Kim Jane Soo gadis liar yang hendak dijual Paman tirinya berhasil kabur meski dengan luka di tubuhnya.
Ia berlari dan tidak sengaja melihat sebuah mobil milik CEO dari perusahaan TIG Entertaiment yang sangat berpengaruh di Asia, bernama Ji Ahn Yoo.
CEO dingin itu menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena pertama berjumpa CEO itu jatuh cinta melihat Kim Jane Soo, ia menahan wanita ini dengan segala macam cara agar tetap berada di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maomao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Mataku tidak bisa berpaling darinya, tidak tahu kenapa aku sangat bahagia melihatnya tertawa begitu.
"Kenapa kau menatapku?" tanya Ahn Yoo lalu berhenti tertawa.
"Aku baru pertama kali melihatmu tertawa seperti itu," jawabku mengatakannya dengan senyum riang.
Dia tidak merespon danlangsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan aku, memilih baju untuk rapat Ahn Yoo hari ini.
"Wah wah wah ... semua bajunya bermerek. Ini bukannya baju limited edition itu? Hebat kamu Ahn Yoo, kalau ku jual mungkin cukup untuk membayar hutangku," kataku sambil menatap baju itu dengan teliti.
Setelah memilih pakaiannya dan meletakkannya di atas ranjang, aku langsung bergegas ke kamarku untuk mandi.
"Aku baru ingat kalau aku akan mencari pekerjaan hari ini, lebih baik pamitan dulu dengan Gunung ss itu," kataku sambil berpakaian rapi dan berniat menjumpai Ahn yoo.
Aku mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
"Ahn Yoo," sapaku saat melihatnya.
Dia menoleh ke arahku tanpa menyahut sapaan ku baru saja.
"Aku mau pergi bekerja, jadi aku ...." Dia memotong pembicaraanku.
"Terus?" Dia menjawab dingin sambil memperbaiki jam tangan yang dipakainya.
"Aku ... aku hanya ingin berpamitan saja. Nanti kalau aku pergi tanpa sepengetahuanmu, kamu akan tersinggung," aku mencoba menjelaskannya padanya.
Dia berjalan keluar dan tak menghiraukanku.
"Ahn - Ahn Yoo ... tunggu!" Aku mengejarnya.
Dia tetap berjalan dan tak memperdulikanku. Aku terus mengejarnya sampai di pintu luar.
"Ahn- Ahn yoo! Tunggu dulu." Aku memegang tangannya. Barulah dia berhenti berjalan, dan menatapku.
"Maaf," kataku langsung melepaskan genggamanku dari tangannya.
Ahn Yoo menatapku dan mengalihkan pandangannya ke jam yang dia pakai.
"Pergilah, tapi kau harus pulang saat makan malam," sahutnya sambil menghela nafas.
"Siap Pak!! Aku akan cepat pulang," jawabku dengan semangat dan senyum yang lebar.
Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan berangkat. Saat melihat mobilnya menjauh, aku melambaikan tanganku kepada Pak Will.
"Dahhh Pak will!!" Aku berteriak.
#Dalam mobil.
"Apa cuma kau saja yang ada di mobil ini???" tanya Ahn yoo kepada Pak Will.
"Maaf Tuan Ji, tentu tidak," sambung Pak Will tersenyum melihat Ji Ahn Yoo yang bersikap kekanak-kanakan.
###
Baiklah aku harus mencari pekerjaan sekarang juga. Kalau tidak Ahn Yoo akan menyantapku.
Aku mencari-cari pekerjaan di sekitar rumah Ahn Yoo, tapi tidak ada.
"Sudah jam 12.00 am, masih belum dapat juga lowongan untukku," decakku mulai mengeluh.
Aku memutuskan untuk berjalan lebih jauh lagi. Sampai aku menemukan sebuah resto yang membutuhkan karyawan. Gajinya lumayan, satu jam dibayar dua ratus ribu, tapi ada persyaratannya.
Tinggi minimal 160 cm. Untungnya tinggiku 162 cm, jadi masih lebih sedikit. Aku langsung masuk dan meminta pekerjaan itu. Untungnya hari itu hanya aku yang melamar. Jadi aku langsung diterima bekerja.
Aku bekerja dengan giat sekali.
Aku sangat berhati-hati saat menyapa pelanggan dan menghidangkan.
Namun sialnya, aku tidak sengaja menyandung kaki kursi pelanggan hingga aku menumpahkan minuman yang kubawa.
"Astaga! Tuan maafkan aku. Jangan marah dulu, aku mohon." Aku cepat-cepat mengambil tissue dan membersihkan pakaian tuan tadi dengan panik.
"Tidak masalah, lagi pula itu bukan disengaja," jawabnya sambil tertawa ramah.
"Tidak, itu memang karena kecerobohan saya. Jadi saya berharap tuan maafkan saya, tapi saya mohon jangan laporkan saya tuan."
"Tenang saja, saya tidak akan melaporkan kamu." Dia berdiri dari kursinya dan menyuruhku berhenti menyalahkan diri sendiri.
"Tapi tuan pakainmu??" Aku menunjuk pakaian yang terkena air minuman itu.
"Tidak masalah, aku akan meminta supirku untuk mengantarkan pakaian bersih."
"Tidak bisa begitu tuan, tunggu sebentar di sini dan jangan pergi kemana-mana." Aku berlari keruang karyawan untuk mengambil hoodie yang kubawa dari rumah Ahn Yoo.
"Ini tuan ... kamu bisa pakai ini. Semoga saja pas untuk tuan." Aku memberinkan hoodie itu padanya.
Tidak mungkin juga dia mengganti pakaian di sini. Aku menariknya ke kamar mandi dan menyuruhnya mengganti pakaian.
Tidak lama kemudian dia keluar dari kamar mandi. Hoodie itu sangat cocok di badanya, dia terlihat keren memakainya.
"Kenapa beberapa hari ini aku selalu ber-urusan dengan laki-laki tampan, hahahha," celetukku dalam hati.
"Ini pas untukku. Besok aku akan mengembalikannya," ujar laki-laki itu ramah.
"Apa? Tidak perlu dikembalikan, kalau tuan suka bisa mengambilnya saja. Anggap sebagai tanda maaf saya," sambungku berniat untuk meminta maaf secara tulus.
"Uhmmm, jangan panggil tuan. Sepertinya usia kita tidak jauh berbeda," katanya sambil tersenyum.
"Ha? Jadi aku harus panggil apa?" tanyaku bingung.
"Panggil saja Joon, Kang Joon".
"Owhh ... Kang Joon, baiklah Joon." Aku mencoba santai ketika berbicara dengannya.
"Kamu? Siapa namamu?" Tanya Joon.
"Oh iya, aku Jane,Kim Jane Soo," jawabku ramah.
"Jane? Nama yang cantik," Kata Kang Joon memujiku.
"Hahahhah, terima kasih. Tapi ngomong-ngomong, aku sedikit familiar dengan namamu," kataku sedikit heran dan mengingat kembali nama 'Kang Joon'. Terasa tidak asing saat mendengar nama ini.
"Benarkah? Mungkin namaku sangat pasaran."
"Bukan, bukan itu maksudnya. Maaf kalau kamu tersinggung," ucapku sambil membungkukkan badan.
"Kamu terlalu sungkan denganku," Kata Kang Joon.
"Iya ... soalnya kamu adalah pelanggan di sini. Aku harus menghormati setiap pelanggan di sini".
"Apa aku hanya kamu anggap pelanggan saja?" tanya Kang Joon memancingku.
"Tentu, kamu memang pelanggan di sini," jawabku santai.
"Artinya kalau di luar kamu tidak akan menganggapku," sambungnya ragu.
"Ehmmm, aku tidak tahu. Sebagian orang lebih dulu melupakanku, jadi aku tidak yakin akan hal itu."
"Apa kamu sedang menyindirku, ha?" Dia bertanya dengan senyum yang ramah.
"Tidak ,aku hanya asal bicara saja, heheheh." Aku tertawa dengan canggung.
"Baiklah, mulai sekarang kita akan menjadi teman, bukan?" Dia maju selangkah ke depanku.
"Ha? Tentu saja. Aku tidak memaksamu untuk berteman denganku, jadi jangan menyesal aku tidak sungkan terhadapmu."
**Bersambung ....
UNTUK READERS TERHORMAT,
AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI YAHHH!😚🌻
Terimakasih🍃😉**
Next ya, ditunggu kelanjutannya.
salam dari TMA
hadir dari imagine& writter