Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Gudang Tanpa Jendela
Kevin tidak bisa mengalihkan pandangan dari kaki kiri Keira.
Di bawah rok abu-abu yang sudah pudar, betis itu tidak jatuh lurus. Lututnya tampak miring, sementara bagian di bawahnya membentuk sudut yang tidak mungkin berasal dari sekadar keseleo.
"Mau ke mana malam-malam?"
Keira menarik tali tas kain lebih tinggi ke bahu. "Bukan urusan Ko Kevin."
Ia berjalan melewati Kevin. Satu langkah yang berat, lalu bunyi gesekan sol sepatu di batu halaman.
Krek.
Bunyi yang sama seperti saat ia keluar dari lapas.
Kevin mengejarnya dan meraih tas, bukan tubuhnya. "Kamu baru pulang. Setidaknya tunggu sampai pagi."
"Untuk apa? Supaya ada gaun lain yang bisa dituduhkan kepadaku?"
"Aku akan memeriksa CCTV."
"Setelah pesta selesai, setelah Vanessa menangis, setelah Papa memutuskan aku bersalah." Keira melepaskan tali tas dari genggamannya. "Terlambat."
Kevin menelan bantahan. Ia memang melihat benang putih di tangan Vanessa. Ia juga melihat kamera di langit-langit dan memilih diam ketika Edmond melarang rekamannya diputar.
"Malam ini tidak aman," katanya akhirnya. "Kamu mau pergi ke mana dengan lima ratus ribu?"
Keira menutup telapak di atas saku seragam. "Ke tempat yang tidak menganggapku pencuri hanya karena aku miskin."
"Jakarta bukan tempat yang bisa kamu masuki tanpa rencana."
"Aku bertahan lima tahun di lapas tanpa satu pun dari kalian. Aku bisa bertahan satu malam di Jakarta."
Kalimat itu menghantam lebih telak daripada angka nol kunjungan.
Kevin berdiri di depan gerbang. "Tunjukkan kamarmu."
"Kenapa?"
"Kamu bilang tinggal di gudang. Aku ingin melihatnya."
"Kalau ternyata benar, apa yang berubah?"
Kevin tidak bisa menjawab.
Keira berbalik. Bukan karena setuju, melainkan karena kakinya sudah bergetar dan jalan menuju gerbang terasa makin jauh. Ia kembali menyusuri lorong belakang. Kevin mengikuti tanpa bicara.
Mereka melewati dapur besar, ruang cuci, lalu pintu sempit di ujung koridor servis. Keira membuka kuncinya sendiri.
Bau debu dan udara pengap langsung menyambut mereka.
Kevin berhenti di ambang pintu.
Ruangan itu lebih kecil daripada kamar mandi di kamarnya. Tidak ada jendela. Satu lampu kuning menggantung dari kabel, cahayanya lemah dan berkedip. Di sisi kiri berdiri ranjang lipat dengan kasur tipis. Di sisi kanan ada meja kayu tua, permukaannya dipenuhi bekas air dan goresan.
Jaring laba-laba menempel di sudut langit-langit.
"Ini bukan kamar," kata Kevin.
"Aku tahu."
Di lantai dekat ranjang terletak semua barang Keira. Satu seragam SMA cadangan yang warnanya sudah memudar, sebuah kaus polos dengan label pasar bertuliskan Rp 50.000, beberapa buku pelajaran, dan kotak logam terkunci di bawah meja.
Tidak ada lemari. Tidak ada pendingin udara. Tidak ada foto keluarga.
Kevin teringat kamar Vanessa di lantai dua. Ranjang berkanopi yang didatangkan dari Italia. Meja rias penuh kosmetik. Dinding foto yang diganti setiap ulang tahun. Lemari pakaian sepanjang satu sisi kamar, dipenuhi tas dan gaun yang sebagian bahkan belum pernah dipakai.
Kamar itu baru direnovasi dua bulan lalu karena Vanessa bosan dengan warna dinding.
Ruangan Keira bahkan tidak memiliki lubang untuk melihat siang berganti malam.
"Siapa yang menempatkanmu di sini?" tanya Kevin.
Keira meletakkan tas di atas ranjang. "Mama."
"Mama bilang kamu memilih kamar belakang karena ingin tenang belajar."
"Aku tidak diberi pilihan."
"Kenapa tidak datang kepadaku?"
Keira menatapnya. "Aku datang."
Ingatan lain bergerak di kepala Kevin, terlalu kabur untuk ia pegang. Seseorang pernah berdiri di pintu ruang kerjanya saat ia sedang rapat. Seorang gadis kurus membawa bantal dan bertanya apakah ada kamar kosong. Kevin bahkan tidak melepas headset.
Ia menyuruh gadis itu jangan mencari perhatian.
Tenggorokannya terasa kering.
"Kei, aku..."
"Ko Kevin sudah melihatnya." Keira duduk di ranjang lipat. Besinya mengerang menahan berat tubuh yang bahkan terlalu ringan. "Sekarang keluar. Aku mau istirahat sebelum pergi."
Kevin tidak bergerak.
Keira membungkuk untuk melepas sepatu. Jemarinya sulit mencapai tali karena kaki kirinya tidak bisa ditekuk normal. Setelah percobaan kedua, ia menarik sepatu itu perlahan.
Kain kaus kaki tersangkut di tulang yang menonjol.
Napas Keira tersendat.
Ia menggigit bibir dan menarik lagi. Ketika kaus kaki terlepas, bentuk kaki itu terlihat sepenuhnya di bawah cahaya lampu kuning.
Lututnya menebal. Betis kiri lebih kecil daripada kanan karena otot yang lama tidak digunakan. Di bawah lutut, tulangnya membengkok ke samping pada sudut yang membuat Kevin merasa dingin sampai ke ujung jari.
"Astaga..."
Kevin berjongkok tanpa sadar. "Apa yang terjadi?"
Keira segera menarik ujung rok untuk menutupinya. "Tidak ada."
"Ini bukan tidak ada."
Ia mengulurkan tangan, hanya ingin memastikan apa yang dilihatnya nyata.
Ujung jarinya belum sempat menyentuh kulit ketika Keira tersentak mundur.
Punggungnya menghantam dinding. Kedua tangannya melindungi kepala. Matanya melebar, napasnya pendek-pendek, seakan tangan Kevin bukan tangan kakaknya, melainkan tongkat yang akan jatuh kapan saja.
Kevin membeku.
"Jangan," bisik Keira.
Satu kata itu terdengar lebih kecil daripada semua jawabannya hari ini.
Kevin segera menarik tangan. "Aku tidak akan menyakitimu."
Keira masih menatapnya tanpa percaya.
"Siapa yang melakukan ini?" tanyanya.
"Sudah selesai."
"Di lapas?"
Keira memalingkan wajah.
Diamnya adalah jawaban, tetapi Kevin belum sanggup menerimanya. Selama lima tahun, ia membayangkan Keira tinggal dalam sel, makan, tidur, lalu dibebaskan ketika hukumannya selesai. Ia tidak pernah memikirkan apa yang terjadi saat pintu sel tertutup.
Ia bahkan tidak tahu nama blok tempat adiknya ditahan.
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Tidak."
"Kakimu harus diperiksa."
"Lima tahun tidak membuat Ko Kevin terburu-buru. Kenapa sekarang lima menit terasa penting?"
Kevin kehilangan kata-kata lagi.
Keira mencoba berdiri, mungkin hendak mengambil tasnya. Begitu telapak kiri menyentuh lantai, lututnya goyah. Tubuhnya jatuh ke depan.
Kali ini Kevin menangkapnya.
Keira langsung meronta. "Lepaskan!"
"Kamu tidak bisa berdiri."
"Aku bisa."
"Berhenti memaksa."
Kevin mengangkat tubuhnya. Ringan. Terlalu ringan untuk perempuan dewasa. Ia bisa merasakan setiap tulang di punggung Keira melalui kain seragam.
Keira memukul bahunya sekali, tetapi tenaganya habis. Napasnya makin lambat. Kepalanya jatuh ke sisi lengan Kevin, bukan karena percaya, melainkan karena tubuhnya tidak lagi sanggup melawan.
Kevin membawanya keluar dari gudang.
Di lantai dua, ia melewati kamar Vanessa. Pintu kamar itu terbuka sedikit. Cahaya lembut jatuh pada karpet tebal dan tumpukan kotak hadiah yang belum dibuka.
Kevin menunduk menatap seragam kasar di lengannya.
Kontras itu membuat langkahnya terhenti.
Lalu ia meneruskan ke kamarnya sendiri.
Ia meletakkan Keira di atas kasur dengan hati-hati. Keira sempat membuka mata ketika punggungnya menyentuh seprai.
"Tas..."
"Ada di gudang. Tidak akan ada yang menyentuhnya."
"Uang Tante Mira."
Kevin mengambil amplop dari saku seragam dan meletakkannya di meja samping ranjang, tepat dalam jangkauan tangan Keira. Baru setelah melihatnya, jari-jari Keira mengendur.
Kevin menuangkan air dari botol baru. Ketika ia hendak membantu Keira duduk, mata adiknya kembali terbuka penuh kewaspadaan.
"Aku hanya membawa air," katanya cepat.
Ia meletakkan gelas di meja dan mundur. Keira mencoba meraihnya sendiri. Tangannya gemetar, membuat air tumpah ke seprai.
Kevin menahan dasar gelas tanpa menyentuh jemarinya. Kali ini Keira membiarkannya. Ia hanya minum dua teguk, lalu memalingkan wajah.
"Kapan terakhir kakimu diperiksa dokter?"
"Tidak ingat."
"Mereka tidak merawatmu setelah cedera?"
"Petugas klinik memberi obat nyeri. Setelah tiga bulan, aku bisa berdiri lagi. Bagi mereka itu cukup."
"Tiga bulan?"
Keira menutup mata. "Jangan bertanya kalau Ko Kevin hanya ingin merasa lebih baik."
Kevin mencengkeram tepi meja. "Aku ingin tahu apa yang terjadi."
"Aku juga ingin tahu kenapa tidak ada satu orang pun datang ketika namaku dipanggil pada jadwal kunjungan." Suaranya melemah, tetapi setiap kata tetap mengenai sasaran. "Kita sama-sama punya keinginan yang tidak terpenuhi."
"Aku akan memperbaikinya."
"Kaki ini sudah menyatu. Lima tahun juga sudah lewat. Bagian mana yang mau Ko Kevin perbaiki?"
Kevin menatap bentuk tidak rata di bawah selimut. Ia ingin menjanjikan dokter terbaik, operasi terbaik, kamar terbaik. Semua tawaran itu terdengar murah di depan lima tahun yang tidak bisa dibeli kembali.
"Tidurlah," katanya pelan. "Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin."
Keira tidak menjawab. Namun bahunya yang kaku turun sedikit.
Beberapa menit kemudian, napasnya menjadi teratur.
Kevin duduk di tepi ranjang. Di bawah cahaya lampu kamar, garis-garis luka lama terlihat samar di pergelangan Keira. Ia menutupnya dengan selimut, lalu menarik tangannya kembali sebelum menyentuh kulit.
Jam di dinding menunjukkan lewat pukul dua pagi.
Hari ini, Kevin mengetahui adiknya tidak pernah menerima uang saku, tidak pernah punya mobil sekolah, makan dari sisa dapur, tidur di gudang, diterima di UI, dan kembali dari lapas dengan kaki yang hancur.
Semua itu terjadi di dalam keluarga yang selama ini ia bela.
Ia menatap wajah Keira yang tertidur. Bahkan dalam tidur, keningnya sesekali berkerut ketika kakinya bergerak sedikit.
Mungkin selama ini Keira bukan sumber masalah.
Mungkin merekalah masalahnya.
Kevin mengambil ponsel dan berjalan ke balkon agar suaranya tidak membangunkan Keira. Nomor itu dijawab pada dering ketiga.
"Kev? Ini jam dua pagi."
"Dokter Ryan, besok pagi datang ke rumahku." Kevin menatap pintu kamar yang tertutup. Suaranya serak ketika melanjutkan, "Ada seseorang... yang harus kau periksa."