Setiap pria pasti ingin menikah dengan wanita sholeha. Tapi apa jadinya jika keadaan memaksa untuk menikahi gadis tengil yang menyebalkan? Seperti itulah yang dialami Saga Dirgantara, mimpinya untuk menikahi sang kekasih kandas karena wanita itu memilih untuk menikah dengan pria lain. Disaat hatinya hancur dan kariernya jatuh, terpaksa dia menikah dengan Anna, si gadis tengil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK ADA PILIHAN LAIN
Saga merasakan dunianya terbalik saat ini. Bertahun tahun dia membayangkan membina rumah tangga dengan wanita sholeha dan lemah lembut seperti Rania, tapi justru kebalikannya yang ada didepan mata saat ini. Diantara ribuan gadis didunia ini, kenapa harus dia yang jadi anak Pak Jeremi.
Kejadian dimobil saat itu tak terlalu membuatnya ilfeel, tapi melihat perangai Anna barusan, dia tak bisa bohong, rasanya berat untuk legowo menikahi Anna. Apalagi mendengar celotehan teman Anna barusan, tentang seperti apa Anna dan pacarnya, rasanya dia ingin mundur.
Memang jaman sekarang susah mencari gadis yang benar benar masih perawan, tapi rasanya tak adil jika dia yang perjaka tulen mendapatkan istri wanita bekas orang lain. Egonya tak bisa menerima itu. Jangankan berhubungan badan, berciuman saja, Saga tidak pernah.
Disaat Saga sibuk dengan pikirannya, Anna malah ketawa ngakak.
"Ada yang lucu?" Tanya Saga dengan ekspresi datar.
"Gak lucu, tapi sangat lucu." Jawab Anna denngan tawa yang belum hilang dari bibirnya. "Kamu pernah dengar gak, tentang istilah menjilat ludah sendiri?"
Saga diam, tak berekspresi apapun.
"Ya kayak gitu kamu. Masih ingetkan, dulu bilang kalau aku bukan tipemu. Jangankan menikah denganku, berandai andai saja, kamu tidak mau."
Saga menelan salivanya, tak menyangka jika gadis tengil tersebut punya ingatan yang bagus juga.
"Cepat telepon papaku, bilang kalau kamu gak jadi mau nikah denganku." Anna memerintah seolah olah dia adalah yang paling berkuasa disini. Dengan kedua tangan dilipat didada, dan kaki yang disilangkan, membuat Saga makin muak.
Saga mendengus kesal, kalau boleh jujur, dia juga ogah menikah dengan Anna. Tanpa berfikir panjang, Saga mengambil ponsel disaku jasnya. Lebih baik dibatalkan daripada seumur hidup ngenes karena punya istri tengil macam Anna.
Gerakan tangan Saga yang mencari kontak Pak Jeremi terhenti saat sebuah foto masuk keponselnya. Dia mengerang frustasi saat Pak Jeremi mengirim foto anak buahnya yang mulai turun kelahan dimana hotel akan dibangun. Tak hanya itu, alat alat berat juga sudah tampak disana. Kalau sudah seperti ini, bagaimana mungkin dia akan membatalkan.
"Kenapa?" Anna melihat raut frustasi diwajah Saga.
"Aku gak bisa, kamu saja yang bilang sama papamu." Mungkin jika Anna yang membatalkan, akan lebih mudah, itu yang Saga pikirkan.
"Tapi aku gak pegang ponsel, ponselku disita."
Saga langsung menyodorkan ponselnya. "Pakai punyaku."
Anna segera meraih ponsel itu. Mencari nomor papanya dikontak lalu, dia ragu untuk menelepon.
Papa akan kirim kamu ke pesantren dipelosok kampung jika menolak menikah. Jangan pikir bisa kabur lagi, karena pesantren pilihan papa ini, terletak ditengah hutan, tak ada angkutan, bahkan signal.
Anna bergidik ngeri membayangkan berada ditempat seperti itu. Ancaman papanya sangat menakutkan. Setidaknya menikah jauh lebih baik daripada berada ditempat seperti itu. Dia masih bisa bebas, bisa berkuliah, dan yang paling penting, bisa pegang ponsel, bersosial media serta shopping. Untuk urusan Saga, dia bisa bercerai dan bebas dari pria itu nantinya.
"A, aku tidak bisa." Anna mengembalikan ponsel tersebut pada Saga.
Keduanya terdiam beberapa saat, hingga kemudian, Anna mengeluarkan ide konyol.
"Bagaimana jika kita menikah pura pura saja. Seperti di film atau novel. Kita bikin perjanjian, setelah itu kita bercerai. Gimana, kamu setuju?"
Saga berdecak pelan, baginya pernikahan adalah sesuatu yang sakral, bukan sebuah permainan yang bisa diatur dengan perjanjian hitam diatas putih.
"Aku tidak setuju. Pernikahan itu janji yang diucapkan dihadapan Allah, dengan disaksikan manusia dan malaikat. Sejak ikrar itu aku ucapkan, semua dosa dosamu aku yang menanggung. Tak mungkin aku bermain main dengan yang demikian."
"Heleh, sok suci," gerutu Anna sambil menyebikkan bibir.
Saga membuang nafas berat, belum apa apa saja, Anna sudah sangat menjengkelkan, bagaimana nanti?
"Oh iya, bukankah kamu sudah punya pacar. Si cewek berhijab itu. Aku lihat kamu bucin, emang bisa ninggalin dia?" Anna tersenyum mengejek, seolah dia punya senjata kuat yang bisa membuat Saga membatalkan rencana pernikahan ini. Karena jika pihak Saga yang membatalkan, dia tak akan dikirim ke pesanren pelosok itu.
"Kami sudah putus." Anna melongo mendengarnya, padahal itu harapan satu satunya.
"Ini artinya, kamu setuju menikah denganku?" tanya Anna.
Meski berat, Saga mengangguk. "Tapi jika kamu tak mau, aku tidak akan memaksa."
Anna kembali berfikir. Jikalau dia menolak, bisa saja papanya mencari calon suami lain untuknya. Bagaimana kalau calonnya nanti tua, jelek dan gendut. Masih beruntung kali ini calonnya Saga, tampan dan muda.
"Bagaimana?"
Anna menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Daripada menolak berlian dan malah dapat batu kali, mending dia terima saja.
"Ya, aku setuju. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Bagaimana kalau kita tak bisa saling mencintai?"
Benar juga apa yang dipikirkan Anna. Tak mungkin mereka selamanya hidup tanpa cinta, hal itu pasti akan sangat menyiksa.
"Kita jalani saja dulu. Jika memang sampai batas kesanggupan kita, cinta itu belum juga hadir, kita bisa mengakhiri pernikahan ini."
Anna mengangguk cepat. Ini sepertinya mudah, dia hanya perlu membuat Saga kesal agar tak sampai jatuh cinta, dengan begitu, Saga akan menceraikannya, dan dia bisa kembali pada Evan.
saga yg kalem dapet anna yg bar bar,,hari2mu pasti akan lebih berwarna🤣