NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Ancaman yang Menyasar Anak-anak Kita

Tiga hari setelah sidang rakyat berakhir, keluarga Saraswati kembali ke kediaman utama mereka di kawasan elit Jakarta Selatan. Rumah mewah bergaya Eropa itu berdiri kokoh di atas lahan seluas setengah hektar, dijaga ketat oleh tim keamanan pribadi yang bekerja 24 jam tanpa henti. Namun bagi Larasati, rumah sebesar dan semewah apa pun tidak pernah terasa senyaman kontrakan kecil tiga kali empat meter tempat dia dan Agung memulai pernikahan mereka dulu.

Malam itu, Larasati berdiri di balkon kamar utama, memandangi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip sejauh mata memandang. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem, rambutnya terurai panjang setelah selesai dikeringkan Denok. Di tangannya tergenggam foto lama yang sudah agak kusam: foto dia dan Agung sebelas tahun lalu, duduk berdua di emperan toko kelontong sambil berbagi satu bungkus nasi bungkus. Agung saat itu tampak lusuh dengan kemeja yang sudah luntur warnanya, wajahnya lelah setelah seharian kerja serabutan, tapi senyumnya tetap lebar saat melihat istrinya.

“Masih melihat foto itu lagi?”

Suara rendah dan akrab terdengar dari belakang. Sepasang tangan kuat melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya bersandar ke dada bidang yang hangat dan kokoh. Agung baru saja selesai mandi, rambutnya masih setengah basah, ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang. Aroma sabun laki-laki kesukaannya bercampur wangi melati yang selalu menempel di kulit Larasati.

“Kamu tahu tidak, Yang?” jawab Larasati pelan sambil bersandar lebih dalam ke pelukan suaminya. “Kadang aku masih tidak percaya semua ini nyata. Dulu kita tidur berdesakan di kasur busa yang sudah kempes, cuma punya satu kipas angin kecil yang kalau malam sering mati sendiri karena listrik padam. Sekarang… lihat rumah ini. Lihat semua yang kita miliki. Kadang aku takut bangun tidur dan ternyata semua ini cuma mimpi.”

Agung memutar tubuh istrinya perlahan sampai mereka saling berhadapan. Ia mengangkat dagu Larasati dengan satu tangan, menatap mata wanita itu dalam-dalam — mata yang sama persis yang dulu melihatnya bukan sebagai pewaris triliunan, melainkan cuma Agung: pria biasa yang sering tidak punya uang, yang sering membuat istrinya kecewa, tapi selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan kemampuan terbatasnya.

“Ini bukan mimpi, Laras,” bisik Agung lembut. Bibirnya menyapu pelan kening Larasati, turun ke sudut matanya, lalu berhenti tepat di atas bibir wanita itu tanpa menciumnya. “Semua ini nyata. Kamu nyata. Aku nyata. Dan apa pun yang terjadi… aku tidak akan pernah membiarkan apa pun atau siapa pun mengambil kebahagiaan ini dari kita. Tidak lagi.”

Ciuman yang terjadi setelah itu terasa berbeda dari biasanya. Bukan lagi penuh hasrat yang membara seperti malam-malam mereka saat emosi sedang memuncak. Ciuman ini lambat, hati-hati, seolah Agung sedang menyentuh barang paling rapuh dan berharga di dunia. Lidahnya menjelajahi mulut istrinya dengan penuh penghormatan, seolah ingin menanamkan keyakinan sedalam-dalamnya bahwa dia akan selalu ada, apa pun yang terjadi.

Tangannya yang besar bergerak perlahan menuruni punggung Larasati, menelusuri setiap lekuk tubuh wanita itu yang sudah ia hafal di luar kepala selama lebih dari satu dekade pernikahan. Larasati mengerang pelan saat tangan Agung berhenti di pinggangnya, meremasnya lembut namun penuh kepemilikan, lalu naik lagi sampai menyentuh belahan dadanya yang tertutup kain sutra tipis.

“Agung…” desah Larasati lepas, matanya terpejam menikmati setiap sentuhan suaminya. Kakinya terasa lemas, seolah hanya pelukan erat Agung yang mampu menahannya agar tidak roboh ke lantai marmer dingin balkon itu. “Anak-anak… mereka tidur di kamar sebelah.”

“Biarlah,” jawab Agung parau sambil mencium leher istrinya, meninggalkan bekas kemerahan samar yang pasti akan sulit disembunyikan keesokan harinya. “Mereka sudah besar. Mereka harus tahu orang tua mereka sangat mencintai satu sama lain.”

Ia mengangkat tubuh Larasati dengan mudah, membuat wanita itu secara refleks mengaitkan kedua kakinya di pinggang suaminya. Langkah Agung mantap membawa mereka masuk ke dalam kamar utama yang luas, lalu menendang pintu tertutup rapat dengan kaki. Ia membaringkan Larasati perlahan di atas ranjang besar berkanopi itu, tubuhnya yang berat menindih lembut tubuh wanita itu, seolah ingin memastikan tidak ada celah sedikit pun di antara mereka.

Malam itu, mereka saling memiliki dengan cara yang paling intim dan penuh makna. Setiap gerakan adalah janji. Setiap desahan adalah pengakuan betapa beruntungnya mereka memiliki satu sama lain. Saat mereka akhirnya bersatu, Larasati menggigit bahu suaminya menahan erangan yang terlalu keras, sementara Agung membenamkan wajahnya di lekukan leher istrinya, bergumam nama wanita itu berulang kali seperti doa yang tidak akan pernah ia hentikan.

Bagi Agung, Larasati adalah satu-satunya hal yang nyata di tengah dunia penuh kepura-puraan tempat dia hidup sekarang. Di hadapan istrinya, dia tidak perlu menjadi CEO yang ditakuti ribuan orang. Dia tidak perlu menjadi pewaris konglomerat yang sempurna. Dia hanya perlu menjadi Agung: pria sederhana yang sangat mencintai istrinya, dan akan melakukan apa saja untuk melindungi keluarganya.

Namun takdir sepertinya tidak mau memberi mereka waktu lama untuk beristirahat dalam kebahagiaan.

Keesokan paginya, saat keluarga baru saja duduk bersama di meja makan sarapan, telepon genggam Agung berdering kencang. Wajah pria itu seketika berubah serius mendengar suara dari ujung telepon. Ia berdiri bangkit dari kursinya dengan gerakan cepat, matanya memancarkan dinginnya sang pemimpin yang siap berperang.

“Apa yang terjadi?” tanya Larasati segera, merasakan ada yang tidak beres.

Agung menutup telepon perlahan. Ia menatap istrinya, lalu melirik ke arah Lala dan Bagas yang sedang asyik mengoleskan selai stroberi di roti mereka. Suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar anak-anak:

“Itu kepala keamanan kita. Tadi pagi ada dua mobil mencurigakan yang berputar-putar di depan gerbang sekolah Lala dan Bagas sejak subuh. Plat nomornya palsu. Dan satu jam yang lalu, tim pengintai kita melihat Kevin Darmawan muncul di sebuah restoran tidak jauh dari sana, bertemu dengan seseorang yang wajahnya selalu tertutup topi dan kacamata hitam.”

Darah Larasati seolah berhenti mengalir seketika. Ia langsung menoleh ke arah kedua anaknya. Jantungnya berdetak kencang luar biasa. Ancaman yang mereka dengar di akhir Bab 8 ternyata bukan isapan jempol belaka. Musuh benar-benar berniat menyerang titik terlemah mereka: Lala dan Bagas.

“Kita tidak bisa panik,” kata Agung cepat sambil memegang kedua bahu istrinya, menatap matanya dalam-dalam. “Aku sudah memerintahkan menambah pengawal menjadi dua kali lipat. Tidak ada satu pun dari mereka yang akan keluar rumah tanpa pengawalan ketat. Aku juga sudah bicara dengan kepala sekolah, izin menjemput anak-anak hanya boleh dilakukan oleh kita berdua atau Denok yang sudah dikenal guru-guru.”

Larasati mengangguk pelan, tapi tangannya masih gemetar hebat. Ia teringat kembali masa-masa sulit saat mereka masih tinggal di kontrakan. Saat itu bahaya yang mereka hadapi paling cuma preman pasar atau tagihan listrik yang menumpuk. Sekarang… sekarang nyawa anak-anak mereka dipertaruhkan oleh orang-orang yang tidak punya hati nurani demi mengejar emas dan kekuasaan.

“Jangan biarkan apa pun terjadi pada mereka, Yang,” bisik Larasati dengan suara pecah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Mereka satu-satunya harta yang paling berharga buat kita. Lebih berharga dari semua perusahaan, semua tanah, semua emas di dunia ini.”

Agung menarik istrinya masuk ke dalam pelukan erat. Ia mengecup ubun-ubun Larasati berulang kali, berusaha menenangkan wanita yang paling dia cintai itu.

“Aku janji. Sehelai rambut pun tidak akan ada yang berani menyentuh anak-anak kita selama aku masih bernapas. Aku akan menghabiskan seluruh harta dan kekuasaanku kalau perlu, sampai semua orang yang berani mengancam keluarga kita binasa sama sekali.”

Sementara ketegangan mulai menyelimuti rumah besar itu, di tempat yang berbeda, Lala yang baru berusia lima belas tahun sedang menjalani hari-harinya di sekolah unggulan tempat dia belajar. Gadis remaja itu mewarisi kecantikan ibunya dan ketegasan ayahnya, membuatnya selalu menjadi pusat perhatian di mana pun dia berada. Banyak laki-laki di sekolahnya yang berani mengakui perasaan, tapi tidak satu pun yang berhasil menarik hati Lala. Baginya, cinta itu harus seperti apa yang dimiliki ayah dan ibunya: tulus, setia, dan mau saling menjaga dalam suka maupun duka — bukan sekadar naksir wajah atau tertarik pada nama besar Saraswati yang melekat padanya.

Siang itu, saat jam istirahat, Lala memutuskan pergi sendirian ke perpustakaan sekolah yang sepi untuk menyelesaikan tugas biologi. Ia berjalan menyusuri lorong yang agak gelap sambil memegang buku tebal di dadanya, tiba-tiba seseorang berjalan sangat cepat dari arah berlawanan sampai menabraknya keras.

“Uh!” Lara terhuyung mundur, buku-bukunya berhamburan berserakan di lantai. “Maaf, saya tidak melihat —”

“Maafkan aku. Aku juga tidak melihatmu.”

Suara laki-laki yang rendah dan tenang itu membuat Lala mendongak. Di hadapannya berdiri seorang pemuda yang wajahnya asing baginya, meskipun dia yakin pria itu lebih tua satu atau dua tingkat di atasnya. Rambutnya hitam agak panjang disisir rapi ke belakang, matanya berwarna cokelat gelap yang dalam, dan ada bekas luka kecil di sudut bibir kirinya yang justru menambah kesan misterius dan gagah pada wajahnya. Ia mengenakan seragam sekolah yang sama persis dengannya, tapi ada aura berbeda yang terpancar darinya — aura dingin, jauh, dan seolah menyimpan ribuan rahasia.

Pemuda itu segera berjongkok membantu mengumpulkan buku-buku Lala yang berserakan. Saat tangan mereka tidak sengaja bersentuhan saat mengambil buku yang sama, Lala merasakan aliran listrik aneh menjalar sekujur tubuhnya, membuatnya langsung menarik tangan menjauh dengan cepat.

“Ini bukumu,” kata pemuda itu sambil menyerahkan tumpukan buku dengan wajah datar, tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Matanya sempat mengamati wajah Lala sekilas, lalu beralih secepat kilat. “Hati-hati lain kali. Lorong ini agak gelap, sering terjadi tabrakan.”

Ia berbalik hendak pergi begitu saja, seolah pertemuan itu tidak ada artinya sama sekali. Tapi sebelum langkah kakinya menjauh, Lala tanpa sadar memanggilnya:

“Tunggu! Siapa namamu? Aku belum pernah melihatmu di sekolah ini sebelumnya.”

Pemuda itu berhenti sejenak. Ia menoleh sedikit ke samping, hanya memperlihatkan separuh wajahnya pada Lala. Suaranya terdengar lebih rendah dan misterius dari sebelumnya:

“Namaku Reno. Reno Darmawan.”

Setelah mengatakan itu, ia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Lala yang masih terpaku berdiri di tengah lorong gelap itu. Jantung gadis remaja itu berdetak kencang dua kali lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya, sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang — bukan hanya karena aliran listrik aneh yang dia rasakan saat tangan mereka bersentuhan.

Tapi karena nama belakang Darmawan.

Nama yang sama persis dengan nama musuh bebuyutan keluarganya. Nama yang selalu disebut ayah dan ibunya dengan nada dingin penuh kewaspadaan. Nama Kevin Darmawan.

Tidak mungkin, batin Lala sambil menggenggam buku-bukunya erat-erat sampai buku-buku itu sedikit penyok. Pasti cuma kebetulan. Nama Darmawan itu kan umum banget di Indonesia. Tidak mungkin ada hubungannya.

Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Lala tahu ada sesuatu yang tidak beres. Pertemuan mereka sama sekali tidak terlihat seperti kebetulan belaka. Dan tatapan mata Reno Darmawan yang dalam itu… seolah dia sudah mengenal Lala jauh lebih lama daripada yang gadis itu duga.

Di balik dinding perpustakaan yang sepi, Reno Darmawan berhenti berjalan. Ia mengeluarkan telepon genggam dari saku seragamnya, menekan nomor yang sudah disimpan di sana. Saat suara orang di ujung telepon menjawab, wajah datar pemuda itu perlahan berubah menjadi dingin dan kejam, sama sekali berbeda dari saat dia berhadapan dengan Lala tadi.

“Target sudah bertemu,” kata Reno pelan namun tegas. “Dia tidak curiga apa-apa. Semua berjalan sesuai rencana.”

Suara Kevin Darmawan terdengar tertawa sinis dari ujung telepon:

“Bagus. Dekati dia terus. Buat dia jatuh cinta padamu. Buat dia percaya sepenuhnya padamu. Kalau kita berhasil mendapatkan hati Lala Saraswati… maka pintu masuk ke seluruh kekayaan dan rahasia keluarga itu akan terbuka lebar dengan sendirinya. Tanpa perlu kita bersusah payah menyerang dari luar.”

Reno menutup telepon perlahan. Ia menatap ke arah lorong tempat Lala tadi berdiri, dan untuk sesaat, ada kilatan samar perasaan bersalah yang melintas di matanya — tapi secepat kilat itu hilang, digantikan oleh keteguhan yang dingin lagi.

Dia tidak punya pilihan. Keluarganya sudah berhutang budi pada keluarga Darmawan selama dua generasi. Dan perintah adalah perintah. Tidak peduli seberapa manis senyum Lala Saraswati, tidak peduli seberapa cepat jantungnya berdetak saat tangan mereka bersentuhan tadi.

Tugasnya satu: mendekati Lala, menghancurkan keluarga Saraswati dari dalam, dan memastikan dendam keluarga Darmawan terbayar lunas — dengan darah kalau perlu.

Sore harinya, saat Agung dan Larasati sedang duduk berdua di ruang kerja utama rumah, membicarakan rencana pengamanan tambahan untuk anak-anak, Arif masuk dengan wajah pucat pasi. Di tangannya ia membawa selembar dokumen hasil penyelidikan tim intelijen swasta yang baru saja diterima.

“Ayah, Ibu… kalian harus melihat ini,” kata Arif gemetar sambil meletakkan kertas itu di atas meja. “Kita baru saja berhasil melacak identitas orang misterius yang bertemu Kevin kemarin di restoran dekat sekolah anak-anak.”

Agung segera mengambil dokumen itu. Matanya menyelidiki isi laporan dengan cepat, dan semakin lama wajahnya semakin memerah menahan amarah yang mendidih. Larasati yang melihat reaksi suaminya segera mendekat, lalu ikut membaca isi laporan itu — dan napasnya langsung tersekat di tenggorokan.

Di atas kertas itu tertera nama lengkap, foto, dan seluruh riwayat hidup seseorang yang sangat mereka kenal. Seseorang yang selama ini mereka anggap sebagai kawan dekat, seseorang yang sering hadir di setiap acara keluarga, seseorang yang bahkan dipercaya menjadi salah satu penasihat bisnis terdekat Agung selama bertahun-tahun.

“Tidak mungkin…” bisik Larasati tidak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepala keras-keras. “Dia sudah bersama kita sejak sepuluh tahun lalu, sejak awal kita memimpin Saraswati Group. Dia bahkan yang menolong kita berkali-kali saat perusahaan hampir bangkrut dulu. Mana mungkin dia yang menjadi mata-mata di belakang layar selama ini?”

Agung mengepalkan tangannya erat sampai buku-buku jarinya memutih. Amarah yang dia rasakan saat ini jauh lebih besar daripada amarahnya pada Kevin Darmawan. Pengkhianatan dari orang yang paling kita percaya selalu terasa seribu kali lebih menyakitkan daripada serangan dari musuh yang jelas-jelas kita tahu.

“Kelihatannya memang begitu, Laras,” jawab Agung dengan suara yang sangat rendah dan dingin, sampai-sampai membuat Larasati yang sudah bertahun-tahun bersamanya pun merinding mendengarnya. “Selama ini kita hanya melihat permukaannya saja. Kita tidak pernah tahu bahwa ternyata dia adalah cucu dari sekretaris pribadi ayah Mbah Hardo — orang yang sama yang dulu berkhianat memecah belah keluarga Saraswati dan Hardo seratus tahun lalu demi kepentingan kolonial.”

Ia menatap tajam ke arah foto di dokumen itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Agung benar-benar berniat menghancurkan seseorang sampai tidak ada yang tersisa sama sekali.

“Permainan mereka sudah berlangsung terlalu lama,” lanjut Agung dingin. “Mulai detik ini, kita ubah strategi. Jangan biarkan dia tahu kalau kita sudah menyadari pengkhianatannya. Biarkan dia berpikir kita masih bodoh dan tidak curiga apa-apa. Kita mainkan sesuai aturan mereka dulu… sampai saat yang tepat tiba untuk membalas semua yang mereka lakukan pada keluarga kita, seribu kali lipat lebih sakit.”

Larasati mengangguk mantap meski hatinya masih terasa hancur karena dikhianati. Ia meraih tangan suaminya yang masih mengepal erat, menggenggamnya kuat-kuat untuk memberikan kekuatan.

“Kita lakukan bersama, Yang,” katanya tegas. “Seperti selalu.”

Di luar jendela kaca yang luas, langit Jakarta mulai berubah menjadi gelap gulita. Badai besar yang sesungguhnya baru saja akan dimulai — badai yang bukan lagi hanya memperebutkan tanah atau emas, tapi badai yang akan menguji setiap ikatan cinta, persahabatan, dan darah keluarga yang ada di antara mereka.

Dan di tengah badai yang akan datang itu, tidak ada yang tahu bahwa langkah pertama menuju kehancuran keluarga Saraswati justru sudah dimulai dengan pertemuan singkat antara Lala dan Reno Darmawan di lorong gelap perpustakaan sekolah tadi siang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!