku sedang berbicara dengan kak Zea. Kami memiliki kesamaan dalam segala hal, dan aku akan mengajaknya ngobrol sepanjang waktu. Baru kali ini aku menemukan teman yang klik,” kata Brianna.
“Jangan berlebihan,” sahut Jo.
“Bolehkah aku meminta nomormu kak Zea?” Tanya Brianna sambil menyerahkan ponsel nya.
“Boleh,” jawabku tersenyum menerima ponsel darinya dan mengetikkan nomorku disana.
Tiba tiba mobilnya sudah berhenti saja di depan rumahku.
“Kenapa berhenti kak jo?” Tanya Brianna.
“Sudah sampai,” sahut Jo.
"Memangnya kamu tau rumah kak Zea, kita bahkan tadi lupa menanyakan alamat nya,” sahut Brianna.
“Ini sudah sampai, itu rumahku. Trimakasih sudah mengantarku,” kataku tersenyum pada Brianna.
Aku membuka pintu mobil dan turun dari sana. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum pada Brianna yang masih terlihat kebingungan di wajahnya.
jangan lupa tinggalkan like,
comment juga ya,
vote nya sekalian 🤭
aku keliru bacanya. mulai baca dari Chelsea baru mundur 😁😁😁
tapi gak mungkin juga nabilla berani bilang klo dia hamil sama jo kan??????...yuk kita tuntaskan pronlem ini