NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Tidak Tanda Tangan Pun Tetap Harus Pergi

Hujan di luar jendela belum mereda ketika pintu ruang HRD terbuka dan Kak Sri dipanggil masuk.

Nan Shin berdiri menjauh agar perempuan itu tidak merasa diperhatikan. Ia memotret setiap halaman paket Rp 45 juta, lalu mengirim salinannya ke alamat surel pribadi. Dokumen asli dimasukkan ke map bersama dua belas kontrak.

Kak Sri keluar dua puluh menit kemudian.

Matanya merah. Di tangannya ada map yang bentuknya sama.

“Berapa?” tanya Nan Shin pelan.

Kak Sri menggeleng. “Nanti saja.”

Mereka berjalan kembali ke IGD tanpa berbicara. Di depan pintu, Kak Sri berhenti.

“Saya mungkin nggak akan memperpanjang perlawanan,” katanya. “Kontrak saya memang tinggal dua bulan. Saya cuma ingin uangnya cepat cair.”

“Baca dulu semua halaman.”

“Saya sudah capek, Nan.”

Nan Shin tidak menyuruhnya berani. Setiap orang mempunyai tagihan dan batas tenaga yang berbeda.

“Kalau Kakak mau, kita cocokkan perhitungannya.”

Kak Sri mengangguk tanpa janji.

“Saya takut kalau bertanya terlalu banyak, uangnya malah ditahan,” katanya.

“Bertanya tidak sama dengan menolak.”

“Kalau mereka memberi waktu tiga hari, saya harus bagaimana?”

“Bawa pulang salinannya. Tandai tanggal terakhir, komponen pembayaran, dan apa yang terjadi kalau tidak setuju.”

“Kamu bisa lihat bersama saya?”

“Bisa. Tapi keputusan tetap milik Kakak.”

Kak Sri mengusap matanya. “Saya nggak mau anak saya tahu dulu.”

“Kakak berhak memilih kapan bercerita. Simpan dokumennya di tempat aman.”

“Terima kasih, Nan.”

Selama tiga hari masa peninjauan, Nan Shin menggunakan setiap waktu kosong untuk memeriksa dokumen. Ia menandai bagian yang menyebut kontrak tahunan sebagai periode terpisah. Ia membuat tabel tanggal masuk, tanggal perpanjangan, jeda kerja, pembayaran yang diterima, dan bukti bahwa tidak pernah ada satu hari pun hubungan kerja terputus.

Bu Ratna memberinya salinan rekap unit.

“Ini data jumlah pasien dan kebutuhan tenaga enam bulan terakhir,” katanya. “Jangan sebarkan nama pasien. Pakai hanya angka agregat.”

“Angkanya menunjukkan IGD kekurangan orang.”

“Iya.”

“Lalu bagaimana mereka menyebut ini efisiensi kebutuhan?”

Bu Ratna menatap pintu kantor yang tertutup. “Karena biaya pegawai dan kebutuhan di lapangan dinilai oleh meja yang berbeda.”

Nan Shin melampirkan data itu pada surat tanggapannya. Ia meminta tiga hal: mempertahankan posisinya, menawarkan penempatan lain yang setara, atau menghitung ulang paket berdasarkan masa kerja berkelanjutan dan seluruh komponen yang belum dibayar.

Pada hari ketiga, ia kembali ke HRD.

Supervisor sudah menerima surat tersebut melalui surel. Salinannya berada di meja dengan beberapa catatan tinta merah.

“Kami menghargai tanggapan Ibu,” katanya. “Namun keputusan penataan tenaga tidak berubah.”

“Saya membawa data bahwa IGD masih kekurangan tenaga.”

“Kebutuhan organisasi tidak dinilai hanya dari jumlah pasien. Ada redistribusi tenaga tetap dan penyesuaian proses.”

“Siapa yang akan menggantikan shift saya?”

“Penjadwalan menjadi kewenangan unit.”

“Suster Putri mendapat tambahan shift pada hari jadwal saya dipotong.”

“Ibu tidak bisa membandingkan kasus pegawai lain.”

Nan Shin meletakkan surat keberatan di meja. “Saya tidak membandingkan pribadi. Saya menunjukkan bahwa pekerjaan saya masih ada. Yang dihilangkan adalah orang dengan status kontrak.”

Staf pencatat menunduk pada laptop.

Supervisor HRD merapatkan map. “Rumah sakit berhak menata komposisi pegawai berdasarkan status hubungan kerja dan kebutuhan.”

“Saya minta penempatan lain.”

“Tidak ada posisi yang tersedia untuk ditawarkan saat ini.”

“Lalu perhitungan ulang?”

“Tim legal mempertahankan paket yang sudah diberikan.”

“Mana riwayat pembayaran kompensasi sebelas kontrak sebelumnya?”

Supervisor menggeser satu lembar baru. “Arsip penggajian menunjukkan tidak ada komponen terpisah dengan nama tersebut pada sebagian besar periode. Namun rumah sakit menilai perpanjangan terdahulu telah diselesaikan berdasarkan kebijakan saat itu.”

Nan Shin membaca kalimat itu dua kali. “Tidak dibayar, tetapi dianggap selesai.”

“Saya menyampaikan hasil peninjauan.”

“Kalau saya tidak setuju dengan Rp 45 juta, apa yang terjadi?”

“Ibu dapat tidak menandatangani perjanjian penyelesaian.”

“Apakah saya tetap bekerja?”

“Tidak. Keputusan berakhirnya hubungan kerja terpisah dari persetujuan paket. Tanggal terakhir Ibu tetap empat belas hari sejak pemberitahuan.”

Nan Shin merasakan detak jantungnya di leher.

“Jadi kalau saya menolak, saya kehilangan pekerjaan dan pembayaran ditunda.”

“Hak yang tidak disengketakan tetap akan diproses sesuai ketentuan. Komponen penyelesaian lain mungkin menunggu kesepakatan atau proses lanjutan.”

“Tapi saya tidak bisa tinggal.”

“Tidak.”

Satu kata itu menghapus sisa harapan yang dibawanya selama tiga hari.

Nan Shin membuka map dan mengeluarkan halaman persetujuan. Kolom tanda tangannya masih kosong.

“Saya belum akan tanda tangan hari ini.”

“Itu hak Ibu. Kami minta keputusan sebelum proses administrasi akhir.”

“Saya ingin surat tanggapan saya diberi tanda terima.”

“Suratnya sudah masuk melalui surel,” kata supervisor.

“Saya tetap perlu bukti bahwa salinan fisiknya diterima hari ini.”

Staf pencatat menoleh kepada atasannya. “Kami bisa memberi nomor registrasi pada salinan Ibu.”

“Tolong tulis tanggal dan nama penerimanya juga.”

“Akan kami cantumkan pada cap penerimaan,” jawab staf pencatat.

Staf pencatat mencetak nomor registrasi dan membubuhkan stempel. Nan Shin memeriksa tanggal sebelum menyimpannya.

Saat keluar, Bu Ratna menunggu di lorong.

“Bagaimana?”

“Tidak berubah. Tidak tanda tangan pun tetap harus pergi.”

Bu Ratna menutup mata sebentar. “Saya minta maaf.”

“Ibu sudah menulis rekomendasi.”

“Ternyata tidak cukup.”

“Bukan salah Ibu.”

Nan Shin mengucapkannya karena benar, bukan untuk menghibur.

Hari itu ia tetap menyelesaikan shift. Ia membantu Putri menangani pasien pertama yang datang tanpa pendamping keluarga. Ia mengecek ulang obat Ayu. Ia menyerahkan laporan terakhir kepada Bu Ratna tanpa satu kolom kosong.

Pasien tanpa pendamping itu seorang perempuan lanjut usia yang kebingungan menyebut alamat. Putri sudah mencoba menghubungi nomor pada berkas, tetapi tidak tersambung.

Nan Shin memeriksa gelang identitas, riwayat pendaftaran, dan kontak lama di sistem. Ia menemukan nomor tetangga yang pernah tercatat sebagai kontak darurat, lalu meminta bagian admisi menghubungi keluarga melalui jalur resmi. Sambil menunggu, ia menurunkan suara dan menjelaskan setiap tindakan kepada pasien agar perempuan itu tidak semakin takut.

Putri memperhatikan dari samping.

“Hal seperti ini nggak ada di formulir kompetensi,” katanya setelah keluarga berhasil dihubungi.

“Karena tidak semua masalah pasien bisa masuk kotak penilaian.”

“Tadi Kakak tidak menyuruh saya menenangkan pasien dengan janji palsu.”

“Jangan pernah janji hasil yang bukan kewenanganmu.”

“Jadi saya cukup bilang sedang menghubungi keluarga?”

“Bilang apa yang sudah dilakukan, apa yang masih menunggu, dan kapan kamu kembali memberi kabar.”

Putri mengangguk. “Kalau keluarga tidak bisa datang?”

“Tanyakan siapa kontak lain yang disetujui pasien. Jangan sembarang membuka informasi.”

“Saya catat.”

“Kakak masih mengajari saya setelah keputusan itu?”

Nan Shin merapikan selimut pasien. “Pasien ini tidak membuat daftar pemberhentian. Kamu juga tidak.”

Putri menunduk. “IGD tetap butuh orang seperti Kakak.”

“Kalau kamu percaya itu, ingat cara kerjanya. Jangan hanya ingat orangnya.”

Putri menelan ludah. “Kalau nanti ada perawat baru lagi, saya ajari seperti Kakak mengajari saya.”

“Ajari juga dia bertanya, bukan cuma mengikuti.”

“Dan cek obat berdua.”

“Terutama saat semua orang merasa terlalu sibuk untuk mengecek.”

Kalimat tersebut membuat dada Nan Shin sakit, tetapi ia tidak menariknya kembali. Mungkin inilah satu-satunya bagian dari dua belas tahun yang tidak bisa dihapus oleh keputusan HRD: pengetahuan yang sudah berpindah ke tangan orang lain.

Ketika jam pulang tiba, hujan turun lagi.

Nan Shin membuka payung lipat yang selama bertahun-tahun disimpan di loker. Salah satu rusuknya sudah bengkok. Air merembes di sisi kain dan membasahi bahunya ketika ia berjalan melewati gerbang rumah sakit.

Ia berhenti di bawah papan nama RSUD Serpong Utama.

Dua belas tahun lalu, ia masuk lewat gerbang itu sambil memegang kontrak pertama dan percaya kerja keras akan membuatnya aman.

Sekarang ia keluar membawa surat yang mengatakan tidak ada tanda tangan apa pun yang bisa mempertahankannya.

Nan Shin mengirim pesan kepada Cheng An.

Keputusannya final. Dua minggu lagi hari terakhirku. Mereka tetap menawarkan Rp 45 juta.

Balasan datang saat ia masih menunggu ojek online di tengah hujan.

Oke.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!