Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wang Da dan Xiao Bai
Tujuh hari menuju kompetisi "Perebutan Mutiara Jiwa" adalah masa-masa di mana Akademi Tian Meng terasa seperti bejana yang mendidih. Di puncak bukit yang terisolasi, Zhou Yu berdiri di tengah badai Qi yang ia ciptakan sendiri. Angin berputar hebat di sekelilingnya, merontokkan dedaunan hingga membentuk pusaran raksasa.
Di tangannya, Han Shui memancarkan aura biru yang begitu dingin hingga tanah di bawah kakinya membeku seketika.
"Sinkronisasi..." gumam Zhou Yu. Matanya terpejam, mencoba menyatukan detak jantungnya dengan getaran pedang kuno itu. Ia teringat kata-kata Han Shui saat mengambil alih tubuhnya, ia terlalu lemah.
Tiba-tiba, Zhou Yu melesat. Gerakannya bukan lagi sekadar lari, melainkan serangkaian tebasan yang meninggalkan bayangan. Setiap kali pedangnya menyentuh udara, tercipta ledakan kristal es yang tajam. Ia sedang menempa teknik baru sebuah perpaduan antara kecepatan angin dan kehancuran es. Di setiap ayunan, ia membayangkan wajah Ling'er yang pucat, mengubah rasa sakitnya menjadi daya ledak yang mengerikan.
Namun, jika di puncak bukit suasana terasa sangat dingin dan serius, di kaki bukit suasananya justru berbanding terbalik.
Da Ge sedang melatih kekuatan ototnya dengan cara yang sangat tidak lazim. Ia mengikatkan tali tambang pada sebuah batu seberat tiga ratus kilogram, dan di atas batu itu, ia memaksa Xiao Bai duduk. Sebenarnya nama asli Xiao Bai adalah Xiao mei tetapi karna wajah nya yang seputih salju, Da Ge memanggil nya Xiao Bai.
"Ayo, Xiao Bai! Jangan bergerak! Kau harus menjadi pemberat yang stabil!" teriak Da Ge sambil menarik tali itu hingga punggungnya melengkung.
Xiao Mei, yang kini sudah pasrah dipanggil "Xiao Bai" (Si Putih) karena wajahnya yang sering pucat ketakutan, berpegangan erat pada pinggiran batu. "Nama asli ku Xiao Mei! Dan kenapa aku harus ikut-ikutan latihan gila ini, Wang Da?!"
Mendengar nama aslinya disebut, Da Ge atau Wang Da terhenti sejenak, membuat batu itu terperosok ke lubang dan hampir melempar Xiao Bai ke udara.
"Heh, kau memanggil nama asliku? Hanya orang-orang tertentu yang boleh memanggilku Wang Da," ucapnya sambil menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya.
"Ya, karena aku sudah lelah dipanggil 'Si Putih'! Dan kau Wang Da, berhenti menarikku seperti kerbau! Aku ini tabib, tugasku menyembuhkanmu nanti, bukan menjadi beban hidupmu sekarang!" teriak Xiao Bai kesal sambil mencoba turun, namun Wang Da justru menarik tali itu kembali dengan satu sentakan kuat.
"Justru itu! Sebagai tabib, kau harus punya keseimbangan! Bagaimana kalau kau sedang menyembuhkan kami di tengah badai? Kau harus tetap tenang seperti di atas batu ini!"
Wang Da kemudian mulai berlari sambil menyeret batu dan Xiao Mei. Teriakan histeris Xiao Mei bergema di seluruh area latihan, mengundang tawa dari murid-murid lain yang sedang lewat. Wang Da memang sosok yang kasar dan berisik, namun bagi mereka yang mengenalnya, keceriaan itu adalah caranya menutupi kekhawatiran yang mendalam terhadap Zhou Yu dan Ling'er.
Malam harinya, di depan api unggun kecil, Xiao Mei yang masih menggerutu sambil mengobati lecet di tangannya bertanya pada Wang Da.
"Kenapa Zhou Yu dan Ling'er selalu memanggilmu 'Da Ge' atau Kakak Besar? Padahal kalau dilihat dari kemampuan, Zhou Yu sekarang jauh di atasmu."
Wang Da terdiam, menatap api yang menari. Wajahnya yang biasanya penuh tawa berubah menjadi sangat teduh.
"Dulu, di gua pertambangan... kami tumbuh di bawah tanah yang gelap," Wang Da memulai, suaranya rendah. "Zhou Yu dan Ling'er adalah anak yatim piatu yang paling kecil. Ling'er sering sakit, dan Zhou Yu selalu mencoba melindunginya, tapi dia juga masih kecil."
Wang Da menarik napas panjang. "Akulah yang selalu mencuri jatah roti tambahan dari pengawas tambang untuk mereka. Akulah yang berdiri di depan mereka saat penjaga ingin mencambuk mereka karena tidak memenuhi kuota harian. Bagi mereka, aku bukan hanya teman, tapi satu-satunya dinding yang melindungi mereka dari dunia yang kejam sebelum kami berhasil melarikan diri dari tempat kotor itu. Itulah sebabnya mereka memanggilku 'Da Ge'. Bukan karena aku lebih kuat, tapi karena aku yang paling dulu bersumpah untuk menjaga mereka."
Xiao Mei terdiam. Ia baru menyadari bahwa ikatan mereka bertiga bukan sekadar persahabatan, melainkan darah yang terikat dalam penderitaan.
"Kau tahu, Xiao Bai..." Wang Da melanjutkan ceritanya suara Wang Da berubah menjadi berat, jauh dari nada bercandanya yang biasa.
"Suatu malam,penjaga tambang sedang mabuk. Mereka kehilangan salah satu kunci gudang makanan dan menuduh Zhou Yu yang mengambilnya. Zhou Yu saat itu masih sangat kecil, tubuhnya hanya tulang dibalut kulit. Dia diseret ke tengah lapangan, hendak dicambuk dengan cambuk kulit yang dilapisi serpihan logam."
Wang Da mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih.
"Ling'er menangis histeris, dia memeluk kaki penjaga itu, memohon agar Zhou Yu dilepaskan. Tapi penjaga itu justru menendang Ling'er hingga terpelanting. Saat cambuk itu diangkat, aku tidak berpikir panjang. Aku berlari dan memeluk tubuh Zhou Yu dari belakang. Aku menerima tiga puluh cambukan yang seharusnya menghancurkan tulang rusuknya."
"Tiga puluh cambukan?" Xiao Mei menutup mulutnya dengan tangan, ngeri membayangkan rasa sakitnya.
"Ya. Darahku membasahi punggung Zhou Yu. Tapi saat itu, di tengah rasa sakit yang luar biasa, aku melihat mata nya. Matanya yang biasanya redup tiba-tiba berkilat dengan api yang sangat dingin. Itulah pertama kalinya aku menyadari ada monster yang tertidur di dalam dirinya. Dia memegang tanganku dan berbisik, 'Kakak, aku bersumpah, suatu hari aku yang akan menjadi dindingmu.''
Wang Da tersenyum pahit. "Sejak hari itu, mereka memanggil ku Da Ge (kakak), Panggilan itu bukan tentang usia, Xiao Bai. Panggilan itu adalah janji darah. Aku adalah kakak mereka karena aku yang pertama kali memberikan nyawaku untuk mereka, dan mereka adalah adik-adikku, karena mereka adalah alasan tunggal kenapa aku masih ingin hidup di dunia yang brengsek ini."
Wang Da menoleh ke arah Xiao Mei. "Jadi, kalau kau melihatku latihan sampai gila seperti ini, itu karena aku tidak mau menjadi beban bagi mereka. Aku adalah 'Kakak Besar' mereka. Seorang kakak tidak boleh membiarkan adiknya bertarung sendirian, apalagi melihat adiknya menghancurkan diri sendiri demi sebuah kekuatan."
Xiao Mei menatap Wang Da dengan pandangan yang berbeda. Tidak ada lagi ejekan "Si Putih" atau kekesalan karena ditarik-tarik. Ia melihat seorang pria yang hatinya jauh lebih besar daripada ototnya.
"Wang Da..." Xiao Mei berbisik. "Kau adalah kakak yang hebat. Aku akan memastikan energi healing ku selalu penuh untukmu dan Zhou Yu."
Wang Da tertawa kecil, menepuk pundak Xiao Mei hingga gadis itu hampir terjungkal. "Nah, begitu dong! Sekarang, naik lagi ke atas batu! Kita masih punya lima putaran lagi."
"WANG DAAAA! KAU MERUSAK SUASANA HARU INI!" jerit Xiao Mei,
Sementara itu, di dalam ruangan yang sunyi, Tetua Ling sedang melakukan ritual pengobatan pada Ling'er. Asap dari tanaman obat langka memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang mistis.
"Sari Kehidupan..." bisik Tetua Ling.
Ia menempelkan ujung jarinya pada meridian di pergelangan tangan Ling'er. Sedikit demi sedikit, cahaya hijau masuk ke dalam kulit Ling'er yang pucat. Meskipun Ling'er belum membuka matanya, rona merah mulai kembali di pipinya. Energi hitam yang ditinggalkan oleh Chen Mo perlahan-lahan mulai terusir.
"Gadis ini bertahan karena sebuah janji," gumam Tetua Ling pada Tetua Mo yang berdiri di pintu. "Dia menolak untuk menyerah pada kegelapan karena dia tahu seseorang sedang bertaruh nyawa untuknya."
Dua hari sebelum kompetisi, Zhou Yu melakukan latihan terakhirnya. Ia berdiri di depan air terjun besar di belakang gunung. Air yang jatuh dari ketinggian ratusan meter itu memiliki tekanan yang sanggup meremukkan tulang.
"Han Shui, berikan aku satu persen dari kekuatan aslimu tanpa mengambil alih ragaku!" perintah Zhou Yu.
Pedang itu bergetar hebat. Zhou Yu menarik pedangnya, lalu mengayunkannya sekali secara horizontal ke arah air terjun.
SLASH!
Sebuah garis biru yang mematikan membelah jatuhnya air terjun tersebut. Air itu tidak hanya terbelah, tapi membeku dalam hitungan detik, menciptakan tirai es raksasa yang menutupi tebing. Keheningan yang mengerikan menyelimuti tempat itu. Zhou Yu berdiri tegak, napasnya stabil. Ia telah mencapai titik di mana ia bisa mengendalikan kekuatan pedangnya tanpa harus kehilangan kesadarannya.
"Ling'er... Da Ge..." ucapnya sambil menatap tangannya. "Tujuh hari ini bukan untuk kekuatan, tapi untuk memastikan aku tidak akan membiarkan sejarah berulang."
Malam sebelum kompetisi dimulai, Wang Da mendatangi Zhou Yu yang sedang duduk di atap asrama. Wang Da membawa sebungkus roti kering roti yang sama dengan yang biasa mereka makan di tambang dulu.
"Makanlah, Yu. Besok kau butuh banyak tenaga," kata Wang Da sambil melemparkan sepotong roti.
Zhou Yu menangkapnya dan tersenyum tipis. "Terima kasih, Da Ge."
"Yu, dengarkan aku," Wang Da duduk di sampingnya. "Di kompetisi nanti, jangan hanya memikirkan Ling'er. Pikirkan dirimu sendiri. Jika kau jatuh, siapa lagi yang akan menjemputnya? Aku dan Xiao Bai akan menjadi sayapmu, tapi kaulah jantungnya."
Zhou Yu mengangguk. "Aku tahu, Da Ge. Aku tidak akan ceroboh."
Tiba-tiba dari bawah terdengar suara cempreng Xiao Mei. "WANG DA! Dimana kau menyembunyikan kotak obatku?! Aku tahu kau memakainya untuk mengganjal meja latihanmu yang miring itu!"
Wang Da langsung pucat. "Gawat, Xiao Bai sudah mengamuk. Aku pergi dulu, Yu! Sampai jumpa di garis start esok pagi!"
Wang Da melompat turun dengan terburu-buru, meninggalkan Zhou Yu yang akhirnya tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Tawa itu adalah penenang sebelum badai besar melanda mereka esok hari.
Matahari akan terbit dalam beberapa jam lagi, dan bersamaan dengan itu, babak baru dalam sejarah Benua ini akan tertulis dalam darah dan air mata.
Bersambung....