Ameer Alfatih adalah seorang ustaz muda yang menolak dijodohkan dengan Hana Karimah. Sepupunya yang cantik dan penghafal Qur'an.
Satu-satunya alasan Ameer menolak wanita yang hampir sempurna itu adalah Meizia, seorang wanita yang terkesan misterius tetapi berhasil merebut hati Ameer di pertemuan mereka.
Namun, sebuah kenyataan pahit harus Ameer terima ketika ia tahu Meizia adalah seorang wanita malam bahkan putri dari seorang mucikari.
Maukah Ameer memperjuangkan cintanya dan membawa Meizia keluar dari lembah dosa itu?
Dan maukah Meizia menerima pria yang merupakan seorang Ustaz sementara dirinya penuh dosa?
Lalu bagaimana dengan nasib Hana?
"Aku terlahir dari dosa, membawa dosa, sebagai dosa bagi ibuku dan hidupku pun penuh dosa. Kau terlalu suci untukku." Meizia
"Tak ada manusia yang luput dari dosa, tetapi juga tak ada manusia yang lahir membawa dosa meski ia terlahir dari dosa." Ameer Alfatih
"Ikhlas dengan takdir Tuhan adalah kunci ketenangan hidup." Hana Karimah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Keputus-asaan Meizia
"Kamu dari mana, Meer ?" tanya Ummi Nayla saat menyambut kedatangan Ameer yang sangat terlambat dari biasanya.
"Dari rumah sakit, Ummi," jawab Ameer sembari mencium tangan ibunya seperti biasa.
"Siapa yang sakit?" pekik Ummi Nayla terkejut.
"Meizia." Jawaban singkat itu berhasil membuat Ummi Nayla tampak kecewa pada Ameer.
"Kenapa kamu menemuinya lagi, Ameer?" desisnya yang membuat Ameer langsung menghela napas berat. "Kenapa kamu tidak tidak patuh saja pada keinginan kami, Nak? Kami ingin menjauhkanmu dari orang-orang yang tidak baik untukmu," pungkas Ummi Nayla panjang lebar.
"Ummi...." Ameer menggenggam tangan sang Ibu dengan lembut. "Aku tahu, aku mengerti apa yang Ummmi dan Abi inginkan. Tapi aku mohon, tolong mengertilah apa yang aku inginkan," lirih Ameer.
"Jadi kamu masih tetap ingin menikahi gadis itu?" tanya Ummi Nayla dengan nada tinggi,
"Aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat, Ummi, tolong beri aku kesempatan," lirih Ameer memelas.
"Astagfirullah, sejak kapan kamu ingin dekat dengan wanita yang bukan mahram kamu?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Ameer semakin merasa serba salah, ia tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan pada ibunya bahwa dia memang hanya ingin mengenal Meizia lebih dekat.
Sementara itu, Abi Zaid yang saat ini ada di kamar nya langsung keluar saat mendengar suara Ameer dan Ummi Nayla.
"Ada apa?" tanya Abi Zaid yang menyadari suasana tampak tegang.
"Dia sudah mulai melanggar perintah kita, Bi," kata Ummi Nayla seketika.
"Perintah apa?" tanya Abi Zaid sambil menatap Ameer.
"Dia menemui gadis itu, gadis malam itu!" seru Ummi Nayla yang seketika membuat hati Ameer terasa sakit.
"Namanya Meizia, Ummi," kata Ameer dengan suara rendah.
"Kenapa kamu masih menemuinya, Ameer?" tanya Abi Zaid yang juga tampak kecewa dengan tindakan Ameer itu.
"Aku tidak bisa melangkah mundur begitu saja, Abi," sahut Ameer akhirnya. "Tolong beri aku kesempatan untuk mengenal dia."
"Lalu setelah itu apa?" tantang Ummi Nayla. "Kamu mau mencari tahu apakah dia seorang wanita malam atau bukan? Kamu tidak dengar apa yang ibunya bilang, huh?"
"Ummi benar, Ameer," sambung Abi Zaid yang seolah semakin memojokan Ameer. "Apalagi yang perlu kamu kenali dari dia? Jangan mengikuti hawa nafsumu, Nak, itu hanya akan merugikan diri kamu sendiri nanti."
Ameer tertunduk, dan kini ia bertanya-tanya apakah rasa perduli yang ada dalam hatinya untuk Meizia adalah hawa nafsu belaka?
"Abi, aku hanya—"
"Pergi ke kamarmu sekarang!" potong Ummi Nayla. "Tenangkan diri kamu dan pikirkan baik-baik apakah yang kami larang ini baik atau justru sebaliknya untuk kamu."
Ameer hanya bisa mengangguk pasrah dan ia pun segera bergegas ke kamarnya.
...🦋...
Sementara di rumah sakit, Meizia bercerita tentang Ameer dan kedua orang tuanya pada Jenny. Wajah Meizia tampak sangat sedih, bahkan beberapa kali Jenny menangkap gadis itu sedang mengucek matanya yang mulai memerah.
"Padahal aku sudah menghindarinya, Jen, tapi dia sendiri yang datang," kata Meizia sambil tertawa hambar. "Dia memang sedikit aneh," imbuhnya.
"Bagaiamana kalau dia sungguh mencintai kamu, Mei? Bukannya itu bagus? Siapa tahu dia bisa membawa kamu pergi," kata Meizia dengan semangat.
"Ini adalah dunia nyata, Mei, bukan dunia dongeng di mana ada pangeran tampan, baik hati dan kaya yang akan menyelamatkan gadis buruk rupa," kekeh Meizia. "Dan aku ini adalah seorang pel4cur, Jen, sekali pel4cur selamanya begitu. Laki-laki yang datang dalam hidupku hanya untuk pelayanan di ranjang, bukan di hati." Suara Meizia tercekat di akhir kalimat, matanya kembali terasa panas bahkan satu bulir air mata tak bisa ia cegah saat meluncur bebas di pipinya.
"Aku juga merasa begitu," lirih Jenny sambil tertunduk dalam. "Kadang aku juga berharap ada yang datang menyelematkan aku, Mei. Tapi saat aku membuka mata, aku melihat fakta betapa Kejam nya dunia ini. Tidak akan ada yang datang menyelamatkan kita."
Meizia menarik Jenny kemudian merengkuk temannya itu. "Tidak apa-apa," kata Meizia. "Biarlah orang-orang jahat itu tertawa atas penderitaan kita. Bahkan Tuhan pun enggan membantu kita." Air mata Meizia tumpah tetapi ia segera menyeka nya. "Biarlah mereka semua tertawa, Jen, sampai mereka puas."