Banyak Adegan 21+
Yang Masih dibawah umur harap bijak dalam memilih bacaan.
"Mas Aku Hamil" Begitu kata seorang wanita cantik yang usia nya baru menginjak 20 tahun.
"Kamu gak bohong kan ?" tanya Seorang pria yang bekerja sebagai dokter kandungan.
Wanita yang bernama lengkap Alsafa Margareth itu mengangguk.
Dan mulai hari itu dirinya resmi menjadi istri simpanan dari seorang pria yang jarak umurnya terpaut sangat jauh. Namun cinta Safa begitu tulus ia begitu sabar walau statusnya tak pernah menemukan titik ujung. Entah karena suaminya takut meresmikan hubungan mereka atau memang tak ada cinta untuk dirinya ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah R Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Dengan amat terpaksa Safa pergi meninggalkan rumahnya tanpa membawa buku tabungan, karena percuma jika harus merebuat itu dari kakak tirinya. Sara tidak akan memberikan nya lagi.
"Mau pergi lagi Non ?" tanya Mang Ucup, lelaki paruh baya itu masih terus ramah dan sopan padanya.
Safa berusaha menebar senyum walau hatinya sedang di rundung kekecewaan "Iya mang, titip Ibu ya !! kalau ada apa-apa hubungin Safa." jawab Safa, kemudian wanita cantik itu mengerluarkan secarik kertas dan di berikan pada Mang Ucup "Ini nomor baru Safa, jangan sampai orang rumah tau ya Mang ! cukup Mamang aja yang tau"
"Baik Non, Mang Ucup janji gak akan ngasih tau yang lain" Mang Ucup menerima kertas itu, kemudian melipatnya dan di masukan kedalam saku bajunya.
"Ya sudah Safa pergi ya Mang"
"Baik Non, hati-hati, selalu jaga diri ya Non"
Safa menganggukan kepalanya, kemudian berlalu meninggalkan rumah itu. Sesekali ia menoleh saat teringat dulu sang Ayah sering memanggil dirinya. Namun sekarang semuanya berubah rumah yang dulunya seperti surga sekarang sudah layaknya Neraka yang selalu membakar tubuhnya.
Safa kembali menaiki taksi, namun sebelum pulang Safa mampir ke ATM sebentar. Ia akan mengambil semua uangnya disana, selain untuk biaya hidup Safa juga tidak mau bergantung dengan Febri.
"Tunggu sebentar ya Pak !saya gak akan lama !" pinta Safa pada sopir taksi itu.
"Baik Mbak !"
Dengan langkah yang cepat Safa menuju tempat pengambilan uang, tak tanggung-tanggung Safa menarik semua uang yang ada di ATM nya, setelah itu ia mematahkan kartu ATM itu dan membuangnya ke tong sampah. Safa berniat untuk membuka ATM baru saja karena percuma ia menyimpan ATM lama pasti ibunya bisa mengambil uang yang tersimpan di buku tabungan nya.
Setelah selesai Safa berlari menuju Taksi, ia tak ingin ada yang melihat kalau di dalam tasnya ada banyak uang.
"Jalan ya pak !!" pinta Safa..
-------
Sementara itu Desi sedang menikmati makan siangnya bersama Tata, seperti biasa ada banyak hal yang mereka obrolkan. Salah satunya adalah tentang anak.
Iya sebagai seorang bidan, hanya itulah yang menjadi obrolan mereka sehari-hari.
"Eh udah dengar belum gosip terbaru" Tata tampak antusian mengatakan hal itu.
"Apaan ?" tanya Desi malas.
"Sih Putri katanya rela di poligami, dia gak mau suaminya gak punya keturunan"
Mendengar hal itu Desi langsung terdiam, satu sendok nasi beserta lauknya dia kembalikan kepiring. Pandangan mata Desi tak bisa di baca.
"Kalau gue mah ogah ya di Poligami, prinsip gue gini jika gue gak bisa ngasih anak ke Mas Febri maka siapapun tak boleh juga melakukan hal itu" balas Desi dengan geram.
"Kalau suami Lo diam-diam ada wanita lain gimana Des ?" Tanya Tata sambil menaikan alisnya sebelah.
"Gua akan singkirin wanita itu, Mas Febri hanya milikku dan sampai kapanpun dia akan tetap menjadi milikku" jawab Desi.
Tata tersenyum, ia paham betul kalau Desi sangat mencintai Febri. Bahkan sikap posesif Desi pun Tata paham.
"Udah yuk, gue udah kenyang nih" Desi menggeser piringnya yang belum habis semua, masih ada setengah nasi dan ayam gorengnya.
"Gak di habisin dulu ?"
"Enggak ! udah hilang naf su makan gue"
"Ya sudah yuk !" Tata menurut saja.
-----
Hari sudah menjelang sore, sebelum kembali ke Klinik Febri menyempat kan pulang dulu, tapi bukan kerumahnya dan Desi melainkan kerumah dimana Safa berada.
Di perjalanan Febri membeli makanan untuk ia dan Safa nantinya. Febri yakin kalau wanita itu belum makan malam.
"Assalamualaikum" seru Febri di ambang pintu, ia menunggu Safa keluar barulah ia akan masuk. Febri tak ingin Safa kembali terkejut karena kehadiran nya.
"Waalaikumsalam" tak berapa lama terdengar sahutan dari dalam, membuat Febri tersenyum saat telingah nya dengan jelas mendengar suara lembut dari Safa.
"Loh Mas Febri ? ngapain kesini Mas ?" tanya Safa selalu terkejut melihat kedatangan Febri
"Inikan rumah ku, jadi wajar dong aku datang kesini"
Safa langsung terdiam mendengar ucapan Febri, entahlah ada sedikit rasa tersinggung mendengar apa yang di ucapkan laki-laki itu. Safa tau kalau ini rumah Febri namun apa laki-laki itu akan selalu seperti ini, datang kerumahnya padahal ada wanita lain yang bukan istrinya.
"Ini makan malam, Mas mau makan malam berdua sama kamu" ucap Febri sambil memberikan kantong kresik berwarna putih pada Safa.
Tanpa menjawab Safa langsung mengambil apa yang Febri berikan, ia berjala menuju dapur dan mengeluarkan makanan yang Febri beli.
Tatapan mata Febri begitu fokus dengan gerak-gerik Safa, tak ada sedikitpun yang Febri lewatkan.
"Apa dengan menatapku terus akan membuatmu kenyang ?" tanya Safa.
"Bisa jadi !!" Balas Febri lalu beranjak menuju Safa. Ia menarik kursi dan duduk di hadapan wanita itu.
"Makan lah Mas ! dan setelah ini kamu pulang ! aku tidak ingin menjadi gosip tetangga, dan lagian istri Mas pasti nungguin Mas pulang" pinta Safa.
"Hmmm, baru kali ini aku di usir dari rumah ku sendiri" Febri tampak terkekeh mengatakan semua itu.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi saja, aku akan mencari kontrakan" Setelah mengatakan semua itu Safa beranjak dan meninggalkan Febri.
Dengan gerakan cepat Febri menyusul Safa, ia meraih tangan wanita itu dan menariknya. Hingga akhirnya Safa jatuh kedalam pelukan Febri.
Safa berontak ingin di lepaskan, namun Febri mala semakin mengeratkan pelukan nya.
"Maaf Fa, mas bukan bermaksud menyinggung mu !! maaf ya !!" ucap Febri dengan lembut.
Suara lembut Febri berhasil menenangkan Safa, ia terdiam didalam pelukan laki-laki itu. Bahkan dengan bodohnya Safa menghirup dan menikmati aroma tubuh Febri. Matanya terpejam dengan detak jantung yang kuat.
"Kamu mau kan memaafkan Mas ?" tanya Febri lagi dan di balas anggukan oleh Safa.
Perlahan kaki Febri berjalan kedepan, sementara Safa memundurkan langkahnya, keduanya masih saling berpelukan.
"Mas" ucap Safa kaget saat dirinya kini di dudukan di Sofa oleh Febri.
"Suuuttt" Febri meletakkan jari telunjuknya di bibir Safa.
"Kamu mau ngapain ?" tanya Safa saat melihat wajah Febri terus mendekati wajahnya.
Febri tak menjawab, ia terus menatap wajah cantik Safa. Hingga beberapa detik kemudian bibir keduanya menyatu. Tentu saja semua itu membuat Safa kaget. Ia memukul dada Febri namun dengan cepat Febri memegangi kedua tangan Safa.
"Emmmm,,,, Emmmm" Safa berusaha membuka suara namun semua itu tak membuatnya bisa lepas dari Febri.
Hingga akhirnya Febri melepaskan sendiri pagu tan nya, ia menatap wajah Safa dengan seksama.
"Mas pamit, kamu jaga diri baik-baik. Jangan pernah berpikiran untuk pergi dari rumah ini !!" ucap Febri sembari mengecup kening Safa.
---
...LIKE DAN KOMEN...
...ADD FAVORIT...
...KASIH HADIA (BUNGA/KOPI)...
Klo kejadian kaya Safa harusnya Febri jujur sama istrinya klo dia sudah niduri perempuan lain walau karena kecelakaan. Istrinya mo terima apa gak itu sudah jg resiko Febri dan tanggungjawab sudah merusak kehormatan perempuan lain. Ini malah berbohong dan bohong terus lebih baik Safa pergi deh tinggalin Febri daripada tersakiti , lebih baik hidup bahagia bersama anakmu. Soal rezeki dan jodoh kan dah ada yg atur. Upps lupa deh ini kan novel 😄😄😄 jelas yg atur author donk. Safa selamat berjuang aja ya.