NovelToon NovelToon
Summer Between Jonas & Arnas

Summer Between Jonas & Arnas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:30.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: @l_uci_ous

"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.

Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.

Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.

Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Barangkali

"Jonas suka makanan atau minuman apa?"

"Apa aja yang rasa stoberi, tapi favoritnya puding mangga."

"Puding mangga? Mangga sama stroberi bahkan gak satu keluarga."

"Pengecualian."

"Oke. Terus makanan yang dia gak suka apa?"

"Semua makanan yang lembek. Soalnya dia jijik."

"Film favorit?"

"Enggak ada. Dia sukanya nonton drama Korea, itu juga jarang."

"Really?"

Walau masih sibuk men-dribbel bola, Arnas sempat melirik Chilla bersama ponselnya di pinggir lapangan, yang dengan setia menemaninya bermain basket di bawah teriknya matahari menjelang siang ini, sementara teman-teman mereka yang lain sudah masuk kelas atau pergi ke kantin karena pelajaran olahraga akan berakhir dua puluh menit lagi, dan sejak tadi guru olahraga sudah minggat ke ruangannya. Wajah Chilla sumringah ketika mendengar kata 'drama Korea'. Para gadis di mana-mana sama saja, semua tergila-gila pada ajjussi dan oppa-oppa.

"Misteri-thriller?" duga Chilla, membuat Arnas mendengus. Gadis itu pasti akan tertawa mengetahui kenyataannya.

"Drama keluarga." Arnas menahan niatnya untuk melakukan tembakan ke ring basket. Ia menanti reaksi Chilla akan frasa yang baru ia lontarkan.

"Serius?" Diluar dugaan, mata Chilla berbinar-binar. "Jonas uwu banget. Gumushh..." ia berkata seraya mengetik sesuatu—yang Arnas yakini adalah fakta itu.

Jadi cowok suka drama keluarga yang biasanya kisahnya menye-menye itu uwu, ya? Arnas baru tahu. Atau memang Chilla saja yang sudah kelewat bucin kakaknya? Opsi kedua lebih mungkin. Logika Chilla tampaknya mulai terganggu. Apa jadinya coba bila nanti ditolak Jonas? Arnas tak dapat membayangkannya. Ia hanya berharap Chilla tidak bunuh diri atau jadi delusi dan masuk rumah sakit jiwa.

Arnas mengurungkan niatnya yang sempat tertunda untuk melempar bola, ia malah memeluk benda oranye yang mirip jeruk raksasa itu. Kemudian tanpa memberi aba-aba pada Chilla, ia berlalu meninggalkan gadis itu sambil mengeringkan rambutnya yang basah oleh keringat dengan jemari.

Belum jauh langkah membawa Arnas pergi dari pengawasan Chilla, gadis itu sudah berlari menyusul, menempati posisi di kirinya. Beberapa hari lalu hal ini bukanlah sesuatu yang mungkin. Jangankan mengubernya seperti sekarang, Chilla bahkan enggan berpapasan dengannya.

"Ar, Ar," panggil Chilla antusias. Arnas merasa seperti Chilla sedang memanggil hewan peliharaan, bukan dirinya. Nadanya sama seperti yang biasa digunakan orang ketika berseru : 'pus, pus' atau 'kurr, kurr'.

"Selain belajar, Jonas suka apa?"

Arnas menoleh mendengar pertanyaan Chilla. Ada satu fakta keliru yang tersirat dalam tanya itu.

"Kata siapa Jonas suka belajar?"

"Gak ada. Kan Jonas pinter, berarti dia suka belajar."

"Sok tahu," timpal Arnas. "Jonas belajar bukan karena dia suka, tapi karena dia ngerasa itu kewajibannya."

Sejenak Chilla tidak menyahut. Gadis itu nampak memikirkan kenyataan yang baru disampaikan Arnas.

"Terus Jonas suka apa?"

"Nyanyi."

"Wah...." Lagi-lagi binar itu hadir menghiasi iris coklat Chilla, binar kekaguman. "Gue bisa bayangin sih gimana kalo Jonas nyanyi. Pasti bagus banget. Orang ngomong aja dia merdu..." Ada jeda singkat sebelum Chilla kembali berkata, "Tapi kok gue gak pernah denger dia nyanyi?"

"Gue yang serumah sama dia aja udah gak pernah denger dia nyanyi lagi, bahkan di kamar mandi."

" Kenapa? Dia gak pede, ya?"

Arnas menggeleng. Ia tahu benar bahwa bukan perkara kepercayaan diri yang membuat Jonas tak lagi pernah bernyanyi. Tapi perasaan konyol Jonas bahwa ia punya kewajiban lain yang harus dipenuhinya.

"Jonas cuma berhenti nyanyi aja. Dia ngerasa itu kewajibannya."

"Kenapa?" tanya Chilla, kelihatan tak paham.

"Kayak yang lo pernah bilang, 'Jonas itu baik'."

Senang sekali rasanya Arnas sudah berada di bawah naungan atap sekolah. Hari ini panas sekali, dan keringatnya membanjir. Ia tak bisa hanya berganti, ia mesti mandi.

"Memang buat jadi baik harus berhenti ngelakuin yang kita suka?"

"Seringnya, buat jadi yang terbaik di satu hal, lo harus ngelepasin hal lainnya, walaupun itu hal yang paling lo suka." Arnas menggaruk tengguknya yang gatal karena keringat. "Gitu, katanya Jonas."

Arnas melirik Chilla yang nampak tertegun. Mungkin gadis itu akhirnya akan sadar bahwa yang ia ucapkan ketika mereka dihukum tempo hari itu benar. Berusaha sebaik Jonas bisa membuat seseorang jadi tidak bahagia.

"Gue mau mandi dulu, wawancaranya nanti lagi," Arnas berpamitan, hendak mengambil jalur yang berbeda dengan lorong menuju kelas. Ia akan mengembalikan bola basket terlebih dulu.

"Eh, eh, tunggu." Chilla menahan lengan Arnas. Tangan kecil itu terasa hangat di atas kulitnya yang lembab.

"Kenapa lagi?"

Celingak-celinguk Chilla memandang sekitar.

"Gak ada orang. Buruan, badan gue udah gatel-gatel mau mandi, nih."

Chilla melepaskan tangannya. "Lagian cuma main basket aja buluk banget sih lo."

Setelah ribut-ribut mereka pada pagi tadi, ia dan Chilla sudah cukup akur. Bahkan mereka tadi oper-operan bola dengan tenang, sampai membuat anak sekelas keheranan. Pasalnya sebelum gencatan senjata ini, mereka paling anti dipasangkan dalam kegiatan atau tugas apapun. Tapi ini Chilla mulai lagi. Sepertinya mulut gadis itu gatal bila tak menghinanya.

Arnas menarik sejumput rambut Chilla yang kabur dari kunciran yang sudah kendur dan tak beraturan. "Lo gak sadar kalo lo juga buluk?"

Chilla menepis tangan Arnas. "Seengaknya gue gak lengket-lengket." Ia saling menggosok ujung jari tangannya yang tadi digunakan untuk menahan kepergian Arnas.

Tak habis pikir, Arnas membuat garis centang semu dikening Chilla untuk membalas ejekan gadis itu. "Tapi berminyak."

Chilla sudah membuka mulut mau lanjut adu bacot, namun Arnas segera menyelanya. "Buruan deh Chill, lo mau ngomong apa. Gue mau mandi, nanti keburu guru masuk kelas."

Dengan berat hati—barangkali karena tak punya kesempatan membalas ucapan Arnas, Chilla berkata, "Nanti Jonas Istirahat ke mana? Ke kantin gak?"

"Mana gue tahu, Chill...." Arnas mengeluh. "Gue bukanya bisa baca pikirannya Jonas."

"Tapi lo bisa nanya, kan?"

Arnas mendesah. "Kenapa gak lo tanya sendiri, sih?"

"Eh, ini alasan gue butuh lo, jembatan antara gue dan Jonas."

Arnas mendengkus. "Ya, nanti gue tanyain," ucap Arnas malas sebelum pergi meninggalkan Chilla sendiri.

ΔΔΔ

Chilla bersandar pada dinding di samping pintu perpustakaan. Memikirkan skenario terbaik untuk menghampiri Jonas tanpa ketahuan bahwa ia sengaja menemui laki-laki itu. Ia melirik dua botol susu stroberi di tangannya.

Jika ia membawa keduanya, tidakkah terlalu kentara bahwa ia memang berencana memberi satu pada Jonas?

Chilla melirik tong sampah di sisi. Ah, tidak. Mubazir jika ia membuang satu botol susu ini.

Dan kemudian, di sanalah pemecahan berada.

"Kak Rom," panggil Chilla pada seorang laki-laki bergaya flamboyan yang melintas di depannya. Romi, kakak kelasnya yang narsis bukan main.

Sebenarnya penampilan Romi itu necis, bila dia tak memakai kalung yang gemerlapan bila tertimpa cahaya itu, atau cincin bermata yang melingkari jemari runcingnya. Belum lagi sepatu pantofel Romi yang disemir mengkilat itu. Chilla sampai silau melihatnya.

"Eh, Chilla—chantik sampai bikin Aa Romi menggila."

Chilla meringis.

"Kenapa?" Romi celingak-celinguk khawatir melihat ekspresi Chilla. "Gak ada Largha, kan?"

Chilla menggeleng. "Gak ada."

"Syukurlah." Romi mengusap dada. Chilla tahu benar apa alasannya. Sebab dulu Romi pernah habis di cecar Kak Largha dengan caci maki—bahkan hampir dihantam—karena terus menggoda Chilla. "Aa masih trauma sama kakak kamu. Serem ih, perlu diruqyah itu."

Terkekeh Chilla. Terkadang ia juga memikirkan yang sama.

"Kak Rom mau ini gak?" Chilla menyodorkan satu batol susu miliknya.

"Oh, makasih, Chilla cantik." Romi menerima susu itu.

"Ya udah, aku masuk dulu ya, Kak. Bye." Chilla segera minggat sebelum diajak berpanjang-lebar oleh Romi yang memang hobi bacot.

Chilla menghela napas panjang begitu memasuki perpustakaan yang begitu hening. Sekilas diliriknya ibu-ibu penjaga perpustakaan berwajah galak—yang tampak berbeda dengan penjaga yang terakhir kali dilihatnya ketika berkunjung untuk sebuah tugas. Wanita itu balas memandangnya dengan menyelidik. Dia pasti tahu bahwa Chilla bukanlah murid yang biasa mampir.

Mimpi apa coba seorang Achilla Summer Adrinari masuk ke perpustakaan dengan sengaja—bukan karena tugas, di jam istirahat pula. Padahal biasanya Chilla memakan jajanannya di kelas atau ghibah bersama teman-temannya di koridor. Untuk Jonas, ia sukarela mengunjungi tempat berbau apak ini.

Tak sulit bagi Chilla menemukan Jonas, karena tak banyak orang di ruang itu. Jonas duduk di barisan kursi paling belakang, terlihat fokus bersama setumpuk buku. Rasanya Chilla ingin mengabadikan momen itu.

Ctak!

Seperti ada yang menekan saklar lampu, otak Chill mendadak benderang. Sebuah ide bersinar cemerlang.

Chilla menyelinap di antara rak buku—lagipula ia butuh sebuah buku sebagai properti untuk adegan selanjutnya. Ia menjelajah, meneliti tempat yang paling tepat. Setelah menemukannya, Chilla segera mengeluarkan ponsel, lalu diam-diam memotret Jonas yang tampak sempurna dalam posenya.

Puas mengabadikan sosok sempurna dalam situasi sempurna, Chilla mendekati Jonas dengan berbekal sebuah buku yang ia ambil secara acak sebagai alibi.

Jonas mengangkat wajahnya ketika Chilla menarik kursi di seberang laki-laki itu. Ada senyum di wajahnya.

"Hai," sapa Chilla, kaku. Ia duduk dengan hati-hati.

"Ekhem!" sebuah suara dehem membuat Chilla menoleh, dugaannya tepat tentang siapa dalangnya. Penjaga perputakaan. Chilla paham bahwa itu bermaksud menegurnya agar tak berisik.

Jonas meletakan tangannya di depan bibir, membuat gestur agar Chilla diam.

Chilla mengangguk kecil. Kemudian Jonas kembali fokus pada buku-buku penuh rangkaian angka dan simbol yang membuat Chilla ingin mengelus dada. Bisa ya, ada orang secara sukarela mau mengorbankan waktu istirahatnya yang cuma sebentar sebelum dijejali lagi dengan seabrak ilmu yang tak jarang sulit dipahami cuma untuk belajar matematika. Chilla tak bisa paham.

Setelah membuka bukunya tanpa perhatian, Chilla berkali-kali melirik Jonas yang kelihatan serius. Tiba-tiba ia merasa ragu, takut mengganggu.

"Kenapa?" bisik Jonas tanpa mengangkat muka. Meski begitu suaranya masih terdengar cukup jelas karena ruang yang begitu hening, hanya suara desing lembut kipas angin yang berbunyi konsisten.

"Kamu gak ke kantin?" tanya Chilla, sepelan mungkin.

Jonas menggeleng kecil. "Lagi males."

"Mau ini, gak?" Hati-hati Chilla menggeser sedikit botol susu stroberi itu, takut mengenai buku.

Jonas hanya melirik sekilas barang yang ditawarkan Chilla. Dengan sopan ia menolak. "Gak usah, kamu aja yang minum, biar cepet tinggi."

Chilla menusukan sedotan ke kepala botol yang hanya dilapisi kertas alminium, lalu kembali menyorongkan susu itu pada Jonas.

"Aku tadi udah minum sebenernya di kantin. Jadi ini buat kamu aja, biar tetep sehat dan kuat ngerjain semua soal itu, yang bikin aku migrain padahal cuma lihat doang, gak mikir."

Jonas memandang Chilla, tersenyum. Dan akhirnya mau menerima susu berwarna merah muda itu tanpa lupa mengucapkan terima kasih, masih dengan berbisik. Kendati begitu, peringatan kedua bergema.

"Ekhem! Ekhem!"

Chilla terpaku. Begini sekali ya, di perpustakaan sekarang. Padahal mereka sudah bisik-bisik, masih saja ditegur.

Di seberang meja, Chilla melihat Jonas yang mengulum bibir menahan tawa. Iris kelabu kelamnya berbinar-binar. Chilla penasaran seberapa konyol ekspresinya sekarang sampai Jonas geli hati begitu.

Beberapa kali Chilla mengerjapkan mata, menormalkan kembali ekspresinya, begitu juga Jonas yang sudah bisa mengendalikan diri dan menyesap susu stroberi dalam genggamannya. Seraya minum, Jonas menggoreskan penanya di sudut buku tulis.

Ribet ya mau ngomong di perpus?

Chilla mengangguk menjawab tanya tanpa suara itu.

Ribet banget. Perasaan penjaga perpustakaan sebelumnya tak seketat ini. Penjaga ini sedang PMS mungkin, atau sakit gigi—makanya sensitif sekali mendengar suara. Atau mungkin wanita itu jomblo, jadi tak pengertian melihat muda-mudi yang mau pendekatan.

Jonas menawarkan bolpoin di tangannya. Chilla pun mengambilnya, tanpa sengaja menyentuh tangan laki-laki itu. Sensasinya luar biasa, seperti ia baru saja mengusaikan sprint seratus meter. Berdebar.

Dan lagi-lagi ia amnesia, tak ingat apa yang mau dikata.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Chilla menuliskan pertanyaan di sisi tulisan Jonas, agak malu menyandingkan tulisan cakar ayamnya dengan milik laki-laki itu. Kok bisa sih, tulisan cowok serapi dan secantik ini.

Kamu gak capek, baru selesai pelajaran lanjut belajar lagi, gak istirahat?

Jonas mengambil alih bolpoin.

Chilla tersenyum mengintip setiap kata yang ditulis Jonas

Enggak capek, cuma agak bosen tadi sebelum ada kamu.

Selalu. Kenapa sih, Jonas selalu mudah sekali membuat Chilla baper, meleleh sampai sulit untuk menyatukan kesadaran lagi. Padahal kalimat itu biasa saja, tapi kenapa bila berasal dari Jonas jadi luar biasa? Pengen nangis jadinya Chilla. Lemah sekali ia pada Jonas.

Seraya menulis balasan atas jawaban Jonas, Chilla melirik jemari siswa itu, beberapa tampak bengkak dan memerah. Pasti karena terlalu banyak menulis.

Sekarang gak bosen karena kamu jadi gak belajar gara-gara ada aku.

Cepat Jonas menanggapi.

Kamu juga gak jadi baca.

Chilla memandang sekali buku di bawah dagunya. Ia memang tak ada niatan membaca. Ia ke sini hanya untuk bertemu Jonas dan memberikan minuman. Cuma itu.

Kamu udah pernah baca buku ini?

Jonas mengangguk. Ia mengambil buku-entah-apa yang tadi dipilih Chilla asal. Laki-laki itu membalik tiap lembar, mencari-cari. Sedang Chilla, sama sekali tak punya atensi untuk buku itu, seluruh perhatiannya tercurah pada laki-laki paling berkualitas di depannya.

Jonas mengembalikan buku ke hadapan Chilla. Ujung telunjuknya jatuh pada sebuah halaman. Seraya mencondongkan tubuhnya ke depan ia berbisik pelan, "Favoritku."

Dan satu kata itu sukses membuat bulu kuduk Chilla meremang. Merinding. Bukan karena suara lembut itu menelusup halus, atau jarak yang begitu dekat sampai ia bisa menghirup aroma susu jadi penyebabnya, tapi lebih karena diksi yang dipilih Jonas. Favoritku.

Barangkali

Barangkali lebih baik dia tidak tahu apa-apa tentangku.

Dia semata sering melihatku melintas di depan rumahnya atau duduk membaca di warung kopi kesukaannya.

Aku udara yang menyesakkan dadanya ketika terhimpit penumpang lain di angkutan umum.

Aku sesuatu yang belum memiliki nama.

Aku ingin diam-diam mencintainya seperti benda kecil yang sengaja menjatuhkan diri dan berharap tidak pernah ditemukan.

Chilla lamat-lamat membaca puisi itu. Ia asing dengan puisi, tak pandai menginterpretasi. Tapi kali ini, setidaknya ia cukup paham apa yang mau disampaikan penyair. Tentang ketulusan mencintai diam-diam. Sepertinya pada Jonas, seperti Jonas pada... dia yang bahkan benaknya malas menyebut namanya.

Bagus, gumam Chilla tanpa suara. Dihadiahi Jonas senyum bangga. Kemudian keduanya diam, melanjutkan aktivitas masing-masing: Jonas dengan sekelumit rumusnya, sementara Chilla dengan puisi-puisinya tanpa benar-benar membaca, sibuk dengan pikirannya, juga sakit hatinya cuma karena sebuah opini yang tak berani ia verifikasi.

Jadi begini ya, rasanya patah hati karena dibikin sendiri.

Perhatian Chilla dialihkan oleh selembar kertas yang disodorkan Jonas di bawah hidungnya.

Kalo kamu suka baca puisi, aku punya banyak bukunya di rumah. Mau?

Jadi begini ya, bahagia lagi setelah sakit hati dibikin sendiri, hanya karena sebuah tanya sederhana.

***

hallo, buat yang suka cerita ibi please banget vote, koment, dan share cerita ini. biar aku makin semangat nulisnya.

dan buat sobat sultan, boleh banget donasi dengan kasih tip biar aku tetap lancar publish setiap cerita karena belakangan aku sedang krisis moneter.

ok, gitu aja. masih buat yg udah mampir.

kritik dan sarannya please...

sejuta laf buat semua yang udah mampir

❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

NB: tolong jangan panggil thor ya. aku tau aku author, tapi punya mana. panggi aku Uci.

1
Ochi_Ara Alleta
huhuuuuu sampai loncat chapter gara2 penasaran endingnya....kirain bakal sad ending😭gak nyangka finally.....akhir yg bahagia....😩
S2 yuk kak....
Ochi_Ara Alleta
cerita bagus berkualitas kayak gini sepi like dan pembaca🤧Eman banget...
Ochi_Ara Alleta
telat banget tau gak....Nemu cerita kayak gini.huuhuu🤧
Ochi_Ara Alleta
Nemu cerita seru🥰
kenapa baru sekarang nemunya....
Zakiatu Anastasya
q jga pernah thor,sakit mah g terlalu tp malu y itu lah thor,,,,🤭🤭🤭😅
Ny Anwar
ngeri2 sedap... 😱😱
Santai Dyah
like
Santai Dyah
hadir
Santai Dyah
ceritanya bagus boom like untuk karya terbaikmu thor salam dari Kabut cinta
Buahnaga.putih
arnas gmn thor ?
newtoon🐇
keren
Conny Radiansyah
makasih Thor... happy ending untuk Jonas dan Chilla, btw Arnas apa ceritanya Thor...
Conny Radiansyah
kalo sampe sini ceritanya belum bisa dibilang tamat Thor...
Conny Radiansyah
lanjut
yul,🙋🍌💥💥💥
makasih.... semua karyamu bagus.


sungguh
Pitara Lusiana: Terima kasih
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
arnas mana?
Pitara Lusiana: Arnas ada di rumah. Udah move on
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
1 cangkir kopi buat arnas....
zkdlinmy
uuu akhirnya dilanjut jga.. thanks thorr
Pitara Lusiana: Sama-sama
total 1 replies
Ruliyah Yu Yah
makasih kak,tak tunggu kelanjutanya ghatan
Ruliyah Yu Yah
arnas,vita,sekarang mah nungguin ghatan....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!