"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Aula SMK Bina Karya Bogor tidak penuh oleh harapan.
Ia penuh oleh kursi plastik, kipas angin tua, dan wajah-wajah yang sudah terlalu sering mendengar janji perusahaan. Di spanduk depan tertulis Program Talenta Arunika. Di bawahnya, beberapa siswa berbisik.
"Paling nanti disuruh magang murah."
"Kalau pabrik, ujungnya angkat barang."
"Yang bagus tetap buat anak universitas."
Raka mendengar semuanya.
Bima berdiri di samping panggung dengan map proposal. Farhan duduk di baris belakang, adalah contoh hidup yang sengaja tidak ditampilkan dulu. Ia memakai kemeja sederhana dan membawa buku catatan, tampak seperti peserta biasa.
Raka naik ke panggung tanpa musik pembuka.
"Saya tidak akan bilang semua orang di ruangan ini bisa langsung jadi manajer," katanya.
Bisik-bisik berhenti.
Beberapa guru tampak tidak nyaman. Mereka mungkin berharap kalimat pembuka yang lebih hangat. Siswa di baris tengah justru menatap tajam, seperti menemukan bukti bahwa mereka memang akan diremehkan.
Raka menekan remote. Di layar muncul daftar posisi.
Riset hukum.
Akuntansi audit senior.
Desain sistem data.
Manajemen ekspor tertentu.
"Untuk beberapa posisi ini, perusahaan kami tetap lebih memilih lulusan universitas atau orang dengan sertifikasi tertentu. Itu fakta pasar kerja. Kalau saya menyembunyikannya, saya menjual mimpi palsu."
Seorang siswa laki-laki berdiri. "Jadi Bapak datang untuk bilang kami kalah?"
Suasana langsung panas.
Raka menatapnya. "Tidak. Saya datang untuk menunjukkan bagian mana yang tidak harus kalian menangkan dengan ijazah."
Slide berubah.
Operator gudang junior.
Quality checker.
Customer response.
Store operation.
Inventory planner.
Supervisor jalur.
Koordinator toko mitra.
Di samping setiap posisi ada rentang gaji, syarat kemampuan, sertifikat, dan contoh jalur naik. Bukan gambar orang tersenyum memegang helm. Bukan kata-kata keluarga besar. Angka, tugas, dan ujian.
"Di jalur ini," kata Raka, "hasil bisa mengalahkan prasangka. Tidak selalu. Tidak mudah. Tapi bisa diperiksa."
Seorang siswi di baris depan mengangkat tangan. "Kalau gaji kecil di awal, keluarga tetap bilang mending kerja apa saja yang langsung dapat uang."
"Maka kami tulis tunjangan pelatihan sejak awal. Tidak besar, tapi ada. Dan kalau lulus masuk kontrak kerja, gaji masuk ke rekening kalian sendiri."
Kalimat itu membuat seorang siswi di baris kanan menegakkan tubuh.
Namanya Sari Lestari. Raka belum tahu sebelum melihat daftar peserta, tetapi SAT di sudut pandangnya mulai berpendar samar. Bukan ledakan besar seperti Reza. Lebih seperti garis halus yang menolak padam.
Sari mengangkat tangan. "Kalau orang tua minta gaji dikirim ke rekening mereka, perusahaan ikut siapa?"
Aula mendadak sunyi.
Pertanyaan itu terlalu pribadi untuk dianggap teori. Beberapa siswa menoleh ke Sari. Ia tidak menunduk. Wajahnya pucat, tetapi dagunya naik.
Bima melihat Raka. Raka tidak menjawab cepat. Ia menyalakan panggilan video dari laptop. Wajah Nadia muncul di layar, sudah menunggu karena topik ini pernah dibahas.
"Kalau peserta sudah delapan belas tahun dan menandatangani kontrak sendiri," kata Nadia, "rekening gaji dan keputusan kontrak adalah milik peserta tersebut. Keluarga boleh memberi pendapat, tetapi tidak bisa menggantikan tanda tangan, mengambil gaji, atau memaksa perusahaan mengubah rekening."
Sari bertanya lagi, lebih pelan. "Kalau mereka datang ke kantor?"
"Perusahaan akan bicara sopan. Tapi tetap pada aturan. Kalau ada ancaman, ada prosedur keamanan dan hukum."
Kali ini bukan hanya Sari yang diam. Beberapa wajah lain berubah. Bagi mereka, ini bukan soal karier keren. Ini soal pertama kalinya sebuah perusahaan berkata bahwa nama di kontrak punya arti.
Raka melanjutkan.
"Program ini bukan jaminan pekerjaan. Ada pelatihan, ada tunjangan, ada sertifikat internal, ada kesempatan wawancara. Yang malas akan keluar. Yang tidak cocok boleh berhenti tanpa denda. Yang bagus akan kami tarik lebih cepat."
Seorang siswa menyindir, "Jadi kami tetap bisa gagal."
"Ya."
"Kok Bapak jujur sekali?"
"Karena kalau kalian masuk dengan janji palsu, kalian akan membenci kami tiga bulan lagi."
Tawa kecil muncul. Dingin aula sedikit mencair.
Bima kemudian menunjukkan jadwal. Dua hari kelas dasar, satu hari simulasi gudang, satu hari komunikasi pelanggan, satu hari observasi toko. Tidak ada kerja malam untuk peserta yang masih sekolah. Tidak ada mengoperasikan alat berat tanpa izin. Tidak ada menggantikan pekerja tetap dengan dalih belajar.
Guru pendamping mulai mencatat.
Di bagian belakang, Farhan menunduk di atas formulir. Kolom alasan ikut program tidak ia isi dengan kalimat manis. Ia menulis pendek: toko offline butuh stok dan operasi menyatu, bukan cuma jualan.
Raka melihat tulisan itu saat berjalan memeriksa meja pendaftaran. Tangannya berhenti sesaat di atas kertas Farhan.
SAT memunculkan matriks singkat.
Farhan Akbar.
Kombinasi langka: observasi alur, disiplin angka, empati pengguna.
Potensi: operasi distribusi.
Raka menutup panel dengan tatapan. Ia tidak memanggil Farhan ke depan. Tidak ada mahkota dadakan. Tidak ada sorotan yang membuat peserta lain merasa hanya jadi latar.
Ia hanya meletakkan kertas tugas pertama di meja belakang.
"Farhan, satu minggu. Cari langkah paling membuang waktu di gudang AKN. Bukan cari orang salah. Cari langkah salah."
Beberapa siswa menoleh.
"Pak, kenapa dia duluan?" protes seseorang.
Raka mengangkat formulir Farhan. "Karena dia menulis masalah yang bisa diuji. Kalian juga boleh."
Itu memicu sesuatu.
Setelah sesi selesai, meja pendaftaran diserbu. Tidak semua datang dengan mata berbinar. Ada yang masih curiga. Ada yang hanya ingin tunjangan. Ada yang ingin kabur dari rumah. Ada yang ingin membuktikan guru BK salah.
Raka menerima semuanya sebagai bahan awal, bukan hasil akhir.
Menjelang sore, Bima menghitung formulir.
"Seratus."
"Dari berapa peserta?"
"Seratus empat puluh dua."
Dimas, yang ikut merekam untuk arsip internal, bersiul. "Lumayan untuk acara yang dibuka dengan tamparan."
Sari menyerahkan formulir terakhir. Di kolom catatan, ia menulis jadwal malam sekolah kejar paket lanjutan dan permintaan agar jadwal pelatihan tidak menabrak kelasnya.
Bima membaca, lalu mengangguk. "Ini bisa diatur. Tapi kamu harus disiplin."
"Saya bisa," kata Sari cepat.
"Jangan jawab untuk menyenangkan saya. Jawab setelah baca jadwal."
Sari menatapnya, lalu membaca ulang. "Saya bisa."
Kali ini jawabannya tidak terdengar seperti anak yang ingin disukai orang dewasa. Ia terdengar seperti orang yang akhirnya menemukan syarat permainan, lalu memutuskan ikut dengan mata terbuka.
Di baris belakang, Farhan memasukkan tugas dari Raka ke dalam tas. Ia tidak tersenyum besar. Ia hanya menatap lembar itu lama-lama, seperti seseorang yang baru diberi pintu dan masih takut pintu itu hilang kalau terlalu cepat percaya.
Beberapa peserta yang tadi duduk di depan menoleh ke belakang. Untuk pertama kalinya sejak acara dimulai, baris belakang tidak terlihat seperti tempat orang menunggu selesai.
Raka turun dari panggung ketika aula mulai kosong.
Hari itu, ia tidak mendapatkan satu bintang besar yang menyilaukan ruangan.
Ia mendapatkan seratus pintu kecil.
Dan di baris paling belakang, satu pintu sudah mulai terbuka.