NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Jiwa yang Bangkit dan Pelayan Sang Dalang

​Di atas dahan pohon ek yang rimbun di hutan Desa Syrup, Muzan Kibutsi menatap layar holografik berwarna ungu gelap di hadapannya. Jari telunjuknya mengambang di udara, tepat di atas tombol virtual bertuliskan [Beli] untuk Batu Kebangkitan Jiwa (Minor) seharga dua puluh lima juta Belly.

​Itu adalah seluruh kekayaan yang baru saja ia peroleh dari hasil merampok pangkalan Buggy. Membelinya berarti ia akan kembali jatuh miskin—secara relatif—dengan sisa saldo hanya sekitar tiga ratus enam puluh sembilan ribu Belly. Di dunia yang digerakkan oleh uang dan kekuasaan ini, mengosongkan perbendaharaan adalah sebuah pertaruhan yang menakutkan.

​Namun, Muzan adalah seorang rasionalis sejati. Uang yang menganggur di dalam brankas adalah uang mati. Uang yang diinvestasikan untuk menciptakan aset tak ternilai adalah kunci menuju dominasi.

​"Sistem," perintah Muzan, suaranya tenang tanpa keraguan sedikit pun. "Beli Batu Kebangkitan Jiwa (Minor)."

​«"Memproses transaksi..."»

«"Saldo sebesar 25.000.000 Belly telah ditarik."»

«"Pembelian berhasil. Item telah dikirim ke dalam Inventory Host."»

​Muzan membuka tangannya. Cahaya putih keperakan berpendar di telapak tangannya yang kurus, memadat dari partikel digital menjadi sebuah batu kristal seukuran kepalan tangan bayi. Batu itu memancarkan aura kehangatan yang aneh, seolah-olah ada detak jantung yang berdenyut pelan di dalam intinya.

​"Keluarkan Roy Mustang."

​Pilar cahaya ungu bermanifestasi di dahan pohon yang tebal itu. Roy Mustang, sang Alkemis Api, berdiri mematung dalam balutan seragam militer biru dan mantel hitamnya. Wajahnya yang tampan terlihat sedingin pualam. Mata gelapnya kosong, tak memiliki percikan kehidupan, seperti layaknya sebuah manekin pajangan kualitas tinggi.

​Muzan menatap boneka mematikan itu. Selama ini, ia harus melakukan micro-management—mengendalikan setiap langkah, setiap jentikan jari, dan setiap kata yang keluar dari mulut bonekanya. Jika ia ingin membangun sebuah faksi yang bergerak di siang bolong, ia tidak mungkin berada di balik tubuh aslinya setiap saat, meniru puluhan kepribadian yang berbeda. Ia membutuhkan seorang komandan lapangan. Seorang pionir yang bisa bertindak sendiri, berpikir mandiri, dan berinteraksi dengan dunia, sementara Muzan duduk tenang menarik benang-benang utama.

​Roy Mustang, dengan karismanya sebagai seorang pemimpin, kecerdasannya dalam taktik militer, dan kemampuannya untuk memanipulasi orang lain, adalah kandidat yang paling sempurna untuk menjadi wajah publik dari organisasi bayangan Muzan.

​"Sistem, bagaimana cara menggunakan batu ini?"

​«"Host hanya perlu menempelkan Batu Kebangkitan Jiwa ke dada boneka target dan memberikan perintah penyatuan. Peringatan: Batu ini (Minor) hanya membangkitkan kepribadian, memori taktis, dan otonomi berpikir dari karakter asli. Boneka TIDAK akan mengingat masa lalunya di dunianya secara emosional yang mengikat, melainkan mengingatnya sebagai 'pengetahuan dasar'. Kesetiaan dan pengabdian mutlak mereka akan dialihkan 100% kepada Host sebagai entitas tertinggi (Sang Pencipta)."»

​Muzan mengangguk puas. Ia tidak membutuhkan drama masa lalu. Ia membutuhkan utilitas murni dengan bungkus manusiawi.

​Muzan berdiri perlahan, melangkah mendekati Mustang. Ia menempelkan batu kristal bercahaya perak itu tepat di tengah dada Mustang, di atas seragam militernya.

​"Bangkitlah."

​Batu kristal itu meleleh layaknya air raksa yang bercahaya, merembes menembus seragam dan kulit Mustang, menyatu langsung dengan inti energi boneka tersebut.

​Sesaat, tidak ada yang terjadi. Angin malam berhembus, menggerakkan mantel hitam Mustang.

​Lalu, sebuah tarikan napas yang sangat dalam dan panjang terdengar. Dada Mustang terangkat.

​Mata gelap yang tadinya hampa dan mati itu tiba-tiba berkedut. Pupilnya mengecil, menyesuaikan diri dengan minimnya cahaya bulan di hutan. Sebuah percikan kehidupan—sebuah kecerdasan buatan kosmik tingkat tinggi yang merangkum seluruh esensi Roy Mustang—kini menyala terang di dalam mata itu.

​Mustang menolehkan kepalanya perlahan, meregangkan otot-otot lehernya hingga terdengar bunyi kretak pelan. Ia mengangkat tangan kanannya yang berbalut sarung tangan pyrotex, memandangi jari-jarinya, sebelum akhirnya menatap lurus ke arah Muzan Kibutsi yang berdiri tenang di hadapannya dengan jubah hitam berkerudung.

​Di mata orang biasa, Muzan hanyalah seorang anak kecil berusia empat belas tahun yang kurus kering. Namun di mata Mustang yang baru saja bangkit, anak kecil ini memancarkan aura otoritas yang jauh lebih absolut daripada Fuhrer King Bradley atau entitas manapun yang pernah ia kenal dalam memori dasarnya. Ini adalah ikatan pencipta dan ciptaan. Sebuah rantai loyalitas yang terukir langsung di tingkat DNA spiritualnya.

​Mustang menyunggingkan senyum tipis—senyuman khas seorang kolonel yang arogan namun sangat memikat. Ia menundukkan kepalanya sedikit, meletakkan tangan kanannya di dada kiri dalam posisi hormat militer yang sempurna.

​"Kolonel Roy Mustang, telah terbangun dan melapor untuk bertugas," suara Mustang terdengar berat, jernih, dan tidak lagi membutuhkan modulasi dari Muzan. Suaranya dipenuhi oleh rasa hormat yang mutlak. "Apa yang Anda kehendaki dari saya, Tuanku?"

​Muzan menatap hasil kerjanya dengan kepuasan yang mendalam. Ia tidak perlu lagi memikirkan apa yang harus dikatakan boneka itu; Mustang bisa merespons sendiri.

​"Bagaimana perasaanmu, Mustang? Apakah kau menyadari situasimu?" tanya Muzan, menguji batas kesadaran boneka tersebut.

​"Sangat jelas, Tuanku," jawab Mustang santai, menurunkan tangannya. Matanya memindai pepohonan di sekelilingnya dengan tajam. "Saya adalah pedang sekaligus perisai Anda. Ingatan tentang alkimia dan taktik perang ada di kepala saya, namun semua itu hanyalah alat untuk mewujudkan ambisi Anda. Anda tidak perlu lagi membuang energi Anda yang berharga untuk mengendalikan tubuh ini. Berikan saya tujuan, dan saya akan membakarnya hingga rata dengan tanah untuk Anda."

​Muzan tersenyum di balik kerudungnya. 25 Juta Belly yang ia keluarkan terasa sangat murah untuk kebebasan kognitif yang baru saja ia dapatkan ini.

​"Bagus," Muzan melipat tangannya di dada. Ia mengarahkan pandangannya ke arah pantai selatan melalui pepohonan. "Kita berada di lautan yang disebut East Blue. Di pantai sana, ada sekelompok bajak laut kelas teri yang sedang membuat keributan. Kapten mereka, Kuro, baru saja kulumpuhkan dan kusimpan."

​Muzan menunjuk ke arah pantai. "Mulai malam ini, kau akan menjadi wajah dari faksiku. Kau bukan lagi bagian dari militer negara manapun, Mustang. Kau adalah seorang kontraktor independen. Wajah dari kekuatan baru di lautan ini. Turunlah ke pantai itu, amankan sisa-sisa Bajak Laut Kuroneko, dan klaim buronan mereka."

​Mustang menyeringai lebar. "Sebuah debut panggung? Sangat sesuai dengan gaya saya. Apakah ada batasan mengenai kerusakan kolateral, Tuanku?"

​"Jangan hancurkan desanya, dan jangan bunuh kelompok yang menggunakan topi jerami. Mereka adalah variabel takdir yang masih kubutuhkan hidup-hidup untuk sementara waktu," perintah Muzan. "Selain itu, kejutkan dunia."

​"Sesuai keinginan Anda."

​Mustang menunduk hormat sekali lagi. Ia berbalik, mantel hitamnya berkibar dengan elegan. Dengan langkah yang tegap dan percaya diri, Mustang melompat turun dari dahan pohon, mendarat di atas dedaunan kering tanpa suara, lalu mulai berjalan menyusuri hutan menuju sumber keributan di pantai selatan.

​Muzan duduk kembali di dahan pohon. Melalui koneksi pasif sistem, ia bisa melihat apa yang dilihat Mustang, mendengar apa yang didengar Mustang, tanpa perlu mengorbankan kapasitas otaknya untuk memikirkan pergerakannya. Ini adalah kebebasan yang sesungguhnya.

​Kini, perhatian Muzan kembali beralih ke Byakugan Neji yang masih mengawasi lautan lepas. Kapal restoran raksasa Baratie itu telah membuang sauh di perairan dangkal dekat pantai selatan Desa Syrup.

​"Mari kita tonton pertunjukan ini," gumam sang dalang.

​Di lereng pantai selatan, situasi telah menjadi sangat kacau.

​Jango si Hipnotis mondar-mandir dengan wajah panik, sesekali melihat arloji sakunya dan menatap ke arah hutan yang gelap. Kacamata berbentuk hatinya sedikit melorot.

​"Kenapa Kapten Kuro belum juga muncul?!" teriak Jango frustrasi. "Rencananya adalah dia akan datang dan memberikan sinyal untuk menyerang mansion! Ini sudah lewat satu jam dari jadwal! Sham! Buchi! Apa kalian yakin Kapten tidak meninggalkan pesan lain?!"

​Di depannya, Sham (pria kurus yang membungkuk layaknya kucing) dan Buchi (pria gemuk dalam kostum kucing) sedang sibuk menghindari sabetan tiga pedang dari Roronoa Zoro.

​"Kami tidak tahu, Jango!" teriak Sham sambil memuntahkan darah kecil dari sudut bibirnya akibat tendangan Zoro. "Pria berambut hijau ini adalah monster! Kami tidak bisa melewati pertahanannya!"

​Di sisi lain, Luffy sedang tertidur pulas dengan gelembung ingus raksasa di hidungnya, korban dari pendulum hipnotis Jango yang meleset sasarannya dan malah menghipnotis sang kapten karet. Usopp sedang berusaha sekuat tenaga menembakkan ketapelnya ke arah kru bajak laut Kuroneko yang mencoba maju, sementara Nami bersembunyi di balik batu besar, menghitung probabilitas untuk menyusup ke kapal mereka dan mencuri hartanya.

​"Bangun, Luffy, dasar bodoh!" teriak Zoro sambil menangkis serangan cakar Buchi. "Kita tidak punya waktu bermain-main! Bajak laut ini jumlahnya puluhan!"

​Namun, keributan mereka mendadak terhenti ketika sebuah bayangan raksasa menutupi cahaya rembulan yang menyinari pantai.

​Semua orang—Zoro, Jango, anak buah Kuroneko, dan Nami—serempak menoleh ke arah laut lepas.

​Di sana, berjarak kurang dari seratus meter dari bibir pantai, sebuah kapal tiga tingkat dengan kepala ikan yang sangat besar sedang berlabuh. Kapal itu diterangi oleh lentera-lentera hangat, memancarkan aroma kaldu mentega, bawang putih, dan daging panggang yang membuat perut siapapun berbunyi seketika.

​"K-Kapal apa itu?!" Usopp menjatuhkan ketapelnya. "Apakah itu armada musuh?!"

​"T-Tidak..." Nami mengerjapkan matanya tak percaya. "Itu... itu Baratie! Restoran mengapung terbaik di East Blue! Tapi kenapa mereka ada di desa terpencil seperti ini?"

​Jango menggertakkan giginya. "Sialan! Ada kapal sipil yang berlabuh! Jika mereka melihat invasi kita, Angkatan Laut akan segera diberitahu! Hei, kalian!" Jango menunjuk sekelompok anak buahnya. "Naik ke perahu kecil, datangi kapal restoran itu, dan habisi semua koki di dalamnya! Jangan tinggalkan saksi mata!"

​"Baik, Wakil Kapten!" teriak sepuluh bajak laut bersenjata parang, segera berlari menuju perahu dayung mereka dan mengayuhnya dengan cepat ke arah Baratie.

​Zoro mendecakkan lidahnya. Ia tidak bisa meninggalkan posisinya menahan Sham dan Buchi untuk menyelamatkan kapal sipil itu. "Cih. Semoga orang-orang di kapal itu tahu cara bertarung."

​Sepuluh bajak laut Kuroneko itu dengan cepat mencapai tangga kayu yang diturunkan di sisi lambung Baratie. Sambil berteriak haus darah, mereka memanjat naik ke dek utama restoran tersebut.

​"Mati kalian, para koki lema—!"

​DUAAAKKK!

​Teriakan bajak laut pertama terputus secara brutal. Sebuah sepatu kulit berwarna hitam yang mengkilap menghantam wajahnya dengan kecepatan dan kekuatan yang mengerikan. Hidung pria itu hancur seketika, dan tubuhnya terpelanting ke belakang, menabrak tiga temannya hingga mereka semua jatuh terpental kembali ke laut lepas dengan suara ceburan yang keras.

​Sisa bajak laut yang berhasil naik ke geladak membeku.

​Di depan pintu utama restoran yang terbuka, berdiri seorang pemuda kurus berjas hitam rapi, kemeja biru, dan dasi. Rambut pirangnya menutupi separuh wajah kirinya, sementara alis kanannya melingkar aneh. Sebatang rokok terselip di bibirnya yang menyunggingkan senyum dingin.

​Sanji menghembuskan asap rokoknya pelan. Kaki kanannya yang baru saja digunakan untuk menendang kembali diturunkan ke lantai kayu geladak dengan elegan.

​"Oi, oi," ucap Sanji dengan nada berat dan penuh ancaman. "Kalian mengotori lantai dek depanku dengan sepatu kotor kalian. Dan yang lebih parah... kalian berteriak-teriak di depan restoranku saat aku sedang mencoba menyeduh teh untuk para tamu wanita yang cantik."

​"S-Siapa kau?!" teriak salah satu bajak laut, mengayunkan parangnya dengan gemetar.

​"Aku?" Sanji menghisap rokoknya lagi. "Hanya seorang Koki Kepala (Sous Chef) yang kehabisan stok sayuran segar karena badai dua hari lalu, sehingga orang tua sialan itu menyuruh kami merapat ke pulau antah-berantah ini. Kalian bajak laut? Kebetulan sekali, aku sedang butuh tempat pelampiasan kekesalan."

​Dalam hitungan kurang dari sepuluh detik, sisa enam bajak laut bersenjata itu dibantai tanpa ampun. Sanji hanya menggunakan kakinya. Tendangan beruntun yang cepat bagaikan badai menghancurkan rahang, mematahkan tulang rusuk, dan menendang mereka semua keluar dari kapal seolah membuang kantong sampah.

​Di pantai, Jango dan sisa anak buahnya ternganga ngeri. Zoro yang melihat itu menyeringai kecil. "Koki yang lumayan."

​Tiba-tiba, Luffy yang sedang tertidur bereaksi terhadap aroma makanan yang terbawa angin dari arah kapal Baratie. Gelembung ingusnya pecah. Matanya terbuka seketika.

​"DAAAAGIIIINNNGGGG!!!" teriak Luffy, terbangun sepenuhnya dari hipnotis, matanya melotot menatap kapal ikan raksasa tersebut.

​Kekacauan di pantai berada di puncaknya. Luffy telah bangun, Zoro menekan Nyaban Brothers, dan Sanji sang koki iblis sedang melompat turun dari kapalnya menuju pantai, berniat memberikan pelajaran pada sisa bajak laut yang berani mengganggu Baratie.

​Jango berkeringat dingin. Rencana pembunuhan rahasianya telah berubah menjadi medan perang sirkus. Ia mengangkat pendulum hipnotisnya tinggi-tinggi.

​"SEMUANYA, DENGARKAN AKU! KETIKA AKU MENGATAKAN 'SATU, DUA, JANGO', KALIAN SEMUA AKAN MENJADI MONSTER YANG TIDAK MERASAKAN SAKIT! KITA AKAN MEMBANTAI MEREKA SEMU—"

​"Maaf mengganggu pidato motivasi rendahanmu."

​Sebuah suara bariton yang berat, tenang, namun mengalirkan otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah, tiba-tiba memotong teriakan Jango.

​Suara itu tidak keras, namun entah bagaimana, ia mengalahkan suara deburan ombak dan mematikan pergerakan semua orang di lereng pantai.

​Zoro, Luffy, Sanji, Usopp, Nami, dan seluruh kru Kuroneko menoleh ke arah pinggir hutan gelap yang berbatasan dengan pasir pantai.

​Dari balik bayang-bayang pohon pinus yang rimbun, berjalanlah seorang pria dewasa dalam balutan seragam militer biru yang rapi dan elegan, dengan mantel hitam yang tersampir di bahunya. Setiap langkah kakinya di atas pasir terdengar mantap. Mata gelapnya menatap seluruh orang di pantai dengan pandangan yang mencerminkan superioritas mutlak.

​Roy Mustang telah tiba.

​Zoro seketika melebarkan matanya. Ingatannya tentang neraka api di atap bar Orange Town kembali menghantam benaknya. Jantung pendekar pedang itu berdetak lebih cepat. Dia lagi?! Orang berseragam militer itu... Kenapa dia terus muncul di mana-mana?!

​Sanji, yang baru saja mendarat di pasir pantai, mengerutkan keningnya, menilai pendatang baru tersebut. Pakaiannya terlalu rapi untuk seorang bajak laut, tapi dia tidak mengenakan lambang Angkatan Laut.

​Jango, yang merasa otoritasnya diinjak-injak, mengarahkan pendulumnya ke arah Mustang.

​"Siapa kau, keparat?! Kau bagian dari Angkatan Laut?! Matamu telah melihat terlalu banyak! Tidurlah... SATU, DUA, JANG—"

​Mustang bahkan tidak menghentikan langkahnya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang dibalut sarung tangan pyrotex, mengarahkan ibu jari dan jari tengahnya ke depan. Muzan, melalui perintah sistem pasif, telah memberikan kalkulasi kepadatan oksigen yang dibutuhkan kepada Mustang. Kolonel itu kini bisa mengeksekusi serangannya secara mandiri dengan presisi yang sama mengerikannya.

​Mustang menatap Jango dengan ekspresi bosan.

​"Terlalu berisik."

​SNAP!

​Sebuah jentikan jari yang melengking.

​Percikan api kecil muncul di udara. Dalam seperseribu detik, seberkas garis api yang sangat tipis dan terfokus melesat membelah udara dengan kecepatan luar biasa. Api itu tidak meledak di wajah Jango. Sebaliknya, ia melesat tepat memotong tali pendulum yang dipegang Jango.

​Trang.

​Cakram hipnotis Jango jatuh ke pasir, talinya hangus terbakar menjadi abu.

​Jango terdiam kaku. Mulutnya terbuka. Ia menatap benang yang hangus di tangannya, lalu menatap Mustang dengan mata melotot. Jika garis api itu diarahkan dua inci lebih tinggi, lehernya yang akan terpotong dan terbakar habis.

​Seluruh kru Kuroneko mundur selangkah karena ketakutan.

​"S-Sihir?!" teriak Buchi, kucing gemuk itu gemetar hebat.

​Mustang berhenti berjalan, tepat di tengah-tengah lereng pantai, menjadi poros dari perhatian semua orang. Ia menyapukan pandangannya. Kepada Jango, kepada Nyaban Brothers, lalu kepada Zoro dan Luffy, dan akhirnya berhenti sejenak pada Sanji.

​"Sihir adalah kata yang digunakan oleh orang-orang bodoh untuk menjelaskan hal yang tidak mereka pahami," ucap Mustang tenang, menyilangkan lengannya di dada. Ia berbicara dengan karisma seorang pemimpin yang terbiasa memberi komando pada ribuan pasukan. "Namaku adalah Kolonel Roy Mustang."

​Ia menatap Jango dan anak buah Kuroneko dengan tatapan merendahkan.

​"Kalian adalah Bajak Laut Kuroneko. Aku mengenali lambang bodoh di kapal kalian. Kebetulan sekali, aku sedang mencari dana tambahan untuk organisasiku."

​Mustang menyeringai dingin, sebuah senyuman yang membuat darah Jango membeku.

​"Nilai buronan Jango si Hipnotis adalah 9 Juta Belly. Nyaban Brothers bernilai sekitar 7 Juta Belly. Total enam belas juta Belly ada di pantai ini." Mustang membungkuk sedikit, sebuah ejekan teatrikal. "Aku datang untuk mengklaim kepala kalian."

​"B-Buronan?! Kau pemburu bayaran?!" Jango berteriak panik. "Jangan bercanda! Kami ini Bajak Laut Kuroneko! Kapten kami, Kuro—"

​"Jika yang kau maksud adalah Klahadore, atau Kapten Kuro yang menggunakan pisau konyol di jarinya," potong Mustang datar. "Dia sudah tertidur lelap dalam tawananku beberapa menit yang lalu di dalam hutan sana. Rencana besarnya telah kubakar."

​Kata-kata Mustang meledak bagaikan bom atom di telinga kru Kuroneko. Kapten Kuro, sang jenius tak terkalahkan yang kecepatan membunuhnya tak tertandingi, telah ditangkap?! Oleh pria berseragam militer ini sendirian?!

​"T-Tidak mungkin..." Sham menjatuhkan cakar besinya. Semangat bertarung mereka seketika hancur berkeping-keping.

​Zoro memandang Mustang dengan tajam. Orang ini... Dia mengalahkan Buggy dalam satu kedipan mata, dan sekarang dia mengalahkan Kuro sendirian di hutan sebelum kami bahkan menyadarinya? Sebenarnya dia bekerja untuk siapa?

​Mustang mengangkat tangan kanannya lagi.

​"Menyerahlah," perintah Mustang, suaranya kini dipenuhi gema ancaman yang mematikan. Udara di sekitar tangannya mulai beriak karena perubahan tekanan oksigen yang ia padatkan. "Lempar senjata kalian ke pasir, ikat diri kalian sendiri. Jika ada satu saja dari kalian yang mencoba lari atau melawan..."

​Mata Mustang berkilat di bawah cahaya bulan.

​"...Aku akan membakar seluruh pasir di pantai ini menjadi kaca, bersama dengan daging kalian."

​Teror absolut menyelimuti para bajak laut itu. Diingatkan pada ancaman api yang baru saja mereka saksikan dan hilangnya kapten mereka, sisa keberanian mereka menguap. Puluhan bajak laut Kuroneko serempak melempar parang, senapan, dan pedang mereka ke pasir, lalu berlutut sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi. Bahkan Jango dan Nyaban Brothers tidak berani bergerak satu inci pun.

​Hanya dengan satu jentikan peringatan dan untaian kata-kata, seorang Roy Mustang telah menaklukkan satu kru bajak laut tanpa pertumpahan darah berlebih.

​Di atas dahan pohon di dalam hutan, Muzan Kibutsi yang melihat semuanya melalui koneksi sistemnya tersenyum sangat lebar. Ini adalah nilai sesungguhnya dari Batu Kebangkitan Jiwa. Charisma. Intimidasi. Kepemimpinan. Mustang melakukan tugasnya jauh lebih baik daripada jika aku yang harus memikirkan setiap dialognya.

​Di pantai, Sanji menyalakan sebatang rokok baru, menatap Mustang dengan pandangan menilai. "Oi, Kolonel. Mengamankan sampah-sampah ini memang bagus, tapi kau membuat makan malam pelangganku terganggu dengan keributan ini."

​Mustang menoleh ke arah Sanji, sebuah senyum sopan namun menantang terukir di wajahnya. "Dan kau mengganggu udara malamku dengan asap rokokmu, Koki. Kurasa kita berdua memiliki keluhan masing-masing."

​Luffy tertawa lebar, sama sekali tidak merasa terancam. "Gyahahaha! Paman Api ini keren sekali! Hei, Paman Api! Karena kau sudah mengalahkan mereka, berarti pestanya sudah selesai, kan? Aku lapar!"

​Zoro memukul belakang kepala Luffy. "Ini bukan waktunya bercanda, Kapten Bodoh. Pria itu berbahaya."

​Mustang hendak merespons, namun tiba-tiba, sebuah getaran aneh menjalari telapak kakinya. Bukan hanya Mustang, Zoro, Sanji, dan bahkan Luffy merasakan hal yang sama.

​Pasir pantai di bawah kaki mereka bergetar.

​Ombak laut yang tadinya tenang mendadak bergolak keras, seolah-olah ditarik oleh gravitasi raksasa. Air laut menyurut secara tidak wajar, meninggalkan kapal Baratie sedikit miring di perairan dangkal.

​Angin malam berhenti berhembus. Keheningan yang menekan dada menyelimuti pantai selatan.

​Di atas pohon, penglihatan Byakugan Muzan langsung mendeteksi anomali tersebut sebelum orang-orang di pantai menyadarinya. Mata Muzan membelalak lebar dari balik kerudungnya.

​Ada sesuatu yang sangat masif mendekat... Sesuatu yang ukurannya melampaui logika kapal normal di lautan terlemah ini.

​Di pantai, Sanji membelalakkan matanya, rokoknya nyaris jatuh dari bibirnya. Ia menunjuk ke arah lautan gelap di belakang Baratie.

​"A-Apa-apaan itu...?" bisik Nami, jatuh terduduk di atas pasir. Usopp mulai menangis ketakutan.

​Sebuah bayangan raksasa membelah kabut malam. Bayangan itu begitu besar hingga membuat kapal restoran Baratie—yang sudah berukuran raksasa untuk ukuran kapal East Blue—terlihat seperti mainan anak-anak yang mengapung di sebelahnya.

​Itu adalah sebuah galleon raksasa bertingkat-tingkat. Lambung kapalnya dilapisi oleh pelat baja tebal. Di bagian depannya, terdapat patung haluan berbentuk kepala macan tutul hitam yang menakutkan, dengan dua bilah meriam raksasa menyembul dari mulutnya.

​Namun, yang paling mengerikan dari kapal raksasa itu bukanlah ukurannya.

​Kapal itu hancur berantakan. Layar-layar raksasanya robek membentuk lubang-lubang besar bagaikan bekas tebasan pedang raksasa. Lambung bajanya memiliki retakan menganga yang membelah separuh badannya, seolah-olah sesuatu yang memiliki kekuatan setara dewa baru saja mencoba membelah kapal itu menjadi dua dengan satu ayunan.

​Kapal itu adalah Dreadnaught Sabre. Kapal bendera (Flagship) dari armada terbesar di East Blue.

​Armada Bajak Laut Don Krieg.

​Suara kayu berderit dan rantai besi yang bergemerincing terdengar dari kapal rusak tersebut saat ia perlahan berlabuh paksa, menabrak karang di perairan dalam Desa Syrup.

​Zoro mencabut Wado Ichimonji-nya. Matanya berkilat menatap luka tebasan di lambung kapal raksasa itu. Insting pendekar pedangnya menjerit.

​"Luka di kapal itu..." desis Zoro, keringat membasahi lehernya. "Itu bukan bekas hantaman karang atau meriam. Itu adalah luka sayatan... dari sebuah pedang."

​Di atas dahan pohon, Muzan Kibutsi menarik napas dalam-dalam. Teka-teki ini akhirnya tersusun di kepalanya.

​Don Krieg baru saja kembali dari Grand Line, membawa kapalnya yang hancur karena ditebas oleh Mihawk. Di timeline asli, Krieg menyerang Baratie di tengah lautan karena kelaparan. Tapi karena Baratie merapat ke Desa Syrup lebih awal, kapal hancur Krieg yang terseret arus dan kelaparan ini mengikuti jejak mereka ke pulau ini.

​Papan catur Desa Syrup yang tadinya hanya berisi Kuro, kini telah kedatangan Don Krieg—Laksamana Armada East Blue dengan buronan 17 Juta Belly—beserta ribuan anak buahnya yang kelaparan dan putus asa.

​Muzan tersenyum menyeringai di dalam kegelapan, mengelus dagunya yang tirus.

​"Don Krieg... 17 Juta Belly merapat tepat di depan halamanku," bisik sang Dalang. "Kapasitas empat slot boneka. Satu boneka terbangkitkan. Dan seorang kapten arogan berbaju zirah emas yang siap untuk dipecahkan. Malam ini, East Blue akan melihat kebangkitan faksiku yang sesungguhnya."

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!