Diana, gadis 18 tahun, menemukan kebenaran tentang keluarganya yang sebenarnya setelah 18 tahun hidup bersama keluarga angkat. Dengan kalung berlambang keluarga Pradana dan foto keluarga aslinya, Diana berangkat ke kota besar untuk mencari kebenaran.
Di kota, dia bertemu dengan pemuda misterius yang membantunya mencari alamat keluarga Pradana.
Apakah diana akan menemukan keluarganya?dan siapakah pemuda yang sangat baik membantunya,lanjutkan membaca jika ingin tahu kelanjutannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasna alna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Satu minggu berlalu, Diana menunjukkan kemampuan luar biasa. Dengan cepat, dia menguasai rutinitas kerja sebagai asisten pribadi Axcel. Edo, asisten sebelumnya, sangat puas dengan kemajuan Diana.
Pagi buta diana menuju kediaman Axcel sendirian. Dia mengenakan jaket karena hari terasa sangat dingin. Didepan gerbang yang menjulang tinggi diana menatap lurus kedepan. "hari pertamaku, kamu harus bisa, semangattt.."
Tak lama, ada seorang satpam yang membukakan gerbang itu. Diana memasuki pelataran rumah yang terlihat sangat luas dan taman bunga yang indah.
Sampailah dia dipintu depan. Para maid yang berlalu lalang seketika berhenti dan menyapa Diana dengan sopan. Ada salah satu maid yang mengarahkan Diana kekamar Axcel. Padahal Diana sudah mengerti denah rumah ini, namun dia suka menghargai pekerjaan orang lain.
"Terimakasih." ucap diana sambil tersenyum manis.
"Sama sama nona cantik."
Masuklah Diana kedalam kamar Axcel, dia melihat pria itu masih tertidur pulas dengan selimut yang menggulung tubuhnya. Bagi yang belum terbiasa, pasti akan sangat terpesona dengan pahatan wajah yang sempurna milik Axcel.
Tidak ingin membuang waktu lama untuk mengamati wajah Axcel, diana lekas menyiapkan baju kerja Axcel, meletakkannya rapi di ranjang. Dia membangunkan Axcel secara lembut memastikan sang empu telah terbangun.
Setelah itu, dia bergegas ke dapur membuat sarapan pagi. Jam kerjanya dimulai pukul 05.00 hingga 14.00, dengan tugas utama melayani kebutuhan pribadi Axcel dan kadang-kadang sebagai sekretaris dadakan.
Axcel yang sudah rapi, kini menuruni tangga menuju ruang makan. Dia menatap Diana dari kejauhan. Tubuh ramping Diana membuat Axcel terpesona. "bahkan dia membelakangimu saja jantungmu berdetak kencang Axcel." dia menyalahkan dirinya sendiri.
"ohh selamat pagi pak Axcel, silahkan menikmati sarapannya. Saya akan menyiapkan beberapa berkas yang masih tertinggal diruang kerja anda."
"Baiklah, tapi setelah sarapan denganku. Kamu harus menemaniku sarapan setiap harinya Diana." ucap Axcel tegas.
Diana tersenyum kaku dan mengangguk setuju.
Dikantor
Axcel tersenyum bangga menyaksikan presentasi Diana. Kecerdasan dan kemampuan analitisnya sangat mengesankan. Tepuk tangan meriah dari para rekan bisnis mengikuti akhir presentasi.
Salah satu rekan bisnis bertanya, "Pak Axcel, dari mana Anda menemukan bakat muda ini? Lulusan universitas mana?"
Axcel menjawab dengan bangga, "Diana adalah asisten pribadi saya. Meskipun hanya lulusan SMA, kemampuannya luar biasa."
Mereka terkejut dan bangga bersamaan. "Lulusan SMA saja bisa berprestasi seperti ini?" salah satu rekan bisnis bertanya dengan takjub.
Axcel tersenyum. "Bakat dan kemauan belajar Diana luar biasa. Dia membuktikan bahwa lulusan SMA juga bisa bersaing dengan lulusan universitas."
Semua yang hadir mengangguk setuju, salut dengan kemampuan Diana.
Rekan-rekan kerja Axcel berjabat tangan, menandai akhir rapat panjang tersebut. Axcel tinggal bersama Diana di ruangan. Dia mendekati Diana dengan senyum hangat.
"Diana, kamu luar biasa!" kata Axcel. "Selamat atas kesuksesanmu. Ini bonus pertamamu."
Axcel menyerahkan amplop berisi bonus kepada Diana, mata mereka beradu dalam kesenangan dan kebanggaan.
Diana menerima amplop bonus dengan mata berbinar-binar, wajahnya merona merah karena malu dan bahagia.
"Terima kasih banyak, Pak Axcel!" ujarnya dengan rasa terima kasih.
Axcel tersenyum hangat. "Selanjutnya, kamu harus terus meningkatkan diri. Saya sudah mendaftarkan kamu di salah satu universitas terbaik di kota ini. Jaraknya dekat dengan apartemenmu, tapi saya sarankan kamu pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kantor atau rumah saya untuk memudahkan mobilitas."
Diana mengangguk setuju, matanya bersinar dengan harapan akan masa depan cerah. "Terima kasih, Pak Axcel. Saya tidak akan mengecewakan Anda."
Rapat selesai tepat waktu, Diana bergegas ke kantin untuk makan siang. Setelah selesai makan, dia merasa kenyang dan mengingat orang tua angkatnya. Dia langsung mengambil ponsel dan menelepon mereka.
"Hai, Bu... Ayah, apa kabar?" Diana bertanya dengan hangat.
Ibu angkatnya menjawab, "Kabar baik, nak. Kami rindu kamu. Kapan kamu kesini?"
Diana tersenyum. "Aku belum senggang, Bu. Tapi aku akan kesana saat liburan nanti. Tapi tidak janji. Oh iya bu... Aku dapat bonus besar di kantor. Aku ingin berbagi dengan kalian."
Ibu angkatnya menjawab, "Diana, anakku, kami bangga dengan kerja kerasmu. Tapi uangmu jangan kamu berikan pada kami, simpan untuk masa depanmu."
Ayah angkatnya menambahkan, "Kami sedih karena orang tua kandungmu tidak percaya padamu. Tapi kami akan selalu mendukungmu, nak."
Diana terharu dan tersentuh dengan perhatian dan kasih sayang orang tua angkatnya. Matanya berbinar dengan air mata, dia berucap dengan suara lembut, "Terima kasih, Bu... Ayah. Aku rindu kalian. Kalian seperti orang tua kandungku sendiri."
Jam istirahat telah berlalu, Diana bergegas kembali ke ruangan Axcel. Namun, ruangan itu kosong. Dia memutuskan untuk membereskan berkas-berkas yang menumpuk di meja. Dengan teliti, dia memeriksa satu per satu, mengatur dan menyusunnya rapi.
Waktu terus berjalan, tanpa terasa jam menunjukkan pukul 2 siang, waktu pulang kerja. Diana selesai membereskan berkas, merasa puas dengan pekerjaannya. Dia siap untuk pulang dan beristirahat.
Diana tersenyum manis sambil menekan tombol lift sekali lagi agar pintu tidak tertutup. Pria itu mengucapkan terima kasih dengan ragu-ragu.
"Sama-sama," jawab Diana ramah.
Pria itu terpesona oleh senyum Diana, matanya tak berkedip menatap wajah cantiknya. Diana merasa sedikit malu namun tetap tersenyum.
"Kamu kerja di sini?" tanya pria itu, mencoba memulai percakapan.
Diana mengangguk. "Iya, aku baru beberapa minggu kerja di sini."
Pria itu tersenyum. "Saya baru juga. Nama saya Ardi."
Diana tersenyum balas. "Aku Diana."
Mereka berbincang tentang pekerjaan. Ardi terus terpesona oleh senyum dan kepribadian Diana yang ramah dan ceria.
Diana berpisah dengan Ardi saat keluar dari lift.
"wah dia gadis ynag sangat manis." ucap Ardi masih dengan senyuman merekah