Anita dijual oleh kekasih juga sahabat baiknya pada seorang pria tua. Hingga suatu hari ia mendapati diri tengah berbadan dua dan terusir dari rumah. Hidup penuh derita dilalui Anita dengan tetap mempertahankan janin dalam rahimnya.
Sampai anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang anak jenius yang mampu membawa Anita dalam kehidupan lebih baik. Anak yang dilahirkan itu pula, membawa Anita untuk bertemu lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata Makan Tuan
Arga enggan kembali ke kamar, dia meminta izin untuk tidur di kamar mamanya. Tentu, izin diberikan dengan senang hati dan Anita membantu putranya terlelap. Membelai rambut Arga seperti ketika bocah itu kecil dulu, Anita berucap banyak doa dalam setiap belaian lembut diberikan.
Usai Arga terlelap dan diselimuti olehnya, Anita keluar mengambil air minum untuk putranya esok pagi. Lagi pula, perempuan berpiyama abu muda itu juga sangat haus usai pertengkaran dengan Reno dan menguras banyak tenaga serta emosi.
Langkahnya berhenti di beberapa anak tangga, ketika dua mata indahnya menatap ruang tengah dengan lampu masih menyala. Ada Reno dan Lisa di sana duduk bersama, padahal ini sudah lewat tengah malam. "Sudahlah, jangan pedulikan!" Anita bicara dalam hati.
Mendengar suara langkah mendekat, Reno menoleh. Tak ada tegur sapa dari keduanya, namun lelaki tengah duduk memangku beberapa kertas itu masih saja memperhatikan. Pandangan mata Anita turun, ia tak menyadari jika lelaki bertubuh kekar itu mengamati.
"Tunggu sebentar," katanya pada Lisa.
"Baik," sahut Lisa menganggukkan kepala.
Entah mengapa sangat ingin menyusul perempuan dengan rambut tergerai indah itu, Reno tidak bisa menghentikan dorongan kuat dalam diri. Seolah ada magnet yang menariknya, lelaki berlesung pipi itu tidak pernah sanggup melawan arus begitu kuat menariknya.
Seketika ia menarik tangan kiri perempuan tengah mengisi air minum, pinggang ia tarik mendekat dengan tangan kiri, sementara tangan kanan melingkarkan tangan Anita pada tengkuknya. Bibir ia satukan tanpa kata, mendorong perlahan sampai membentur meja dapur.
Lembut, sangat lembut Anita merasakan pergerakan bibir itu. Terasa hangat dan berbeda dari sebelumnya ketika Reno memaksa kasar. Tidak! ia tidak bisa untuk membiarkan situasi ini berlangsung lebih lama, Anita tak ingin terbius dan melakukan kesalahan sekali lagi.
Mereka bukan suami istri, tak ada ikatan suci dengan Tuhan sebagai saksi. Anita mengatupkan bibir, menghentikan lidah Reno dan menatapnya. "Jangan lakukan ini lagi. Aku tidak ingin membuat sebuah kesalahan lagi dalam hidupku," lirih Anita menatap kedua mata Reno.
"Aku menginginkanmu," sahut Reno.
"Hanya perempuan bodoh yang akan mau menuruti tanpa adanya ikatan pernikahan. Dan cukup sekali kebodohan itu aku lakukan," ucap Anita. "Pergilah, Lisa sudah menunggumu."
Ya, tak seharusnya hubungan terjalin tanpa sebuah ikatan pernikahan. Bodoh jika ada yang menuruti hanya karena sebuah bukti, atau sekedar rasa takut kehilangan, bahkan terbuai kata manis tanpa pembuktian. Anita sendiri tak membiarkan awal dari kegilaan itu berlanjut, dan menjadi bodoh sekali lagi.
Memilih pergi dengan segelas air putih di tangan, Anita tak memungkiri jika hatinya pun bergejolak dengan jantung berlompatan. Reno terdiam, dia memang sangat menginginkan Anita. Tapi ucapannya bagai tamparan, walau ia juga berpikir jika Anita sangat kuno sekarang.
...----------------...
Esok hari ....
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Anita menyiapkan sarapan untuk Arga. Sampai kini, ia tak pernah ingin makan apa yang dibuatkan oleh koki, dan melahap habis setiap masakan dibuat oleh sang ibu. Bagi Arga, tak ada yang sanggup menandingi masakan terbuat dari tangan seorang ibu, ada kasih sayang dan cinta tercampur di dalamnya.
Mengikat tinggi rambut di belakang, sibuk menyusun makanan. Sementara dari anak tangga, ada Reno berjalan dengan Lisa—seperti biasa mereka lakukan. "Minggir!" sinis Arga, melewati antara dua orang tengah berjalan beriringan.
"Kau tidak ke kantor?!" teriak Reno, melihat putranya berpakaian santai kaos juga celana pendek.
Anita mendengar teriakan itu, meninggalkan ruang makan dan mencari tahu apa yang terjadi. Sejenak mata saling pandang dengan Reno dari kejauhan, hingga perempuan berkaos putih tersebut menyuguhkan senyum pada putranya dan melingkarkan tangan.
Seakan tak melihat apa pun, keduanya berlalu. Reno membenci sikap macam itu, namun hanya bisa memejamkan kedua mata sekilas, menahan kekesalan sebisa mungkin. Bersama Lisa menuju ruang makan, langsung duduk begitu sampai. Tak menegur Anita seperti hari biasa, bibir terkunci bersama kedua mata berpaling.
"Siang ini, kita jadi mencari cincin pernikahan?" tanya Arga pada sang mama tengah menyusun makanan di piringnya.
"Jadi, Sayang. Nanti kamu yang bantu pilih ya?" lembut Anita, disimak baik-baik oleh Reno.
"Saya ada rekomendasi toko yang bagus kalau nyonya berkenan. Desain mereka sangat cantik," ucap Lisa.
"Benarkah? boleh. Kami juga masih belum menentukan desainnya," senyum Anita.
"Saya kirimkan nomornya ke nomor Tuan muda Arga," jawab Lisa.
"Terima kasih banyak," kembali senyum diberikan Anita.
Pembicaraan antara ketiganya di ruang makan, terdengar jelas oleh Reno. Telinga juga hatinya sangat panas, teringat kembali ucapan Arga tentang sebuah pernikahan. Meraih secangkir kopi hitam di atas meja, Reno menikmati sedikit lalu melempar cangkir putih ke atas lantai.
"Siapa yang membuatkanku kopi hari ini?!" marah Reno, melemparkan secangkir kopi hingga berserakan di atas lantai. Terkejut semua orang di ruang makan, termasuk pelayan berjejer di sana.
"Ada yang salah, Tuan?" santun kepala pelayan.
"Semua yang memasak hari ini, pecat dan usir!" perintahnya tegas dan pergi.
"Bagaimana kopi kemarin, Tuan?! apa itu juga sangat buruk rasanya?!" meninggi suara Arga supaya terdengar, berhenti langkah lelaki bersetelan kerja warna hitam.
Reno menoleh, Arga tetap duduk dengan tatapan terarah padanya. "Satu orang membuatkan kopi yang sama, tapi baru kali Anda merasa tidak enak. Bukankah itu aneh?" berubah rendah dan tenang suara Arga.
"Diam!" tunjuk Reno pada putranya.
Arga tersenyum simpul, dia beranjak dari duduk lalu berjalan ke arah Reno. Sangat tenang langkahnya, namun matanya tajam menatap. "Saya tidak akan diam, ketika ada yang tidak menghargai kerja keras mama saya. Anda tahu itu!" tegas Arga, menyentak Reno.
"Ma—maksudmu ... Anita yang membuatkan kopi?" terbata Reno, dijawab senyum tipis dengan alis mata kiri terangkat putranya.
Anita tak ingin ada keributan, dia menghentikan putranya. Namun, justru Arga meraih tangannya dan mengajak pergi. "Kita sudah di usir," ucap Arga.
Melewati tubuh Reno seketika mematung, Arga bersama Anita berjalan ke arah pintu utama. "Tunggu!" cegahnya. "Siapa yang mengizinkan kalian pergi?!"
Arga menoleh, dia tersenyum sengit. "Anda pria sejati, bukan? jadi, saya yakin Anda tidak akan pernah menarik ucapan. Kopi dan masakan itu, adalah buatan mama saya."
Reno kembali mematung dengan mata lebar, Arga pergi bersama Anita di depan kedua mata. Kaki kanan hendak melangkah, namun berubah berat seakan ada puluhan ton barang menimpa kakinya.
Kedua orang itu sudah keluar lebih cepat, Reno menoleh ke arah kepala pelayan. "Kenapa kau tidak memberitahuku?!" geramnya dengan biji mata hampir keluar.
"Maafkan saya, Tuan." Menunduk kepala pelayan.
Tangan kanan Reno berada di pinggang, satu tangan lain mengusap kening kasar, melanjutkan ke rambut, dengan kedua mata terpejam. Suara berdesis layaknya ular, Reno tampak frustasi pagi ini. "Aku bisa gila!" umpatnya.
Bukan semua dimasak oleh Anita, tapi perkataan untuk semua yang memasak hari ini, dipergunakan oleh Arga sebaik mungkin. Menjadikan itu sebagai alasan tepat untuk keluar dari rumah lebih tepat disebut neraka bagi mamanya.
Paling tidak, ia tak akan lagi melihat mamanya diperlakukan kasar. Kejadian semalam telah membuat Arga berpikir lebih keras, tapi pagi ini justru Tuhan membantunya. Tuhan sudah merencanakan lebih dulu dari pada Arga, rencana yang jauh lebih hebat dari apa dipikirkan semalam.
Terima kasih untuk yang sudah mengapresiasi karya ini. Entah dengan like, komentar, vote, apa pun itu.
Terima kasih juga buat yang tidak memberikan like ke karya ini meski membaca.
Kalau bisa, jangan puji terus ya, kritik karya saya kak.
ap ms ad seosean 2 ny