NovelToon NovelToon
Setiap Malam Bermimpi Panas dengan Suami Koma

Setiap Malam Bermimpi Panas dengan Suami Koma

Status: tamat
Genre:Horor / Romantis / Fantasi / Suami Hantu / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Nguyệt Cầm Ỷ Mộng

Sari Wulandari dibawa dari desa ke keluarga Pratama bukan sebagai putri yang disayangi, melainkan sebagai calon istri untuk Arga Pratama, pewaris kaya raya yang sudah dua tahun terbaring koma. Semua orang mengira ia hanya akan menjadi perawat di rumah megah itu.
Namun kamar Arga menyimpan rahasia yang tidak masuk akal: tirai bergerak tanpa angin, jimat tersembunyi di bawah seprai, dan sosok tak terlihat selalu mengawasi Sari. Setiap malam, pria koma itu datang ke dalam mimpinya dengan hasrat yang terlalu nyata.
Di balik pernikahan mendadak itu, keluarga elite lain menyembunyikan ritual penahan nasib yang mengorbankan hidup Arga. Sari yang polos hanya ingin merawat calon suaminya dengan baik, tanpa tahu bahwa sejak ia masuk ke rumah itu, sang hantu telah menganggapnya sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nguyệt Cầm Ỷ Mộng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

# Bab 19: Gaun Renda

Di atas ranjang besar tengah malam itu, suasana sama sekali tidak tenang karena gadis yang berbaring di samping pria tak sadarkan diri.

Seluruh tubuhnya telanjang, sedang ditekan seseorang di bawah tubuhnya.

Dilihat dari belakang, itu adalah pria tinggi besar yang agak kurus. Tubuhnya seperti kabut dan bayangan, tampak tembus pandang dan menyeramkan.

Namun gerakannya dipenuhi kekasaran. Ia memegang kedua kaki gadis itu dan melilitkannya ke pinggangnya. Pinggangnya bergerak kuat seperti mesin, terus menghantam bagian terdalam gadis itu. Semakin keras Sari menjerit, semakin ganas gerakannya.

Malam hampir lewat separuh. Gadis itu sudah dibuatnya dua kali. Seluruh tubuhnya sejak tadi berubah menjadi genangan musim semi, lembut seperti persik madu, tetapi justru menggoda pria itu dengan gila dan semakin merangsang sifat hantu di dalam dirinya.

Hantu hanya tahu mengikuti hasratnya. Tidak punya batas.

Alasan ia masih bisa menahan diri untuk tidak mengganggu gadis itu saat sadar sepenuhnya adalah sedikit sifat manusia yang masih menahannya.

Sebelum jiwa dan tubuhnya terpisah, ia adalah tuan muda yang lembut, tenang, dan bukan orang jahat. Meski menjadi hantu, sifat dasarnya tidak mungkin berubah sepenuhnya. Ia menjadi sekeras ini karena tidak ada tubuh yang membatasi dirinya. Emosinya diperbesar, dan yang diperbesar tidak hanya hal baik. Namun sebenarnya sebagian besar waktu ia tetap memiliki akal manusia. Hanya ketika emosinya terpicu, sifat hantunya muncul.

"Mm... ah! Arga... aku tidak tahan lagi!"

Hantu tertentu mendengar gadis itu menjerit, tetapi tidak berhenti sedikit pun. Ia malah tampak semakin cepat. Ia mengangkat tubuh gadis itu dan membuatnya duduk di atas dirinya.

Tempat yang sedang berbuat semena-mena di dalam tubuh Sari seolah punya kesadaran sendiri. Bahkan dalam posisi itu, ia tetap bisa bergerak sendiri tanpa hambatan.

Benda itu bahkan menyesuaikan ukurannya sendiri, membesar lagi, meregangkan tempat gadis itu yang sejak tadi sudah digosok sampai licin, panas, dan mati rasa. Ia semakin menempel erat pada Arga, menggigitnya tanpa celah, memberi kenikmatan terbesar.

"Ah... Arga!"

Kasihan Sari, ia dibuat sampai menjerit.

Untung kamar tidur itu kedap suara. Kalau tidak, tengah malam seluruh kediaman Pratama akan mendengar suara Sari memanggil penuh gairah, lalu ketakutan setengah mati karena nama yang ia panggil saat bergairah.

Sari memeluk leher pria itu erat. Ia benar-benar tidak tahan. Pahanya mengapit kuat, dadanya terangkat, kepalanya menggeleng sambil merintih.

"Gadis kecil cabul. Masih bilang tidak tahan? Kau menjepitku sampai hampir putus. Aku akan membuatmu mati puas!"

Arga juga tidak melewatkan kelezatan di depan mata. Ia menunduk menggigit bukit putih di dada gadis itu, sementara benda besar di bawah pinggangnya terus menusuk ganas ke dalam tubuh Sari.

Suara benturan tubuh dan suara basah menggema di seluruh kamar.

Hasrat yang terpicu kuat memengaruhi energi hantu, membentuk angin dingin yang membuat tirai kamar berkibar keras.

Baru ketika ujung langit perlahan memutih seperti perut ikan, segala sesuatu di kamar kembali tenang.

Bayangan pria yang samar berdiri di sisi ranjang dan memandang gadis itu sekali. Setelah itu ia tiba-tiba buyar seolah tidak pernah ada. Meski sebenarnya ia tetap di sana. Ia selalu berada di kamar ini. Ia tidak bisa keluar. Biasanya hanya tidak menampakkan bentuk.

Pagi itu Sari tetap bangun mengikuti jam biologisnya, meski semalaman bermimpi panas dengan calon suami yang koma.

Ia seolah benar-benar hanya bermimpi, bukan bercinta semalam penuh, kecuali tubuhnya terasa seperti dikuras sampai tidak punya tenaga. Namun rasa lemah itu jelas menutupi kurang tidur akibat bekerja sepanjang malam. Kepalanya tidak jernih, seluruh tubuhnya mengantuk dan ingin tidur lagi.

Namun kebiasaan bangun pagi dan keadaan membuatnya tidak bisa bermalas-malasan.

Sari merangkak bangun dan tidak bisa menghindari rasa malu lagi.

Ketika memungut gaun tidur renda yang tergeletak di ujung ranjang, wajahnya seperti terbakar, merah dan panas. Ia benar-benar tidak tahu mengapa tadi malam ia memakai ini untuk tidur. Memang ketika Bu Pratama membawanya membeli barang-barang ini, perempuan itu berkata pakaian itu dipakai untuk dilihat Arga. Sari juga tidak berpikir macam-macam. Saat memakainya, ia juga berpikir itu untuk diperlihatkan kepada Arga.

Namun pikiran polosnya berubah makna setelah mimpi panas tadi malam.

Orang bilang mimpi mudah dilupakan, tetapi ia justru mengingat semuanya dengan jelas, kecuali bagian akhir ketika kesadarannya agak kabur. Ia ingat calon suami dalam mimpi itu begitu tidak sabar ketika ia memakai gaun tidur seksi ini. Arga memanggilnya gadis kecil cabul yang hanya tahu menggoda dirinya. Saat Sari berkata bukan begitu, Arga bertanya kalau bukan untuk menggoda pria, mengapa ia memakai pakaian seperti itu.

Dalam mimpi panas itu, Arga bahkan begitu terburu-buru sampai langsung memasukkan benda besar itu ke tubuhnya. Ia juga tidak mau melepas gaun tidur renda bertali tipis yang kekurangan kain, yang sekali lihat sudah memperlihatkan kulit di bawah kain seksi itu. Sambil melakukannya, ia masih meremas kedua bokong Sari melalui lapisan kain dengan sangat cabul. Sari dalam mimpi tidak tahan dan menjerit.

Mengingatnya saja membuat Sari malu sampai jari kakinya meringkuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!