Rachel kembali ke masa lalu dan terjebak dengan sang mantan.
"Kali ini kamu tidak akan bisa kabur dariku," ucap Zen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Tempat Bermain
"Pagi kakak Ipar, pagi-pagi sudah ada saja yang menemui kamu," sapa Lucas saat Rachel dan Zen masuk ke ruang tengah dan Lucas langsung menyapa dengan senyum khasnya.
Senyum yang terlihat menyebalkan di mata Zen.
Sementara Harley sudah Zen usir dari rumah ini meski sedikit ada keributan dan Rachel juga telah menutup rapat hatinya untuk pria itu. Mengubur dalam-dalam semua kenangan indah yang pernah tercipta.
Rachel Bahkan harus belajar mempersiapkan diri andai kelak Harley dan Viana benar-benar bersama.
Bagaimana dia dan Viana terikat hubungan saudara.
Dan sapaan Lucas tersebut tidak mampu membuat Rachel ikut tersenyum, dia sedang menikmati apa namanya patah hati. Kesedihan dan kegundahan tak mampu dia hilangkan dari raut wajahnya.
"Jangan menganggu ku," balas Rachel singkat.
Namun Lucas justru terkekeh mendapati sikap acuh kakak iparnya tersebut. Malah terlihat lucu di matanya.
"Jika ku amati, pria itu adalah kekasih mu, namun kamu memutuskan untuk menikah dengan Zen, hanya karena Zen lebih kaya dari pria itu. Apa dugaanku benar?" tebak Lucas. "Ternyata kakak ipar hanya wanita yang mengincar harta," timpalnya pula.
Dan membuat Rachel sampai membuang nafasnya dengan kasar.
"Jaga ucapan mu," balas Zen. Dia ingin bicara namun Rachel menahan dengan menyentuh lengannya.
"Iya benar, aku memang bukan hanya mencintai Zen, tapi juga mencintai hartanya. Ku pastikan harta Zen akan ku kuasai sendiri, tidak ku bagi dengan orang asing," balas Rachel dengan tatapannya yang sinis.
Suasana hatinya sedang tidak baik dan Lucas justru makin memancing amarahnya, jadi jangan salahkan jika dia tiba-tiba berubah jadi iblis licik.
"Aku akan melahirkan banyak anak Zen, darrah asli keturunan keluarga Wallace," timpal Rachel lagi dan membuat Lucas seketika terdiam seribu bahasa. Sebab di dalam darahnya sedikit pun tak ada keturunan darrah keluarga Wallace.
Hal ini pulalah yang membuat kakek Jared selama ini tidak pernah menyayanginya. Dia hanya dijadikan sebagai cadangan, sementara Zen selalu jadi yang utama.
"Ayo sayang, aku sudah lapar," ajak Rachel pada sang suami. Dia bahkan memeluk lengan Zen dan pergi dari sana. Meninggalkan Lucas begitu saja.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Amanda, dia bertanya pada Lucas.
Amanda tak sempat tahu jika pagi tadi ada keributan. Dia bahkan hanya melihat sebenar interaksi antara Lucas dan Zen, Rachel. Karena itulah kini dia mempertanyakan semuanya pada Lucas.
"Lebih baik kamu mundur, wanita itu benar-benar bukan tandinganmu," jawab Lucas kemudian.
"Apa maksudmu? Dia hanya gadis miskin dan bar-bar, tidak ada apa-apanya dibanding aku," tegas Amanda.
Lukas tidak menanggapi lagi, dia hanya tersenyum miring dan pergi menuju meja makan.
Jam 7 lewat beberapa menit seluruh keluarga telah berkumpul di meja makan. Kakek Jared dan mama Sonya pun telah duduk di kursinya masing-masing.
"Pernikahan Zen dan Rachel telah terjadi, aku tidak bisa mencegahnya lagi," ucap kakek Jared.
Amanda adalah yang paling kecewa saat mendengar pengumuman tersebut. Dia pun tak berani mempertanyakan bagaimana dengan nasibnya, karena Amanda takut justru pertanyaan seperti itu akan membuatnya semakin jauh dengan Zen.
Sementara dia masih ingin berjuang dengan tinggal di rumah ini.
"Terima kasih Kek, karena telah menerima ku dengan baik di rumah ini," jawab Rachel. Hatinya padahal masih sakit, namun dia tetap menunjukkan senyum pada semua orang. Sebab Rachel tak ingin terlihat lemah di hadapan yang lain.
"Cih!" desis mama Sonya, berdecih atas sikap menantu tirinya tersebut. "Aku tidak pernah mendengar nama Lynford di kota Newest. Apa kamu keturunan keluarga miskin?" tanya mama Sonya kemudian.
"Benar Ma, karena itulah aku menikahi Zen. Agar bisa menikmati kekayaannya juga," balas Rachel, lalu tersenyum semakin lebar.
Tak peduli jika jawabannya membuat semua orang tercengang.
Sementara Zen tetap menikmati sarapannya, bersyukur karena Rachel menjadikan rumah ini sebagai tempat bermainnya.
#btw ini aku baca yg kesekian kalinya. habis gabut gda bacaan lagi
jahat bener tuh kakek tua