NovelToon NovelToon
Cakar Naga Pemutus Takdir

Cakar Naga Pemutus Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.

Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.

Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.

Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Gurun Kematian

Satu bulan kemudian.

Perbatasan antara Wilayah Timur yang subur dan Wilayah Barat yang tandus ditandai oleh sebuah benteng batu raksasa yang berdiri kokoh di tengah badai debu. Kota Batu Kuning.

Ini adalah garis finis bagi pedagang biasa dan garis start bagi para pencari maut. Di luar gerbang kota ini, hukum kekaisaran tidak lagi berlaku. Yang ada hanyalah hukum rimba, panas yang membakar, dan reruntuhan peradaban kuno yang terkubur.

Di sebuah kedai teh yang ramai di pinggir kota, dua sosok duduk di meja sudut, menarik perhatian banyak pengunjung.

Yang satu adalah pemuda tampan dengan jubah biru tua sederhana. Di punggungnya, terikat sebuah bungkusan kain panjang yang bentuknya menyerupai peti mati kecil—itu adalah Pedang Hitam Tanpa Mata.

Yang lainnya adalah gadis cantik dengan cadar putih tipis yang menutupi separuh wajahnya. Meski wajahnya tertutup, aura dingin dan elegan yang dipancarkannya membuat para preman gurun enggan mendekat.

"Panas sekali," keluh Li Tian, mengipasi dirinya dengan tangan.

"Jangan banyak mengeluh," kata Su Yan tenang, menyesap tehnya. Di sekeliling cangkirnya, uap air membeku menjadi kristal es kecil, menjaga minumannya tetap dingin. "Ini baru pinggiran gurun. Di Zona Dalam, suhunya bisa melelehkan besi biasa di siang hari."

Li Tian menatap gadis itu iri. "Enak sekali jadi pengguna elemen Es."

"Kita berangkat sepuluh menit lagi," Su Yan mengabaikan keluhan Li Tian. "Target kita, Sarang Kalajengking Emas, ada di sektor pertama gurun. Aku butuh setidaknya sepuluh Inti Es dari mereka untuk ramuanku."

"Dan setelah itu, kita lanjut ke Kota Seribu Menara," tambah Li Tian, menyentuh saku dadanya tempat Peta Kuno tersimpan.

"Kota Seribu Menara..." Su Yan mengerutkan kening. "Itu mitos, Li Tian. Banyak yang mencarinya tapi tidak pernah kembali. Kau yakin petamu akurat?"

"Aku percaya pada sumbernya," jawab Li Tian mantap. Sumber itu adalah Zu-Long, jadi akurasinya 100%.

Mereka menyelesaikan teh mereka, membayar dengan keping perak, dan berjalan menuju gerbang barat kota.

Penjaga gerbang, seorang prajurit tua dengan kulit terbakar matahari, menahan mereka sebentar.

"Kalian yakin mau keluar? Badai Pasir Hitam sedang musimnya. Kemarin ada satu regu tentara bayaran yang hilang ditelan pasir."

"Kami yakin, Paman. Terima kasih peringatannya," kata Li Tian sopan.

Gerbang besi berat itu terbuka dengan suara berderit menyakitkan. Angin panas yang membawa butiran pasir kasar langsung menerpa wajah mereka.

Di depan mereka, lautan pasir berwarna merah kekuningan membentang sejauh mata memandang. Bukit-bukit pasir bergerak perlahan seperti ombak raksasa yang membeku.

"Selamat datang di neraka," gumam Li Tian.

Mereka mulai berjalan. Langkah mereka cepat, menggunakan teknik meringankan tubuh. Di gurun, berhenti berarti mati.

Satu jam perjalanan, pemandangan Kota Batu Kuning sudah hilang di belakang. Hanya ada pasir dan langit biru yang menyilaukan.

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar halus.

Su Yan berhenti seketika. "Ada yang datang."

"Kiri bawah," kata Zu-Long di benak Li Tian. "Tiga ekor. Lapar."

KROSAK!

Pasir meledak. Tiga ekor monster raksasa muncul dari bawah tanah, mengepung mereka.

Kalajengking Pasir Bes.

Panjang tubuh mereka mencapai tiga meter. Cangkang mereka berwarna cokelat kemerahan, berkilau seperti logam. Ekor mereka yang melengkung di atas kepala memiliki ujung penyengat yang meneteskan racun ungu.

Monster Tingkat 2 Menengah (Setara Bangkit Jiwa Tingkat 4-6).

"Tiga ekor sekaligus?" Li Tian menyeringai. Dia melepaskan ikatan Pedang Hitam di punggungnya.

DUM.

Pedang seberat 1.200 jin itu jatuh ke pasir, tidak tenggelam, tapi memadatkan pasir di bawahnya menjadi landasan keras.

"Aku ambil yang tengah dan kiri," kata Li Tian. "Kau ambil yang kanan. Inti Es mereka ada di pangkal ekor."

"Jangan memerintahku," balas Su Yan dingin. Pedang Teratai Es muncul di tangannya.

Kalajengking di tengah memekik, capitnya yang besar menyambar ke arah Li Tian.

Li Tian tidak menghindar. Dia memegang gagang pedang besarnya dengan dua tangan.

"Ayo kita coba kekuatan Bangkit Jiwa-ku yang baru."

Li Tian mengalirkan Qi ke dalam pedang hitamnya. Aura gravitasi berat menyelimuti bilah tumpul itu.

"Tebasan Naga Jatuh!"

Dia mengayunkan pedang itu ke samping, menghantam capit kalajengking.

KRAAAK!

Suara cangkang keras yang hancur terdengar renyah. Capit raksasa itu pecah berkeping-keping. Hantaman pedang Li Tian begitu berat hingga tubuh kalajengking itu terpelanting ke samping, menabrak temannya di sebelah kiri.

"Satu jatuh," hitung Li Tian.

Kalajengking kiri yang tertabrak marah. Dia menegakkan ekornya dan menembakkan jarum racun ke arah Li Tian.

Li Tian memutar pedang besarnya di depan tubuh seperti tameng.

Ting! Ting! Ting!

Jarum racun itu memantul dari permukaan baja hitam pedangnya.

"Sekarang!"

Li Tian melompat maju.

"Gandakan!"

Kekuatannya naik dua kali lipat. Dia melompat tinggi dan menghunjamkan pedang tumpul itu ke kepala kalajengking yang terluka.

SPLASH!

Kepala monster itu meledak menjadi bubur hijau.

Di sisi lain, Su Yan bertarung dengan gaya yang jauh lebih elegan. Dia tidak menghancurkan lawannya.

"Penjara Beku."

Su Yan menjejakkan kakinya. Lapisan es menjalar cepat di atas pasir, membekukan kaki-kaki kalajengking ketiga. Monster itu meronta, tapi es itu merambat naik hingga membekukan seluruh tubuhnya, menyisakan hanya ekornya yang bergerak-gerak.

"Tebasan Bulan Sabit."

Su Yan mengibaskan pedangnya. Sinar biru tipis memotong pangkal ekor kalajengking itu dengan presisi bedah.

Ekor itu jatuh. Su Yan menangkapnya sebelum menyentuh tanah.

"Selesai," kata Su Yan.

Li Tian juga telah membereskan dua lawannya. Dia membedah pangkal ekor mereka dan mengambil dua butir kristal berwarna biru pucat yang dingin.

"Ini," Li Tian melempar dua inti itu ke Su Yan. "Untukmu. Aku tidak butuh elemen es."

Su Yan menangkapnya. "Terima kasih. Berarti sisa tujuh lagi."

"Kerja sama yang bagus," puji Zu-Long. "Gadis ini efisien. Dia tidak membuang tenaga percuma. Kau harus belajar darinya, Bocah. Jangan cuma asal hantam."

"Asal hantam itu menyenangkan, Guru," bantah Li Tian sambil membersihkan darah hijau dari pedangnya.

Mereka melanjutkan perjalanan. Semakin jauh mereka masuk, semakin banyak bangkai monster dan sisa-sisa kereta pedagang yang hancur terlihat.

Menjelang sore, saat matahari mulai condong ke barat, Li Tian melihat sesuatu di kejauhan.

Sebuah pilar asap hitam membumbung tinggi ke langit.

"Itu bukan asap api unggun," kata Li Tian, matanya menyipit. "Itu asap pertempuran."

"Arahnya sesuai dengan jalur kita," kata Su Yan.

"Mau memeriksanya?"

"Bisa jadi jebakan bandit," peringat Su Yan.

"Atau bisa jadi petunjuk," balas Li Tian. "Di peta, ada pos persinggahan kuno di dekat sana. Mungkin ada hubungannya dengan Kota Seribu Menara."

Mereka saling pandang, lalu mengangguk.

Mereka berbelok arah menuju pilar asap itu. Di sana, di balik bukit pasir, takdir baru sedang menunggu. Bukan monster, melainkan manusia—ancaman yang jauh lebih berbahaya di gurun ini.

1
Nanik S
Musuh Lama bermunculan Li Tian
Nanik S
Li Tian... banyak sekali Musuhmu
Nanik S
Kadal Pitih.... Li Tian memang lumayan Konyol
𝘼̶N̶A̶L̶I̶S̶T
novel ke dua yg aku taruh di rak buku setelah " Legenda Pendekar Naga" karena emank layak di baca.
Nanik S
Keren Tor.. 👍👍👍
Nanik S
Dua Naga yang bermusuhan lagi Bersatu melawan musuh...
Nanik S
Musuh dari musuhmu adalah teman 👍👍
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Naga hitam Dan Naga putih bertarung
Nanik S
Apakah mereka akan bertemu kembali untuk adu kekuatan atau hancur bersama
Nanik S
God Joob
Nanik S
Li Tian dapat saingan
Nanik S
Jooooooos
Nanik S
Dimana tepatnya rumah Xiao Yu
Nanik S
Xiao Yu... keturunan terakhir penjaga Malam Kaisar
Nanik S
Dapat 3 inti
Nanik S
Li Tian akhirnya ikut mabuk juga
Nanik S
Maaaantaaap Pooool
Nanik S
Mau tarung mikirin paaha Ayam
Nanik S
Li Tian... pedang tak bermata...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!