NovelToon NovelToon
Perfect Love

Perfect Love

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:156.2k
Nilai: 5
Nama Author: poppy susan

"Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa melihat, aku ingin melihat wajahmu walau itu hanya satu hari saja," ucap Safira.

Demir yang dari kecil hidup tanpa cinta, membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak percaya akan adanya cinta, tapi kehadiran seorang wanita bernama Safira bisa membuat Demir merasakan cinta yang selama ini dia rindukan.

Akankah Demir bisa menemukan cintanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Safira Menghilang

🌻

🌻

🌻

🌻

🌻

Keesokan harinya...

Mama Safira sedang memasak untuk sarapan, sedangkan Safira sedang merapikan tempat tidurnya.

Tok..tok..tok..

Mama Safira pun mematikan kompor dan segera membukakan pintu.

"Selamat pagi Bu Ros!"

"Eh Bu Sari, ada apa ya Bu?" tanya Mama Safira.

"Saya ingin berbicara sebentar dengan Bu Ros."

"Oh, mari silakan masuk Bu."

Bu Sari yang merupakan pemilik rumah kontrakan yang Safira dan Mamanya tinggali itu ingin menyampaikan sesuatu. Mama Ros memang menyewa sebuah rumah untuk dia tinggali bersama Safira dan bayarannya itu pertahun.

"Silakan duduk, Bu."

"Terima kasih."

"Maaf, Bu Sari mau bicara apa?"

"Begini Bu Ros, rumah ini sudah ada yang mau beli dan si pembeli berani bayar tiga kali lipat jadi saya ingin Bu Ros segera mengosongkan rumah ini karena saya tidak akan menyewakannya lagi."

"Loh, tapi kan ini belum setahun Bu? Lagipula kalau saya dan Safira pergi dari sini, terus kita mau tinggal di mana?" sahut Mama Ros.

"Masalah pembayaran, saya akan kembalikan lagi uang sisanya kepada Ibu dan Ibu bisa mencari kontrakan lain."

"Tapi Bu, kalau kita pindah dari sini, terus Safira sekolahnya bagaimana? Soalnya hanya di sini tempat yang dekat dengan sekolah Safira."

"Maaf Bu, kebetulan saya juga sedang butuh uang dan kebetulan rumah ini ada yang mau beli mana tiga kali lipat lagi, kan saya jadi untung. Sekali lagi maafkan saya, dan ini uang sisa pembayaran Ibu Ros. Saya harap, Ibu segera mengosongkan rumah ini karena sore nanti si pembeli mau datang."

"Baik Bu, terima kasih."

"Kalau begitu saya pamit dulu."

Bu Sari pun segera meninggalkan rumah itu, sedangkan Mama Ros hanya bisa terdiam sembari melihat uang yang barusan Bu Sari berikan.

Sementara itu, Safira yang dari tadi mendengar pembicaraan Mamanya dengan pemilik rumah, lalu menghampiri Mamanya.

"Mama."

Mama Ros meraih tangan Safira dan memeluknya sembari menangis.

"Maafkan Mama sayang, karena Mama tidak bisa membuatmu bahagia."

"Tidak Ma, Mama adalah wanita terhebat yang pernah Safira temui. Kita cari kontrakan yang baru saja Ma."

"Tapi bagaimana dengan sekolahmu? Pasti jaraknya akan jauh."

"Tidak apa-apa, Fira bisa naik angkot."

"Tidak sayang, itu terlalu bahaya."

"Ya sudah, Fira berhenti sekolah saja dan bantuin Mama kerja."

Hati Mama Ros merasa teriris mendengar jawaban anaknya itu, Safira rela tidak melanjutkan sekolahnya dan memilih membantu Mamanya bekerja.

"Maafkan Mama, Fira."

"Sudah Ma, lebih baik sekarang kita beres-beres takutnya orang yang mau beli rumah ini keburu datang."

"Ya sudah, yuk."

Mama Ros dan Safira pun segera membereskan barang-barang yang akan mereka bawa.

Sementara itu di luar, Bu Sari tampak menghampiri sebuah mobil mewah dan ternyata di dalamnya ada Neneknya Demir.

"Ini uang untukmu."

"Terima kasih, Nyonya."

"Tapi kamu sudah bisa memastikan kalau mereka pergi dari rumah itu sekarang juga," seru Nenek Demir.

"Iya Nyonya, saya yakin mereka sudah mulai beres-beres."

"Baiklah, tapi ingat jika nanti ada pemuda tampan yang memakai seragam SMA terus menanyakan mereka pergi ke mana, kamu bilang saja tidak tahu, jangan sampai dia tahu saya yang sudah menyuruhmu untuk mengusir mereka."

"Baik Nyonya."

Nenek Demir pun mulai menutup kaca jendela mobilnya, dan menyuruh sopir pribadinya untuk segera pergi dari tempat itu.

Akhirnya setelah Mama Ros dan Safira selesau beres-beres, keduanya pun mulai meninggalkan rumah itu dengan menggeret koper masing-masing. Keduanya berjalan tak tentu arah karena mereka tidak tahu harus pergi ke mana.

Hingga di saat mereka sampai di jalan raya, sebuah mobil berhenti.

"Bu Ros, Ibu mau ke mana bawa barang-barang seperti itu?" tanya seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.

"Saya mau cari kontrakan Nyonya," sahut Mama Ros.

Wanita paruh baya itu ternyata Nyonya Karolina yang merupakan majikan Mama Ros dan dia turun dari dalam mobilnya.

"Kenapa cari kontrakan? Bukanya kalian sudah ngontrak?"

"Iya Nyonya, tapi tiba-tiba pemilik rumah bilang kalau rumah itu akan dijual jadi kita terpaksa harus mencari kontrakan baru."

"Ya sudah, kalian ikut saya saja dan tinggal di rumah saya kebetulan rumah saya besar dan banyak kamar kosong juga."

"Tapi Nyonya, saya merasa tidak enak."

"Tidak apa-apa, lagipula Bu Ros kan bekerja di rumah saya jadi Bu Ros tidak jauh-jauh lagi kalau datang ke rumah saya."

Mama Ros tampak berpikir sejenak, hingga akhirnya Mama Ros pun menganggukan kepalanya. Nyonya Karolina sangat senang, dan mempersilakan Mama Ros dan Safira untuk masuk ke dalam mobilnya.

Sang sopir mulai melajukan mobilnya. "Bu, apa ini anak Ibu?" tanya Nyonyw Karolina.

"Iya Nyonya, kenalkan namanya Safira."

Mama Ros pun menuntun tangan Safira untuk berjabat tangan dengan majikannya itu, Safira tersenyum dan Nyonya Karolina pun mengusap kepala Safira.

"Kamu cantik sekali sayang."

"Terima kasih, Nyonya."

Beberapa saat kemudian, akhirnya mobil Nyonya Karolina pun sampai di rumahnya. Ia langsung membawa Mama Ros dan Safira menuju kamar khusus ART dan mereka sangat bersyukur sekali untuk saat ini mempunyai tempat tinggal.

***

Demir merentangkan kedua tangannya, dia baru saja bangun dan Demir pun melihat jam dinding dan ternyata sudah menunjukan pukul 10.00 pagi.

"Astaga aku kesiangan," seru Demir dan langsung melompat dari atas tempat tidur.

Demir segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Nenek Demir memang sengaja memberikan obat tidur ke dalam minuman Demir supaya Demir tidak bangun dan tidak tahu kalau gadis buta itu pergi.

Beberapa saat kemudian, Demir pun keluar dari dalan kamar mandi dan segera memakai pakaiannya.

"Kenapa aku bisa sampai kesiangan sih? Padahal selama ini aku tidak pernah kesiangan, aku jadi gak bisa anterin Fira sekolah dong," gumamnya.

Perut Demir terasa sangat lapar, Demir pun memutuskan untuk makan dan dia berencana akan menjemput Safira pulang sekolah dan akan mengajak Safira jalan-jalan lagi.

Baru membayangkan bertemu dengan Safira saja, Demir sudah senyum-senyum sendiri. Setelah selesai makan, Demir pun membuka laptopnya sebentar dan belajar bisnis sembari menunggu waktu Safira pulang sekolah.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12.00 siang.

"Ah, sebentar lagi Fira pulang sekolah waktunya aku jemput dia," gumam Demir.

Dengan hati yang bahagia, akhirnya Demir pun mengambil kunci mobilnya dan mulai melajukan mobilnya menuju sekolahan Safira.

Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Demir pun sampai. Demir dengan sabar menunggu Safira keluar dari sekolahnya tapi setelah ditunggu beberapa saat, Safira pun tak kunjung keluar.

Demir pun turun dan menghampiri satpam di sana.

"Maaf Pak, kok Safira tidak kelihatan ya?" tanya Demir.

"Oh, sepertinya hari ini Safira tidak masuk sekolah."

"Hah, tumben tidak masuk sekolah? Apa dia sakit ya? Kalau begitu, terima kasih ya Pak."

Demir pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Safira, setelah sekian lama di ketuk, akhirnya Bu Sari pun datang.

"Maaf Dek, Adek mau cari siapa?"

"Ini Bu, Safira dan Mamanya ke mana ya? Kok gak ada yang bukain pintu?" tanya Demir.

"Oh, Bu Ros dan Safira sudah pindah tadi pagi."

"Apa? Pindah? Pindah ke mana?"

"Maaf Dek, saya kurang tahu. Kalau begitu saya permisi dulu."

Demir merasa terkejut, dia tidak menyangka kalau Safira pergi tanpa pamit kepadanya padahal kemarin Safira tidak mengatakan apa-apa kepadanya.

"Kamu pergi ke mana, Fira?" batin Demir dengan raut wajah sedihnya.

1
Patrick Khan
.nah sopo seng salah ngne iki jal😌
Patrick Khan
tenang demir..ada q di sini😄
Patrick Khan
.nenek tua gila😡
Patrick Khan
.dulu pengen cucu..eh dapet cucu di jahatin..hadehhh 😌
Patrick Khan
.loncat kesini😄
Jenong Jenong
gak enak banget denger nama panjangan demir haduh 😔😔😔😔
Lovely
Mulai nano" kehdpan 🥰
Lovely
Pria Sejati kepicut Gadis Buta 😍😘
Lovely
Mata, blh buta. Tapi, tdk buta hati 😘
Nova Marya ningrum: prekituiwwwww......😊😊😊😊
total 1 replies
Lovely
Mampir ya Thor
☠☀💦Adnda🌽💫
nggak punya pendirian bngt kanu baru jd cowok yg tegas dong
☠☀💦Adnda🌽💫
ko bara jd kasar gitu y... ketauan sifat aslinya
☠☀💦Adnda🌽💫
nenek durhak 😜😜
☠☀💦Adnda🌽💫
yg kuat y demir kasian bngt nggak. dianggep sama kakek neneknya 😢😢😢
🌸so0bin🌸
mak cocok ya klo gilsya dan demir jadi besanan 😊😊 @Valerie Whitney
🌸so0bin🌸: 😜😜😜😜😜😜😜😜
total 4 replies
🌸so0bin🌸
aduh hawa.... ngapain juga disitu urusin aja tuh babang fatur kamu 😅😅😅😅
🌸so0bin🌸
sii demir dari mulai lamaran sampe malam pertama pun gak ada romantis"nya kasian dikintilin terus sahabat yg pada jail minta ampun 😆😆😆
🌸so0bin🌸
apes banget sii kamu demir punya sahabat yg gak pada tau diri 😂😂😂
🌸so0bin🌸
aduh babang arka sudah mulai ketularan virus gilsya ini mah 😂😂😂
🌸so0bin🌸
aduh gilsya.... kayaknya dia punya dendam pribadi dah sama demir 😆😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!