Widuri Azzahra, seorang gadis cantik yang lahir di Cianjur tepatnya di sebuah desa di kabupaten cianjur, namun saat ia sudah berusia 15 tahun Widuri di bawa pindah ke Bandung oleh kedua orang tuanya, Widuri tumbuh menjadi gadis cantik, saat ia menginjak sekolah menengah atas, Widuri bertemu dengan Galuh, selang beberapa bulan mereka berpacaran, namun salah satu pihak merugikan pihak yang lain, ya sayang sekali hubungan mereka harus kandas, karena Galuh yang kurang jujur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Bayang-bayang Masa Lalu
“Kenapa dia nggak bisa ngerti?” gumamnya pelan.
Widuri mengambil buku catatan dan mulai menulis. Menulis adalah salah satu cara dia melampiaskan perasaan tanpa harus berbicara langsung dengan orang lain.
"Galuh, aku ingin kamu tahu bahwa aku sudah selesai dengan masa lalu kita. Aku sudah berusaha keras untuk melupakanmu, tapi kenapa kamu terus muncul? Kamu bilang mencintaiku, tapi aku tidak melihatnya dalam tindakanmu. Aku hanya ingin hidup tenang, tanpa bayang-bayangmu."
Setelah menulis itu, Widuri merasa sedikit lega. Dia menutup bukunya dan memutuskan untuk tidur lebih awal, berharap esok hari membawa suasana yang lebih baik.
____________________
Hari itu, Widuri datang ke sekolah dengan perasaan sedikit lebih tenang setelah kemenangan timnya di olimpiade. Tapi entah kenapa, ada perasaan aneh yang terus mengganggunya. Dia mencoba mengabaikan itu, berharap hari ini akan berjalan seperti biasa.
Bel masuk berbunyi. Widuri melangkah masuk ke kelas dan mengambil tempat duduknya di dekat jendela. Sinar matahari pagi menembus kaca, membuat ruangan terasa lebih cerah. Namun, perasaan lega itu tak berlangsung lama saat dia menyadari bahwa teman-temannya mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya.
“Eh, itu bener nggak sih? Widuri sama Galuh balikan lagi?” terdengar salah satu teman sekelasnya berbisik.
Widuri langsung mengerutkan kening. Apa-apaan ini? pikirnya.
Dia mencoba mengabaikan, tapi bisikan itu semakin jelas terdengar.
“Widuri nggak kapok ya? Kan dulu Galuh sering banget bikin dia nangis.”
“Iya, kok mau sih? Padahal banyak yang lebih baik dari Galuh.”
Widuri mengepalkan tangan di bawah meja. Rasanya dadanya panas mendengar komentar-komentar itu. Tidak tahan lagi, dia langsung berdiri dan menatap teman-temannya tajam.
“Dengar, ya! Aku nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Galuh. Jadi berhenti ngomongin hal yang nggak jelas!” serunya dengan nada tinggi.
Suasana kelas langsung hening. Semua mata tertuju padanya, tapi Widuri tidak peduli. Dia mengambil tas dan berjalan keluar kelas dengan langkah cepat, meninggalkan semua orang yang masih terdiam.
---
Widuri berjalan ke taman sekolah, tempat favoritnya untuk menenangkan diri. Dia duduk di bawah pohon besar, mencoba mengatur napas dan menenangkan pikirannya. Tapi amarahnya masih menggelegak.
“Kenapa sih orang-orang nggak bisa biarin aku tenang? Aku udah cukup capek sama hidupku,” gumamnya sambil menatap tanah.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Widuri menoleh dan melihat Damar berdiri di depannya dengan wajah khawatir.
“Kamu nggak apa-apa, Wid?” tanyanya pelan.
Widuri menghela napas. “Aku capek, Dam. Mereka ngomongin aku, ngegosipin hal yang nggak bener.”
Damar duduk di sebelahnya. “Aku dengar. Tapi aku tahu kamu kuat, Wid. Jangan peduliin mereka. Orang-orang suka ngomong tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Widuri menatap Damar. Ada ketulusan di matanya, sesuatu yang membuat Widuri merasa sedikit lebih tenang.
“Terima kasih, Dam. Kadang aku cuma pengen hidup tenang tanpa drama.”
Damar tersenyum kecil. “Tenang aja, aku di sini kalau kamu butuh seseorang buat dengerin.”
Widuri mengangguk. Meski hanya sebentar, kehadiran Damar membuatnya merasa lebih baik.
---
Di sisi lain, Galuh sedang duduk di bangku kosong di belakang sekolah. Pikirannya dipenuhi dengan bayangan Widuri. Dia tahu bahwa dia sudah membuat banyak kesalahan, tapi dia tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu.
“Kenapa semuanya jadi berantakan?” gumamnya sambil memegang kepala.
Galuh tidak bisa melupakan saat Widuri meninggalkannya. Kata-kata gadis itu terus terngiang di telinganya, seolah menjadi hukuman atas semua kesalahannya.
“Aku harus bicara lagi sama dia. Aku nggak bisa terus kayak gini,” putusnya akhirnya.
Dengan tekad baru, Galuh bangkit dan berjalan menuju taman, tempat dia tahu Widuri sering berada.
---
Widuri dan Damar masih duduk di bawah pohon, berbicara tentang olimpiade dan rencana mereka ke depan. Namun, kebersamaan itu terganggu ketika Galuh tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
“Widuri, aku mau bicara,” katanya langsung.
Widuri memutar bola matanya. “Aku lagi sibuk, Gal. Nggak ada yang perlu dibicarain.”
“Tolong, cuma lima menit,” pinta Galuh, nadanya hampir seperti memohon.
Damar berdiri, menatap Galuh dengan alis terangkat. “Kayaknya Widuri udah bilang dia nggak mau ngomong, deh. Jadi, mending kamu pergi.”
Galuh menatap Damar dengan tajam. “Ini nggak ada hubungannya sama kamu.”
“Tapi Widuri teman aku. Kalau dia nggak nyaman, aku nggak bakal biarin kamu ganggu dia.”
Widuri menghela napas panjang. “Galuh, aku udah bilang jangan ganggu aku lagi. Apa kamu nggak ngerti?”
“Tapi aku cuma mau minta maaf,” kata Galuh pelan.
“Permintaan maaf kamu udah nggak berarti apa-apa, Gal. Aku udah move on, dan aku nggak butuh kamu lagi dalam hidupku,” jawab Widuri tegas.
Galuh terdiam, wajahnya berubah muram. Setelah beberapa detik, dia mengangguk kecil dan pergi tanpa berkata apa-apa lagi.
Widuri menghela napas lega. Dia tahu bahwa pertemuan itu mungkin bukan yang terakhir, tapi setidaknya untuk saat ini, dia bisa menikmati ketenangan.
---
Malam harinya, Widuri merenung di kamarnya. Dia menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sepenuhnya bebas dari bayang-bayang Galuh. Tapi dia juga tahu bahwa dia tidak sendirian. Ada orang-orang seperti Damar yang peduli padanya, dan itu cukup untuk membuatnya terus melangkah maju.
“Mulai sekarang, aku nggak akan biarin siapa pun menghalangi jalanku,” gumamnya sambil tersenyum kecil.
Dia tahu bahwa perjalanan ini masih panjang, tapi dia siap menghadapi apa pun yang ada di depannya.