NovelToon NovelToon
Cinta Paksa Berujung Bahagia

Cinta Paksa Berujung Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Sci-Fi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?

UP SETIAP HARI JAM 06.00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Laju mobil sedan mewah berwarna hitam legam milik Rangga Pratama memasuki area pelataran parkir privat lantai bawah tanah penthouse utama dengan mulus. Mesin mobil berdecit halus sebelum akhirnya berhenti sempurna di dalam kotak parkir khusus bernomor satu. Suasana di dalam kabin mobil yang tadinya dipenuhi oleh perdebatan sengit dan sindiran-sindiran kecil berangsur-angsur mereda, menyisakan keheningan malam yang tenang.

Rangga mematikan mesin mobil, lalu mencabut kunci kontaknya. Ia menoleh sekilas ke arah kursi penumpang sebelah, mendapati Rania sedang merapikan tas selempangnya dengan gerakan santai.

"Sudah sampai. Turunlah," ucap Rangga datar dengan nada khas CEO-nya, meski sisa-sisa kehangatan dari perdebatan mereka di jalan tadi masih sedikit membekas di sudut hatinya.

Rania mendengus kecil, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar menyusul Rangga. Tanpa menyadari apa pun, keduanya berjalan berdampingan memasuki area koridor lift privat menuju lantai atas penthouse.

Namun, ada satu detail kecil yang luput dari pengamatan mata mereka berdua saat melewati barisan mobil-mobil mewah yang terparkir di garasi luas tersebut. Di sudut pojok area parkir, terparkir sebuah mobil SUV berukuran sedang dengan warna kuning cerah yang mencolok mata—sebuah kendaraan yang sangat asing dan tidak pernah ada di garasi pribadi itu sebelumnya.

Rania dan Rangga melangkah masuk ke dalam lift dengan pikiran yang sepenuhnya kosong dari kecurigaan. Pintu lift tertutup rapat, membawa mereka naik menuju lantai penthouse.

Pintu lift berdenting lembut, terbuka lebar memperlihatkan area ruang utama penthouse yang diterangi oleh temaram lampu gantung kristal. Rangga melangkah lebih dulu, membuka pintu kaca pengaman sambil melepas jas luar miliknya. Di belakangnya, Rania mengekor sambil melepas sepatu haknya dengan santai.

"Hari ini benar-benar melelahkan," gumam Rania pelan, mengusap lehernya yang terasa pegal. "Makan malam keluarga tadi rasanya seperti sidang pengadilan militer."

"Makanya, jangan banyak tingkah kalau—" ucapan Rangga terhenti seketika.

Langkah kaki kedua insan itu langsung membeku di tempat. Suara napas mereka seolah tercekat di tenggorokan begitu pandangan mereka menembus area ruang tamu terbuka.

Di atas sofa beludru abu-abu bergaya modern minimalis, duduk dua sosok paruh baya yang sangat mereka kenal. Chandra Pratama dan Evelyn Pratama—ayah dan ibu kandung Rangga—sedang duduk berdampingan dengan ekspresi wajah yang tampak serius, lelah, namun memancarkan ketegasan mutlak seorang pemimpin keluarga konglomerat. Di atas meja kopi di hadapan mereka, terletak dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

Mendengar suara pintu terbuka, Chandra dan Evelyn spontan menoleh ke arah pintu masuk.

Seketika itu juga, mata kedua orang tua paruh baya tersebut membelalak lebar. Mulut mereka sedikit terbuka karena syok luar biasa.

Di hadapan mereka saat ini, berdiri bukan sosok Resti—gadis anggun berdarah lembut yang dinikahkan dengan putra mereka kemarin lusa—melainkan Rania, gadis garang berbalut kemeja flanel dengan mata terbelalak kaget, yang berdiri berdampingan erat dengan Rangga.

"R-Rania?!" seru Evelyn histeris, spontan bangkit dari sofa dengan tangan menutup mulutnya. "Apa-apaan ini?! Kenapa kau yang ada di sini, nak?!"

Chandra Pratama ikut berdiri, wajah paruh baya pria itu memerah menahan kebingungan tingkat tinggi bercampur amarah yang tertahan. Ia menatap putranya, lalu beralih menatap Rania tajam. "Rangga! Jelaskan pada kami apa artinya semua ini! Mengapa menantu kami, Resti, tidak ada sedangkan kamu membawa adiknya Resti yaitu Rania penthousemu?!"

Awalnya mereka mau memberi kejutan, tapi malah mereka yang dibuat terkejut. Sedari tadi memang mereka tidak melihat Resti menantu mereka, mereka sekedar ingin menjenguk.

Di ambang pintu, Rangga dan Rania sama-sama membatu. Wajah kedua anak muda itu mendadak pucat pasi. Sifat garang dan wibawa CEO yang biasa melekat pada diri Rangga lenyap seketika, digantikan oleh ekspresi salah tingkah layaknya anak kecil yang tertangkap basah sedang mencuri toples permen milik orang tuanya.

Beberapa menit kemudian, ketegangan di ruang tamu itu semakin pekat. Chandra dan Evelyn duduk kembali di sofa utama, sementara Rangga dan Rania dipaksa duduk bersisian di sofa seberang, bagaikan pesakitan yang sedang menjalani sidang disiplin keluarga.

Suasana hening mencekam melingkupi ruangan. Tidak ada yang berani membuka suara duluan hingga akhirnya Evelyn menggebrak meja kecil secara perlahan, membuat cangkir teh berderik pelan.

"Kalian berdua! Jangan ada yang diam saja!" tuntut Evelyn dengan suara bergetar karena emosi. "Sebenarnya apa yang terjadi, sedari sore sampai malam kami belum melihat Resti. Tapi kenapa kamu membawa Rania? Adik iparmu sendiri?"

Di sebelah Evelyn, Rangga dan Rania reflek saling menyenggol lengan satu sama lain dengan gerakan cepat secara sembunyi-sembunyi di balik meja.

Senggolan pertama dari Rania.

'Hei, jelaskan ini! karna kau adalah suami, kepala keluarga!'

Senggolan balasan dari Rangga.

'Diamlah, ini salah keluargamu juga yang menipuku!'

Mereka saling menyenggol siku berulang kali dengan wajah panik, mirip seperti dua anak sekolah yang ketahuan menyontek saat ujian. Chandra yang melihat gelagat konyol di tengah situasi genting itu mengernyitkan alisnya semakin dalam. Merasa geli melihat tingkah mereka, dia jadi teringat masa lalu. Chandra menggelengkan kepala pelan.

Merasa tidak ada jalan keluar lagi dan tidak mungkin terus-terusan saling menyenggol, Rangga akhirnya berdehem keras untuk menjernihkan tenggorokannya. Pria itu menegakkan punggungnya, berusaha memasang kembali topeng ketenangannya meski keringat dingin sempat menetes di pelipisnya.

"Baiklah, Ayah, Ibu... tenanglah dulu," kata Rangga dengan nada hati-hati, memulai penjelasan panjang. "Semuanya terjadi di luar kendali kami. Hari H pernikahan kemarin, Kakak Resti tiba-tiba melarikan diri ke Paris karena ingin menjadi supermodel, meninggalkan surat dan rasa malu besar bagi kedua belah pihak keluarga."

Evelyn menutup wajahnya dengan kedua tangan, mendesah frustrasi. "Ya Tuhan... Resti anak itu..."

"Lalu," lanjut Rangga, matanya melirik sekilas ke arah Rania sebelum kembali ke orang tuanya, "orang tua kami di rumah memaksa Rania untuk mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya di altar demi menyelamatkan reputasi bisnis keluarga besar Pratama. Jadi... ya, seperti yang kalian lihat sekarang. Kami terjebak dalam sandiwara pernikahan ini."

Rangga menjelaskan seluruh kronologi kejadian dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah—mulai dari rasa kesalnya saat pertama kali membuka cadar di malam pertama, insiden roti panggang susu, hingga perdebatan sengit mereka di meja makan malam keluarga tadi. Namun, satu hal yang dengan sangat hati-hati tidak ia sebutkan sama sekali adalah bagaimana hubungan pribadi mereka yang mulai menghangat di belakang layar.

Chandra dan Evelyn mendengarkan penjelasan itu dengan saksama. Alis mereka naik turun menyerap setiap detail cerita yang terasa bagaikan drama sinetron papan atas.

Setelah Rangga menyelesaikan penjelasannya, keheningan kembali melanda sejenak. Chandra mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menghembuskan napas panjang.

"Luar biasa..." gumam Chandra pelan menggelengkan kepala. Ia menatap tajam ke arah Rangga dan Rania bergantian. "Lalu, setelah semua sandiwara penipuan ini terbongkar di hadapan kami... bagaimana kelanjutan hubungan kalian berdua sebenarnya?"

Pertanyaan telak dari sang ayah membuat Rangga terdiam kaku. Pria itu mendadak kehilangan kata-kata. Otaknya yang biasanya cerdas dalam merumuskan strategi korporasi kini buntu menghadapi pertanyaan personal mengenai status pernikahannya dengan Rania.

Di saat Rangga terdiam bingung, Rania justru menegakkan dagunya. Dengan sikap tenangnya yang biasa, ia menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat blak-blakan tanpa keraguan sedikit pun.

"Tenang saja, Paman Chandra, Bibi Evelyn," ucap Rania dengan nada suara yang sangat santai dan rasional. "Pernikahan ini kan sifatnya hanya darurat administratif untuk menyelamatkan nama baik keluarga. Jadi, jalurnya sederhana saja. Begitu Kak Resti kembali dari Paris nanti, aku akan langsung pergi dari sini dan mengajukan perceraian resmi."

Deg!

Sebuah sensasi aneh yang tidak nyaman tiba-tiba menghantam rongga dada Rangga begitu mendengar kalimat 'Aku akan langsung pergi' keluar dari bibir Rania.

Pria itu spontan menolehkan kepalanya, menatap tajam ke arah Rania dengan sorot mata yang sangat sulit diartikan. Ada kilatan rasa tidak suka, penolakan terselubung, dan rasa hampa yang mendadak mencuat di balik sorot mata dingin sang CEO muda. Mengapa kata Perceraian dan Pergi itu tiba-tiba terasa begitu mengganggu di telinganya? Padahal, bukankah itu adalah skenario awal yang paling ia inginkan sejak malam pertama?

Chandra dan Evelyn saling berpandangan sejenak mendengar jawaban jujur dari Rania. Mereka tahu betul betapa kacaunya situasi ini, namun sebagai orang tua berpengalaman, mereka juga melihat interaksi terselubung antara putra mereka dan menantu tak terduga ini.

Evelyn menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis penuh maklum. Ia meraih tangan Rania dan menggenggamnya lembut.

"Menantuku... Rania," ucap Evelyn dengan nada suara yang hangat dan keibuan. "Meskipun kami merasa tertipu besar oleh orang tuamu dan situasi ini, tapi nasi sudah menjadi bubur. Kalian sudah resmi menikah di hadapan hukum dan agama. Pernikahan bukanlah permainan yang bisa dibatalkan semudah membalikkan telapak tangan hanya karena urusan pelarian kakakmu."

Chandra mengangguk menyetujui perkataan istrinya. "Benar apa kata ibumu, Rangga. Masalah Resti adalah urusan lain. Tapi sekarang, Rania adalah menantu sah keluarga Pratama. Kami tidak mempermasalahkan latar belakang keluarganya atau toko rotinya. Bagaimanapun juga, apa yang sudah dipersatukan oleh takdir ini harus kalian jalani dengan kepala dingin."

Rania tertegun sesaat mendapati respons bijak dari mertuanya yang tidak menghakimi atau mengusirnya seketika. Ia hanya bisa mengangguk kecil, sementara Rangga masih terpaku menatap lurus ke depan, menyimpan sejuta pertanyaan rumit di dalam benaknya mengenai masa depan pernikahan kontrak yang kini semakin berjalan di luar kendali.

1
fanny tedjo pramono
mampir baca guys
Rian Moontero
lanjuutt,,👍🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!