ini cerita sedih tentang seorang istri yang tak di cintai suami nya, karena dia hanyalah istri yang di pilih keluarga nya bukan hatinya.
setelah perceraian terjadi, pria itu baru menyadari betapa pentingnya gadis itu untuknya.
perjuangannya untuk mendapatkan cintanya kembali akankah berhasil? menikahinya untuk kedua kalinya. atau malah cintanya tak terbalas karena si gadis mencintai pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Sebulan sudah Reva menjalankan hidupnya dengan penuh kepalsuan, selalu tersenyum di depan siapapun. bahkan semua teman kerjanya pun tak ada yang mengetahui betapa beratnya hidup sebagai Reva. harus terus berpura-pura baik didepan dan menangis pilu meratapi nasibnya saat seorang diri.
Arnold selaku bos juga paman Adam, sangatlah tak tega melihat Reva yang sekarang. setiap hari Arnold sengaja mengajaknya berbincang untuk menarik semua keputusan nya memperbolehkan Adam menikah lagi, tapi semua sia-sia saja. bagai menyimpan minyak kedalam air, semua ucapan Arnold tak pernah di gubrisnya.
Tinggal beberapa hari lagi menjelang pernikahan Adam dan Jessy. membuat Venty mati-matian membujuk Adam untuk menggagalkan rencananya, tapi sama saja. Adam dan Reva adalah dua kepala yang memiliki satu pemikiran, susah untuk di ajak bicara. keduanya lebih memilih bungkam seolah semua baik-baik saja.
"aku tak tahu harus bagaimana, Arnold." Venty mengeluh untuk kesekian kalinya hari ini. dia menatap wajah Reva yang kini tengah sibuk menyiapkan berbagai macam jenis kue untuk jamuan di pesta pernikahan Adam nanti.
Jessy yang meminta Reva mengurus semua nya, dan dengan tanpa berpikir panjang Reva melakukan semuanya membuat Venty sangat kesal dibuatnya.
"sudahlah kak, lebih baik kita menjadi penonton saja. mau bicara sebanyak apapun Reva tak akan bergeming. biarkan saja semuanya berjalan dengan seiring nya waktu." Arnold mencoba menenangkan Venty sebisanya.
Dia tahu apa yang telah Reva lakukan bukanlah hal yang salah. Arnold yakin di balik semua ini pasti akan ada sesuatu yang lebih menyakitkan lagi, tapi bukan untuk Reva.
Semua seperti Dejavu baginya, kejadian ini mengingatkannya pada 3 tahun ke belakang. dimana dia menikahi seorang gadis yang tak di cintai nya. tuhan sangat baik, pasti telah menyusun skenario yang indah didepan untuk Reva, sehingga sekarang dia harus mengalami hal pahit terlebih dulu.
Adam pulang dengan beberapa bungkus makanan di tangannya. dia sengaja membeli nya karena tahu hari ini ada Venty juga Arnold dirumah, Reva yang memberi tahukan nya se jam sebelum Adam pulang.
"ibu, ini aku belikan kepiting asam manis." Adam menyimpan bungkusan itu di atas meja di depan Venty duduk.
"paman, kau masih suka takoyaki kan? aku membelikan ini untuk mu."
Seperti biasa Arnold dan Venty tak peduli. Kedua orang itu enggan membuka mulutnya. Adam mendesah pelan, dia tahu keduanya tengah marah padanya. dan akan sulit untuk mendapatkan maaf sepertinya.
Reva yang melihat itu segera mengambil semua bungkusan yang Adam bawa.
"ibu dan paman, belum makan dari tadi siang. ayolah.. jangan begitu. aku yang menyuruh mas Adam membelinya."
Venty dan Arnold melihat Reva bersamaan. senyum itu begitu menyakitkan, meskipun terlihat manis tapi tersirat banyak luka di sana.
"baik lah, karena Reva yang minta." ujar Venty membuat Arnold ikut beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang makan.
Reva melihat Adam lalu mengisyarakatkan dengan tangan untuk membuat Adam pun ikut dengan mereka. dengan ragu Adam melangkah kan kakinya.
"mas, ibu hanya kesal sedikit. jangan di pikirin ya." bisik Reva.
Dengan cepat Adam memalingkan wajah nya saat melihat senyum Reva. dia menjadi merasa sangat bersalah dengannya, apa dia sudah keterlaluan dengan keputusan nya ini.
Tapi semua sudah terlanjur, surat undangan pun sudah di sebar dari bulan yang lalu. Adam tak mungkin membatalkan niatnya lagipula dia sudah janji pada Jessy untuk menikahinya. kenapa di saat Adam akan menikahi Jessy perasaan aneh itu muncul.
"jangan cemberut ibu. ini enak loh." Reva mengambil nasi untuk Venty lalu dia lakukan juga untuk Arnold dan Adam.
Semua terlihat diam tak ada yang bersuara, hanya Reva yang dari tadi bicara bahkan tak sedikit pun menunjukkan wajah marah atau sedih nya pada mereka. hatinya terlalu pandai menyimpan semuanya, seperti artis papan atas yang tengah berakting di salah satu drama Korea yang sering dia lihat.
Usai makan malam, Venty dan Arnold pamit pulang. Adam pun menghampiri Reva yang baru kembali mengantar venty dari di luar.
"Reva, apa kau tak marah atau membenci ku?" tanya Adam.
Reva menggigit bibirnya, dia bukanlah tak marah atau membenci Adam. dia hanya ingin menebus kesalahannya karena telah membuat Adam menikah secara paksa dengannya dulu.
Reva menarik napas panjang, lalu tersenyum.
"aku marah? untuk apa?" ujarnya membuat Adam melihat nya dengan berbagai rasa yang bercampur.
"mas, seharusnya ini memang terjadi bukan? karena aku yang dulu begitu egois membuat mas menunda semua rencana yang sudah mas susun bersama Jessy." lanjutnya.
"tapi aku rasa ini salah. bagaimana jika orang tua mu tahu semuanya?"
Reva menatap Adam. lidahnya begitu kelu untuk bicara.
"aku juga minta maaf karena malam itu menuduh mu seenaknya keluyuran di luar."
"maksud mas?"
Adam meraih tangan Reva, membuat tubuh Reva meremang. ini sentuhan pertama Adam pada nya setelah lama menjadi istrinya.
"kau ke rumah ibu untuk memohon agar menerima Jessy."
Reva menelan ludahnya, ternyata Adam sudah tahu. pantas saja sikapnya begitu baik, mungkin karena rasa terimakasih nya yang telah membantu nya meminta persetujuan venty.
"oh.. itu. mas jangan sungkan. aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan." Reva menarik tangannya lalu pergi ke kamar nya.
Adam melihat tangannya yang tadi menggenggam tangan Reva, rasanya hangat. dia berbalik melihat Reva yang berjalan menaiki tangga. di lihatnya dengan jelas Reva menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan tangan satunya meremas dada. Adam tahu betul tindakan seperti itu untuk apa, gadis itu telah terluka dan itu semua karena nya.
Dengan cepat Adam keluar, masuk kedalam mobil dan memacunya dengan cepat. dia ingin menenangkan pikirannya sekarang, mungkin sebotol atau dua botol anggur akan membuat nya tenang.
Sebuah club malam yang biasa menjadi tempat nya nongkrong menjadi pilihan utamanya. sebelumnya dia sudah menghubungi Calvin untuk menemuinya di sana.
Suara bising yang begitu kentara masuk menusuk gendang telinganya, lampu disko yang berputar dan liak liuk tubuh menjadi hal yang biasa baginya. dia sudah sangat terlarut dengan riuhnya suara di club malam. 4 botol minuman kosong kini telah menghiasi meja dan itu belum cukup baginya. masih saja meminta beberapa botol lagi.
"sudah Adam. kau bisa mabuk" cegah Calvin.
"hanya 4 botol itu masih kurang. lihat aku baik-baik saja."
Calvin mengakui nya Adam masih baik sekarang, tapi jika terus dibiarkan maka akan bahaya bagi tubuhnya. anggur bukanlah minuman yang baik bagi kesehatan, sedari tadi Calvin hanya diam tak berani minum.
"kenapa begini? kau pusing karena apa? seharusnya kau senang bukan, karena akan segera menikahi gadis pujaan hati mu itu." semua kalimat yang Calvin lontarkan seolah mengejeknya. Adam terkekeh.
"kau benar. tapi aku bingung karena hati ini juga.." Adam menepuk dadanya, wajahnya memerah dan matanya sedikit tertutup.
Ok, Adam mulai mabuk dan Calvin tak suka itu. dengan cepat Calvin menyambar botol dari tangan Adam.
"cukup. kita pulang."
"tidak Calvin. ini belum cukup.."
"sudah Adam. jika tidak ku pukul wajah mu.. berhenti minum dan ikut aku pulang."
Adam menarik tangan Calvin lalu menempelkan nya di pipinya.
"ya, pukul saja.. aku memang pantas di pukul.." suara khas orang mabuk. Adam sudah kehilangan kesadaran nya sehingga meracau tak jelas.
Calvin dengan susah payah memapah tubuh Adam keluar dan memasukkan nya ke dalam mobil.
"sungguh sial. kau pria terbodoh yang ku kenal." rutuk Calvin.
"kau menggali kuburan mu sendiri, pria tengik."
Dengan terpaksa Calvin membawa Adam pulang ke rumahnya karena dia tak mau Reva melihat ke adaan Adam yang seperti ini. bisa membuat nya khawatir.
***mohon like dan komennya... itu akan membantu author terus semangat untuk berkarya...
terimakasih***....