Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu pasti sengajakan!
"Kalau kamu masih nggak enak badan, yuk aku antar ke rumah sakit sekarang. Biar diperiksa dokter langsung sama dikasih obat yang bener," ujar Julian sambil mengecek jam di pergelangan tangannya.
Dia mengusap bahu Sabrina sekali lagi, lalu berbalik dan bersiap melangkah memimpin jalan keluar dari area tangga darurat.
"Ayo, mumpung jam kuliahku udah beres."
Melihat Julian yang bersiap pergi, kepanikan mendadak menyenggol dada Sabrina.
"Kak, tunggu!"
Dengan refleks cepat, Sabrina mengulurkan tangannya yang dingin dan meremas erat pergelangan tangan Julian, menahannya untuk tidak melangkah lebih jauh.
Cengkeramannya begitu kuat hingga membuat Julian terhenti dan berbalik menatapnya dengan kening berkerut heran.
"Ada apa lagi, sayang?" tanya Julian bingung, menatap tangan Sabrina yang masih mencengkeram lengan jaketnya rapat-rapat.
Sabrina menarik napas panjang yang terasa sangat berat, seolah-olah seluruh pasokan udara di ruangan itu mendadak menguap habis. Bibirnya yang pucat bergetar hebat saat ia akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.
"Aku... aku tidak perlu ke rumah sakit, Kak," bisik Sabrina parau, suaranya nyaris tenggelam di antara gema dinding semen tangga darurat.
"Aku... aku udah tahu kenapa aku seperti ini terus beberapa hari ini."
Julian menghentikan langkahnya, menatap jemari Sabrina yang masih mencengkeram lengan jaketnya dengan amat erat. Mendengar perkataan Sabrina, keningnya berkerut makin dalam.
"Kamu udah periksa?" tanya Julian heran. Ia lalu menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan, berusaha mencairkan suasana tegang di antara mereka.
"Apa kata dokter? Bukan sakit yang parah, kan?"
Julian mengusap punggung tangan Sabrina yang dingin, masih mengira kecemasan gadis itu hanya karena vonis penyakit biasa seperti maag akut atau tifus.
"Lagian kamu aneh-aneh aja, udah ke dokter kok nggak cerita sama aku?"
Sabrina menggelengkan kepala perlahan. Suasana di tangga darurat itu mendadak terasa makin dingin membeku.
Kata-kata Julian seolah menjadi pisau yang siap menusuk jantungnya sendiri begitu kebenaran itu terucap dari mulutnya.
Mata Sabrina terpaku pada sepasang mata Julian. Tenggorokannya terasa begitu sempit, tertahan oleh ribuan ketakutan yang kini memuncak di ujung lidahnya.
Cengkeraman tangannya di lengan jaket Julian makin mengencang, menyampaikan getaran hebat yang terpancar dari seluruh tubuhnya.
"Aku tidak ke dokter, Kak." suara Sabrina bergetar parau, hampir seperti bisikan gersang.
Julian menaikkan satu alisnya, makin bingung melihat raut wajah Sabrina yang kian memucat.
"Terus? Kamu tahu dari mana?"
Sabrina menarik napas panjang, membiarkan pasokan udara dingin menembus dadanya yang sesak. Dengan sisa-sisa keberanian yang rapuh, kalimat yang sejak semalam menyiksanya akhirnya terlontar dari bibirnya yang memutih.
"Aku hamil, Kak."
Hening.
Seketika, seluruh udara di ruangan ruangan itu serasa diisap habis. Kata-kata Sabrina menggantung tebal di udara, memukul keheningan yang tak bisa lagi di jelaskan.
Ketegangan pekat berangsur-angsur merayap masuk, menyelimuti suasana dingin di antara mereka berdua.
Senyum tipis yang sebelumnya bertengger di wajah Julian membeku sepenuhnya. Sorot matanya yang tenang berubah drastis, membelalak tak percaya menatap wajah Sabrina.
Satu detik, dua detik, waktu seolah berhenti berputar.
Namun tiba-tiba, keheningan mencekam itu dipecahkan oleh suara terkekeh garing dari tenggorokan Julian.
"Kamu nih apaan sih, Sab?" Julian tertawa kecil, meski tawa itu terdengar begitu dipaksakan dan sama sekali tak sampai ke matanya.
Dia menggeleng-gelengkan kepala seraya menepis pelan tangan Sabrina dari lengannya.
"Jangan bercanda kayak gitu ah, nggak lucu tahu." Julian melanjutkan kekehannya, berusaha keras menepis rasa syok yang mendadak menghantam dadanya.
Dia memalingkan wajah sejenak, mengusap tengkuknya yang terasa dingin.
"Kamu mau ngerjain aku, kan? Tolong ya, Sab, jangan bikin lelucon kayak gini. Lelucon kamu buruk banget, garing tau nggak? Aku sempet kaget beneran tadi."
Julian mencoba melangkah mundur, siap mengalihkan pembicaraan dan menganggap kalimat Sabrina hanyalah gurauan konyol seorang gadis yang sedang stres karena sakit.
Namun, Sabrina tidak bergeming. Ia tidak ikut tertawa. Tidak ada raut kejahilan di wajahnya, yang ada hanyalah keputusasaan yang makin dalam.
"Aku tidak bercanda, Kak." potong Sabrina.
Suaranya datar namun menusuk. Sorot matanya yang memerah menatap tepat ke dalam manik mata Julian, menghentikan kekehan pria itu seketika.
"Aku bener tidak bercanda," ulang Sabrina, kali ini dengan ketegasan yang menyakitkan.
"Aku.... aku beneran hamil, Kak Julian. Aku udah tes berkali-kali, dan.... hasilnya positif."
Detik itu juga, tawa paksaan Julian lenyap tanpa sisa. Wajah pria itu kini berganti menjadi sepucat kertas, menyadari tidak ada kebohongan sedikit pun di raut wajah Sabrina yang berdiri di hadapannya.
Pertahanan Sabrina yang berusaha ia jaga rapat-rapat sejak tadi akhirnya hancur tak berbekas. Pertahanan itu runtuh saat ia melihat perubahan drastis pada wujud pria yang amat ia percayai.
Setetes air mata hangat meluncur melintasi pipinya yang pucat, disusul oleh derasan air mata berikutnya yang tak lagi mampu ia tahan.
"Aku hamil, Kak... Aku hamil..." Ucap Sabrina dengan air mata yang mulai menetes.
Raut wajah Julian berubah drastis dalam sekejap. Senyum dan sisa-sisa kehangatannya menguap tanpa bekas, berganti dengan kilatan panik dan amarah yang mulai menyulut matanya.
"Nggak... Nggak mungkin!" bentak Julian dengan suara tertahan namun tajam.
Dia mundur satu langkah, menatap Sabrina seolah-olah gadis di hadapannya itu mendadak menjadi sosok asing yang mengerikan.
"Gimana bisa kamu hamil, Sab?! Kan aku udah beliin obatnya! Aku sendiri yang kasih obat pencegah kehamilan itu ke kamu!" pangkas Julian, menggelengkan kepalanya keras-keras mencoba menolak kenyataan yang baru saja dihantamkan padanya.
Ketegangan di area tangga darurat itu makin mencekam. Udara terasa kian membeku. Julian memegang kepalanya yang mendadak pening, matanya bergerak liar mencari penyangkalan dalam pikirannya.
Lalu, perlahan-lahan, tatapan Julian tertuju kembali pada Sabrina. Kali ini, sorot mata itu tidak lagi memancarkan kebingungan atau kekhawatiran, melainkan kecurigaan yang amat dingin dan menyudutkan.
Julian memicingkan matanya, menatap Sabrina dari atas ke bawah sebelum akhirnya menudingkan telunjuk tepat di depan wajah gadis itu.
"Jangan-jangan..." Julian menggantung kalimatnya, napasnya memburu.
"Jangan-jangan kamu nggak minum obatnya, ya?!"
Tuduhan itu terlontar begitu saja dari mulut Julian, penuh nada menyalahkan yang begitu telanjang.
"Iya, kan?! Kamu sengaja nggak minum obat itu biar semua jadi kayak gini, kan?!" cerca Julian lagi tanpa memberi ruang untuk Sabrina bernapas.
"Jawab, Sab! Kamu sengaja kan nggak minum obat dari itu?!"