Hidup yang sangat berkecukupan membuat seorang Anya Febiola Anggara sangat terlena dengan kemewahan yang ia miliki.
Sampai suatu hari keadaan berbalik sangat drastis, membuat kedua orang tua Anya terpaksa menjodohkan anak mereka kepada rekan bisnis yang akan membantu membangkitkan kembali keadaannya yang saat itu tengah terpuruk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilicilian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan
Entah sudah berapa lama Arga bermanja-manja dengan kasur kesayangannya. Dia tengah asyik berguling-guling kesana kemari dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya, seolah tidak ingin melepaskan diri dari kehangatan kasur.
Sementara itu, Anya sedari pagi sudah berkutat di dapur, sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga Arga. Hari ini, pembantu di rumahnya sedang cuti, jadi Anya lah yang harus turun tangan mengurus semua pekerjaan rumah tangga.
"Akhirnya, makanan sudah siap! Sekarang tinggal memanggil Arga untuk sarapan," ucapnya dengan lega setelah menaruh semua hidangan di atas meja makan.
"Tapi kok tidak biasanya Arga belum bangun sepagi ini," gumamnya sambil berjalan menuju ke kamar Arga, merasa heran dengan kebiasaan Arga yang tidak seperti biasanya.
Arga dan Anya saat ini sudah tidur dalam satu kamar yang sama. Anya memutuskan untuk tidur sekamar dengan Arga tadi malam, setelah Anya berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba bersikap lebih baik pada Arga.
Anya membuka pintu kamar Arga perlahan, terlihat Arga yang masih bermalas-malasan di atas kasur dengan mata terpejam.
"Arga, bangun! Ayo kita sarapan bersama. Aku sudah memasak makanan yang enak untukmu, jangan terus bermalas-malasan dengan selimutmu itu," ucap Anya dengan nada lembut sambil mencoba menarik lengan Arga.
Namun, Arga tetap saja tidak bangun dan tidak bergeming dari posisinya. "Arga tidak mau bangun, selimut ini terlalu nyaman untuk dilepaskan dan melilit tubuh Arga dengan erat," keluhnya dengan nada manja.
Anya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tahu betul, Arga memang bersikap seperti anak kecil yang sulit sekali dibujuk. Anya mencoba untuk lebih bersabar dan mencari cara yang tepat untuk membujuk Arga. Ia duduk di tepi ranjang, mensejajarkan posisinya dengan Arga agar lebih mudah berkomunikasi.
"Arga, bangun dong, ini sudah hampir siang lho," keluh Anya dengan nada lembut sambil mengguncang-guncang pelan tubuh Arga.
Arga tetap memejamkan matanya dengan erat, tidak berniat untuk membuka matanya. Ia semakin mengeratkan lilitan selimut di tubuhnya, seolah enggan untuk melepaskan kehangatan dan kenyamanan selimutnya. "Tidak mau, Anya... Arga masih ingin di sini, di dalam selimut yang nyaman ini," rengeknya dengan manja.
Anya menghela napasnya lagi, memutar otak mencari cara agar Arga cepat bangun dari tidurnya. Tiba-tiba, sebuah ide jahil terlintas di benaknya. Anya tersenyum licik, lalu tangannya dengan cepat menyentuh kaki Arga yang tersembul keluar dari selimut. Dengan cekatan, Anya menggelitiki telapak kaki Arga.
Arga merasakan geli yang sangat hebat di telapak kakinya, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. "Haha, geli Anya! Ampun! Sudah, sudah! Kaki Arga geli sekali," ucap Arga sambil menggeliat dan memberontak, berusaha melepaskan diri dari gelitikan Anya. Akhirnya, Arga pun segera bangun dari tidurnya dengan wajah yang masih mengantuk.
Anya tersenyum lebar melihat Arga sudah bangun. "Sekarang, cepat cuci muka dulu, lalu turun ke bawah buat sarapan. Aku tunggu di bawah ya. Kalau kamu tidak mau turun ke bawah, aku tidak akan mau tidur denganmu lagi, Arga," ucap Anya dengan nada sedikit mengancam, namun tetap terdengar lembut.
Arga menatap Anya dengan tatapan memelas yang membuat hati Anya mencelos. Ia tidak suka diancam, apalagi jika ancaman itu datang dari orang yang sangat ia sayangi. Anya merasa bersalah melihat ekspresi sedih dan kecewa di wajah Arga. Ia menyadari bahwa ia masih sering bersikap kasar dan tidak pengertian terhadap Arga, meskipun ia sudah berjanji untuk berubah.
Anya mengulurkan tangannya dan mengusap lembut pipi Arga dengan penuh kasih sayang. "Maaf ya, Arga. Aku tidak bermaksud untuk mengancammu tadi," ucapnya dengan tulus dan penuh penyesalan. "Aku hanya ingin kamu segera bangun dan kita bisa sarapan bersama dengan tenang."
Mendengar permintaan maaf Anya yang tulus, Arga tersenyum manis. Ia tahu bahwa Anya sedang berusaha keras untuk berubah menjadi orang yang lebih baik dan lebih perhatian padanya. Ia menghargai usaha Anya dan ingin mendukungnya dalam proses perbaikan diri ini.
Arga mengangguk dengan gembira dan segera melompat turun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. "Oke deh, kalau begitu Arga mau cuci muka dulu ya, Anya. Anya tunggu Arga di bawah ya," ucap Arga dengan nada ceria seperti anak kecil yang sedang bersemangat untuk bermain.
Anya mengangguk dengan senyum lega melihat Arga menurutinya dengan patuh. Ia berharap, dengan kesabaran, dan kesabaran, ia bisa membuat Arga merasa nyaman, aman, dan bahagia bersamanya. Ia ingin membangun hubungan yang lebih baik lagi dengan Arga.
Setelah Arga masuk ke kamar mandi, Anya menghela napas lega dan merasa sedikit tenang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di kamar itu, seolah mencari kekuatan dan motivasi. "Aku harus bisa menjadi lebih baik lagi dari hari ini," gumamnya pada diri sendiri dengan tekad yang membara di dalam hati. Ia bertekad untuk menjadi lebih sabar, lebih pengertian, dan lebih peka terhadap kebutuhan Arga, serta berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi Arga.
Dengan langkah ringan, Anya kemudian bergegas meninggalkan kamar dan menuruni anak tangga menuju ruang makan yang sudah tertata rapi. Ia duduk dengan sabar di salah satu kursi di ruang makan sambil menunggu Arga datang untuk bergabung dengannya.
Sambil menunggu Arga selesai bersiap-siap, Anya membuka ponselnya dan mulai mencari inspirasi tentang kegiatan menarik apa yang bisa mereka lakukan bersama di hari yang cerah ini. Ia ingin menciptakan momen yang tak terlupakan bersama Arga, mempererat hubungan mereka, dan membuat Arga merasa bahagia dan dicintai tanpa syarat.
Ia menemukan beberapa ide menarik yang tampak sangat menggoda, seperti mengunjungi taman bermain yang penuh dengan wahana seru, menonton film animasi terbaru yang sedang tayang di bioskop, atau menghabiskan waktu bersama di dapur untuk membuat kue-kue lezat. Anya tersenyum membayangkan betapa gembiranya Arga jika mereka mewujudkan rencana-rencana itu bersama.
Beberapa saat kemudian, Arga muncul di ruang makan dengan wajah yang berbinar-binar dan penuh antusiasme. Anya segera menyembunyikan ponselnya di balik punggungnya dan menatap Arga dengan senyum hangat yang tulus.
"Maaf ya, Anya, Arga sudah membuat Anya menunggu terlalu lama," ucap Arga dengan wajah cemberut, merasa menyesal karena telah membuat Anya tidak sabar.
Anya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Tidak apa-apa, Arga. Lebih baik kita segera makan sekarang, supaya setelah selesai makan nanti aku bisa mengajakmu ke suatu tempat yang sangat spesial," ucap Anya dengan nada penuh kejutan.
Mendengar kata-kata itu, mata Arga berbinar-binar penuh rasa ingin tahu dan wajahnya langsung berseri-seri. "Kita mau pergi ke mana, Anya? Apakah tempatnya jauh dari sini?" tanya Arga dengan nada penasaran.
"Kita nikmati dulu sarapan kita yang lezat ini, nanti setelah perut kita kenyang aku akan membocorkan rahasia tentang kejutan yang sudah aku siapkan untukmu," ucap Anya sambil tersenyum menggoda dan mengedipkan sebelah matanya.
Mereka menikmati sarapan mereka dengan tenang dan khidmat, tanpa banyak berbicara. Hanya suara lembut dentingan alat makan yang beradu dengan piring yang sesekali memecah keheningan pagi itu.
"Hai, Arga! Hai, Anya!" sapa seseorang dengan suara riang di ambang pintu ruang makan, memecah suasana yang tenang.
Anya dan Arga menoleh ke arah sumber suara secara serempak. Anya menatap sinis dan tidak senang pada sosok yang berdiri di ambang pintu itu. Kedatangannya yang mendadak membuat nafsu makannya langsung hilang tak bersisa.
"Kenapa kamu tiba-tiba muncul di sini? Apa yang membawamu ke rumah ini?" tanya Anya dengan nada ketus dan tidak bersahabat.
"Wah, kalau ada tamu datang itu seharusnya disambut dengan ramah dong, bukannya malah diintrogasi seperti ini," ucap wanita itu dengan nada menyindir dan tatapan mengejek.
"Rina? Kenapa Rina tiba-tiba datang ke sini sepagi ini?" tanya Arga dengan nada bingung dan sedikit terkejut.