NovelToon NovelToon
Keturunan Pendekar

Keturunan Pendekar

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Anak Yatim Piatu / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: bang deni

perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melawan Tiga Iblis

Tubuh si Gundul meluncur deras ke arah Ki Aji, tangannya membentuk cakar yang mengarah ke jakun Ki Aji, sudah di pastikan jika Ki Aji kena cengkraman cakar itu pasti mati di tempat

" Wush"

sebelum cengkraman itu mengenai Ki Aji, satu bayangan melesat menghadang sambil melemparkan sebuah tombak ke arah si Gundul

" eh!" si gundul terkejut dan meloncat ke atas lalu turun sambil menangkap ujung tombak

" Siapa kau!" bentak Ludira saat melihat seorang pemuda menghadang di depan Ki Aji

" Siapa aku tak penting, tetapi mengapa kalian kejam terhadap orang yang kau tanyai sebelumnya" sahut Raka, memang Raka yang turun tangan menghadang ia tak bisa berdiam diri saja melihat orang tak bersalah di aniaya

" Kau cari mati Bocah" raung Badra marah, ia mengangkat tangan kanannya dan memberi isyarat pada anak buahnya agar menyerang Raka

" Hiaaaat"

" Hiaaaat"

"Hiaaaat"

Tiga orang yang di depan dengan gerakan cepat menyerang Raka, Melihat itu Raka menghunus pedangnya dan bersiap

Trang

Trang

Trang

Sreeet

Swiing

Aaaaargh

dua yang menyerang duluan menjerit saat dadanya terkena sabetan pedang Raka, Raka tak berhenti di sana ia kembali bergerak dengan Jurus Langkah Bayangan , kini yang di incar olehnya adalah si Gundul.

Heaaaah

Swiiiing

Craaaak

Namun si gundul yang juga tokoh sesat dengan julukan Kepala Besi masih bisa menghindari serangan pedang Raka, yang menggunakan Jurus Pedang Kilat, serangan pedang Raka mengenai tiang dan memotongnya menjadi dua membuat kedai itu berderak.

" aku tak bisa terus bertarung di sini," gumam Raka, lalu dengan gerakan cepat ia melesat keluar sambil mengeluarkan ejekan

" Para pengecut, ayo kita tuntaskan di luar jika kalian berani!" teriak Raka menantang

" Kejaaar jangan sampai ia melarikan diri!" Badra yang melihat Raka keluar segera melesat mengejar

Di pelataran Kedai yang luas Raka berdiri menunggu musuhnya datang

" tunggu! aku seperti melihat jurus Pedang kilat? apa dia murid si Jaya?" tanya Badra heran

" aku tak takut pada Jaya, aku tetap akan membunuhnya !" seru Ludira sambil bergerak menyerang Raka

" Hiaaaat"

Ludira bergerak menyerang dengan cambuk di tangannya

Wuut

Cletar

ujung cambuk itu meledak dan mengeluarkan api saat di hentakan oleh Ludira

Raka dengan gerakan cepat menghindar dari percikan api itu dan mengerahkan tenaga dalamnya, secara otomatis kekuatan Rajeg Wesi melindungi dirinya

" Kepung!" teriak Badra yang sedikit kaget melihat kecepatan dari gerakan Raka

semua anak buah Badra bergerak mengepung dengan berbagai macam senjata di tangannya, ada golok pedang dan tongkat namun Raka tak takut dengan senjata itu, ia malah mewaspadai Tangan Badra , walau ia kini kebal racun tenaga dalam Badra sangat tinggi ia tak tahu apakah ia mampu menandingi tenaga dalam Badra dan dua iblis lainnya yang seangkatan dengan Kakek Jaya pemilik Jurus Pedang kilatnya

" Hiaaaaat"

" Hiaaaat'

dengan teriakan keras anak buah Badra bergerak menyerang , Raka tak bisa berlama lama menghadapi anak buah Badra ia harus secepatnya melumpuhkan mereka agar tak kehabisan tenaga apalagi Badra dan kedua iblis lainnya hanya mengawasi dari luar,

" Hiaaaaat"

Raka mengempos tenaganya, dengan gerakan Langkah bayangan dan memakai jurus Pedang Kilat dan Tongkat Terbang yang ia padukan ia melesat

"Wush"

Swing

Aaargh

arg

Raka bagai jagal pencabut nyawa setiap ia bergerak dua anak buah Badra tewas dengan sayatan kecil di leher, Raka memang bersikap kejam terhadap mereka ia tak mengampuni satu pun

Sepuluh jurus berlalu , kini tinggal Tiga Iblis dan Raka yang saling berdiri berhadapan, semua anak buah Badra tewas, namun Raka tak menyadari pergerakannya tadi ternyata mengarah pada sebuah jurang di belakangnya,

" Kurang Ajar, kau harus Mati bocah!" Teriak Badra marah, ketiganya mengepung Raka membuat jalan lolos Raka terhalang, Badra mengerahkan tenaganya ke kedua tangannya membuat kedua tangan itu di selimuti oleh cahaya samar namun menggiriskan.

" Ciaaaaat"

" Rasakan Jurus Sepasang cakar iblisku!" Raung Badra , tubuhnya melesat bagai Rajawali raksasa

" Wush"

Kedua cakar itu lewat di depan Raka saat ia mengegoskan kepala, ia kaget dua Cakar milik Badra mempunyai bau yang berbeda, cakar yang berwarna merah memancarkan bau amis darah sedangkan cakar yang berwarna hitam berbau bangkai

Raka sempat terhuyung saat mencium bau dari kedua cakar itu, namun Buah Dewa yang pernah di makannya langsung menetralisir racun yang sempat masuk ke indra penciumannya

" Sangat berbahaya" gumam Raka, namun ia tak bisa berpikir lebih lama , Ludira dan Sunar ikut menyerang .

" Wuut"

" Cletar"

" wush"

lecutan cambuk meledak di dekat pinggang Raka sedangkan di atas kepalanya Golok terbang milik Sunar hampir mengenai kepalanya

Raka terdesak hebat tetapi ia tak mau menyerah , lebih baik mati dari pada ia menyerah pada musuh

" Heaaaaah"

Wuuut

Traaaang

Raka mengempos tenaganya dan berhasil membuat Golok terbang milik Sunar terpental jauh,

Tar

"Aaargh"

walau ia berhasil membuat golok terbang mental, satu cambukan dari tangan Ludira mengenai tangannya, meninggalkan luka panjang di tangan kiri Raka.

Raka berdiri dengan napas yang mulai memburu, darah segar menetes dari luka cambuk di lengan kirinya, membasahi kain bajunya yang sudah compang-camping. Namun, sepasang mata pemuda itu justru makin bersinar tajam, memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.

Ludira menyeringai keji, cambuknya berputar-putar di udara seperti ular naga yang haus darah. Sementara Sunar, si Kepala Besi, sedang memanggil kembali golok terbangnya yang tadi sempat terpental oleh tangkisan Raka. Badra sendiri masih berdiri dengan sikap merendah, kedua tangannya yang menyerupai cakar iblis bergetar hebat, mengeluarkan uap tipis berwarna kemerahan yang sangat beracun.

"Bocah, kau punya nyali besar. Tapi nyali saja tidak cukup untuk menahan napasmu lebih lama lagi!" geram Ludira.

Hiaaat

Ludira memulai serangan lebih dulu. Cambuk apinya melecut dengan suara menggelegar, "Cletar!"

Ujung cambuk itu meluncur memutar, berusaha melilit leher Raka. Di saat yang sama, Sunar melesat dari arah samping, golok besarnya menyambar secara horizontal mengincar pinggang Raka.

Raka tidak panik, dengan menggunakan Jurus Langkah Bayangan tubuhnya melenting ke udara. Saat berada di titik tertinggi, ia memutar tubuhnya dan menyabetkan pedangnya ke arah cambuk Ludira.

" Wuut"

"Trang!"

Percikan api memercik saat pedang dan cambuk itu beradu. Raka menggunakan momentum tersebut untuk menjejak ujung cambuk Ludira dan meluncur ke arah Sunar. Sunar yang tak menyangka akan serangan secepat itu segera mengangkat goloknya untuk menangkis.

"Hiaaaaat!"

Raka mengerahkan seluruh tenaga dalamnya ke ujung pedang. Menggunakan Jurus Pedang Kilat, bilah pedangnya berubah menjadi garis cahaya yang menyilaukan.

"Sreeet!"

Traang

Sunar berusaha menangkis, ia berhasil menepis tetapi karena serangan Raka yang cepat dan dadakan  ujung pedang Raka masih sempat menyayat bahu Sunar hingga ke tulang.

"Aaargh!" Sunar meraung kesakitan.

" Setan Alas!"

" Cletar"

" Cletar'

Melihat rekannya terluka, Ludira mengamuk. Cambuknya bergerak secara membabi buta, menciptakan jaring-jaring api di sekitar Raka. Raka terpaksa mundur hingga mendekati bibir jurang. Tanah di bawah kakinya mulai berderak, menandakan betapa rapuhnya pijakannya.

"Mati kau!" Ludira menghentakkan cambuknya lurus ke arah dada Raka.

kali ini Raka tak menghindar sebaliknya, ia membiarkan cambuk itu melilit bilah pedangnya. Dengan satu sentakan kuat yang menggabungkan tenaga Rajeg Wesi, ia menarik Ludira ke arahnya.

" Heaaaat" teriak Raka sambil membetot ke arah dalam

"Apa?!" Ludira terkejut, tubuhnya terseret maju.

Raka melepaskan pedangnya yang kini terlilit cambuk, lalu dengan tangan kanan ia meraih sebilah tongkat yang tergeletak lalu dengan Menggunakan Jurus Tongkat Terbang, kayu itu melesat seperti tombak sakti.

" Wush"

"Jleb!"

" Aaaargh"

Kayu itu menghantam pundak kanan Ludira hingga menembus ke belakang. Ludira terjengkang, cambuknya terlepas, dan ia jatuh terduduk sambil memegangi lukanya yang mengerikan.

Kini tinggal Sunar dan Badra yang masih berdiri. Sunar, dengan bahu yang bersimbah darah, menggeram kalap. Ia tidak lagi menggunakan golok terbangnya, melainkan menyeruduk dengan kepalanya yang terkenal keras seperti besi.

"Kepala Besi menghancurkan gunung!" raung Sunar.

Raka yang kini tak lagi memegang senjata, harus menggunakan kecerdikannya. Ia membiarkan Sunar mendekat. Saat kepala Sunar tinggal satu jengkal dari perutnya, Raka melenting ke belakang sambil melakukan tendangan salto yang telak menghantam dagu Sunar.

hiaaaat

wuuut

"Prak!"

" Aduuuh"

Gigi-gigi Sunar berjatuhan, namun si Kepala Besi ini tetap merangsek maju. Raka mendarat dengan tidak sempurna, kakinya terpeleset kerikil di pinggir jurang. Di saat itulah, Badra ikut menyerang

"Minggir, Sunar! Biar aku yang mencabut nyawanya!" Badra melesat dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya.

Cakar iblisnya menyambar. Raka hanya bisa menangkis dengan tangan kosong. Beruntung, ia pernah mempelajari dasar-dasar Jurus Cakar Harimau saat berada di Perguruan Harimau Terbang. Jari-jari Raka menekuk kaku, otot-otot lengannya menegang seperti baja.

"Bugh! Plak! Srett!"

Dhuaar

Keduanya bertarung satu lawan satu. Cakar melawan cakar. Cakar Badra membawa racun amis bangkai, sementara Cakar Harimau Raka membawa kekuatan murni yang dahsyat. Setiap kali tangan mereka beradu, terdengar suara ledakan tenaga dalam yang membuat debu beterbangan.

"Hebat juga kau, Bocah! Bisa menahan cakarku dengan tangan kosong!" Badra menyeringai, meskipun ia merasa tangannya panas seperti terbakar setiap kali bersentuhan dengan Raka.

Raka tidak menjawab. Ia fokus mengatur napasnya yang kian pendek. Tenaga dalamnya mulai merosot tajam.tadi ia telah melawan anak buah mereka kini Bertarung lagi melawan tiga iblis secara bersamaan tentu saja tenaga dalamnya. Keringat dingin bercampur darah mengalir masuk ke matanya, membuat pandangannya mulai kabur.

Badra menyadari kelemahan Raka. Ia mempercepat serangannya, "Cakar Iblis Merobek Langit!"

Serangan beruntun itu datang bagai hujan deras. Raka terpaksa hanya bisa bertahan. Ia mundur selangkah demi selangkah. Setiap langkah mundurnya makin mendekatkan dirinya pada jurang maut di belakangnya.

Sunar, yang masih setengah sadar, mencoba membantu Badra dengan melempar sisa tenaganya ke arah kaki Raka. Raka goyah. Keseimbangannya hilang.

"Inilah saatnya! Mati kau, Bocah Setan!" Badra meraung, mengumpulkan seluruh sisa tenaga dalamnya ke kedua cakar hitam-merahnya. Sebuah serangan yang mengandung daya hancur luar biasa.

Heaaaah

Raka melihat serangan itu datang. Ia ingin menghindar, namun kakinya seolah tertanam di tanah yang gembur. Tidak ada jalan lain. Ia harus mempertaruhkan segalanya dalam satu benturan terakhir.

Hiaaaaat

Raka mengempos seluruh sisa tenaga dalamnya di pusat dan-tian. Ia menarik napas sedalam mungkin, membiarkan energi Buah Dewa meledak untuk terakhir kalinya di dalam pembuluh darahnya.

"Cakar Harimau merobek mangsa!"

Keduanya melesat maju. Tidak ada lagi teknik, tidak ada lagi tipu daya. Hanya kekuatan murni yang saling beradu.

Wuut

wuuut

"DUAAARRRR!!!"

Benturan dua kekuatan raksasa itu menciptakan gelombang kejut yang dahsyat. Pelataran kedai itu bergetar hebat. Badra terpental mundur beberapa meter, dadanya sesak dan ia memuntahkan darah hitam yang kental. Ia mengalami luka dalam yang cukup parah.

Namun, nasib lebih buruk menimpa Raka. Karena ia berada tepat di pinggir jurang dan tenaga dalamnya sudah benar-benar kosong, ia tidak mampu menahan daya tolak dari benturan tersebut. Tubuhnya terpental ke belakang, meluncur bebas melewati bibir jurang yang curam.

"Aaaaaaaakh!"

Suara teriakan Raka menggema di antara tebing-tebing tinggi, lalu perlahan menghilang ditelan kegelapan jurang yang dalam.

Badra berdiri terhuyung, memegangi dadanya yang nyeri. Ia berjalan tertatih ke pinggir jurang dan melongok ke bawah. Hanya ada kabut tebal dan kegelapan yang terlihat.

"Bocah itu pasti hancur berkeping-keping. Tak ada yang bisa selamat jatuh ke Jurang Neraka ini," gumam Badra sambil meludah berdarah.

Di bawah sana, di kedalaman yang tak terjangkau mata manusia, tubuh Raka terus meluncur turun.

1
Was pray
baru aja muncul si raka tokan sama saka repe udah tenggelam.... 🤣🤣
angin kelana
untuk kesaktian ajian,jurus,pusaka agar di berinama agar menjiwai novel silat indonesia.
angin kelana
lanjuuuutt
angin kelana
awal yg menarik lanjuuuuttt..
Redy Ryan Little
Bagus
Hendra Yana
ditunggu up selanjutnya
Was pray
kasihan di Raka, isoh ngambang Ra isoh nyuling, isoh nyawang Ra lisoh nyanding.. sengsara membawa luka
Hendra Yana
lanjut
Hendra Yana
semangat
Dewi kunti
smg tidak terpecah belah
Was pray
wah saka dikasih hati minta jantung, Raka nasibnya gak pernah mujur, ibarat berakit-raki ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu sengsara kemudian, 😄😄
Blue Angel: ha ha ha
total 1 replies
Hendra Yana
di tunggu up selanjutnya
Blue Angel
kembali ke jaman dulu
Blue Angel: inbok aja
total 2 replies
Dewi kunti
hadeeeeehhh tegang bacanya
Batsa Pamungkas Surya
👍🙏lanjutkan💪
Dewi kunti
kayak kurang tepat ya kalimatnya "berguru di pada Ki geni"
Blue Angel: ha ha ha, untung sunar nya udah di bikin koit yah
total 6 replies
Hendra Yana
lanjut
Batsa Pamungkas Surya
mantaaaap
Hendra Yana
up lagi dong
anggita
ikut dukung like👍 iklan👆👆, untuk novel laga lokal. moga lancar novelnya.
Blue Angel: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!