LANJUTAN KISAH DENDAM MASA LALU VERSI BARU
Kouya Rich Dermawan dan Kouru Rin Dermawan adalah anak seorang Dokter terkenal di Tokyo dan Putri Mafia yang ditakuti dunia.
Suatu ketika karena kecelakaan pesawat yang membawa mereka dan keluarganya ke London untuk berniat mencari kehidupan yang baru. Membuat mereka kehilangan keluarga dicintainya. Termasuk pasangan hidup mereka.
Membuat mereka semua trouma dan merubah semua Identitas mereka agar tak ada yang tahu tentang mereka. Biarkan lah mereka di kenang sudah tiada.
Pada saat Rich dan Rin sudah dewasa mereka fokus dengan karir dan kebahagian kedua orangtuanya. Sampai mereka tidak pernah berani membuka hati.
Suatu ketika mereka di pertemukan dengan seseorang yang membuat hidup mereka berwarna dan bisa melupakan trouma yang mereka alami.
Akankah mereka bisa membuka lembaran baru dan menjalin kehidupan normal layaknya orang lain sebelumnya?
Bisakah mereka menghindari masa masa lalu yang kelam dan menjalani kehidupan baru?
Ikuti kisahnya ya Kak. Bantu Author untuk mendukung karya ini dengan cara Like, Vote dan Coment. Dukunganmu sangat berarti untuk Author. Terima kasih ...
IG 》sifi_endriyanto
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SIVIKAYLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 # Belum Menyerah
Angel mengerutu di depan pintu ruangan Danar. Dia benar benar kesal kenapa Danar menggunci pintu nya.
Saat sedang mondar mandir, pintu ruangan terbuka. Munculah Danar dan Emely. Membuat Angel menatap mereka dengan menyelidik.
"Ngapain lo disini?"tanya Danar dengan wajah tak senang.
"Gue yang harusnya nanya, ngapain lo berduaan di dalam. Pakai acara di kunci lagi pintunya,"kata Angel ketus.
"Heh..., suka suka gue lah. Gue bosnya disini. Mau gue kunci kek, mau gue jeblakin kek, ini kan ruangan gue. Lagian kalau pun gue berduaan sama calon istri gue kenapa? masalah buat lo?"tanya Danar yang sudah menaikkan intonasi bicaranya.
"Abang.., udah jangan berantem,"kata Emely menengahi.
"Ya..., yaa.., maksud gue, lo kan bos disini harusnya jaga sikap kalau mau berduaan. Ini kan masih di kantor,"kata Angel juteg.
"Eh ..., cewek galak. Denger baik baik ya. Lo cuma sekretaris gue. Jadi jangan ngatur ngatur kepribadian gue. Tugas lo cuma urus jadwal gue saat jam kerja. Bukan ngurusin masalah pribadi gue. Paham!!"
Danar melangkah pergi sambil menggandeng Emely. Membuat Angel semakin kesal dan cemburu melihat kedekatan mereka.
"Awas ya kalian. Liat aja nanti, gue bakal pisahin kalian!"ancamnya.
Danar mempercepat langkahnya menuju parkiran. Emely yang tahu bahwa Danar sedang tidak mood kali ini.
Saat di dalam mobil, Danar memasukkan kunci untuk menstater mobilnya, tapi Emely menahan tangannya.
"Ada apa?"tanya Danar menaikkan alisnya.
"Tenangkan dulu hati sama pikiran Abang. Baru kita jalan. Aku gak mau Abang mengendarai mobil dengan emosi. Takutnya bakal terjadi sesuatu sama kita,"protes Emely.
Danar yang melihat raut wajah Emely yang sedikit takut. Langsung mencairkan hatinya dan meredam emosinya. Dia menghembuskan napasnya kasar.
"Huffttt..., maaf ya. Aku gak bermaksud membuatmu takut sayang, cuma kesal saja sama cewek galak itu. Dari awal ketemu sampai sekarang. Entah kenapa liat wajahnya bikin kesal aja."
"Jaga emosi Abang ya. Dan jangan terlalu galak juga sama dia, meski sifatnya begitu Abang jangan ikut ikutan. Kan sama aja Abang kaya dia. Lagi pula Abang kan laki laki. Jangan terlalu kasar,"kata Emely menasehati.
"Iyaaa sayang..., aku janji gak akan seperti itu lagi. Aku akan menanggapinya dengan kepala dingin. Yaudah pulang yuk,"kata Danar langsung tancap gas.
...****...
Nindya sedang berada di rumahnya bersama Dewi. Mereka sedang mempersiapkan pernikahan Danar dan Emely karena 3 hari lagi pernikahan mereka.
Saat asik mengobrol. Pintu depan rumah diketuk. Nindya segera keluar untuk melihat tamu yang datang.
"Asalamualaikum Tante ...,"sapa Angel tersenyum manis saat Nindya membuka pintu.
"Walaikumsalam..., eh Angel. Ayok nak masuk,"kata Nindya mempersilahkan Angel.
"Makasih ya Tante,"jawab Angel sambil mengikuti Nindya.
"Ayok duduk, bentar ya saya buatkan minum dulu,"kata Nindya yang hendak berdiri.
"Gak Tante, gak usah. Aku kesini cuma mau kasih tahu Ja tentang Emely Tan,"kata Angel serius.
Nindya mengerutkan keningnya tanda tak mengerti maksud dari Angel.
"Emely...? kenapa dengan nya?"tanya Nindya.
"Tante tuh harus hati hati sama Emely. Masa Tante dengan mudahnya sih menjadikan Emely calon menantu Tante. Asal usul nya aja belum jelas. Masa Tante dengan mudah menerimanya. Apa gak takut kalau dia nanti membawa masalah,"kata Angel.
Nindya mulai mengerti maksud Angel. Dan dia mulai tahu apa yang Angel inginkan.
"Iyaaa nak, makasih banyak sudah memperingatkan. Tapi kamu tenang saja kok. Intel Tante banyak dan berada di manapun. Jadi Tante dengan mudah bisa mengakses info dengan cepat."
Nindya tersenyum pada Angel dan merasakan aura tak menyenangkan disana. Angel merasa juga kalau dia tidak akan bisa menghasut Nindya untuk membenci Emely.
Suara mobil berderu kencang di halaman depan rumah. Menandakan bahwa Danar dan Emely baru saja datang.
Mereka masuk sambil tersenyum dan bergandeng tangan. Senyum mereka hilang sekejap melihat ada tamu yang duduk di ruang depan.
"Lah.., lo ngapain kesini?"tanya Danar ketus.
"Danar..., kamu itu gimana. Baru datang dari luar harusnya salam. Bukan langsung ngomel,"kata Nindya.
Danar tersipu malu karena melupakan adat itu. Dia akhirnya mengucap salam dan mencium punggung tangan Nindya.
"Lo gak jawab? kenapa jadi diam aja,"kata Danar menatap tajam Angel.
"Gue..., cuma ada urusan aja sama Tante. Hemmm..., maaf Tan, aku pulang dulu ya. Takutnya Mama ku nyariin,"kata Angel yang berdiri mencium punggung tangan Nindya.
Dia pergi begitu saja tanpa menegok dan menegur sapa Danar dan Emely. Dia dengan cepat keluar dari situ.
"Bunda..., apa yang Angel bicarakan?"tanya Danar penasaran.
Nindya hanya tersenyum dia menatap Danar. Lalu dia mulai pembicaraan.
"Dia hanya memperingatkan Bunda suatu hal. Setelah itu dia langsung pamit, kau lihat sendiri kan. Gak ada yang aneh,"kata Nindya.
"Yaudah lah Bun. Aku mau ke kamar dulu. Mau mandi udah gerah."
"Bunda, aku juga mau kekamar,"lanjut Emely.
Nindya mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk membersihkan diri.
Malam harinya mereka menyatap makan malam dengan keheningan. Dentingan sendok dan garpu yang agak keraz membuat mereka menoleh asal suara.
"Kenapa Ayah? Kok Ayah terlihat kesal?"tanya Danar yang tahu perubahan wajah Riswan.
"Ayah kecewa sama kalian berdua. Memang kalian tidak bisa menunggu sampai pernikahan?"tanya Riswan. Tatapannya tajam memandang Danar dan Emely bergantian.
"Maksud Ayah..?"tanya Danar bingung.
"Tadi Angel menemui Ayah. Dia bilang kamu dan Emely sudah melakukan hal yang tak pantas di kantor. Sampai mengunci ruanganmu segala,"kata Riswan juteg.
"Hufft.., dasar bocah itu. Apa sih maksudnya. Membuat malu gue aja,"geram Danar.
"Gak ada yang ingin kalian jelaskan pada Ayah?"tanya Riswan tegas.
"Baik ..., Aku jelaskan kejadian sebenarnya pada Ayah,"kata Danar menatap orang orang di depannya.
Danar menjelaskan detail kejadian tadi. Tidak ada yang dia tutupi atau dia lebihkan. Emely pun menunduk malu sedari tadi.
"Ohhh.., jadi kau terjebak. Apa mungkin Angel menjebak kalian?"tanya Riswan.
"Kemungkinan sih Ayah, habisnya dia jam segitu masa belum pulang. Dan gelagatnya juga terlihat,"kata Danar.
"Kalian harus jaga diri ya. Bunda gak mau kejadian ini terulang lagi,"kata Nindya mengingatkan.
"Baik Bun...,"jawab Danar dan Emely bersamaan.
"Karena kalian sudah melakukannya, terpaksa besok kita adakan ijab kabul terlebih dahulu. Pestanya baru hari sabtu,"kata Riswan.
Danar menatap Riswan dengan senyuman nya yang lebar. Membuat Riswan bergidik ngeri.
"Kenapa kau senyum senyum begitu. Senang banget kalau acara pernikahan nya dimajukan. Apa memang sudah tak sabaran atau ketagihan sama yang tadi,"goda Riswan.
"Ihh Ayah tahu aja .., hahahahaha..."
Emely mencubit pinggang Danar membuatnya meringis kesakitan.
"Aduduhh... sayang kok di cubit,"lirih Danar.
Semua tersenyum melihat Emely yang wajahnya semakin memerah seperti tomat. Danar jangan ditanya lagi, dia malah sangat senang jika pernikahan nya dimajukan dan di percepat.
"Baik Ayah, Bunda. Besok aku persiapkan semuanya. Makasih yaaa..."
Setelah perbincangan tadi mereka melanjutkan sesi makan malam yang tertunda dengan candaan dan obrolan ringan lainnya.
*Bersambung...
salam dari
Cinta Kedua Untuk Zylva &
Hati Terbelah Di Ujung Senja
jangan lupa mampir
"little princess and childish mafia"