Ia pernah menjadi Monarch—penguasa yang berdiri di puncak segalanya. Namun pengkhianatan merenggut tahtanya, menghancurkan kerajaannya, dan memaksanya mati berulang kali dalam siklus reinkarnasi yang panjang. Selama ratusan kehidupan, ia menunggu. Menunggu para bawahannya yang tersebar, tertidur, atau tersesat di berbagai dunia. Di kehidupan terakhirnya, saat tubuhnya menua dan kematian kembali mendekat, sebuah system akhirnya terbangun—bukan ciptaan dewa, melainkan jelmaan dari salah satu rekan lamanya. Dengan kematian itu, sang raja kembali terlahir, kali ini di dunia yang sama… namun telah berubah drastis dalam beberapa ratus tahun.
Dunia yang ia kenal telah runtuh, kekaisaran bangkit dan jatuh, gereja menguasai kebenaran, dan para dewa mengawasi dari kejauhan. Dengan system yang setia di sisinya dan ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya, sang Monarch memulai perjalanannya sekali lagi: membangkitkan bawahan yang tersisa, membangun kekuatan dari bayang-bayang, dan menuntut balas atas pengkhianatan lama yang belum lunas. Ini bukan kisah pahlawan yang diselamatkan takdir—ini adalah kisah seorang raja yang menolak mati sebelum dunia membayar hutangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sughz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.20. The Battle That Bore a Name
Desa Grayma terlihat, karavan berhenti sebentar tak jauh dari gerbang desa.
Tatapan semua orang mengamati desa, Marek sudah merasa ada yang janggal saat melihat desa itu.
“Ada apa?” tanya Halvar, saat melihat wajah Marek menjadi tegang.
“Ada yang aneh dari desa.” jawab Marek. “Aku sarankan kita kembali ke ibu kota.”
“Tidak...” ucap Halvar. “...kita akan terus maju!!!”
Marek hanya mendengus kesal.
“Semuanya, ambil senjata kalian dari kereta!!!” perintah Marek pada anak buahnya yang sedang menyamar.
“Kita maju. Tapi, aku tak ingin anak buahku mati karena perintahmu.” ucap Marek pada Halvar.
Theo memperhatikan mereka dari kursinya.
‘Dengan kekuatan lemah dan otak bodoh seperti itu, kenapa dia bisa menjadi kapten.’ gumam Theo.
[TING]
“Bukankah, karena dia anak jenderal.”
‘Kau benar,’
“Tinggalkan kuda kalian di sini, kita akan mudah di serang saat ada penyergapan kalau kita menunggai kuda,” ucap Marek. “Beberapa orang masuklah ke dalam kereta!!!”
Mereka semua menurut
“Kita masuk ke desa sekarang!!!” teriak Halvar.
Semua maju, bergerak pelan dengan waspada. Wajah tegang mereka tak bisa di sembunyikan.
Theo mengendarai kereta dengan tenang.
Perlahan mereka mulai memasuki desa, keadaan lebih sunyi dari pada yang terlihat dari luar. Tak ada orang sama sekali yang terlihat di jalanan, pintu dan jendela rumah tertutup dengan rapat.
Bau dari darah yang tertinggal mulai tercium saat mereka memasuki desa lebih dalam.
Marek dan para prajurit bayaran menarik pedang mereka lebih cepat dari kelompok Halvar.
Theo mengamati Halvar, tak ada perintah darinya membuat prajurit di belakangnya bingung untuk melakukan apa.
Langkah mereka berhenti saat di tengah desa, para prajurit yang di dalam kereta pun ikut turun.
“Periksa beberapa rumah terdekat, jangan bergerak sendiri,” perintah Marek.
Tapi belum sempat mereka melangkah, satu lesatan anak panah menghujam ke arah Theo yang masih duduk di kursi kusir, Theo menghindar dengan tenang.
Sesaat kemudian, tanpa aba-aba, banyak orang yang muncul dari dalam rumah, gang, atap—setiap sisi pada desa. Mengepung kelompok Theo.
Semua orang menegang, berdiri mengelilingi kereta.
Halvar dan kelompoknya baru mengeluarkan senjata mereka.
Para bandit yang mengepung hanya menatap datar.
Theo masih duduk di kursinya, melepas anak panah yang tertancap di kayu.
“Apa kau tak apa, Ash?” tanya Calder, nada ketakutannya sangat terdengar jelas.
“Yah,” jawab Theo tenang, lalu melihat sekeliling.
‘Lily, berapa banyak bandit di sini?’
[TING]
“Saya rasa hampir lima puluh orang tuan.”
‘Berapa rata-rata tingkat kekuatan mereka?’
[TING]
“Rata-rata dari mereka hanya ada di tingkat Mortal.”
Mendengar jawaban Lily, membuat Theo tertawa kecil di dalam hatinya.
“HAHAHAHA”
Suara tawa keras datang dari arah depan, pria berbadan gemuk berjalan di antara para bandit.
[TING]
“Dia yang paling terkuat dari mereka semua tuan.”
'Ada di tingkat apa babi itu?'
[TING]
"Acolyte tahap awal."
'Yah, dengan Marek dan kelompoknya mereka tak akan kesusahan.'
“Aku sangat suka dengan ekspresi wajah kalian!!! Sungguh, kalian benar-benar datang di waktu yang tepat.” ucapnya, tersenyum lebar dengan pedang besar di tangannya.
Marek dan Halvar hanya diam.
“Apa kalian setakut itu sampai tak bisa mengeluarkan kata-kata!!!”
“Apa prajurit bayaran yang selalu merasa hebat sekarang ketakuatan di hadapan bandit?”
Para bandit tertawa mendengar itu.
Wajah Marek menghitam, anak buahnya sangat marah mendengar ejekan itu.
Di sisi lain, Halvar dan kelompoknya menggenggam pedang mereka dengan gemetar.
“Marek, apa yang harus kita lakukan?” tanya seorang di sampingnya.
Marek hanya terdiam.
“Kalian benar-benar tak seru.” ucap bos bandit itu. “BUNUH MEREKA SEMUA!!!”
Para bandit berteriak kegirangan, beberapa dari mereka langsung menerjang maju.
Melihat Marek dan Halvar yang masih diam. Tanpa pikir panjang Theo memacu kuda berlari kencang membawa kereta. Semua orang yang berdiri di dekatnya melompat ke samping menghindari kereta itu.
Kereta itu hampir menabrak bos bandit membuat dia dan anak buahnya yang juga terkejut menghindari kereta itu dengan susah payah.
Theo melompat dari kereta itu, lalu meyerang bandit yang masih susah payah menghindari kereta—dua bandit mati dengan mudah.
Semua orang terkejut dengan tindakan Theo.
“Apa-apaan kau bocah sialan!!!” teriak bos bandit, masih mencoba berdiri.
“Hei babi, berhenti teriak,” ucap Theo. “Suaramu mengganggu sekali sialan,”
Wajah bos bandit itu berubah warna menjadi merah, urat di wajahnya menonjol karena marah.
“KAU!!!!! AKAN KUBUNUH KAU BERENGSEK!!!” bos bandit itu menerjang Theo dengan cepat. Mengayunkan pedang besarnya dengan sembarangan, membuat tebasan pedangnya juga mengenai anak buahnya.
“Hei, Marek!!! APA KAU AKAN TERUS DIAM SEPERTI ANAK JENDERAL ITU?” teriak Theo, masih terus menghindari serangan dari bos bandit.
Marek tersadar saat mendengar itu.
“SEMUANYA SERANG!!! BANTAI PARA BAJINGAN ITU!!!” teriak Marik, menerjang maju diikuti semua anak buahnya.
Marek bisa mengimbangi beberapa dari mereka, dan anak buahnya juga bisa menangangi mereka dengan sedikit usaha.
Di sisi lain, Halvar dan kelompoknya membuat formasi bertahan dan menyerang. Pergerakan kaku mereka sangat terbaca oleh para bendit.
“Hei kau bergeraklah yang benar!!!” teriak Halvar ke salah satu prajuritnya. Halvar yang di kelilingi oleh prajuritnya mulai terdesak oleh para bandit.
Suara senjata yang beradu mengisi seluruh desa, para prajurit bayaran mulai menyebar untuk menghindari pengepungan. Di sisi depan, Theo masih sibuk menghindari serangan bos bandit itu—melirik pada kelompok Halvar.
‘Apa-apaan formasi itu’ Theo bergumam kesal.
Bos bandit yang melihat Theo tak fokus dengannya semakin kesal, lalu mengayunkan pedangnya dengan membabi buta. Theo menangkis pedang itu, membuat pedang besar terpental.
Lalu Theo berlari meninggalkan bos bandit yang masih terkejut. Theo mendekati Marek dengan cepat, menebas beberapa bandit. Ia juga menebas bandit yang dilawan Marik.
“Marek, aku serahkan babi itu padamu!!!” menunjuk arah bos bandit yang mengejarnya dengan cepat. Lalu Theo bergegas menuju ke arag Halvar.
“Hei, bocah!!” teriak Marek.
Di sisi Halvar, dia semakin terdesak setelah satu orang telah mati, mengacaukan formasi yang sudah kacau. Halvar sangat kebingungan, menyerang dengan ceroboh membuat pasukan kecil itu semakin terdesak, banyak prajuritnya yang sudah terluka.
Para bandit melihat itu dengan senyum lebar, mereka menyerang pasukan Halvar dengan lebih bringas.
Saat Halvar dan pasukannya mulai menyerah dengan serangan para bandit, lemparan belati berhasil menumbangkan satu bandit, sedetik kemudian satu bandit terlempar jauh terkena tendangan Theo.
Halvar terdiam menatap Theo, dia dengan cepat menumbangkan bandit yang mengepung Halvar.
Di sisi Marek, dia beradu senjata dengan bos bandit, tapi karena perbandingan kekuatan yang jauh, bos bandit terdorong dengan mudah.
Bos bandit menggeram marah. “MINGGIR KAU!!!” mengayunkan pedang besarnya.
Marek menghindar dengan mudah, saat pedang itu menyentuh tanah Marek dengan cepat mengayunkan dua kapaknya, berhasil menebas satu tangan.
“AARRRGGGHHHH!!!”
Tanpa memberi kesempatan untuk bernapas, Marek menghantam kepala bos bandit itu dengan tinjunya, membuatnya terjatuh ke belakang, meringis kesakitan—raut wajahnya mulai memperlihatkan ketakutan.
Marek berjalan pelan mendekatinya.
“Hei, babi sialan... berani sekali kau meremehkan prajurit bayaran dengan mulut baumu itu!!”
“Ti-tidak... to-to-tolong ampuni aku!!!” bos bandit itu menyeret tubuhnya ke belakang, menjauh dari Marek.
Marek tidak menjawab, sorot matanya sudah penuh dengan amarah.
Bos bandit membalikkan badannya, ingin menyeret badan besarnya lebih cepat. Tapi Marek sudah terlalu dekat dengannya, dia menekan tubuh itu dengan kakinya.
Tanpa berkata apapun dia menancapkan satu kapaknya pada kepala bos bandit itu.
Calder melihat itu dan tersenyum lebar.
“KETUA MENANG!!! HABISI MEREKA SEMUA!!!
Semua orang mendengar teriakan Calder, membuat moral semua anak buah Marek meningkat, pertempuran sekarang menjadi pembantaian karena para bandit yang melihat bosnya tergeletak di tanah menjadi ketakutan.
Para prajurit bayaran menggila.
Halvar melihat itu sedikit merasa ketakutan, pedang di tangannya terlepas—ada perasaaan lega pada dirinya. Bandit yang mengepungnya juga sudah dihabisi oleh Theo dan beberapa ada yang kabur.
Lalu Halvar menoleh Theo yang berdiri tenang melihat pemandangan di depannya dengan banyak darah di wajah dan pakaiannya. Dia terpaku melihat itu.
HURRRRRAAAAAAA!!!!
Suara teriakan kemenangan semua orang mengisi seluruh desa itu.
.
.