Lin Mo adalah seorang penjual angkringan dengan bakat tersembunyi yang amat sangat luar biasa, yaitu kendali api tingkat mistik untuk memanggag sate kikil dan usus hingga sempurna. Sayangnya, sebuah ledakan tabung gas nyasar mengakhiri hidupnya dan melempar jiwanya ke dunia fantasi sebagai Dewa Api Pengelana bersama Sistem Angkringan Ilahi. Kini berbekal gerobak terbang dan jurus sate ajaib, Lin Mo harus menjelajahi Kerajaan Aethelgard yang penuh intrik politik demi mengumpulkan Poin Arang, membuka cabang angkringan baru, dan menyelesaikan konflik kuno di negeri tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petualang Kelas F yang Kelaparan
Brakkk!
Pria bertato taring di lehernya itu kembali memukulkan tongkat besinya ke atas permukaan kayu gerobak Lin Mo.
Debu-debu halus berterbangan ke udara akibat ulah kasar pria tersebut.
Lin Mo tidak menunjukkan rasa takut sama sekali, ia hanya menatap meja kayu gerobaknya yang sedikit tergores dengan dahi berkerut.
"Aduh Paman, meja gerobak ini baru saja saya lap bersih, jangan dipukul-pukul begitu dong," kata Lin Mo santai sambil mengibas-ngibas debu di mejanya.
"Jangan banyak bacot kamu, Bocah Kumal!" bentak pria bertato taring yang merupakan ketua kelompok kecil Gangster Taring Hitam di Pasar Kumuh itu.
"Siapa nama kamu dan dari mana asalamu sampai berani jualan di area ini tanpa izin dari kami?" tanya pria bertato itu galak.
Dua anak buahnya yang berdiri di kiri dan kanan langsung melipat kedua tangan di dada dengan memasang wajah menyeramkan.
"Nama saya Lin Mo, penjual angkringan sederhana," jawab Lin Mo ramah.
"Soal izin jualan... saya punya kok surat resminya," tambah Lin Mo sambil merogoh saku jubahnya.
Lin Mo mengeluarkan kertas perkamen berstempel emas yang baru saja ia dapatkan dari Sistem dan menyerahkannya kepada pria bertato tersebut.
Pria bertato itu menyambar kertas tersebut kasar lalu membacanya dengan tatapan menyipit.
Mata pria itu mendadak membelalak lebar saat melihat stempel stempel emas milik Kapten Penjaga Gerbang Kota Valen tertera jelas di sana.
"S-Surat Izin Dagang Resmi dari Kapten Wang?!" gumam pria bertato itu kaget dalam hati.
"Bagaimana bisa penjual sate kumal seperti dia punya surat dari Kapten Wang yang terkenal pelit dan galak itu?" batin anak buahnya bingung.
Pria bertato itu mendengus kasar lalu meremas kertas perkamen itu dan mengembalikannya pada Lin Mo.
"Surat resmi dari penjaga kota tidak berlaku di wilayah Gangster Taring Hitam!" gertak pria bertato itu mencoba menutupi kekagetannya.
"Kalau mau jualan di sini dengan tenang, kamu harus bayar uang keamanan lima puluh koin perak setiap hari!" tambah pria bertato itu menadahkan tangannya.
"Lima puluh koin perak?" tanya Lin Mo sambil menggaruk dagunya yang tidak gatal.
"Mahal sekali ya. Harga sate saya saja cuma lima sampai sepuluh koin tembaga per tusuknya," sahut Lin Mo memprotes halus.
"Itu bukan urusan kami! Mau bayar atau kami hancurkan gerobak meot ini sekarang juga?!" ancam anak buah yang bertubuh kurus tinggi.
"Tunggu dulu!"
Sebuah suara nyaring dan tegas tiba-tiba terdengar dari arah gang sempit di samping pohon beringin.
Seorang gadis muda melangkah keluar dari gang tersebut dengan langkah kaki yang agak sempoyongan.
Gadis itu mengenakan zirah kulit yang penuh goresan bekas cakar dan membawa sebilah pedang pendek di pinggangnya.
Wajahnya yang cantik tertutup sedikit noda debu jalanan, dan dadanya kembang kempis seperti orang yang baru saja berlari sangat jauh.
Ia adalah Fang Mei, petualang kelas F yang sebelumnya bertemu Lin Mo di Hutan Ilusi bersama paman pengawalnya.
"Fang Mei?" gumam Lin Mo sedikit terkejut melihat kemunculan gadis itu.
Fang Mei mencabut pedang pendeknya dan berdiri di depan gerobak Lin Mo sambil menunjuk pria bertato taring itu.
"Jangan berani-berani menyentuh Senior Lin Mo dan gerobaknya!" teriak Fang Mei dengan suara yang diusahakan selantang mungkin.
Pria bertato taring itu menoleh dan tertawa terbahak-bahak melihat kehadiran Fang Mei.
"Hahaha! Siapa ini? Petualang kelas F kroco yang sok jadi pahlawan?" ejek pria bertato itu hina.
"Gadis manis, pakaianmu penuh luka begitu, daripada ikut campur urusan orang lain, lebih baik kamu pulang dan menyusu pada ibumu!" tawa anak buahnya ikut mengejek.
Fang Mei mengetatkan pegangan pedangnya, namun tiba-tiba perutnya berbunyi sangat nyaring di tengah ketegangan tersebut.
Kruuukkk~
Wajah Fang Mei langsung memerah padam sampai ke ujung telinganya karena malu yang luar biasa.
"Aduh... kenapa perutku harus berbunyi sekarang sih..." bisik Fang Mei membatin sambil menutupi perutnya.
Ia sebenarnya sangat kelaparan karena sejak berpisah dengan Lin Mo di hutan tadi pagi, ia dan pamannya belum sempat makan apa-apa.
Paman Chen Wei saat ini sedang melapor ke Guild Petualang, sementara Fang Mei berpatroli sendirian dan kebetulan mencium aroma kayu arang milik Lin Mo.
Lin Mo yang melihat kejadian itu hanya terkekeh pelan di belakang gerobaknya.
"Nona Fang Mei, sepertinya kamu butuh asupan stamina dulu sebelum bertarung," kata Lin Mo santai.
Lin Mo meraih seikat sate daging serigala taring besi yang sudah dibumbui dan meletakkannya di atas panggangan arang.
Sssttt... Sssttt...
Ia mengibaskan kipas bambunya dengan perlahan, memanggil api mistik dari dalam arang kayu di gerobaknya.
Fwoooshhh!
Aroma harum nan gurih dari lemak daging serigala membumbung tinggi menyelimuti sudut Pasar Kumuh tersebut.
Aroma itu langsung menusuk hidung Fang Mei dan ketiga anggota Gangster Taring Hitam.
"Gila... bau apa ini lagi?!" cicit pria bertato taring sambil menelan ludahnya secara kasar.
"Wanginya gila sekali! Daging apa yang dia bakar?!" gumam anak buah kurus dengan mata liar memandangi panggangan.
Lin Mo membalikkan tusukan sate tersebut hingga matang sempurna dengan kilapan kecap yang memanjakan mata.
"Ini Nona Fang Mei, makan dulu sate daging serigalanya," tawar Lin Mo menyodorkan tiga tusuk sate yang baru matang.
Fang Mei tidak sanggup menahan godaan aroma tersebut lagi. Ia menyambar sate itu dan langsung menggigit potongan pertama.
Nyuttt!
Rasa gurih yang melimpah bercampur bumbu pedas manis langsung meleleh dan meresap ke dalam lidah Fang Mei.
Kehangatan energi mana mengalir deras dari kerongkongannya, memulihkan rasa lelah dan staminanya yang terkuras habis secara instan.
"E-enak sekali! Rasanya sepuluh kali lebih enak daripada yang di hutan tadi!" seru Fang Mei dengan mata berbinar-binar penuh kebahagiaan.
Sensasi penyembuhan itu membuat luka-luka memar di tubuh Fang Mei menghilang tanpa bekas dalam hitungan detik.
Ting!
[Pengguna Fang Mei memakan Sate Daging Serigala Taring Besi]
[Buff Diaktifkan: Peningkatan Kekuatan Fisik +20% selama 10 Menit]
Tubuh Fang Mei mendadak memancarkan pendaran cahaya kuning tipis yang dipenuhi oleh energi vitalitas tinggi.
"A-apa ini? Kekuatanku bertambah pesat?!" seru Fang Mei kaget merasakan aliran kekuatan besar di dalam kedua tangannya.
Tiga anggota Gangster Taring Hitam yang melihat perubahan fisik Fang Mei langsung terperangah ketakutan.
"A-apa yang terjadi padanya?! Kenapa aura kekuatannya mendadak melonjak naik?!" teriak anak buah kurus panik.
Fang Mei menatap pedang pendeknya lalu menatap pria bertato taring itu dengan senyuman penuh percaya diri.
"Sekarang, mari kita selesaikan masalah uang keamanan ini!" tebas Fang Mei mengayunkan pedangnya ke depan.
Wushhh!
Tebasan angin bertekanan tinggi tercipta akibat dorongan buff kekuatan dari sate Lin Mo, menghempaskan tanah di bawah kaki sang gangster.
Brakkk!
Pria bertato taring dan kedua anak buahnya terlempar dua meter ke belakang dan jatuh terlentang di atas tanah kotor.
"Aaaarghhh! Pergi! Gadis ini monster!" teriak pria bertato itu ketakutan setengah mati melihat kekuatan ajaib Fang Mei.
"Awas kamu Penjual Sate! Bos Besar kami di Gangster Taring Hitam tidak akan tinggal diam soal ini!" ancam anak buahnya sambil berlari ketakutan meninggalkan pasar.
Fang Mei menyarungkan kembali pedangnya lalu berbalik menghadap Lin Mo dengan wajah berseri-seri.
"Senior Lin Mo! Sate buatanmu benar-benar ajaib sekali!" puji Fang Mei bersemangat.
"Terima kasih atas bantuanmu Nona Fang Mei, tapi ini bukan sihir, cuma bumbu angkringan biasa kok," sahut Lin Mo terkekeh.
"Biasa bagaimana! Sate ini bisa memberi buff kekuatan dan menyembuhkan luka!" balas Fang Mei gemas.
"Berapa harga tiga tusuk sate ini Senior? Aku akan membayarnya!" kata Fang Mei merogoh kantong koinnya.
"Satu tusuk sepuluh koin tembaga, jadi totalnya tiga puluh koin tembaga," jawab Lin Mo memberi tahu.
Fang Mei menyerahkan tiga puluh koin tembaga itu kepada Lin Mo dengan senang hati.
Ting!
[Transaksi Berhasil! Anda menerima 30 Koin Tembaga dan 60 Poin Arang]
"Oh ya Senior, kenapa Anda jualan di Pasar Kumuh seperti ini? Tempat ini sangat berbahaya karena dikuasai oleh Gangster Taring Hitam," tanya Fang Mei khawatir.
"Saya cuma cari tempat yang teduh dan rame saja Nona. Lagipula jualan di sini rasanya santai," jawab Lin Mo polos.
Fang Mei mendesah pelan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kepolosan Lin Mo.
Ia yakin Lin Mo adalah seorang pakar tersembunyi tingkat tinggi yang berpura-pura menjadi pedagang biasa untuk melatih mentalnya.
"Senior, Gangster Taring Hitam itu punya ratusan anggota di kota ini, dan Bos Besar mereka adalah seorang pengguna sihir racun," peringat Fang Mei serius.
"Sihir racun? Wah, kedengarannya seperti bumbu yang menarik untuk bahan bakar arang," gurau Lin Mo tanpa rasa takut sedikit pun.
Fang Mei menepuk dahi cantiknya mendengarkan tanggapan konyol dari Lin Mo.
Sementara itu, aroma harum sate daging serigala yang dibakar Lin Mo tadi rupanya telah menyebar luas ke seluruh sudut Pasar Kumuh.
Puluhan warga miskin, pedagang kaki lima, hingga para petualang kelas rendah mulai berkerumun di sekitar pohon beringin.
"Permisi, apakah ini tempat jualan daging bakar yang harumnya sampai ke ujung jalan tadi?" tanya seorang petualang tua dengan baju besi rombong.
"Benar Paman! Ini Angkringan Dewa Mo, silakan mampir!" sambut Lin Mo penuh semangat pelayan toko.
"Saya mau lima tusuk Sate Daging Serigala!" seru petualang tua itu melempar lima puluh koin tembaga.
"Saya mau Sate Usus Ayam Api sepuluh tusuk!" ikutan seorang pedagang buah di sebelahnya.
"Jangan berebut! Semuanya dapat bagian!" teriak Lin Mo gembira melihat antrean pertama pelanggannya mulai mengular.
Sssttt... Sssttt...
Lin Mo menggerakkan kedua tangannya dengan sangat lincah di atas panggangan arang gerobaknya.
Percikan [Api Murni Pemanggang Arang] menari-nari di antara tusukan sate, menciptakan atraksi visual yang sangat memukau mata para pengunjung.
Kipas bambu di tangannya mengibas secara teratur, mengeluarkan asap gurih yang makin mengundang selera siapa pun yang lewat.
Fang Mei yang melihat keramaian itu secara sukarela membantu Lin Mo merapikan antrean dan mengumpulkan koin dari pembeli.
"Antre yang rapi semuanya! Satu orang maksimal beli sepuluh tusuk!" teriak Fang Mei berakting menjadi pelayan angkringan.
Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh stok daging serigala dan usus ayam yang dibawa Lin Mo ludes tak tersisa.
Suara denting koin tembaga yang masuk ke dalam wadah penyimpanan Lin Mo terdengar sangat merdu di telinganya.
PING!
[Penjualan Perdana di Pasar Kumuh Selesai!]
[Total Sate Terjual: 80 Tusuk]
[Pendapatan: 550 Koin Tembaga & 800 Poin Arang]
[Total Poin Arang Saat Ini: 1.450 Poin]
Lin Mo tersenyum lebar menyapu keringat di dahinya menggunakan lengan baju jubah kumalnya.
"Jualan hari ini benar-benar sukses besar," gumam Lin Mo puas dalam hati.
"Terima kasih atas bantunmu ya Nona Fang Mei," kata Lin Mo menyodorkan sebotol air dingin dari Sistem untuk Fang Mei.
"Sama-sama Senior! Aku senang bisa membantu Master Kuliner seperti Anda!" jawab Fang Mei sambil menerima botol air itu dengan gembira.
Namun saat suasana di sekitar lapak angkringan Lin Mo sedang penuh kehangatan, keheningan mencekam mendadak menyapu area pasar.
Langkah kaki tegap dari puluhan orang ber armor besi hitam terdengar menggetarkan batu-batu jalanan Pasar Kumuh.
Kerumunan warga dan pembeli yang ada di sekitar gerobak Lin Mo langsung berhamburan lari ketakutan.
"Awas! Gangster Taring Hitam datang bersama Bos Besar mereka!" teriak seorang warga panik sambil berlari.
Dari balik kerumunan yang terbelah, muncul sekitar tiga puluh orang pria berarmor kulit hitam dengan membawa senjata lengkap.
Di barisan paling depan, berjalan seorang pria tinggi kurus berkulit pucat dengan mata berwarna hijau menyala bagaikan ular beracun.
Di lehernya terukir tato taring hitam raksasa yang memancar aura sihir berwarna kehijauan yang pekat.
Pria bertato taring yang dikalahkan Fang Mei tadi berjalan di samping pria tinggi kurus itu sambil menunjuk ke arah Lin Mo.
"Bos Besar Du Chen! Dialah pemuda pembuat keributan dan penjual sate ilegal yang menghina kelompok kita!" teriak pria bertato itu mengadu.
Bos Besar Du Chen menghentikan langkah kakinya sepuluh meter di depan gerobak Lin Mo.
Mata hijaunya yang dingin menatap Lin Mo dan gerobak kayunya dengan pandangan penuh kekejaman dan rasa jijik.
"Jadi kamu pemuda yang berani melukai anak buahku dan menolak bayar uang keamanan di wilayahku?" tanya Du Chen dengan suara serak yang mengerikan.
Aura racun berwarna hijau tebal mulai membumbung keluar dari balik jubah hitam yang dikenakan Du Chen.
Rumput-rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu jalanan langsung layu dan menghitam begitu terkena paparan aura racun tersebut.
Fang Mei langsung berdiri pasang badan di depan Lin Mo sambil menggenggam pedangnya erat-erat dengan tubuh agak gemetaran.
"S-Senior... itu Du Chen si Ular Racun! Dia adalah penyihir racun Tingkat Menengah yang sangat berbahaya!" bisik Fang Mei panik.
Lin Mo melangkah santai melewati Fang Mei dan berdiri tepat di paling depan gerobak melayang miliknya.
Ia menatap racun hijau yang mengepul dari tubuh Du Chen bukannya dengan rasa takut, melainkan dengan tatapan penuh minat.
"Paman berkulit pucat, racun hijau di tubuhmu itu... apa bisa dipakai untuk membuat bumbu sate rasa pedas pahit?" tanya Lin Mo dengan raut wajah sangat polos.
Seluruh anggota Gangster Taring Hitam langsung terperangah kaget mendengarkan pertanyaan gila dari Lin Mo.
Wajah pucat Du Chen mendadak berubah menjadi sangat merah karena murka yang tidak tertahankan.
"Bocah kurang ajar! Kamu pikir racun mematikan milikku ini bumbu masak?!" teriak Du Chen murka dengan suara menggelegar.
"Hari ini aku akan melelehkan tubuhmu dan gerobak sampahmu ini menjadi cairan racun!" jerit Du Chen mengangkat kedua tangannya ke udara.
Sleeessshhh!
Semburan cairan racun berwarna hijau pekat meluncur deras dari telapak tangan Du Chen menuju ke arah Lin Mo dan gerobaknya.