Maggie adalah seorang gadis kecil yang tidak pernah dianggap oleh daddynya karena ia terlahir dari rahim wanita yang tidak diinginkan yaitu rahim seorang gadis desa yang bekerja sebagai pembantu.
Gadis berusia 2 tahun ini mencoba mengambil hati daddynya dengan berbagai cara namun sia-sia. Sampai suatu saat ia lelah dan menerima tawaran mommynya untuk pergi ke tempat yang jauh disanalah mereka memulai hidup baru dan mengubah takdir hidup mereka, saat itulah gadis kecil ini perlahan-lahan mulai melupakan sosok daddy yang begitu ia idamkan.
Apakah mereka akan bertemu kembali? ikuti terus novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lala Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Kebahagiaan Mey dan Maggie
Sepanjang perjalanan pulang Alfa diam tak bersuara. Entah karena senang bisa bebas dari Mey dan Maggie atau karena hal lain.
"Sayang... kenapa diam aja?" ucap Nina manja sambil bergelayut di lengan kekasihnya.
"Tidak sayang aku cuma lagi memikirkan pekerjaan yang belum aku selesaikan" jawab Alfa apa adanya
"Oh iya sayang... kita makan di luar saja ya?" tanya Nina lagi
"Hmmm" Alfa hanya berdaheman
Di mansion utama
"Pah.. bagaimana keadaan menantu dan cucu kita, apa sudah ketemu pah. Aku takut mereka kesusahan diluar sana" kata nyonya Ratna dengan isak tangisnya
"Kita belum tahu ma, orang-orang kita masih terus mencari" jawab tuan Albert menenangkan istrinya.
Sejak tiba di mansion, tuan besar dan nyonya besar tida berbicara sepatah katapun dengan putra mereka. kekecewaan yang dirasakan oleh sepasang suami isteri ini sangatlah dalam.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya tuan Albert melalui sambungan telepon dari salah seorang kepercayaannya
"Belum ada tuan. Kami akan lebih berusaha lagi" jawabnya
"Jangan lama-lama. Menantu dan cucuku akan kesusahan diluar sana" posel langsung dimatikan
Di sisi lain
Setelah makan di sebuah restoran, Alfa mengantar Nina ke apartemen karena ia harus segera ke kantor.
"Sayang, aku tidak turun lagi ya" ucap Alfa
"Iya sayang. Pulangnya jangan lama-lama ya sayang" ucap Nina sambil mencium pipi Alfa.
"Iya sayang. Kalau pekerjaan selesai aku langsung pulang" katanya dan langsung melajukan mobil kesayangannya menuju kantor
(Tidak pantas kamu tangisi dia nak! karena hari ini terakhir kali kamu melihatnya)
Kata-kata Mey terus berputar di kapala Alfa sepanjang perjalanan. bayangan-bayangan Maggie saat gadis kecil itu merengek kepadanya kembali mengganggu pikirannya.
"Akhhh perasaan apa ini?. bagus kalau dua manusia parasit itu sudah pergi" ucap Alfa sambil memukul stir dengan frustrasi.
Di belahan bumi lain
"Mom, mau ade bantuin macakna (masaknya)?" ucap maggie ala gayanya
"Boleh, tapi ade bisanya buat apa saja ya?" ucap Mey sambil pura-pura berpikir apa yang harus dilakukan putri kecilnya
"Apa ya? akhh libet mikilna.. ade nyanyi aja hibul mommy"
"Katanya mau bantu mommy?" kata Mey pura-pura tak terima keputusan Maggie
"Tapi talu ade telja, mommy halus janji temanin ade jalan di pante" putus Maggie
"Oke, sekarang ade bantu mommy nyuci piring ya?"
"Tapi pilingna ade yang pegang tan?" seru Maggie mengambil alih piring dari mommy
Keduanya menjalani hari-hari mereka dengan bahagia walaupun sangat sederhana hidup mereka. Maggie yang serba bisa ada dalam situasi apapun membuat mommynya tidak kesusahan mengatur gaya hidupnya. Kehidupan Maggie waktu di mansion sangat mewah namun sejak hidup berdua dengan mommynya, Maggie banyak belajar dari teman-teman barunya yang serba berkecukupan.
Mey sangat pandai menutupi segala sesuatu dari putri kecilnya, ia tidak mau anaknya merasa susah sehingga sebisa mungkin ia bekerja untuk memenuhi setiap permintaan anaknya, walaupun Meggie tidak pernah minta yang aneh-aneh.
sore ini keduanya tidak bisa jalan-jalan karena mommy yang masih sibuk dan hal itu membuat Maggie jadi ngambek.
"Talu mommy ga mau jalan sama ade, ade mala ni?" ucap Meggie yang marah namun kelihatan imaut
"Mommy janji esok kita jalan-jalan sambil makan ice cream oke" ucap Mey sambil memberi jari kelingking sebagai ikatan perjanjian mereka dan di sambut oleh Maggie
"Ote Dil"
Group Royal-Adipaty
tok tok tok
"Masuk" suara dari dalam
"Tuan, ini berkas yang harus ditandatangani" ucap sekretaris Alfa
"Sini" jawab singkat
Setelah menelesaikan tugasnya dan sekretarisnya keluar, Alfa kembali termenung. Semenjak seminggu May dan Maggie pergi, ia tidak punya semangat hidup. Seperti ada yang hilang membawa separuh jiwanya.
Alfa yang uring-urigan tidak menyadari kalo semua staf di kantor sudah pulang sejak tadi karena hari sudah gelap.
"Aku harus cepat mengurus perceraian agar bisa cepat menikahi Nina. Kasian ia sudah berkorban meninggalkan kariernya lalu aku masih menunda waktu untuk menikahinya" kata Alfa pada diri sendiri
"Aku akan berusaha meyakinkan mama sama papa supaya merestui hubungan kami. Aku yakin pilihanku kali ini sangat tepat" lanjutnya
"Tuan, sudah jam pulang.." ucap asistennya yang baru saja masuk karena lelah menunggu di luar
"Baik" ucap Alfa langsung bangun dan berjalan keluar meninggalkan ruangannya dan diikuti sang asisten.
Setelah tiba di parkiran, Roky langsung membuka pintu mobil untuk tuannya masuk.
"Tuan,, langsung ke apartemen atau singgah dulu di tempat lain?" tanya Roky
"Kita ke Mansion" ucap Alfa
sepanjang perjalanan keduanya saling diam hingga mobil yang membawa mereka tiba di halaman mansion.
Alfa turun begitu saja tanpa menunggu asistenya membuka pintu dan langsung masuk ke dalam.
"Rupanya kamu masih ingat rumah untuk pulang" kata tuan Albert dengan ketus
"Iya pah aku kesini untuk membicarakan sesuatu sama papa dan mama" ucap Alfa sambil duduk di depan papanya
"Aku akan menikahi Nina secepatnya pah, ma" lanjut Alfa
"Iya lakukan sesuai apa yang kamu inginkan" siapa lagi kalo bukan mama Ratna yang menjawab
suami dan anaknya dibuat terkejut. Alfa berpikir usahanya mendapat restu akan susah, ternyata sangat mudah. Sementara tuan Alberth berpikir bahwa ada setan apa yang merasuki isteri tercintanya.
"Mama sadar tidak sih barusan bicara apa?" tanya suaminya
"Mama sangat sadar pah" jawabnya santai
"Makasih mah, sudah merestui hubungan kami. Aku akan membawa Nina secepatnya ke sini dan akan menikahinya" ucap Alfa bersemangat
"Tapi aku tidak pernah merestui hubungan kamu sampai kapanpun. Silahkan menikah dengan wanita itu, karena setelahnya kamu BUKAN PUTRAKU lagi" kata mama Ratna tegas dan penuh penekanan
Tuan besar bernafas lega karena ternyata isterinya tidak bisa luluh semudah itu. sementara Alfa jangan ditanya, dia langsung syok dengan pernyataan mamanya yang tidak main-main
"Mah, aku mencintai Nina. Kami saling mencintai mah!. pokoknya aku harus menikahinya secepatnya. Karena aku tidak sudi kembali pada gadis kampung yang hanya seorang babu itu" putus Alfa sepihak
"Terserah kamu menikahinya sekarang juga. Apa mama yang memaksamu menghamili Mey?" tanya mama Ratna dengan sinis
Alfa tidak bisa menjawab apa-apa karena dalam hal ini dialah yang salah. bukan Mey dan bukan orangtuanya.
"Gadis kampung yang kamu sebut babu, apa dia pernah menuntut kamu menikahinya? setelah kamu menhamilinya kamu tidak bertanggung jawab. Kamu hanya menikah di atas kertas tapi bentuk tanggung jawab tidak kamu lakukan.
apa kamu pernah tahu selama hamil apa yang dia rasakan? apa kamu pernah tahu apa yang ingin dia makan saat anak dalam kandungannya menuntut ini dan itu? apa kamu tahu sakitnya saat-saat menjelang melahirkan? apa kamu tahu ia mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anakmu?
apa kamu juga tahu betapa susahnya dia merawat anak tanpa bantuan suaminya? dan pernahkah kamu tahu apa perasaan gadis kecil yang berusaha mendapat kasih sayang dari daddynya yang tidak pernah menganggapnya ada? apa kamu tahu sakitnya semua itu?
mama seorang ibu yang merasakan itu semua. Mama sangat bergantung sama papamu saat hamil kamu tapi toh mama masih merasa susah, apalagi dia yang masih dibawah umur yang dipaksakan oleh situasi untuk dewasa sebelumnya. mama benar-benar kecewa sama kamu Al. silahkan kamu pergi dari sini dan menentukan pilihan kamu sendiri jika itu membuat kamu puas. mama sama papa lepas tangan" ucap Mama Ratna panjang lebar dengan isak tangisnya yang begitu pilu.
Alfa tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Mah ayo kita ke kamar" ucap sang suami menuntun isterinya menuju kamar utama meninggalkan Alfa yang masih terpaku di ruang keluarga.
****
-Bersambung-