NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Menikah Dengan Dosen Duda Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dosen / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan Celine

Sore itu, Ibra akhirnya tiba di rumah. Mobil BMW hitamnya masuk ke garasi dengan perlahan. Begitu mematikan mesin, ia segera melangkah masuk ke dalam rumah.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam!"

Suara kecil yang begitu dikenalnya langsung menyambut dari ruang keluarga.

"Ayah!" Arjun berlari kecil menghampiri ayahnya lalu memeluk kakinya.

Ibra mengusap pelan kepala putranya. "Hm... Kamu sudah mandi?"

"Udah."

Ibra memperhatikan penampilan Arjun yang sudah mengenakan piyama lengan pendek bergambar mobil. Rambutnya masih sedikit basah, menandakan bocah itu memang baru selesai mandi. Pandangannya kemudian menyapu ruang keluarga.

"Mbak Siti ke mana?"

Arjun menunjuk ke arah dapur. "Ada. Tadi Arjun lapar banget. Jadi Mbak Siti kupasin buah buat Arjun sambil nunggu ayah pulang. Mungkin sekarang lagi cuci piring."

Ibra mengangguk pelan. "Oh kalau begitu..."

Ia melepaskan jas kerjanya dan menggulung sedikit lengan kemeja yang dikenakannya.

"...ayah masakin makan malam."

Arjun langsung berbinar. "Bener?"

"Iya."

"Mau makan apa?"

Arjun berpikir sejenak. "Hmmm... Spaghetti carbonara!"

Ibra tersenyum tipis. "Boleh. Tapi harus dihabiskan."

Arjun mengangkat tangan kecilnya dengan semangat. "Siap, Chef Ayah!"

Ucapan itu membuat sudut bibir Ibra terangkat sedikit.

Tak lama kemudian, Mbak Siti keluar dari dapur sambil mengeringkan tangannya dengan lap kecil.

"Oh, Bapak sudah pulang."

"Iya, Mbak."

"Terima kasih ya sudah menemani Arjun." Ibra mengambil dompetnya lalu menyerahkan sejumlah uang. "Ini bayaran untuk hari ini."

Mbak Siti menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih banyak, Pak. Arjun tadi baik kok, cuma sempat nanya kapan Bapak pulang."

Ibra menoleh sekilas kepada putranya. Arjun hanya nyengir malu.

"Makasih ya, Mbak."

"Kalau begitu saya pamit dulu, Pak."

"Iya. Hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Setelah Mbak Siti pulang, rumah kembali terasa sunyi. Hanya tersisa Ibra dan Arjun.

Ibra membuka kulkas, lalu mengeluarkan susu cair, cooking cream, keju parmesan, jamur, dan beberapa bahan lain untuk membuat spaghetti carbonara.

"Ayah."

"Hm?"

"Hari ini Arjun nggak ketemu Kak Azel."

"Iya."

Ibra mulai merebus spaghetti sambil sesekali memperhatikan putranya yang duduk di kursi dapur.

"Tapi..."bIa melirik Arjun. "...ayah tadi ketemu Kak Azel di kampus."

Mata Arjun langsung membulat. "Serius?"

"Iya."

"Terus?"

"Terus ayah minta nomor teleponnya."

"Hah?!"

Arjun langsung melonjak kegirangan. "Yeyyy!"

"Berarti nanti Arjun bisa video call Kak Azel?"

Ibra menghela napas pelan. "Kalau memang perlu."

"Yeay!" Arjun bertepuk tangan berkali-kali. "Nanti Arjun mau cerita banyak hal sama Kak Azel."

"Cerita apa?"

Arjun mulai menghitung dengan jari-jari mungilnya. "Arjun mau cerita kalau hari ini di sekolah Arjun dapat bintang. Terus Arjun juga mau cerita kalau Ayah masakin spaghetti. Terus Arjun mau kasih lihat mobil-mobil Arjun. Terus Arjun mau ngajak Kak Azel main ke rumah lagi."

Ibra yang sedang mengaduk saus berhenti sejenak. "Main ke rumah lagi?"

"Iya. Kan seru."

Ibra kembali mengaduk sausnya. "Itu nanti saja."

"Kenapa?"

"Kak Azel juga punya keluarga, kuliah, punya kegiatan. Jangan sering mengganggu."

Arjun langsung menggeleng. "Arjun nggak ganggu. Arjun cuma kangen."

Jawaban polos itu membuat Ibra tidak bisa langsung membalas.

Ia hanya menghela napas pelan. "Kalau kangen doakan saja semoga besok Kak Azel ada di daycare."

Arjun mengangguk. "Iya."

Beberapa saat kemudian ia kembali bertanya, "Ayah."

"Hm?"

"Ayah juga senang kan sama Kak Azel?"

Gerakan tangan Ibra yang sedang memarut keju langsung terhenti.

"Apa?"

"Soalnya kalau Ayah nggak senang ngapain minta nomor telepon Kak Azel?"

Ibra terdiam beberapa detik. Kemudian ia berdeham pelan. "Itu... Karena kamu. Supaya kalau kamu menangis, Ayah bisa menghubungi Kak Azel."

"Oh..." Arjun mengangguk pelan. "Lumayan."

"Lumayan?"

"Iya. Berarti Ayah juga mulai baik sama Kak Azel."

Ibra menoleh ke arah putranya. "Memangnya dulu Ayah jahat?"

Arjun berpikir cukup lama. "Nggak jahat cuma galak."

Ibra mengembuskan napas pelan.

"Galak?"

"Iya. Waktu Kak Azel panggil Pak Kutub Utara. Ayah langsung melotot ke Kak Azel."

Seketika Ibra menoleh. "Kamu masih ingat itu?"

"Iya dong." Arjun tertawa kecil. "Lucu."

"Itu tidak lucu."

"Lucu kok."

"Itu tidak sopan."

"Tapi Ayah memang dingin."

Ibra hanya bisa menggeleng pelan sambil kembali mengaduk saus carbonara.

Melihat ayahnya tidak membalas lagi, Arjun turun dari kursinya lalu memeluk pinggang Ibra dari samping.

"Ayah."

"Hm?"

"Terima kasih ya."

"Untuk apa?"

"Udah mau minta nomor Kak Azel."

Ibra menatap putranya beberapa saat. Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, ia mengusap kepala Arjun dengan lebih lembut.

"Asal kamu senang."

Jawaban singkat itu sudah lebih dari cukup membuat senyum Arjun mengembang lebar. Bocah kecil itu sama sekali tidak menyadari... Bahwa ayahnya sendiri pun mulai bertanya-tanya, mengapa akhir-akhir ini nama "Azel" begitu sering hadir dalam pikirannya, bahkan saat tidak bersama Arjun.

***

Sekitar pukul 8 malam. Di kamar, Azel baru saja selesai merapikan beberapa catatan kuliahnya. Setelah itu ia mengambil mushaf Al-Qur'an dan membaca beberapa halaman sebelum menutupnya kembali. Ia melepaskan mukenanya.

Baru saja ia hendak merebahkan tubuhnya, ponselnya yang berada di atas meja belajar berdering.

Nomor tak dikenal.

Azel mengerutkan kening. "Siapa, ya?"

Karena tidak mengenal nomor itu, ia memilih membiarkannya.

Panggilan pun terputus.

Tak sampai satu menit kemudian, ponselnya kembali berdering. Nomor yang sama.

Azel kembali mengabaikannya. "Paling salah sambung."

Beberapa detik berlalu.

Untuk ketiga kalinya nomor itu kembali menelepon.

"Ya Allah, kok maksa banget sih."

Namun tetap saja Azel tidak mengangkatnya.

Di sisi lain. Rumah Ibra.

Arjun masih memegang ponsel milik ayahnya dengan wajah yang mulai murung.

"Yah... Kak Azel nggak mau angkat telepon Arjun."

Ibra mengambil kembali ponselnya. "Mungkin dia tidak tahu kalau ini nomor ayah."

Arjun langsung menundukkan kepala. "Oh..."

Wajah kecil itu tampak kecewa. Melihat putranya seperti itu, Ibra akhirnya membuka aplikasi pesan.

Ia mengetik singkat. "Maaf, tadi Arjun yang menelepon kamu. Mungkin kamu tidak mengenali nomor saya."

Pesan itu terkirim.

Tak lama kemudian...

Di rumah Azel.

Ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk. Azel membuka notifikasi itu. Begitu membaca isi pesannya, matanya langsung membulat.

"Ya Allah... Itu tadi Arjun?"

Tanpa berpikir panjang, Azel segera mengambil jilbab instannya yang tergantung di balik pintu. Meski hanya akan melakukan panggilan video, ia tetap mengenakannya dengan rapi.

"Nanti yang lihat bukan cuma Arjun. Bisa aja Pak Kutub Utara juga ada."

Setelah memastikan jilbabnya sudah terpasang rapi, Azel langsung menekan tombol panggil.

Beberapa detik kemudian panggilan itu tersambung. Layar menampilkan wajah Arjun lebih dulu.

Begitu melihat Azel, mata bocah itu langsung berbinar. "Kak Azeeel!"

Azel tersenyum lebar. "Masya Allah, anak ganteng. Maafin Kakak ya. Kakak beneran nggak tahu itu nomor Ayah kamu. Kirain nomor orang nggak dikenal."

Arjun langsung mengangguk cepat. "Gapapa! Arjun seneng Kak Azel nelepon balik."

"Alhamdulillah."

Azel mengembuskan napas lega. "Kakak takut Arjun ngambek."

"Nggak kok. Arjun cuma sedih dikit. Dikit banget."

Sambil berkata begitu, Arjun menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang diberi jarak sangat kecil.

Membuat Azel terkekeh geli. "Lucunya."

Di belakang Arjun, Ibra duduk di sofa sambil memperhatikan percakapan keduanya. Ia sama sekali tidak ikut berbicara. Hanya sesekali memperhatikan ekspresi putranya. Yang sejak panggilan video dimulai tak berhenti tersenyum.

"Kak Azel bisa masak nggak?"

Azel terkekeh kecil. "Hmm... nggak jago sih. Ya paling bisa masak yang sederhana aja contohnya masak mie, masak air, masak telur. Kenapa emangnya?"

Arjun langsung tersenyum bangga. "Kalau Ayah jago masak!"

"Oh ya?"

"Iya! Tadi Ayah masakin Arjun spaghetti carbonara. Enak banget."

Azel mengangguk sambil tersenyum. "Alhamdulillah. Berarti Ayah kamu hebat."

Arjun mengangguk semangat. "Iya. Nanti Kak Azel cobain ya masakan Ayah."

Mata Azel langsung membulat. "Eh, eh... Nggak usah, Arjun."

"Kenapa, Kak?"

"Ya... buat Arjun aja. Ayah capek-capek masak buat anaknya, masa Kakak ikut-ikutan."

Arjun menggeleng cepat. "Nggak apa-apa. Sesekali Kak Azel harus cobain. Kan Ayah masaknya enak."

Azel hanya tertawa canggung. "Hehe... lain kali aja."

"Tapi harus."

"Loh, kenapa harus?"

Arjun menjawab polos tanpa beban. "Biar Kak Azel betah sama Ayah."

Azel mengernyit. "Lho? Apa hubungannya?"

Dengan wajah yang benar-benar polos, Arjun berkata, "Biar Kak Azel bisa jadi mama Arjun."

"Hah?!" Azel spontan menjerit pelan.

Wajahnya seketika memerah sampai ke telinga. "Arjun! Kamu ngomong apa, sih?"

Di sisi lain layar, Ibra yang sedang meminum air hampir tersedak.

"Arjun." Nada suaranya terdengar tegas.

Bocah itu langsung menoleh. "Iya, Ayah?"

"Jangan bicara sembarangan."

"Kenapa? Ayah kan juga suka Kak Azel."

Deg!

Mata Azel langsung membulat sempurna. "Eh?!"

Ibra memijat pelipisnya. "Arjun, Ayah tidak pernah bilang seperti itu."

"Lho... Tapi Ayah senyum terus kalau lihat Kak Azel. Terus juga waktu Arjun cerita tentang Kak Azel, Ayah selalu dengerin."

Azel langsung menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan. "Ya Allah... Malu banget."

Ibra berdeham pelan, berusaha tetap tenang meski telinganya mulai memanas. "Itu karena Ayah senang melihat kamu sudah tidak tantrum lagi."

"Oh..." Arjun mengangguk seolah mengerti.

"Lain kali jangan bicara seperti itu lagi."

"Iya, Ayah."

Arjun kembali menatap layar ponsel. "Maaf ya, Kak."

Azel masih salah tingkah. "I-iya... Gapapa. Tapi jangan ngomong begitu lagi ya."

Arjun memiringkan kepalanya polos. "Kenapa? Aku suka kok kalau Kak Azel jadi mama aku."

Lalu, tanpa dosa, bocah itu kembali bertanya, "Kakak emang nggak suka Ayah?"

Azel yang masih menutupi setengah wajahnya spontan menjawab tanpa berpikir. "Yaaa nggak suka. Ayah kamu kaku kayak robot."

Hening.

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

Mata Azel mendadak membelalak. "Eh... Astagfirullah! Keceplosan."

Refleks ia langsung menutup mulutnya sendiri. "Ya Allah, Pak, maaf! Saya nggak bermaksud..."

Di balik layar, Ibra hanya menatapnya datar. Tidak ada perubahan ekspresi sedikit pun.

"Hm." Jawaban itu justru membuat Azel semakin panik.

"Ya ampun... Ini dosen gue. Besok ketemu lagi. Bisa habis nilai perpajakan aku."

Arjun malah tertawa geli. "Hahaha... Robot."

"Ayah robot."

"Arjun." Suara Ibra terdengar datar.

"Iya, Ayah."

"Kamu juga jangan ikut-ikutan."

"Iya." Arjun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, meski matanya masih berbinar menahan tawa.

Sementara Azel sudah ingin menghilang dari muka bumi. "Pak, saya benar-benar minta maaf. Itu tadi keceplosan. Saya nggak bermaksud menghina Bapak."

Ibra menatapnya beberapa saat. "Lalu, menurut kamu saya memang sekaku itu?"

"Hah?" Azel berkedip.

Ia tidak menyangka yang dipermasalahkan justru itu.

"Eee... Ya... Sedikit."

"Sedikit?"

"Iya. Bapak kalau ngomong datar. Wajahnya datar. Jalannya datar. Di kampus juga serem. Kalau senyum kayaknya setahun sekali."

Semakin Azel berbicara, semakin pelan suaranya. Sampai akhirnya ia sadar, ia sedang mengomentari dosennya sendiri.

"Ya Allah... Pak, lupakan aja. Anggap saya nggak ngomong apa-apa."

Arjun kembali menyahut dengan polos. "Iya, Yah. Ayah senyum aja. Biar nggak robot."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Ibra benar-benar terangkat membentuk senyum tipis. Namun cukup untuk membuat wajahnya terlihat jauh lebih hangat.

Arjun langsung berseru kegirangan. "Nah! Kan bisa senyum!"

Azel yang melihat itu ikut terdiam beberapa detik.

Lalu tanpa sadar bergumam pelan, "...ternyata kalau senyum nggak mirip robot juga. Lebih mirip manusia."

"Arzelia..." Suara Ibra terdengar datar lagi.

Azel langsung menepuk keningnya sendiri. "Astagfirullah. Balik lagi robotnya."

Arjun langsung tertawa terbahak-bahak. Sementara Ibra hanya menggeleng pelan.

Entah kenapa... Sudah lama sekali ia tidak tertawa dalam suasana seringan itu.

Di tempat yang jauh dari Kota Bandung. Di sebuah rumah mewah di kawasan elite Jakarta. Suasana yang seharusnya tenang justru berubah mencekam.

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus seorang wanita.

Celine memejamkan mata sesaat. Kepalanya menoleh ke samping akibat kerasnya tamparan itu. Bekas lima jari mulai tampak jelas di pipinya. Air matanya langsung menggenang.

"Kenapa kamu selalu jahat sama aku, Mas?" suaranya bergetar.

Andra yang berdiri di hadapannya justru tertawa sinis. "Kamu bilang aku yang jahat? Tolong lihat diri kamu sendiri. Kamu yang memilih meninggalkan suami kamu yang miskin itu. Kamu sendiri yang memilih datang ke kehidupan ini."

Sorot matanya berubah tajam. "Tapi sekarang, kamu menyesal, kan?"

Celine menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak lagi mampu membohongi dirinya sendiri.

"Kalau boleh jujur... iya. Aku menyesal."

Andra tersenyum miring. "Menyesal?"

"Aku menyesal memilih kamu."

Kalimat itu membuat wajah Andra langsung mengeras. Celine menatap suaminya tanpa rasa takut lagi.

"Aku juga menyesal karena dulu aku lebih mendengarkan papaku. Aku menyesal memilih harta daripada hidup bersamanya."

Ia menarik napas panjang. "Mas Ibra memang nggak punya banyak harta waktu itu. Tapi dia selalu memperlakukanku dengan lembut. Dia nggak pernah membentak apalagi sampai memukul. Berbeda dengan kamu. Cih... Dulu saja kamu manis. Setelah aku menikah denganmu baru aku tahu siapa kamu sebenarnya."

Ucapan itu benar-benar membakar emosi Andra. Dengan kasar ia mencengkeram dagu Celine hingga wanita itu meringis kesakitan.

"Dengar baik-baik. Jangan pernah membandingkan aku dengan Ibra. Atau kamu akan merasakan akibatnya."

Tatapan Celine tak lagi setakut dulu. "Fakta tetaplah fakta. Mas Ibra jauh lebih baik daripada kamu."

Ucapan itu menjadi pemantik terakhir.

Plak!

Tamparan kedua kembali mendarat. Kali ini lebih keras. Tubuh Celine sampai terdorong ke samping.

Andra mengembuskan napas kasar. "Lain kali jaga ucapanmu."

Tanpa menoleh lagi, ia membuka pintu kamar dengan kasar lalu keluar.

Brak!

Pintu dibanting hingga seluruh ruangan bergetar.

Kini... Tinggallah Celine seorang diri.

Ia perlahan menyentuh pipinya yang terasa perih. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh semakin deras.

Namun yang paling menyakitkan bukanlah bekas tamparan itu. Melainkan penyesalan yang terus menghantuinya setiap hari.

Andaikan waktu bisa diputar kembali, ia tidak akan pernah meninggalkan laki-laki yang dahulu begitu tulus mencintainya.

Laki-laki yang rela bekerja siang malam demi dirinya. Laki-laki yang tetap bertahan meski dihina keluarganya.

Ibrahim Rabbani Mahendra.

Nama itu tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya. Ia teringat bagaimana Ibra selalu membukakan pintu mobil untuknya, memasakkan makanan saat ia sakit, bahkan tetap tersenyum ketika mereka hanya makan mi instan di akhir bulan karena keuangan sedang sulit.

Dulu... Semua itu ia anggap sebagai kehidupan yang menyedihkan.

Kini ia justru merindukan kesederhanaan itu. Karena di balik hidup yang sederhana. Ada ketenangan yang tidak pernah ia temukan dalam rumah mewah ini.

Sementara sekarang yang ia miliki hanya kemewahan. Tanpa kasih sayang. Tanpa rasa aman. Dan tanpa kebahagiaan.

1
Syti Sarah
cie cie yg mulai pdkt nih,kyak nya gak lma lgi nih.cahayo pak dosen,kejar trus smpai dpat 🤭🤭
Fegajon: Besok lebih gong lagi 😋
total 1 replies
Anak manis
aku prnh kya Azel, emang gak enak bgt klo bocor tuh. Rsanya malu bgt🥲
cutegirl
ibra mulai terang-terangan🤣
syora
ya allah semoga slain takdir sbgai penentu mohon bersamai dan ridho jln mnuju halal buat mereka
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
Syti Sarah
Ibra mmang laki laki yg baik .klau mmang brjodoh,smoga Allah mudhkn sgla jlan nya .
syora
andai iya utk kli ini biarkan hati klian menuntun bertemu,dgn melalui takdir dan ridhoNzya
amiiiin
Syti Sarah
haaa kyak nya mreka ber2 blum mnydari prasaan nya masing2 deh.kok jdi aku yg snyum2 sndiri ya PGI ini 😅😅😅
kembangperawan
zel itu udah kode loh🤣
Naya En-lish
/Heart//Heart//Heart/
Syti Sarah
ayoo mai jawab ape zel,yg sprti bang iba kaaah 🤭kok jdi aku yg deg degan ya,huuuh 😅😅
Ayu Oktaviana
aduh abang ibra mulai pdkt ne.. trs semangat bang😍😍
Fegajon: yuhuuu😋
total 1 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
Cie cie cie yang lagi pdkt
anakkeren
ibra mulai maju🤣
syora
ibra jgn menghindar ckp jlni takdir
Syti Sarah
smoga di prmudah sgla nya,Daan klau mmang brjodoh smoga Allah mudhkn smpai halal.
Aidil Kenzie Zie
Ibra langsung deg degan di tantang langsung kerumah sama Opa kalo ada niat baik🥰🥰🥰🥰
Syti Sarah
semoga smua di prmudah oleh Allah,kok jdi Mellow ya stiap BCA crita Arjun ini 🥺
Syti Sarah: iya btul bnget Thor .suka bnget sama crita Thor ,smoga azel bisa mnerima prmintaaan Arjun dgn ikhlas .amiiiin
total 2 replies
syora
mkasih thor slalu mnyajikan crita yg keseimbangan antra dunia dan akhirat brjln beriringan
bnyak hikmah dlm stiap critamu
Fegajon: Sama-sama Kak. Dukungan kamu juga membuat aku mau terus nulis🙏
total 1 replies
syora
ya allah thor kyknya kbnyakan bawang bombay ceritanya
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah
syora: wah hbr dong laper aja bs ngabisin karya yg bagus
andai puasa pasti double tuh bagusnya hehee
total 2 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lngsung di lamar sndiri sama anak nya 😁😁😁smoga azel bisa membuka hati nya ya untuk mnerima prmintaaan Arjun 😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!