Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sumpah di bawah langit sakura
Fajar yang akan segera tiba tidak hanya akan membawa sinar matahari, tapi juga akan menjadi awal dari badai yang akan meruntuhkan tatanan sombong Sekte Tian Long selamanya.
Malam yang mencekam itu akhirnya berlalu, meninggalkan sisa-sisa aroma obat-obatan dan keringat dingin di kamar kecil milik Shang Zhi. Di bawah asuhan jemari lembut Yun Xi, tubuh Shang Zhi mengalami transformasi yang mustahil dijelaskan oleh nalar medis. Luka-luka menganga hasil pertarungan hidup mati melawan Serigala Api, yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh, menutup hanya dalam hitungan jam. Di dalam pembuluh darahnya, energi murni dari Mutiara Kehidupan mengalir layaknya sungai emas, memperbaiki jaringan yang rusak dan memperkuat fondasi tulang-tulangnya.
Sementara itu, di luar sana, fajar membawa badai berita yang mengguncang sendi-sendi Sekte Tian Long. Kabar bahwa seorang murid luar yang sebelumnya dianggap sampah, Shang Zhi, berhasil membawa pulang Inti Kristal Serigala Api sebuah artefak tingkat tinggi yang sulit didapatkan bahkan oleh murid dalam sekalipun, telah menciptakan kegemparan luar biasa. Nama Shang Zhi mendadak menjadi buah bibir, mulai dari barak-barak murid rendahan hingga ke aula megah tempat para Tetua bermeditasi.
Di sisi lain, pemandangan kontras terlihat di kediaman kelompok Lu Feng. Mereka kembali seperti anjing yang terjepit ekornya babak belur, dengan jubah yang robek dan martabat yang hancur. Lu Feng, yang biasanya angkuh, kini hanya bisa terdiam dengan wajah pucat setiap kali ditanya tentang kejadian di hutan. Mereka mencoba mengarang cerita tentang "kabut tebal" yang memisahkan mereka, namun tatapan sinis dari para murid lain membuktikan satu hal dunia tahu siapa pemenang yang sebenarnya, dan siapa pengecut yang melarikan diri dari maut.
Sore itu, langit di atas Sekte Tian Long dihiasi oleh sapuan warna jingga dan ungu yang magis. Shang Zhi berdiri di depan cermin kecil, mengenakan pakaian kain sederhana berwarna kelabu. Ia sengaja menanggalkan jubah muridnya yang kaku; ia tidak ingin bertemu Yun Xi sebagai seorang kultivator, melainkan sebagai seorang pria biasa. Melalui Yuan Han, sahabatnya yang setia namun bermulut besar, ia telah mengirimkan pesan pendek untuk bertemu di tempat yang indah dan penuh kedamaian.
Tempat itu terletak di pinggiran hutan belakang sekte, tersembunyi dari hiruk-pikuk persaingan murid. Di sana, sebuah pohon sakura raksasa berdiri kokoh, konon telah ada sejak ribuan tahun lalu, bunganya tidak pernah layu sepenuhnya. Shang Zhi sampai lebih awal. Ia berdiri tegak, membiarkan angin sore menerpa wajahnya yang kini telah kembali segar. Matanya yang berwarna emas redup menatap lembah, namun pikirannya melayang jauh ke masa sepuluh ribu tahun yang lalu, ke masa di mana ia berdiri di puncak dunia namun merasa sangat kesepian.
Langkah kaki ringan di atas rumput kering membuyarkan lamunannya.
Yun Xi datang. Ia tampak begitu bersahaja namun memukau dengan gaun putih yang melambai ditiup angin sore. Rambut hitamnya diikat sederhana dengan pita sutra, membiarkan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang halus. Di mata Shang Zhi, kecantikan Yun Xi sore itu melampaui dewi-dewi manapun yang pernah ia temui di kehidupan sebelumnya.
"Shang Zhi," panggilnya lembut. Suaranya seperti denting lonceng perak yang menenangkan badai di hati Shang Zhi.
Shang Zhi berbalik, sebuah senyuman tipis namun tulus terpahat di bibirnya. "Kau datang, Yun Xi."
Gadis itu mendekat dengan raut wajah yang masih menyimpan kekhawatiran. Tanpa sadar, ia menjinjitkan kaki dan meletakkan telapak tangannya di dahi Shang Zhi. "Kau terlihat jauh lebih baik, tapi aku masih takut demammu kembali. Luka dalam bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh."
Shang Zhi tidak menghindar. Ia membiarkan tangan dingin itu menyentuh kulitnya sejenak, merasakan ketulusan yang mengalir dari sana. Kemudian, dengan gerakan yang perlahan namun pasti, ia menangkap tangan Yun Xi dan menggenggamnya dengan tangannya yang kini terasa hangat dan bertenaga.
"Berkat dirimu, Yun Xi," ucap Shang Zhi dengan suara rendah yang menggetarkan udara. "Jika malam itu kau tidak datang, mungkin jiwaku sudah tersesat kembali ke kegelapan yang tak berujung. Kau adalah cahayaku saat semuanya menjadi gelap."
Rona merah menjalari pipi Yun Xi. Ia merasa jantungnya berdegup kencang, namun ia tidak menarik tangannya. Mereka kemudian berjalan berdampingan dan duduk di atas akar pohon sakura yang besar dan menonjol ke permukaan. Di sekeliling mereka, kelopak bunga merah muda berguguran, menari-nari ditiup angin sebelum mendarat dengan lembut menyelimuti tanah, menciptakan karpet alami yang sangat indah.
Keheningan sempat menyelimuti mereka, namun itu bukan keheningan yang canggung. Itu adalah keheningan antara dua jiwa yang saling memahami tanpa perlu banyak kata. Namun, Shang Zhi tahu, ada hal-hal yang harus ia katakan sebelum takdir kembali menyeretnya ke dalam konflik yang lebih besar.
"Yun Xi," suara Shang Zhi terdengar lebih mendalam, penuh beban di pikiran nya. "Dunia ini luas, dan seringkali sangat kejam bagi mereka yang lemah. Selama ini, aku hidup dengan memikul beban yang tidak bisa kujelaskan pada siapapun. Ada banyak hal tentang masa laluku, tentang siapa aku sebenarnya, yang mungkin akan membuatmu ketakutan jika kau mengetahuinya."
Yun Xi tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ia menatap mata emas Shang Zhi dengan keteguhan yang luar biasa. "Aku tidak peduli seberapa luas dunia ini, Shang Zhi. Aku juga tidak peduli seberapa gelap atau besar rahasia yang kau simpan. Sejak hari kau mempertaruhkan nyawa mu sendiri untuk menyelamatkan ku, aku sudah membuat keputusan."
Ia meremas tangan Shang Zhi lebih erat. "Mungkin masa lalumu adalah milikmu sendiri, dan aku menghargai itu. Tapi bagiku, rahasiamu adalah rahasiamu, namun masa depanmu adalah masa depanku. Kita akan menjalaninya bersama."
Kata-kata itu menghantam Shang Zhi tepat di ulu hati. Pertahanan mental yang ia bangun selama sepuluh ribu tahun sebuah tembok baja yang ia dirikan untuk melindungi diri dari pengkhianatan akhirnya retak dan runtuh. Di hadapan gadis sederhana ini, ia bukan lagi seorang Kaisar Abadi yang haus darah atau pemimpin yang tak tersentuh. Ia hanyalah seorang pria yang merindukan kehangatan manusiawi.
"Aku pernah hidup dalam pengkhianatan yang sangat hebat," lanjut Shang Zhi, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. "Aku pernah memberikan seluruh kepercayaanku pada orang yang salah, dan sebagai imbalannya, duniaku dihancurkan hingga menjadi abu. Sejak saat itu, aku bersumpah tidak akan pernah lagi membiarkan siapapun masuk ke dalam hatiku. Tapi kau... kau menghancurkan sumpah itu hanya dengan kelembutanmu."
Shang Zhi memutar tubuhnya, menatap langsung ke dalam bola mata Yun Xi. Cahaya matahari terbenam memantul di mata emasnya, memberikan kesan magis. "Yun Xi, aku tidak tahu badai apa yang menanti kita. Mungkin ada dewa-dewa yang akan memburu kita karena keberadaanku, atau kekaisaran yang akan mencoba memisahkan kita demi ambisi mereka. Tapi di bawah pohon ini, aku ingin kau tahu satu hal... bahwa kau adalah alasan tunggal mengapa aku memilih untuk tetap menjadi manusia di kehidupan ini."
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Yun Xi. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan kelegaan yang luar biasa. Ia menyandarkan kepalanya di bahu lebar Shang Zhi, menghirup aroma tubuh nya yang bercampur dengan wangi bunga sakura.
"Lalu, berjanjilah padaku satu hal," bisik Yun Xi. "Jangan pernah pergi lagi sendirian. Jangan pernah memikul beban dunia itu tanpa melibatkan aku. Aku mungkin tidak sekuat dirimu sekarang, aku mungkin hanya seorang murid biasa. Tapi aku berjanji, aku akan berlatih lebih keras dari siapapun. Aku akan menjadi cukup kuat untuk berdiri di sampingmu, menangkis pedang musuh bersama-sama, dan bukan hanya bersembunyi di belakangmu."
Shang Zhi tersenyum, sebuah senyuman yang benar-benar tulus, yang mampu mencairkan gunung es paling keras sekalipun. Ia merogoh saku pakaiannya dan mengeluarkan sebuah kalung giok sederhana namun memancarkan aura murni. Kalung itu adalah pemberian Yun Xi di masa lalu (yang sempat ia lihat dalam penglihatan masa depan di Lembah Kematian).
"Aku akan menjagamu dengan nyawaku, dan kau akan menjagaku dengan cintamu. Itulah janji abadi kita," ucap Shang Zhi.
Di bawah hujan kelopak bunga sakura yang berguguran, Shang Zhi perlahan mendekatkan wajahnya. Yun Xi memejamkan matanya, merasakan napas Shang Zhi yang hangat. Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Yun Xi sebuah segel sakral bagi janji yang mereka ikrarkan sore itu. Tidak ada nafsu yang menggebu, hanya ada rasa hormat, perlindungan, dan kasih sayang yang murni.
"Aku mencintaimu, Yun Xi," bisik Shang Zhi tepat di telinganya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Shang Zhi," balas Yun Xi dengan suara lirih yang nyaris hilang ditelan angin.
Malam mulai turun menyelimuti Bukit Sakura, menyembunyikan dua insan tersebut dalam pelukan kegelapan yang terasa hangat dan aman. Namun, alam semesta seolah sedang menahan napas. Kebahagiaan singkat ini hanyalah sebuah ketenangan sebelum badai besar menghantam.
Jauh di atas sana, di puncak tertinggi Sekte Tian Long yang berselimut salju abadi, di dalam sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh bola kristal pengintai, sepasang mata menatap tajam ke arah bukit. Itu adalah mata-mata dari keluarga Lu yang dipenuhi kebencian, serta seorang utusan dari Sekte Iblis yang mengenali aura kuno di dalam tubuh Shang Zhi.
Politik keluarga bangsawan yang menganggap hubungan mereka sebagai penghinaan, serta rahasia segel kekuatan Kaisar milik Shang Zhi yang mulai tercium oleh musuh-musuh dari masa lalunya, kini tengah bersiap untuk menerjang. Cinta yang baru saja bersemi itu akan segera diuji oleh api peperangan dan intrik yang jauh lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
Bersambung....