Apa yang pertama kali kamu pikirkan ketika seorang wanita menjadi istri ke 2?
Seorang pelakor?
Seorang wanita perebut suami orang?
Lalu bagaimana jika pernikahan itu berlandas keterpaksaan, dari seorang gadis berparas cantik dan baik bernama Isna Happy Puspita berusia 22 tahun, yang harus memilih diantara kesulitan hidup yang dia jalani, dan menerima sebuah penawaran dari seorang wanita elegan dan dewasa bernama Kartika Ratu berusia 43 tahun, untuk menjadi istri ke 2 suaminya yang tampan dan kaya raya, Krisna Aditya berusia 34 tahun.
Bagaimana kehidupan selanjutnya gadis itu, yang malah membuat suaminya jatuh cinta padanya?
Akankah dia bahagia?
"Salahkah bila aku jatuh cinta lagi? dan dosakah ketika aku menghianati perasaanmu, yang jelas itu ku labuhkan pada wanita pilihanmu, yang kini jadi istriku?" Krisna
"Bolehkah aku juga menyukainya? mendapatkan cinta dan kasih sayang darinya? aku tidak merebutnya, tapi kau yang menawarkannya?" Isna
"Kau hanya boleh menyentuhnya dengan tubuhmu, tapi bukan hatimu. Bagaimanapun aku serakah apapun alasanku. Aku menginginkan semua cinta untukku sendiri, dan benci untuk berbagi." Kartika
follow IG @Syalayaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Bertemu dokter tampan
Happy Reading …
Di Villa Puri Indah.
Isna sedang sarapan pagi di meja makan, dia ditemani Wisnu yang tampak masih setia berdiri mematung di sisi kanannya. Isna selalu saja gagal saat mencoba mengganti kebiasaan pria itu.
“Kau hanya bisa melakukan itu?” sindir Isna menatap Wisnu sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya, roti bakar selai nanas yang tersaji di atas meja.
“Maksud, Anda?” tanyanya sedikit mendekati meja Isna.
“Ya, kau dibayar mahal hanya untuk berdiri menjadi patung begitu?” komentar Isna dengan senyuman senang melihat mimik wajah Wisnu yang tampak lucu.
"Kau tidak bisa sedikit saja menghiburku?"
Wisnu terdiam tidak menjawab, pria itu hanya mengernyitkan dahinya saja.
Berhentilah cari gara-gara lagi , Nona.
“Silahkan habiskan sarapan Anda. Sebentar lagi beberapa dokter pribadi tuan Krisna akan datang untuk memeriksa kesehatan Anda,” jawab Wisnu datar. Dia kembali mundur dan bersikap tegap siaga seperti biasanya.
“Kenapa aku harus diperiksa? Tapi, mereka dokter spesialis apa?” Isna menjadi penasaran.
“Dokter spesialis ahli gizi, Spesialis kulit dan kelamin, Ortopedi, dan dokter umum, Nona,” jawabnya tegas dan sopan.
“Bisa tidak, kamu meminta mendatangkan dokter spesialis hati? Hatiku sedang terluka dan terhina?” lontar Isna sambil mengerucut bibir, ia mengepalkan jemarinya tangan kanannya penuh kesal.
“Tubuh luar Anda masih terluka, jadi mungkin itu dulu yang menjadi prioritas penyembuhan,” kelakar garing Wisnu. Isna hanya tersenyum masam.
"Kau bilang dokter kelamin? Untuk apa?" tanya Isna terkesiap mendengar ada dokter seperti itu juga datang.
Dokter apaan itu? Kira-kira apa yang akan dia periksa nanti?
Jiwa polos Isna bertanya-tanya. Isna malah merasa merinding sendiri. Kenapa banyak dokter yang datang untuk memeriksanya.
“Iya, Nona, karena mereka akan mengetes apakah Anda layak menjadi istri tuan Krisna atau tidak.” Wisnu menjelaskannya dengan nada penuh kesabaran.
“Siapa yang mau menikah dengannya? Aku akan menolaknya!” jawab Isna ketus.
“Bukankah Anda sendiri yang kemarin menantang tuan Krisna? Ayo, buktikan! Atau Anda mau mati sia-sia?” ejek Wisnu mengingatkan.
Isna mendengus kesal. Benar, Isna meyakinkan diri kalau dia pasti bisa menarik perhatian Krisna dan akan bersikap kejam balik pada pria bermulut jahat bernama Krisna itu sampai rasa sakitnya terpuaskan.
“Baiklah, akan aku buktikan, tapi jangan kaget, ya kalau aku berubah dan membuatmu jatuh cinta.” Isna menatap sombong ke arah Wisnu.
“Saya tidak tertarik, Nona,” jawab Wisnu memandang datar.
“Ck! Dasar!" Isna menggerutu kesal.
Dia segera menghabiskan sarapannya dan kembali ke kamar. Duduk santai di sana. Duduknya memang santai, tapi pikirannya sungguh tidak sesantai itu. Dia tampak gugup dan khawatir.
🐦🐦🐦
Dan benar saja, sepertinya para dokter yang dimaksud Wisnu tadi datang. Akan tetapi, mereka mengendarai mobil dan bukan helikopter seperti Krisna kemarin. Isna merasa harus menyiapkan segala kemungkinan yang akan dia alami nantinya.
Wisnu mengetuk pintu kamar Isna dan mempersilahkan para dokter itu memasuki kamar. Semua dokter berjenis kelamin pria.
Apa! Dia mengirimkan dokter pria semua untukku? Dia pasti begitu ingin mempermalukan aku, ya.
“Nona Isna, apa Anda masih mengingat saya?” tanya dokter paling tampan mendekati Isna yang duduk di sofa.
“Bukankah, Anda salah satu dokter yang merawat saya ketika masih di rumah sakit?” tanya Isna memastikan.
“Betul sekali, Nona. Kenalkan, saya Dokter Arjuna dan ini Dokter Abimanyu selaku dokter SpKK." Arjuna memberi isyarat dagu kepada salah seorang rekan yang berdiri di sampingnya. Isna hanya bisa menunduk menyapa dengan canggung dan malu.
Semua dokter terlahir tampan, ya?
“Dan dia ini Dokter Spesialis Gizi dan Nutrisi, Dokter Kustito,” tambahnya lagi. "Dan ini Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Laksmana," imbuh Juna sambil memberikan senyuman menawan pada Isna.
“Jadi, Dokter umum itu Anda?” tanya Isna tiba-tiba.
Sungguh, sebuah pertanyaan yang membuat Juna terhenyak, ketiga rekan dokternya pun serempak langsung tertawa, Isna hanya bisa menutupi bibirnya dengan jemari tangannya karena ternyata sudah salah tebak.
“Siapa yang memberi tahu Anda, kalau saya seorang dokter umum?” tanyanya dengan penekanan kata 'umum' dengan nada gemas.
“Dia orangnya," tunjuk Isna sambil memberi isyarat kepada pria yang masih setia mematung di dekat pintu kamar.
Mereka semua menoleh serempak hingga Wisnu menjadi bingung, tapi tetap kalem tanpa merasa terintimidasi sama sekali.
Waahh ... Anda selalu saja melibatkan saya, Nona?
“Hei, Wisnu. Bisa-bisanya kau, ya? Jelaskan padanya apa kedudukanku!” Suara Arjuna meninggi yang dibuat-buat. Wisnu malah memberikan sebuah reaksi cibiran.
“Nona, jangan salah. Saya ahli dalam memainkan pisau di ruang bedah. Saya seorang GS dan Kepala Rumah Sakit yang kemarin tempat Anda dirawat. Tahu GS tidak?” ucapnya sombong dan receh.
Isna tersenyum sambil mengangguk.
“Anda paham, 'kan? GS atau General Surgery,” tegasnya lagi untuk memastikan karena raut wajah Isna sangat meragukan.
“Tinggi mana, kedudukan Anda dengan tuan Krisna?” tanya Isna membuat Juna kembali gemerutuk, tangannya meremas kertas di hadapannya.
Teman-temannya tertawa sambil menepuk bahunya untuk menenangkan.
“Kita mulai general chek up-nya,” ucapnya kemudian merasa kalah dan segera mulai mempersiapkan segala peralatan.
Isna menjalani pemeriksaan umum maupun khusus, pengambilan sample darah dan metode lain sesuai spesialisasi mereka. Meskipun mereka tidak akrab, tapi tetap saja, mereka menanyakan hal dasar dan bagaimana perasaannya saat ini.
Mereka akan memberikan jadwal ketat selama dua minggu ke depan, sebelum Krisna akan menemuinya lagi nanti.
“Kau harus bugar, cepat pulih, kembali cantik, dan membalas kejahatan mulutnya itu,” ucap Juna sambil merapikan kembali tasnya. Dia kini berbicara santai dengan Isna. Isna yang berbaring di ranjang segera duduk kembali.
“Anda juga mendengar dia menghina saya?” tanya Isna tidak percaya dengan yang didengarnya.
“Tentu saja,” jawabnya sok penting.
“Ternyata di mana-mana sama saja, suka membuat rumor dan gosib, ya? Apa Anda merasa bangga?” tanya Isna merasa terhenyak dengan keadaan sekitarnya.
“Bangga apa maksudmu?” tanya Arjuna santai, sambil menatap Isna.
“Bangga bisa membicarakan tuan Anda saat di belakangnya? Apa kalian termasuk pendukung setia Krisna?” ejek Isna sambil tersenyum.
Semua yang berada di sana langsung terdiam, tidak mampu menjawab pertanyaan Isna, pertanyaan yang terkesan sebuah tonjokan keras di wajah.
“Heh, Krisna itu sahabatku. Kau kira aku budaknya juga?” protes Juna tersinggung.
“Ehm, Nona. Sudah saatnya Anda istirahat.” Wisnu segera mendekat dan sedikit memberi isyarat agar para dokter ini segera pergi saja ketika sudah selesai melakukan pemeriksaan.
“Baiklah,” jawab Isna segera meluruskan kakinya kembali dan bersandar pada kepala ranjang tempat tidurnya.
Juna dan rekan dokter hanya bisa saling memandang, merasa kagum pada kepribadian gadis kecil yang berselisih dua belas tahun lebih muda dari krisna tersebut.
Gadis itu berbeda, pantas saja seno begitu melindunginya. batin Juna.
“Baiklah, istirahatlah. Kami akan kembali ke sini lagi beberapa hari setelah melihat hasil check up kesehatanmu,” ucap Dokter Laksmana atau akrab dipanggil Dokter Laks itu.
"Iya, Dokter. Terimakasih." Isna menjawab sambil merebahkan tubuhnya lebih nyaman.
“Nu, jaga dia baik-baik, ya?” pesan Juna sambil melangkahkan keluar dan melambaikan tangan. Wisnu hanya memberi senyuman tanpa berminat untuk menjawab.
Mereka berempat segera meninggalkan kamar Isna dan menutup pintu. Melangkahkan kaki jenjang mereka dengan formasi yang keren. Berseragam jas dokter berwarna putih kebanggaan mereka. Melangkah menuju tangga menuju ke lantai bawah. Kalau saja Isna berjiwa mudah jatuh cinta, mereka berempat mungkin sudah masuk ke dalam daftar pria keren yang pernah ditemui untuk menjadi kekasih impian.
“Krisna sepertinya akan menyukai gadis ini,” bisik Bima ke arah telinga Tito.
“Apa kau yakin?” tanya Tito juga berbisik.
“Mana mungkin dia mengirim kita berempat ke sini hanya untuk memeriksanya, kalau dia mengabaikan gadis kecil itu,” sahutnya lirih.
“Kartikalah yang memberi ide gila ini pada Krisna. Kau tau 'kan, Krisna begitu cinta sama istrinya itu.”
“Iya, aku tahu. Dia wanita yang sangat sombong dan angkuh. Klop mirip Krisna. Pasangan yang serasi,” celetuk Juna yang mendengar bisikan para rekannya itu.
Juna segera mendapat sorotan mata tajam dari rekannya bertiga. Formasi indah yang tercipta itu pun ambyar seketika.
Juna hanya tersenyum meringis dan melangkahkan kaki menuju mobilnya. Kedua mobil itu pun meninggalkan area Villa berbarengan. Menyulut gengsi di antara mereka berempat.
*****
Hai Readers …
Jangan lupa berikan dukunganmu pada novelku dengan like, komen dan vote ya …
Terimakasih ^_^
With love ~ Syala yaya