NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

028

Kafetaria utama kampus siang itu bergemuruh oleh riuhnya ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas. Bau aroma kopi segar, hidangan makan siang, dan hiruk-pikuk obrolan bercampur menjadi satu di bawah langit-langit kaca yang tinggi.

Namun, di meja lingkar eksklusif yang berada di sudut terbaik kafetaria—area yang tak tertulis namun dipahami semua orang sebagai milik kelompok elit kampus—atmosfer terasa sangat kontras.

Draco Valerio-Desmon duduk bersandar dengan santai. Sejak kaki mereka melangkah masuk ke kafetaria sepuluh menit lalu, ia sama sekali tidak menyentuh makanan atau minumannya. Manik mata cokelat gelapnya fokus sepenuhnya pada layar ponsel pintarnya.

Di sebelahnya, Diego dan Costa—sedang asyik dan heboh membahas rencana pesta megah di penthouse eksklusif minggu depan.

Sementara itu, Bianca duduk tepat di samping Draco dengan gaya anggun yang dipaksakan. Meskipun luarannya tampak seperti biasa, gejolak di dalam dada Bianca benar-benar berada di ambang ledakan.

Kegeraman yang membakar sejak tadi membuat jemarinya gatal, ingin sekali rasanya ia meraih dan membanting ponsel di tangan Draco ke lantai marmer hingga hancur berkeping-keping.

Sebab, Bianca tahu betul: tatapan fokus dan senyum tipis yang sesekali terukir di bibir Draco saat menatap layar itu bukan dikarenakan urusan bisnis atau obrolan kuliah.

Pria itu pasti sedang bertukar pesan dengan pelacurnya.

***

Dimana?

Jemari panjang Draco bergerak lincah menekan layar. Klik.

Pesan singkat itu terkirim.

Di seberang sana, di meja kafetaria yang berjarak beberapa puluh meter dan terhalang oleh deretan pilar serta kerumunan mahasiswa lain, Lynzzie sedang duduk bersama Monica. Ponsel di samping piring makannya bergetar halus. Lynzzie melirik layar, mendesah pelan, lalu mengetik balasan dengan enggan.

Aku sedang di kantin kampus.

Hanya dalam hitungan detik, balasan dari Draco langsung muncul di layarnya.

Kemarilah.

Lynzzie menatap layar ponselnya dengan alis bertaut kaku. Rasa jengkel dan ingatan akan rasa malu karena pakaian dalamnya yang tertinggal di tangan pria itu membuat jemarinya mengetik balasan dengan ketus.

Aku sudah beli underwear yang baru.

Membaca balasan cepat dari Lynzzie, sudut bibir Draco terangkat. Sebuah senyuman miring yang penuh dengan keangkuhan terukir di wajah tampannya. Pria Desmon itu membalas pesan tersebut tanpa keraguan sedikit pun.

Datanglah! Aku merindukanmu.

Di mejanya, Lynzzie nyaris tersedak saat membaca pesan balasan tersebut. Matanya membelalak menatap kata 'merindukanmu' yang terasa begitu absurd dan manipulatif meluncur dari seorang iblis berwujud pangeran.

Kau gila? Kita baru saja bertemu tadi pagi dan kau sudah rindu? balas Lynzzie cepat.

..."Hahaha!"...

Tiba-tiba, gelak tawa yang cukup keras dan dalam meledak dari bibir Draco. Tawa renyah namun dingin itu seketika memotong perdebatan Diego dan Costa mengenai daftar tamu pesta minggu depan.

Diego menghentikan celotehnya dan menoleh heran. Bianca pun ikut berpaling cepat, menatap wajah Draco dengan alis berkerut kencang dan mata yang menyipit curiga.

"Kenapa, Draco?" tanya Diego bingung. "Ada yang lucu dari rencana pesta kita?"

"Tidak apa-apa," jawab Draco santai, mematikan tawa kecilnya dalam sekejap. Wajahnya kembali datar dan dingin seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya. "Bukan apa-apa."

Tanpa memedulikan tatapan curiga Bianca yang makin tajam dan penuh rasa curiga, Draco kembali menundukkan pandangannya ke layar ponsel. Raut wajahnya berubah sedikit lebih kaku. Ia tidak suka jika permainannya dibantah atau ditunda.

Jemari Draco mengetik ancaman yang sudah sangat dihafal oleh Lynzzie luar kepala.

Kemari atau rahasiamu aku bongkar?

Di sudut kafetaria lain, Lynzzie menatap pesan ancaman itu dengan napas yang memburu.

Rasa muak yang sudah menumpuk selama tiga ratus enam puluh lima hari penuh akhirnya mendobrak benteng kesabarannya. Ia sudah lelah berlari, lelah takut, dan lelah menjadi mainan seksual dari pria kaya yang arogan ini.

Dengan jemari yang gemetar karena amarah yang memuncak, Lynzzie mengetik balasan yang penuh penekanan:

Yah, katakan saja pada semua orang soal rahasiaku. Aku muak!! Dan katakan juga bagaimana anak pelacur sepertiku memuaskanmu tanpa bayaran selama satu tahun penuh!

Mata Draco menyipit tajam begitu membaca pesan balasan tersebut. Iris cokelat gelapnya berkilat penuh kegelapan. Nada penolakan dan keberanian Lynzzie untuk melawan tidak bisa diterima oleh egonya. Draco tidak suka kehilangan kendali atas asetnya.

Tanpa membuang waktu, Draco membalas pesan itu dengan satu kalimat telak yang menjatuhkan skakmat:

Mau nonton bersama video kita tadi pagi?

Setelah menekan tombol kirim, Draco bersandar tenang. Pesan itu hanya berstatus terkirim, lalu berubah menjadi tanda dibaca, namun tak kunjung ada balasan ketikan.

Deg.

Di mejanya, Lynzzie mendadak membeku. Sendok di tangannya terlepas, berdenting halus di atas piring. Wajahnya yang semula memerah karena amarah seketika pucat pasi. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga terasa perih.

Sialan! Dia merekamnya lagi?! batin Lynzzie berteriak histeris dalam keheningan jiwanya. Bagaimana mungkin aku tidak sadar? Kamera itu dia taruh di mana?!

Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya saat ia teringat pergumulan gila mereka di rooftop tadi pagi. Bayangan jika video syur itu sampai tersebar bukan hanya akan menghancurkan beasiswa dan nama baiknya, tapi juga akan menghancurkan seluruh sisa hidupnya secara total.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan bibir yang masih digigit rapat, Lynzzie akhirnya menyerah pada cengkeraman sang pangeran Desmon. Ia mengetik balasan singkat dengan sisa-sisa keberaniannya:

Kau benar-benar pria mesum.

Pesan singkat berisi umpatan pasrah itu terpampang jelas di layar ponsel Draco.

Melihat balasan tersebut, sudut bibir sang pangeran Desmon terangkat tinggi, membentuk ukiran garis ketenangan yang penuh akan kemenangan mutlak. Ia tahu betul, tidak akan ada satu kelinci pun yang sanggup melompat keluar dari jaring perangkap yang telah ia pasang dengan begitu rapi.

Draco menggeser ponselnya masuk ke dalam saku kemeja hitamnya, lalu mengetik balasan terakhir secara kilat sebelum menyimpan benda canggih itu sepenuhnya.

Aku tidak suka menunggu lama, Lynzzie.

Di sudut kafetaria seberang, Lynzzie menatap layar ponselnya yang meredup dengan helaan napas berat yang sarat akan rasa putus asa.

Perutnya yang semula lapar kini mendadak mual. Makanan berharga yang tersaji di atas piringnya seolah kehilangan rasa sepenuhnya, berganti menjadi gumpalan kecemasan yang menyumbat tenggorokannya.

Pria itu benar-benar menyebalkan. Draco bukan sekadar arogan, melainkan sesosok manipulatif ulung yang sangat menikmati setiap detik proses meremukkan pertahanan dirinya.

"Lyn? Kau kenapa? Kenapa wajahmu mendadak pucat begitu?" tanya Monica dengan alis berkerut, menghentikan kunyahan rotinya saat melihat sahabatnya tiba-tiba membeku di tempat.

Lynzzie mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha memaksakan sebuah senyuman tipis agar Monica tidak menaruh curiga.

Dengan gerakan cepat dan sedikit terburu-buru, ia menyendok sisa makanannya secara asal, menjejalkannya ke dalam mulut hanya agar piringnya terlihat bersih, lalu menyedot jusnya hingga tandas. Ia harus segera menyelesaikan makan siangnya detik ini juga jika tidak ingin ancaman gila Draco menjadi kenyataan.

"Tidak... tidak apa-apa, Monic," ujar Lynzzie dengan suara yang sedikit tertahan sembari mengunyah terburu-buru. Ia menyapu bibirnya menggunakan tisu kertas, lalu mengemas buku-buku hukumnya yang berserakan di atas meja.

"Aku baru ingat ada dokumen beasiswa yang harus kuserahkan ke bagian administrasi kafetaria utama sebelum jam dua. Aku duluan, ya?"

"Eh? Tapi bukankah administrasi gedung hukum ada di—"

Belum sempat Monica menyelesaikan kalimatnya, Lynzzie sudah lebih dulu berdiri dari kursinya, menyampirkan tas sandangnya, dan melangkah tergesa-gesa menyusuri lorong antar meja kafetaria.

Monica hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib sahabatnya yang belakangan ini makin sering bertindak impulsif.

Lynzzie berjalan menembus kerumunan mahasiswa dengan dada yang bergemuruh kencang. Setiap langkah kaki yang ia jejakkan di atas lantai marmer kafetaria terasa begitu berat, seolah-olah ia sedang melangkah menuju panggung eksekusinya sendiri. Ia menyusuri area kafetaria utama, melewati deretan stan makanan elit, hingga matanya menangkap pemandangan yang sangat ia benci sekaligus ia takuti dari kejauhan.

Di sudut terbaik ruangan tersebut, di balik pilar-pilar marmer yang megah, duduklah kelompok paling berkuasa di kampus ini.

Dan di tengah-tengah mereka, Draco Valerio-Desmon tampak duduk menyandarkan punggungnya secara anggun.

Pria itu tengah menyesap cangkir kopinya dengan gerakan yang luar biasa tenang, seolah-olah ia tidak baru saja mengancam kehidupan seorang wanita beberapa menit yang lalu.

Begitu presensi Lynzzie mendekati area meja lingkar eksklusif tersebut, iris cokelat gelap milik Draco langsung bergulir.

Manik mata yang dingin itu terkunci lurus pada sosok Lynzzie yang kini berdiri terpaku beberapa meter di hadapannya dengan wajah tegang dan napas yang sedikit memburu.

Sebuah kedipan mata yang sangat tipis dan isyarat dagu yang terangkat samar diberikan oleh Draco—sebuah perintah tanpa suara yang menyuruh Lynzzie untuk mendekat dan menyerahkan dirinya ke dalam lingkaran permainan sang pangeran.

Dengan langkah lambat dan napas yang tertahan di dada, Lynzzie memaksakan dirinya terus berjalan menuju meja eksklusif tersebut.

Rasa panas yang membakar menjalar hingga ke telinganya saat ia merasakan sepasang mata cokelat gelap milik Draco mengunci pergerakannya tanpa kedip.

Namun, alih-alih duduk tepat di samping pria iblis itu, Lynzzie memilih untuk menarik sebuah kursi kosong di meja kecil yang hanya berjarak dua meter di depan mereka—posisi yang cukup dekat untuk tetap berada dalam jangkauan pandangan Draco, namun cukup terpisah untuk menjaga ilusi publik.

Lynzzie merogoh tasnya dengan gerakan panik yang diusahakan tampak tenang. Ia mengeluarkan sebuah buku tebal hukum pidana dan sebuah pulpen. Ia membukanya secara asal di atas meja, menundukkan kepala, dan berpura-pura fokus membaca deretan pasal-pasal yang sama sekali tidak bisa dicerna oleh otaknya saat ini.

Sebab, memang seperti itulah bentuk kegilaan Draco jika pria itu sudah melontarkan kata 'rindu'.

Draco tidak pernah benar-benar membutuhkan percakapan romantis, apalagi kemesraan di depan publik.

Bagi sang pangeran Desmon, kata 'rindu' hanyalah kode untuk sebuah dominasi mutlak: ia hanya ingin Lynzzie berada di dalam jangkauan pandangannya, duduk patuh di sana, berpura-pura belajar, dan menjadi objek yang bisa ia tatap sesuka hati sambil mendengarkan ocehan tidak berguna dari anak-anak orang kaya di sekelilingnya.

Dari balik tundukan kepalanya, Lynzzie bisa merasakan tatapan Draco yang menghujam kencang ke arahnya.

Draco menyandarkan punggungnya secara anggun, meletakkan cangkir kopi mewahnya, dan terus mengunci pandangannya pada sosok Lynzzie yang pura-pura sibuk mencoret-coret kertas.

Di sekeliling Draco, Diego dan Costa masih terus berceloteh heboh mengenai merek champagne mahal dan deretan model yang akan diundang ke pesta mereka minggu depan.

Sementara Bianca, yang duduk tepat di sisi Draco, terus berusaha memamerkan senyum mewahnya sembari melingkarkan tangan di lengan tegap sang kekasih.

Namun, Draco sama sekali tidak mendengarkan satu kata pun dari ocehan mereka.

Pria itu sepenuhnya mengabaikan Bianca yang berada di pelukannya, hanya fokus menikmati pemandangan di depannya: Lynzzie, gadis mahasiswi beasiswa yang tampak gelisah, duduk manis berpura-pura belajar dalam cengkeraman kekuasaannya.

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!