Li Fengran tidak pernah menyangka jika setelah mati, dirinya akan pergi ke dunia lain dan menjadi peserta kompetisi pemilihan ratu. Untuk melarikan diri, dia mencoba yang terbaik untuk gagal, namun perbuatannya justru menarik perhatian Raja dan Ratu Donghao dan membuatnya terlempar ke sisi Raja Donghao.
Hidup sebagai pendamping di sisi Raja, Li Fengran berhadapan dengan tiga siluman rubah yang terus mengganggunya dan menghadapi konflik istana serta Empat Wilayah.
Akankah Li Fengran mampu bertahan di istana dan membuang niatnya untuk melarikan diri? Akankah ia mengabaikan kasih sayang Raja dan memilih mengamankan dirinya sendiri?
*Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhuzhu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TCQ 10: Babak Ketiga
Hari kedua kompetisi pemilihan, salju di tanah Donghao benar-benar sudah mencair. Daun-daun dari pepohonan cemara dan dedalu yang semula memutih, berubah kembali menjadi hijau. Suhu dingin mulai berkurang, abu sisa pembakaran menumpuk.
Semua orang yang ingin menyaksikan kompetisi pemilihan calon ratu selanjutnya sudah berkumpul di alun-alun ibukota.
Sejak pagi, penduduk ibukota serta penduduk yang merantau sudah memadati lapangan alun-alun. Mereka ingin melihat seperti apa wajah calon ratu mereka di masa depan. Sebagian ingin mendukung wanita yang berasal dari wilayah yang sama.
Melihat antusiasme yang luar biasa ini, Li Fengran merasa sedikit sedih. Jelas-jelas ratu mereka yang sekarang, Ling Sui, masih hidup dan ada di hadapan mereka.
Meskipun kondisi tubuhnya tidak baik, tidak seharusnya mereka menunjukkan wajah mereka yang menyiratkan menginginkan seorang ratu baru, bukan? Ini sama saja dengan menginginkan kematiannya datang lebih cepat.
“Keluarga bangsawan apanya? Kupikir dia bahkan sudah dibuang oleh keluarganya sendiri,” gumam Li Fengran.
Ketika seorang wanita sudah kehilangan kemampuannya, terutama kehilangan tubuhnya, batu sandaran sekuat apapun pasti akan runtuh. Li Fengran merasa sedikit iba pada Ling Sui.
Sedikitpun tidak ada raut kesedihan di wajah Ling Sui. Sebaliknya, dia menebarkan senyum di bibirnya ke semua orang, menganggap seolah-olah mereka datang bukan untuk mendoakan dirinya cepat mati. Dia duduk di samping Nangong Zirui yang telah tiba beberapa saat yang lalu.
Mungkin inilah keberuntungan mereka seumur hidup: bertemu dengan Raja dan Ratu secara langsung sekaligus menyaksikan kompetisi yang akan menyeleksi siapa calon ratu masa depan. Tepuk tangan riuh terdengar ketika Menteri Urusan Wilayah maju ke depan untuk memulai kompetisi.
Babak ketiga adalah kompetisi keterampilan senjata. Setiap orang harus menampilkan kemampuannya memainkan senjata, baik pedang, panah, atau tombak.
Meskipun penduduk tidak tahu apa tujuan kompetisi keterampilan senjata dengan pemilihan seorang ratu, mereka tidak berani bertanya pada pihak istana secara langsung.
Lain halnya dengan Li Fengran. Saat orang lain tidak tahu, ia menebak jika Ling Sui sengaja menambahkan kompetisi keterampilan senjata untuk keperluan lain.
Dia berasal dari latar belakang bangsawan, yang pendidikannya berlangsung di rumah atau akademi dan semuanya tentang moral dan etika.
Jika calon ratu masa depan bisa memainkan senjata dan beladiri, dia bisa melindungi dirinya sendiri.
“Peserta pertama, Fei Jia dari Nanchuan.”
Fei Jia maju. Dia menggunakan sebuah pedang panjang yang tajam. Beberapa orang figuran yang bertugas sebagai lawan naik ke atas arena, kemudian mulai bertarung. Setelah beberapa saat, Fei Jia menang meskipun lengan bajunya sedikit sobek.
“Peserta kedua, Su Min dari Beichuan.”
Su Min, si wanita yang protes padanya kemarin menunjukkan kebolehannya melalui anak panah. Dia memegang tiga anak panah di tangannya, dan satu tarikan busur berhasil mendorong ketiga anak panah tersebut menancap tepat mengenai sasaran. Dia mendapat nilai sempurna.
“Peserta ketiga, Shen Lihua dari Zichuan.”
Shen Lihua, yang paling cantik dan nilainya tinggi pada dua babak sebelumnya menggunakan tombak untuk menunjukkan kemampuannya. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, dia berhasil menumbangkan sembilan orang lawan tanpa terluka sedikitpun. Dia juga mendapat nilai sempurna.
“Peserta keempat, Li Fengran dari Dongchuan.”
Sekarang giliran Li Fengran. Semua orang menantikan pertunjukan penutup pada babak kali ini, yang dikira akan luar biasa. Li Fengran berdiri di tengah lapangan, tanpa memegang senjata apapun.
Orang-orang awam mulai bertanya-tanya, mengapa utusan Dongchuan ini tidak memilih senjata?
“Apa lagi yang dia rencanakan?” gumam Nangong Zirui. Matanya fokus menatap Li Fengran yang kini menjadi pusat perhatian.
“Nona Li, senjata apa yang kamu inginkan?”
“Sepotong kayu rotan.”
Lagi-lagi dia membuat semua orang terkejut. Kayu rotan? Apa yang bisa dilakukan wanita itu dengan sepotong kayu rotan?
Orang lain menggunakan tombak, panah, dan pedang untuk menunjukkan keterampilannya. Utusan Dongchuan ini, otaknya pasti sudah berkarat.
“Berikan saja,” ucap Ling Sui. Li Fengran kemudian diberikan sepotong kayu rotan sepanjang satu meter seukuran pergelangan tangan.
Kali ini, dia bertekad untuk benar-benar gagal. Saat dua orang lawan menyerangnya, dia tidak menghindar. Li Fengran dipukul tepat di perutnya.
Refleksnya mengantarkannya menjauh beberapa meter ke belakang. Li Fengran memegangi perutnya, ternyata lumayan sakit juga.
“Yang Mulia, sepertinya Nona Li benar-benar ingin dirinya gagal,” ucap Mo Wei. “Dia ingin membuat dirinya babak belur kali ini.”
Nangong Zirui mendecih. “Aku justru ingin melihat sampai mana dia akan berbuat bodoh.”
Dua lawan maju lagi dan bersiap memukul Li Fengran. Tapi, Li Fengran segera menghentikannya dengan mengangkat tangan. Rasa sakit di perutnya membuat ia mual.
Perut ini, dua malam lalu baru mengeluarkan darah yang cukup banyak. Sekarang jika dipukul lagi, Li Fengran bisa-bisa mati.
“Tunggu, tunggu. Kakak-kakak yang kuat, meskipun kalian bekerja secara profesional, kalian juga tidak boleh memukulku terlalu keras, kan?”
Dua penyerang saling menatap dengan bodoh. Benar juga, bagaimanapun wanita yang mereka lawan adalah salah satu kandidat calon ratu.
Jika sampai dia terluka parah, nyawa mereka juga akan melayang. Raja Donghao pasti tidak akan mengampuni mereka.
Li Fengran masih kesakitan, ia tidak ingin dipukul lagi. Saat dua lawannya lengah, Li Fengran langsung memukul mereka dengan rotan.
Dia melompat melewati tubuh kedua orang itu, kemudian memukul kaki dan punggungnya sampai mereka telungkup di arena. Suara tepukan gemuruh terdengar.
Tiga pukulan itu cukup untuk membuat kedua lawannya tumbang. Li Fengran menjadikan kayu rotan itu sebagai tongkat untuk menyangga tubuhnya. Satu tangannya masih memegangi perutnya.
“Dibandingkan dengan pedang, aku lebih suka anggar. Ck, pukulan kalian benar-benar membuat perutku sakit!”
Xiang Wan bergegas memapah Li Fengran kembali ke tempat duduk. Wajah cemasnya begitu kentara. Majikannya baru selamat dari kematian, perutnya justru malah dipukul dengan keras.
Bagaimana jika majikannya muntah darah lagi? Bukankah itu akan sangat berbahaya?
“Nona, apakah kamu ingin beristirahat sebentar? Biarkan tabib memeriksa kondisimu.”
“Tidak usah. Seharusnya aku akan gagal, kan?” Xiang Wan menggeleng ragu.
“Entahlah. Meskipun Nona bertindak tidak sesuai kebiasaan, tapi Nona selalu membuat orang terpukau pada setiap babaknya.”
Li Fengran membelalak, lalu mengedarkan pandangan ke kerumunan orang yang menyaksikan. Mereka masih bertepuk tangan.
Seketika tubuhnya lemas, ia bersandar di bahu Xiang Wan dan hampir pingsan. Apa-apaan ini? Mengapa orang-orang ini malah senang?
Tiba-tiba saja Ling Sui menghampirinya. Ada senyum di wajahnya serta dalam langkahnya yang anggun. Li Fengran tidak punya tenaga untuk bersikap sopan, dia tetap bersandar pada Xiang Wan seolah-olah seluruh energinya telah habis dan tulang belulangnya melunak. Li Fengran hanya mampu menyambut Ling Sui dengan isyarat mata.
“Nona Li, kamu tidak apa-apa?”
“Ya, Yang Mulia. Aku baik-baik saja.”
“Perlukah kupanggilkan tabib?”
Li Fengran menggelengkan kepala.
“Yang Mulia sebaiknya kembali ke sisi Yang Mulia Raja. Yang Mulia tidak boleh membahayakan diri hanya untuk melihat peserta payah dari Dongchuan ini.”
Ling Sui tidak mengatakan apa-apa, ia kembali ke tempatnya sambil sesekali melirik Li Fengran. Kedatangan Ling Sui membuat tiga wanita lainnya iri.
Lagi-lagi Li Fengran merebut perhatian. Bahkan Ratu Donghao sendiri sampai menghampirinya secara langsung. Padahal, apa istimewanya bakat wanita ini?
Menteri Urusan Wilayah kemudian mengumumkan peringkat yang diperoleh masing-masing wanita atas penampilannya di babak ketiga hari ini.
Dia berdiri di tengah arena, memegang sebuah gulungan kertas berisi nama dan jumlah nilai. Semuanya menahan napas sampai Menteri Urusan Wilayah mengeluarkan kata-katanya.
“Peringkat pertama, Shen Lihua. Peringkat kedua, Su Min. Peringkat ketiga, Li Fengran. Peringkat keempat, Fei Jia.”
Bahu Li Fengran melorot. Sialan, dia malah mendapat peringkat ketiga!