NovelToon NovelToon
Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Patahhati / Tamat
Popularitas:45k
Nilai: 5
Nama Author: dheselsa

Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konflik Tak Berujung

Air mataku jatuh, menetes hingga membasahi pipi ini. Awal dari kehancuran hidupku telah tiba, Tuhan begitu menyayangi diriku hingga Ia ingin segera bertemu denganku melalui penyakit ini.

Aku hancur, bukan hanya hati ini saja yang kosong. Mendengar bahwa aku mengidap penyakit yang serius saja telah menciutkan sebagian mental yang kupunya, terlebih ini! aku bertemu dengan luka lama. Luka yang telah kusegel rapat hingga ke dasar jiwa.

Jiwa yang kosong ini semakin meronta hingga mendekati bagian tergelap dari hati. Mengingat bahwa hidup ini tak akan lama lagi, aku hanya bisa pasrah dari penyakit yang membelenggu ini.

Di dalam ruang yang telah usang, dengan kebahagiaan yang mulai hilang. Betapa hidupku kini menjadi malang. Aku butuh harapan juga butuh cadangan. Sebentar, itulah yang selalu aku katakan. Adakalanya aku sering merasa lelah untuk mencari.

"Kau akan sembuh Del, jadi lakukanlah pengobatan bersamaku!"

Ucapannya sebagai seorang dokter yang profesional tak ada salahnya, tapi bila dilihat dari sudut pandang Syadam Rifa'i ucapan itu terdengar seperti olok-olokan untukku. Aku benci Syadam, hingga matipun aku tak ingin menyebut lagi namanya.

Kubasuh wajah ini dan mengamati getir-getir dari keputusasaan di raga ini. Kutatap lekat-lekat bayangan diriku di cermin salah satu tempat makan yang biasa aku kunjungi ini. Bagaimanapun juga aku harus mengisi daya di tubuhku untuk menghadapi kenyataan yang mungkin bisa merenggutku kapan saja.

Kudengar ada sayup-sayup suara keributan di luar kamar mandi restoran ini. Kini suara sayup itu semakin terdengar jelas mengusik telingaku, hingga membuat ragaku ini bergerak mendekati sumber keributan.

Dari balik pintu kamar mandi yang bersekat dinding kokoh bangunan ini kulihat seorang wanita kira-kita berumur kurang lebih 40 tahunan sedang memarahi seorang gadis kecil yang tengah menundukkan kepalanya.

"Ada apa ini?" tanyaku pada kedua kedua manusia berbeda generasi tersebut. Naluri kepedulianku memaksa untuk masuk ke dalam masalah pelik mereka.

"Anak ini menumpahkan minumannya padaku, kau lihat sendiri bajuku kotor dibuatnya?"

Kutelusuri apa yang dikatakan oleh wanita itu padaku, tak bisa kupercaya ada seorang wanita yang tega memaki anak kecil karena masalah sepele seperti ini. Hanya karena bajunya kotor mengapa ia harus histeris seperti ini pada anak kecil ini?

Tatapan mataku menjurus pada bocah kecil yang sejak tadi masih membungkam mulutnya. Mungkin ia sangat ketakutan pada wanita gila ini. Sapuan mataku jatuh tepat pada kedua bola mata gadis manis ini?

"Apa kamu sudah meminta maaf pada ibu ini?" tegurku pada entah anak siapa ini.

Bocah yang kutaksir berumur tak lebih dari lima tahun itu hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dariku. Kulihat kilatan cahaya di kedua pupilnya mengisyaratkan bahwa ia tidak mengada-ada.

"Anak ini telah meminta maaf lalu letak permasalahannya apa Bu?" Kutatap wanita yang masih tampak angkuh karena tanpa sekalipun sudi menurunkan egonya.

"Apa kau mamanya? Lain kali ajarin anakmu sopan santun!" Wanita itu masih saja meluapkan emosinya, bahkan kepadaku yang tak tahu duduk permasalahannya. Kurasa wanita ini sakit jiwa.

"Jaga mulut Anda! Anda yang seharusnya perlu mendapatkan pelajaran sopan santun karena tak memiliki tata krama!" Aku menaikkan sedikit nada bicaraku pada wanita itu. Sebenarnya bukan hakku untuk mencampuri urusan mereka, tapi hati ini merasa tercabik mana kala melihat seorang gadis kecil ini ditindas dan dimarahi seperti ini.

"Dasar ibu dan anak sama saja, asal kau tahu suamiku orang penting di kota ini!" celoteh wanita tua itu masih enggan untuk mengalah pada kami berdua.

Dia pikir aku takut? Meski suaminya presiden sekalipun bila ia berlaku kurang ajar aku bisa menghabisi nyawanya di sini!

"Papaku juga hebat! dia dokter hebat di kota ini!" Dengan suara bergetar gadis yang ditindas itu bersuara lantang meminta haknya. Hak sebagai anak-anak yang seharusnya diberi kasih sayang serta dilindungi.

"Anda dengar? Ngaca dulu sebelum berucap! jangan sombong, kita sesama manusia berkedudukan yang sama di mata Tuhan dan negara. Bila Anda tetap seperti ini saya bisa membawa Anda ke jalur hukum!" Kukuatkan semangat ini untuk menggertak wanita sialan ini. Tak perduli meski suaminya orang penting sekalipun, aku masih memiliki Tuhan di sampingku.

Mendengar ancaman dariku, kulihat raut wajah wanita sakit jiwa sedikit mengendur. Kerutan-kerutan di wajahnya yang tadi tampak jelas kini berangsur-angsur menghilang begitu saja.

"Kamu tidak apa-apa Nak? Ke mana orang tuamu hingga kamu melewati hari menyebalkan seperti ini sendiri?" tanyaku pada gadis mungil yang kini tak lagi menundukkan wajahnya setelah kepergian wanita jahanam itu dari jangkauan kami.

"Bunda sedang berbelanja, lalu Oma ada di dalam toilet ini!" kata malaikat kecil ini sambil menunjuk ke arah toilet menjelaskan bahwa neneknya sedang menggunakan toilet ini.

"Oh ... kalau begitu aku tinggal dulu Sayang!"

Wajah makhluk menggemaskan itu kini semakin berseri melihat wanita paruh baya yang tampak cukup modis untuk wanita seumurnya.

"Omaaaa ...." panggil gadis kecil itu pada orang yang ia sebut dengan panggilan Oma.

Tunggu dulu! penampilan anak kecil ini cukup berantakan karena penindasan mental dari wanita gila tadi. Oleh sebab itu, aku memberinya sebuah jepit rambut yang sejak tadi kupakai untuk merapikan potongan rambutnya yang menutupi wajah cantiknya.

1
Ersa
Luar biasa
Ридван Касид 💞
bagus akak ceritanya
Nurhartiningsih
sukaaaa sm yg melow2
Tio
b
Ivanka Anata
puitis bgt, cukup berat kalau tidak suka mapel bahasa jaman sekolah dulu, untungnya sy suja bahasa 😁😁😁😁
dheselsa: Kamsia, Kak.
Ikuti semua novel saya ya
total 1 replies
Hasni Jaya Almahdaly
kuu menangis membayangkan betapa sakitnya hati ku padamuu
Hasni Jaya Almahdaly
masih menerawang jauh dii ujung timur 🤔🙄😅😅

akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻
Amin Tohari
tuh kan sultan syahdam🤣
Amin Tohari
muke gile si syadam
Amin Tohari
wih dokter opo sultan ...
Amin Tohari
tersentuh oleh bang syat,🤣
Amin Tohari
thor apa itu anaknya shadam??
Amin Tohari
aih si shadam😈
Jess ♛⃝꙰𓆊
next
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
semangat Della, g usah ragu2 lanjutkan aja, toh selama ini terbukti syadam masih terus menunggu kamu
Risfa
mangat Della 💪
༄⃞⃟⚡oleng.comKᵝ⃟ᴸ
baper akut😎😎😎😎
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
emang bajunya kamu taruh dimana Della 😂😂😂 apa jatuh dan basah 😂😂😂
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
jatuh cinta untuk ke 2 kali dengan pria yg sama tp dalam rentang waktu yg berbeda 🥰🥰🥰
Risfa
lahh, bajunya ketinggalan dimanaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!