Hope memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya di desa Bibury—Inggris Selatan, setelah ia dipecat dari pekerjaannya. Di sana, Hope bertemu dengan Blue Hawkins. Pria muda, kaya dan bertalenta yang memilih untuk mengurung diri di rumah almarhum kakeknya.
Pertemuan pertama mereka tidak berjalan dengan baik. Blue tidak suka diganggu oleh orang asing dan Hope berusaha masuk ke dalam hidup Blue.
Saat Blue Hawkins bertemu dengan Hope Miller, di situlah ia sadar bahwa beberapa rencana dalam hidup tidak akan berjalan sesuai rencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sin Cera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10: Membersihkan Rumah Blue [1]
[Aku seharusnya melakukan ini sejak lama. Maafkan aku, Kek. —Blue Hawkins]
Blue menyuapkan makaroni ke dalam mulutnya. Sementara ia mengunyah, pikirannya melayang ke mana-mana. Ia memikirkan tentang bagaimana menghentikan Kakek Sam dan cucunya agar berhenti mengusiknya. Karena sungguh ia ingin sendiri. Ia tak butuh belas kasihan. Ia tak butuh orang-orang yang hanya baik di awal. Ia hanya butuh memori tanpa kesedihan sebelum kematiannya.
Blue terus melamun hingga tanpa sadar, makanan di mangkuknya sudah terkuras habis. Ia segera menegak habis segelas susu putih hangat di depannya. Ia berbohong saat mengatakan bahwa ia tidak suka susu putih, karena ia hanya ingin membuat Hope kesal. Tapi, sepertinya gadis itu tak terpengaruh sama sekali. Benar-benar gadis yang aneh.
Blue mengelap bibirnya dengan tisu dan membuang tisunya di atas mangkuk plastik bekas makannya tadi. Ia lalu beranjak berdiri dari kursinya, dan membawa kakinya melangkah menuju pintu keluar rumahnya.
Blue membuka pintu dengan mudah. Sebab Hope tak lagi menahannya. Netranya diedarkan ke halaman rumah. Nampak Hope dan Kakeknya sedang membersihkan rumput yang tumbuh liar.
Seolah sadar akan tatapan Blue, Hope mengangkat wajahnya dan menatap lurus ke arah Blue. Ia melebarkan senyumannya, dan melambaikan tangannya. "Apa kau sudah menyelesaikan sarapanmu?" sapa Hope yang kelewat ramah.
Blue hanya menganggukkan kepalanya. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi seperti biasa. Ia berjalan menuruni tangga dan menghampiri Hope dan kakeknya yang sibuk berkerja.
"Kakek Sam," panggil Blue saat ia sudah berdiri di hadapan Kakek Sam dan Hope.
Kakek Sam yang sedang mengangkat pandangannya. "Ya, Nak?"
"Bisakah kalian pergi? Aku bersyukur kau dan cucumu mau—"
"Simpan saja rasa terima kasihmu. Hari sudah semakin siang. Kemarilah.... Pindahkan dan pisahkan tanaman-tanaman yang sudah mati dan yang masih hidup bersama Hope. Sebentar lagi aku selesai dengan rumput-rumput ini dan segera membantu kalian," ucap Kakek Sam sambil kembali menekuni pekerjaannya.
"Kau tau Blue? Pasti Jeremy akan merasa senang jika melihat perkarangannya bersih kembali. Ah... bunga ini adalah kesayangannya," imbuh Samuel saat menatap sebuah pohon bunga di hadapannya.
Blue menghela napas pelan. Kakek Sam benar. Kakeknya—Jeremy, pasti akan merasa senang jika perkarangan ini bersih kembali. Blue pun berjalan mendekati Hope dan membantunya memindahkan beberapa tanaman.
"Sudah selesai," Hope mengumumkan sambil menepuk kedua telapak tangannya.
Perkarangan rumah Blue sudah kembali bersih. Sampah dari potongan rerumputan serta dedaunan kering, sudah disatuakan dalam sebuah karung dan sudah dibuang. Tanaman-tanaman yang sudah mati juga sudah disisihkan dan dibuang. Sedangkan tanaman yang masih hidup sudah ditata kembali.
Blue mengedarkan pandangannya ke arah perkarangan rumahnya. Melihat perkarangan rumahnya bersih, membuatnya teringat akan kakeknya. Perkarangan ini sudah kembali bersih dan indah seperti sedia kala. Saat kakeknya masih hidup.
"Aku seharusnya melakukan ini sejak lama. Kakek pasti sangat sedih saat aku mengabaikan perkarangan rumahnya," batin Blue menyesal.
Kakek Sam berjalan mendekat ke arah keran air yang berada di halaman rumah Blue. Ia mengambil selang panjang berwarna biru yang sudah nampak lusuh yang terhubung dengan keran air. Samuel memutar keran dan mengarahkan air yang smengalir ke arah tanaman-tanaman di depannya sambil bersiul pelan dan terseyum lebar. Merasa puas dengan hasil pekerjaannya.
"Ayo, Kek. Biar aku saja yang mengembalikan ini ke gudang," kata Hope saat Samuel sudah selesai menyiram tanaman.
Samuel menganggukkan kepalanya. "Ya. Kakek sudah sangat lelah. Mungkin karena aku sudah semakin tua," kata Samuel sambil merengangkan tubuhnya.
"Sudah kubilang untuk tidak—"
"Tapi, ini menyenangkan. Rasanya seperti bernostalgia bersama Jeremy. Dulu aku dan Jeremy sering sekali saling membantu dalam membersihkan perkarangan rumah kami," kenang Kakek Sam, memotong kalimat gerutuan Blue.
Hope segera memunguti peralatan berkebun yang berserakan. Mulai dari sapu taman, gunting tanaman, skop hingga mesin pemotong rumput yang cukup besar.
Blue merebut mesin pemotong rumput dari jangkauan Hope dan segera berjalan mendahului Hope. Kakek Sam dan Hope segera menyusul Blue yang berjalan menuju rumah mereka.
Blue membuka pintu gudang rumah Kakek Sam dan meletakkan mesin pemotong rumput di dalamnya dengan rapi. Begitu pula dengan Hope, ia meletakkan barang-barang di tangannya dengan rapi juga.
"Terima kasih banyak, Kakek Sam," kata Blue tulus kepada Samuel. Ia lalu melirik Hope yang sedang sibuk dengan barang-barangnya. "Dan juga... kau, Hope. Terima kasih juga atas bantuannya."
"Tak perlu berterima kasih kepada orang tua ini, Nak. Orang tua ini hanya melakukan kewajibannya kepada cucunya," kata Samuel sambil menepuk pundak Blue pelan dan berlalu pergi.
Hope mengambil dua buah plastik sampah berukuran besar dan segera berjalan menyusul Blue dan kakeknya yang sudah keluar dari gudang. Samuel masuk ke rumahnya sementara Blue kembali ke rumahnya sendiri, dan Hope segera mengikuti Blue.
"Mengapa kau mengikutiku?" Blue mengernyit saat Hope sudah berjalan sejajar dengannya. Ia menatap kantong plastik di tangan Hope yang masih berbalut dengan sarung tangan kain berwarna putih.
"Bersih-bersih," sahut Hope sambil berjalan mendahului Blue.
"Perkarangan rumahku sudah bersih. Apalagi yang mau kau lakukan?" tanya Blue sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Hope. Gadis itu sekarang sudah memasuki halaman rumahnya.
"Aku tidak bilang akan membersihkan perkarangan rumahmu."
"Lalu?" Blue meniti wajah Hope yang sudah kotor dipenuhi dengan debu. Akan tetapi, ia tak menunjukkan raut wajah lelah sedikitpun.
"Seberapa banyak energi yang gadis ini punya?" batinnya.
Hope menaiki tangga batu menuju rumah Blue dan segera membuka pintu rumah Blue lebar-lebar. "Ayo kita bersihkan rumahmu," kata Hope sembari memasuki rumah Blue.
buat author nya, terimakasih untuk karya cantiknya
huwaaa hu-hu-hu 😭😭😭😭😭🤧😤
😭😭😭😭😭😭😭🤧🤧🤧🤧🤧
masa' iya datang ke pernikahan mantan cuman ajak teman atau ngaku bw tetangga, hi-hi-hi. nggak lucu atuh Hope, ketahuan jomblo nya, wkwkwk 😂🤣🤣🤣
💕💕💕
can't we wish them together with love
semangat ya ka💪💪👍
baperrr kok marah-marah neng....
🤪🤪🤪
auto ngakuin perasaannya sama Blue ☺️🙈🙈🙈
Blue : "tentu Hope... jika aku masih punya waktu dan harapan, tentu aku akan menangkap hatimu." 💕💕💕🥰
i hope so
Will punya kekasih baru dan sekarang pasti memutuskan hubungan dengan Hope
jangan-jangan dia sudah punya pacar yang lain