NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: ALDEN MENCARI KIRANA

Ruang dosen terasa lebih sepi dari biasanya ketika Alden memeriksa ponselnya berkali kali, menunggu pesan yang tidak kunjung datang dari grup kelompok gabungan yang biasanya aktif dengan update progress dari Kirana. Sudah lewat pukul sembilan malam, dan biasanya di jam segini dia sudah menerima setidaknya satu pesan singkat berisi laporan kemajuan persiapan presentasi besok.

Dia membuka grup chat, menggulir ke atas untuk melihat pesan terakhir. Percakapan terakhir tercatat sekitar pukul lima sore, ketika Bagas mengirim pesan tentang pembagian ulang tugas, tapi tidak ada satu pun kabar dari Kirana sejak saat itu.

"Aneh," gumamnya pelan, mengetik pesan pribadi ke nomor Kirana yang dia simpan sejak kejadian kopi beberapa minggu lalu.

"Kirana, gimana progress persiapan buat besok? Saya nggak liat update terbaru di grup."

Dia menunggu beberapa menit, tapi tidak ada balasan yang muncul. Rasa khawatir mulai menjalar, mengingat sikapnya yang terlalu keras minggu lalu, dia takut mungkin telah membuat Kirana semakin terbebani dengan tekanan yang tidak perlu.

Alden mencoba menghubungi Nadia, yang nomornya dia dapatkan dari daftar kontak kelompok untuk keperluan koordinasi. "Nadia, ini Pak Alden. Boleh tanya, Kirana baik baik aja? Saya nggak dapet kabar dari dia soal progress hari ini."

Balasan dari Nadia datang cukup cepat. "Pak, tadi siang Kirana sempet nangis di toilet karena kecapean sama tekanan deadline. Tapi udah agak mendingan setelah kami bagi ulang tugasnya. Mungkin sekarang dia lagi istirahat, Pak."

Kabar itu membuat dada Alden terasa berat, campuran antara rasa bersalah dan kekhawatiran yang mendalam. Dia langsung mengetik balasan cepat. "Terima kasih infonya, Nadia. Tolong sampaikan, kalau dia butuh perpanjangan waktu buat bagiannya, saya bisa kasih toleransi."

"Baik, Pak, nanti saya sampaikan," balas Nadia.

Alden meletakkan ponselnya, menatap layar kosong dengan pikiran yang berkecamuk. Rasa bersalah karena sikap kerasnya minggu lalu bercampur dengan kekhawatiran mendalam akan kondisi Kirana yang mungkin sudah terlalu terbebani, baik oleh proyek kelompok maupun oleh situasi rumit hubungan mereka yang belum juga jelas arahnya.

Dia mempertimbangkan untuk langsung menelepon, tapi mengurungkan niat itu, khawatir terlalu memaksa di saat Kirana mungkin memang butuh waktu untuk sendiri. Sebagai gantinya, dia mengirim satu pesan lagi, lebih personal dari yang biasa dia kirim.

"Kirana, saya denger dari Nadia kamu capek banget hari ini. Maaf kalau sikap saya minggu lalu jadi salah satu penyebabnya. Istirahat yang cukup ya. Besok kita hadapi bareng bareng."

Kirana sendiri sedang berbaring di kasurnya, ponselnya diletakkan jauh di meja belajar karena dia sengaja ingin menjauh dari segala notifikasi sejenak setelah hari yang begitu melelahkan. Tesa sudah pulang sekitar satu jam lalu, setelah menemaninya makan malam sederhana di kos dan memastikan dia benar benar baik baik saja sebelum pergi.

Dia menatap langit langit kamar, pikirannya masih dipenuhi berbagai kekhawatiran, tentang presentasi besok, tentang Sarah yang akan datang akhir minggu, tentang masa depan hubungannya dengan Alden yang masih menggantung tanpa kejelasan.

Setelah beberapa saat merenung, dia akhirnya bangkit, mengambil ponselnya yang sejak tadi diabaikan. Layar menampilkan beberapa notifikasi, termasuk pesan dari Alden yang membuat jantungnya berdebar begitu membacanya.

Dia membaca pesan itu berulang kali, merasakan kehangatan yang tidak terduga muncul di dadanya. Meski hari ini terasa begitu berat, perhatian kecil seperti ini entah kenapa berhasil meredakan sebagian besar bebannya.

Dia mengetik balasan dengan hati hati. "Terima kasih, Pak. Saya udah lebih baik sekarang. Progress presentasi juga udah hampir kelar setelah kami bagi ulang tugasnya."

Balasan dari Alden datang cukup cepat. "Syukurlah. Kalau boleh, besok pagi sebelum presentasi, saya mau ketemu kamu sebentar. Ada yang perlu saya omongin."

Pesan itu membuat Kirana sedikit gugup, tidak yakin apa yang ingin dibicarakan Alden, tapi dia membalas setuju. "Boleh, Pak. Jam berapa dan di mana?"

"Jam tujuh, di taman belakang gedung fakultas. Sebelum kelompok kalian mulai persiapan akhir," balas Alden.

"Siap, Pak. Sampai ketemu besok," Kirana mengetik balasan terakhir, lalu meletakkan ponselnya di samping bantal, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berdebar memikirkan pertemuan besok pagi.

Keesokan paginya, langit masih terlihat abu abu ketika Kirana berjalan menuju taman belakang gedung fakultas, tepat pukul tujuh seperti yang disepakati. Dia mendapati Alden sudah duduk di bangku yang biasa mereka gunakan, membawa dua gelas kopi yang mengepul di tangannya.

"Selamat pagi," sapa Alden begitu Kirana mendekat, menyerahkan salah satu gelas kopi ke tangannya.

"Selamat pagi, Pak," Kirana menerima kopi itu, duduk di sebelahnya dengan perasaan campur aduk antara gugup dan penasaran.

"Saya denger dari Nadia soal kejadian kemarin," Alden memulai, suaranya penuh kekhawatiran yang tulus. "Maaf, kalau sikap saya minggu lalu jadi salah satu alasan kamu sampai sestres itu."

"Bukan cuma karena Bapak kok," Kirana menjawab jujur, menyeruput kopinya sedikit.

"Emang lagi banyak tekanan aja, deadline yang dipercepat, sama... hal hal lain yang lagi berkecamuk di kepala saya."

"Hal lain yang kamu maksud, apa itu soal saya dan Sarah?" Alden bertanya langsung, tidak berbelit belit.

Kirana terdiam sejenak, mempertimbangkan seberapa jujur dia harus menjawab. "Iya, Pak. Jujur aja, saya khawatir banget mikirin apa yang bakal terjadi kalau Bapak beneran ketemu Sarah akhir minggu ini."

Alden menghela napas panjang, menatap kolam kecil di depan mereka. "Saya juga masih bingung, Kirana. Tapi saya pengen kamu tau, apapun yang terjadi nanti sama Sarah, itu nggak akan ngubah apa yang udah saya rasain ke kamu."

Pengakuan itu membuat dada Kirana terasa hangat, meski masih ada kekhawatiran yang tersisa. "Bapak yakin soal itu?"

"Saya yakin," Alden menjawab tegas, menatap Kirana dengan sungguh sungguh.

"Sarah itu masa lalu saya, yang mungkin perlu saya selesaikan biar bisa move on sepenuhnya. Tapi kamu, Kirana, kamu itu... sesuatu yang beda. Sesuatu yang bikin saya berani berharap lagi, setelah sekian lama saya coba lindungi diri saya sendiri dari perasaan kayak gini."

Kirana menatapnya lama, matanya mulai terasa panas menahan haru mendengar kejujuran yang begitu dalam itu. "Makasih, Pak. Buat ngomong itu langsung ke saya."

"Saya juga mau minta maaf, karena bikin kamu ekstra tertekan minggu lalu," lanjut Alden, suaranya penuh penyesalan. "Ke depannya, saya akan coba lebih terbuka soal apa yang saya rasain, daripada malah melampiaskannya lewat sikap yang nggak adil ke kalian semua."

"Saya hargai itu, Pak," Kirana tersenyum kecil, merasa sedikit lega mendengar komitmen itu. "Dan soal presentasi hari ini, saya janji kelompok kami udah siap kok, meski sempet drama kemarin."

"Saya percaya kalian bisa," Alden membalas senyum itu, meski senyumnya tetap terkontrol seperti biasa dia jaga di lingkungan kampus. "Semangat buat presentasinya nanti."

Mereka duduk beberapa saat lagi, menikmati kopi masing masing dalam diam yang terasa nyaman, jauh dari kecanggungan yang biasa menyelimuti pertemuan pertemuan mereka sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, Kirana merasakan ketenangan yang nyata, meski dia tahu tantangan besar masih menunggu di depan, baik dari presentasi hari ini maupun dari kedatangan Sarah yang semakin dekat.

"Pak," Kirana akhirnya bicara lagi sebelum mereka harus berpisah untuk bersiap ke sesi masing masing, "terima kasih udah nyariin saya semalam, dan udah mastiin saya baik baik aja."

Alden tersenyum tulus, matanya penuh dengan kehangatan yang jarang dia tunjukkan secara terbuka. "Itu hal yang wajar saya lakuin, buat orang yang berarti buat saya."

Kalimat itu membuat pipi Kirana memanas, meski dia berusaha menjaga senyumnya tetap terkendali di tempat umum seperti ini. "Kalau gitu saya duluan ya, Pak, harus siapin bahan presentasi lagi."

"Semangat, Kirana," Alden mengangguk, melihat kepergiannya dengan tatapan yang penuh harapan dan sedikit kecemasan tentang apa yang akan terjadi di hari hari mendatang, terutama menyangkut kedatangan Sarah yang masih menjadi bayang bayang tidak pasti di antara mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!