NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Menyegarkan.

Satu kata yang Arbiyan rasakan saat ini. Ia menutup matanya, menikmati hembusan angin hingga membuatnya hampir saja terbuai. Ngomong-ngomong ia sedang diatap sekolah untuk sekedar menenangkan pikirannya yang sedang kacau akhir-akhir ini.

“Sedang apa?”

Sebuah suara menginterupsi pikirannya, ia membuka mata dan melihat sosok itu berjalan mendekat lalu duduk disamping dengan santainya.

Dean.

“Hanya bersantai, kak Dean,” jawabnya malas.

“Tumben sekali kau tidak mengikuti gadismu itu,” ujarnya lagi sambil memberikan sekaleng minuman dingin yang sudah ia buka pada Biyan. Remaja itu tersenyum dan dengan senang hati menerima minuman pemberian Dean.

Lumayan, gratis

“Dia sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah yang lupa dikerjakannya kemarin. Apalagi aku tidak bisa menahan diriku jika didekatnya terlalu lama.”

“Biyan, aku tak tahu kalau kau semesum ini,” Dean menatap sepupunya datar.

“Lihat siapa yang bicara. Bahkan kemesumanmu sudah melebihi stadium akhir, Kak!” cibir Biyan tak mau kalah.

Dean tertawa saja. "Aku ingat seseorang bilang takkan merebut milik adiknya~" ledeknya.

"Diamlah, kak."

Sekali lagi Dean hanya tertawa pelam. "Oh iya. Ngomong-ngomong, barusan Ayah-ku telfon,” ucapnya sambil meminum minumannya.

Biyan hanya menatapnya dengan ekspresi ‘lalu kenapa?’

“Dia menanyakan tentang Ayahmu, paman Reymond.”

Tiba-tiba saja rahang Biyan mengeras mendengar nama orang itu. Orang brengsek yang telah menghancurkan hati ibunya serta membuat keluarga mereka berantakan. Hal itulah yang membuat perilaku Biyan jadi berubah drastis menjadi lebih pembangkang. Ia yang dulu sangat menghormati sang Ayah merasa begitu kecewa di terkhianati. Makanya melampiaskan semua perasaan terluka itu pada hal-hal negatif lainnya.

Hal itulah yang membuat Biyan harus di kirim ke rumah kakek mereka di Amerika oleh sang ibu untuk dididik.

Jika saja Ayah mereka tidak selingkuh, maka sang ibu takkan menangis pilu dan ia tak perlu meninggalkan Abhinara sendirian.

“Kau tahu Ayah-ku masih tidak bisa memaafkan kelakuan ayahmu yang telah mengkhianati Bibi. Sebenarnya Kakek kita juga."

“Memang sudah sepatutnya.”

Dean menghela nafas panjang kemudian ia menatap Biyan. “Biyan, kau tahu sendiri bagaimana perangai Ayahku dan Kakek. Mereka benci penghianat dan hukuman yang pantas untuk penghianat adalah mati.”

“Lalu?”

“Jika sampai Ayahku menemukan Ayahmu, dia pasti tidak akan segan membunuhnya. Aku yakin kau pasti menyadari itu.”

“Aku tidak perduli,” jawabnya cuek.

“Biar bagaimanapun, dia tetap Ayahmu. Aku yakin dia menyesali perbuatannya.”

Biyan hanya bisa mendengus mendengar perkataan sepupunya.

Menyesal?

Yang benar saja!

Jika si brengsek itu memang menyesali perbuatannya, seharusnya dia datang dan memohon ampun pada ibunya. Bukannya malah menghilang seperti ini.

“Sejak kejadian itu, aku sudah tidak memiliki Ayah lagi, kak. Bagiku dia sudah mati, jadi aku tidak perduli jika Daddy ingin membunuhnya. Toh, itu lebih baik ketimbang aku sendiri yang melakukannya, kan?” katanya dengan nada sinis dan dingin.

Oh jangan berfikir ucapannya itu hanya gertakan sambal semata. Biyan benar-benar bisa membunuh sibrengsek itu jika ia mau, tapi ia tidak melakukannya demi sang ibu.

Biyan tahu, meski ibunya telah dikhianati dan disakiti tapi ia masih mencintai pria brengsek itu. Wanita lembut dan sebaik sang ibu seharusnya mendapatkan lelaki yang lebih baik lagi. Karena itu, jika Ayah Dean ingin menghabisi nyawanya ia mendapatkan restu penuh darinya.

Ah, kenapa Biyan memanggil Ayah Dean dengan Daddy? Itu karena pria itu sendiri yang memintanya. Dia sangat menyayangi adiknya— ibu si kembar— maka dari itu dia menganggap Biyan dan kembarannya sebagai puteranya sendiri. Lagipula hampir separuh bawahannya memanggilnya pria itu dengan sebutan Ayah, karena separuh dari mereka merupakan anak jalanan yang pria itu selamatkan dan mengasuh seperti anak sendiri.

Meskipun berstatus sebagai Ketua Mafia terbesar di sana, Ayah Dean sangat menyukai anak kecil tapi dia sangat membenci kebohongan apalagi penghianatan. Jika ada yang berani melakukan kedua hal itu, maka bersiaplah.

Sekali lagi Biyan hanya bisa melihat Dean menghela nafas panjang. Ia tahu bahwa Dean hanya mencemaskannya, tapi apa dayanya jika perasaan bencinya sudah sangat menumpuk dan mengakar.

“Terserah kau saja. Tapi aku hanya tidak ingin kau menyesal diakhir nanti."

“Tenang saja, kak. Aku sudah siap menerima resiko apapun.”

“Baiklah. Sebaiknya aku pergi menemui calon kekasihku sebelum moodku berubah,” ucapnya kemudian berdiri menuju pintu atap. Sebelum ia pergi ia kembali menoleh melihat Biyan dan tersenyum penuh arti.

“Aku berharap kau bisa bahagia suatu hari nanti, Arbiyan.”

Biyan hanya diam tidak berniat mengatakan apapun.

“Jangan terlalu lama disini. Kau bisa masuk angin nanti,” katanya lagi kemudian melangkah pergi.

Kembali Biyan memposisikan dirinya, menemukan titik nyaman dan membuatnya kembali terbuai.

Hah—waktu bersantaiku yang berharga harus terganggu dengan obrolan tentang sibrengsek itu. Ck! Kak Dean memang tidak tahu memilih waktu yang pas. Lagipula kenapa juga aku memikirkannya sedangkan dia mungikin saja sedang bersenang-senang dengan jalangnya itu.

Menyebalkan!

Deringan ponselnya menyadarkan dari lamunan menyebalkan hingga membuatnya hampir berjingkat kaget.

Ibu is calling.

Keningnya berkerut saat membaca nama penelpon itu. Apa terjadi sesuatu? Ia harap bukan hal yang buruk. Kemudian mengangkat panggilan itu.

“Ya, bu?”

“Biyan, kamu dimana?"

“Aku disekolah. Kenapa Bu?”

“Abhi sudah sadar, Biyan.”

Mata Biyan seketika membulat mendengar ucapan sang ibu.

Ini benar?

Ia tak salah dengar, kan?

“Abhinara sudah sadar?!”

“Ya, sayang. Maka dari itu cepatlah datang."

"Iya, bu. Aku akan kerumah sakit sekarang," ucapnya lalu memutuskan sambungan dan melesat begitu saja menuju tempat parkir.

Ah! Kunci mobil!

Kembali ia mengambil ponselnya dan mencari sebuah nomor tanpa memperlambat laju kakinya.

“Kak Dean. Kau dimana?”

“Kelas. Kenapa?"

“Temui aku ditempat parkir sekarang. Aku butuh kunci mobilmu."

“Baiklah."

Lalu panggilan dimatikan.

Hanya dalam hitungan menit ia sudah tiba ditempat parkir dan mendapati Dean tengah menyender dimobil sambil sesekali melihat jam tangannya.

“Kak Dean."

“Biyan, apa yang terjadi?” tanyanya sambil melempar kunci mobilnya pada Biyan.

“Abhi sudah sadar. Aku harus kerumah sakit sekarang.”

“Yang benar?! Astaga! Syukurlah! Aku akan menyusul nanti. Tasmu biar aku yang bawa, cepat pergilah."

“Baik, kak. Terima kasih!” kata Biyan kemudian masuk kedalam mobil dan melesat begitu saja keluar dari area sekolah.

Selama dalam perjalanan Biyan terus berharap agar hari ini jalanan tidak macet dan doanya terkabul. Membuat jiwa balap liarnya mengambil alih dan memacu mobil Lamborghini dengan kecepatan tinggi. Persetan dengan polantas dan sejenisnya, itu urusan belakangan. Saat ini Abhinara prioritas utamanya.

Thank God!

20 menit kemudian mobilnya telah terparkir dengan tidak elitnya diparkiran rumah sakit. Ia bergegas keluar dan masuk kedalam, memacu langkahnya hingga rasanya ia seperti berlari. Masa bodoh dengan tatapan-tatapan aneh dan jengkel dari sekitar, sudah dibilang Abhinara prioritas utamanya, kan?

Biyan langsung masuk kedalam lift dan menekan angka 7, lantai khusus yang hanya diperuntukan oleh kalangan-kalangan tertentu. Sebut saja lantai khusus untuk VVIP.

Ugh..! Kenapa lift ini lambat sekali sih?! Tidak bisakah melesat lebih cepat?  Dumelnya dalam hati.

Mungkin sehabis ini ia akan merekomendasikan pemasangan mesin jet khusus untuk lift.

Ketika pintu lift terbuka Biyan langsung melesat keluar dan kembali setengah berlari menuju kamar 2016, kamar Abhi.

Nafasnya tersengal-sengal saat ia sudah berada tepat didepan pintu tersebut. Mencoba menetralkan detak jantungnya, menarik dan menghembuskan nafas perlahan. Setelah cukup tenang ia memutuskan untuk masuk.

Saat pintu terbuka hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata hitam bulat yang juga tengah menatapnya. Senyuman yang ia rindukan itu mengembang dengan lebarnya hingga membuat jantung Biyan serasa berhenti.

Ini bukan mimpi kan?

Katakan padanya bahwa ini bukan mimpi. Tapi jika ini mimpi maka Biyan berharap agar ia tidak terbangun saja.

“Kak Biyan.”

Satu kata itu melesat begitu indahnya masuk hingga ke pendengarannya, berputar-putar dikepala lalu berhenti tepat dihatinya.

Hangat.

Suara yang begitu ia rindukan, begitu rindunya hingga rasanya akan mati saja.

“Kak?” panggilnya lagi dan membuat Biyan tersadar.

Kembali menatapnya yang masih menyunggingkan senyuman lebar itu tapi bedanya kini kedua tangannya merentang, seolah-olah minta dipeluk.

Yeah, apapun untukmu adikku.

Jadi Biyan melangkah mendekatinya dan langsung merengkuh tubuh sang adik erat.

Entahlah, padahal ada banyak hal yang ingin ia tanyakan padanya tapi tiba-tiba saja otaknya menjadi kosong. Karena yang ia inginkan hanyalah melihat wajah malaikat Abhinara tersenyum lagi.

“Abhi, kenapa kau baru bangun? Kau membuatku khawatir, bodoh!” katanya masih dengan memeluk, mengelus puncak kepalanya sayang.

“Maaf, membuatmu khawatir,” jawabnya pelan sambil mengelus punggung Biyan lembut.

“Kak, jangan menangis,” kata Abhi lagi dan membuat Biyan tersentak kaget hingga melepaskan pelukannya. Anak itu hanya menatapnya heran.

Dirinya menangis?

Ibu jarinya terulur dan menghapus sesuatu yang mengalir dipipi. Ah..iya dia benar, Biyan menangis ternyata. Perlakuannya itu entah mengapa membuat air matanya semakin mengalir deras, bahkan bisa ia rasakan tubuhnya bergetar hebat.

Astaga! Ia tidak menyangka akan menangis tersedu-sedu seperti ini. Padahal Biyan bukanlah tipe cengeng. Sesakit atau bahkan sesedih apapun itu ia  tidak akan pernah menangis, karena baginya air mata merupakan tanda kelemahan dan Biyan tidak ingin terlihat lemah didepan siapapun. Tapi sekarang, entah mengapa air matanya turun tanpa persetujuan darinya.

Aneh sekali.

Kembali ia rasakan rengkuhan hangat ditubuhnya. Abhinara memeluknya begitu lembut, mengelus kepala dan sesekali menggumamkan kata maaf.

Harusnya ia yang menenangkannya bukannya malah seperti ini.

***

Setelah kejadian yang cukup memalukan baginya tadi, kini mereka hanya duduk berhadapan sambil menatap satu sama lain. Bagaikan menatap cermin sebenarnya, apalagi warna rambut Biyan kini sama dengannya dan telinganya juga bersih dari tindikan.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Biyan membuka suara.

“Aku rasa lebih baik. Bagaimana denganmu, kak? Merasa lebih baik setelah menangis?” tanyanya balik tapi Biyan bisa menangkap nada meledek untuknya disana.

“Jangan meledekku, bodoh! Tadi mataku kemasukan debu!” Alihnya.

“Iya-iya..kemasukkan debu hingga tubuhmu bergetar, eh?” ledeknya lagi kali ini diiringi senyuman mengejek.

“Haishh! Bocah ini!”

"Biyan, adikmu baru saja bangun. Jangan memarahinya,” bela Laras yang tiba-tiba saja masuk ruangan sambil membawa 2 kantong besar.

“Ibu~~tadi kak Biyan memarahiku,” adunya dengan memasang wajah memelas plus merajuk membuat biyan seketika merinding. Tidak bisa ia bayangkan jika dirinya membuat ekspresi seperti itu juga.

Menggelikan!

“Benarkah? Tenang saja, sayang. Ibu akan memarahi kakakmu ini,” ucap Laras sambil memeluk Abhi. Sementara Biyan hanya memutar bola matanya malas, mulai lagi aksi rajuk merajuk. Kalau begini, bisa-bisa Biyan yang akan dikerjain terus.

“Dih, dasar pengadu,” gerutu Biyan dan hanya dibalas juluran lidah olehnya.

“Sudah, sudah. Ibu membelikan kalian makan siang. Kalian pasti laparkan? Ayo, dimakan dulu,” kata Laras sambil mengeluarkan 3 box makanan dan meletakkannya diatas meja.

“Ibu makanlah dulu bersama Abhi. Aku akan bertemu dengan dokter sebentar,” kata Biyan kemudian hendak berdiri tapi merasakan sesuatau yang menahan tanganku.

“Kak.”

Biyan tersenyum lalu mengusak rambutnya pelan. “Aku tidak akan lama. Janji," kataku kemudian pergi keluar kamar menuju ruangan dokter.

***

Diruang Dokter,

Biyan mengetuk pintu ruangan sang Dokter hingga terdengar suara dari dalam.

“Masuk."

Mendengar itu, Biyan langsung memutar kenop pintu dan masuk kedalam ruangan yang bernuansa putih tersebut.

“Ah, sang kakak 'kan? Silahkan duduk," sapanya sopa sembari mempersilahkan Biyan duduk dihadapannya.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya setelah Biyan terduduk.

“Aku ingin bertanya soal adikku Abhinara. Bagaimana keadaannya?” tanyanya penasaran.

Pasalnya bukankah ia didiagnosa mengalami trauma? Tapi kenapa tadi ia merasa Abhi normal-normal saja?

Bukan berarti Biyan tidak senang dia normal, hanya saja firasatnya buruk soal ini.

“Eumm. Begini, seperti diagnosa awalku. Pasien mengalami trauma yang akan memberikan dampak buruk pada mentalnya tapi tampaknya coma yang ia alami memberikan dampak positif bagi dirinya,” jelas sang Dokter.

“Dampak positif? Maksud anda?”

“Bukan berarti saya senang ia koma, tapi berkat hal itu kejiwaan Pasien yang sempat terganggu berangsur pulih. Koma yang dialaminya seperti memberikan terapi khusus untuknya. Meskipun begitu saya tidak bisa mengatakan mentalnya telah sembuh total, karena apapun yang telah ia alami  memberikan dampak trauma bagi psikisnya. Jadi maksud saya, kejiwaannya bisa kembali terganggu jika traumanya terpicu Lagi.”

Biyen tertegun mendengar penjelasan dokter. Jadi Abhinara tak akan bisa hidup normal seperti sedia kala?

Selamanya akan diikuti perasaan cemas?!

Rahang Biyan mengeras tiba-tiba, bahkan kedua tanganku telah mengepal dengan eratnya. Ia tidak perduli jika hal itu melukai tangannya. Amarahnya benar-benar sudah memuncak. Membuatnya hanya bisa memaki dalam hati.

Sialan!

Demi Tuhan! Akan kucari pelakunya dan akan kuhancurkan fisik serta mentalnya 1000 kali lebih parah dari adikku. Tidak akan kumaafkan! Sampai matipun takkan pernah kumaafkan!

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!