Kisah seorang istri yang diselingkuhi suaminya. Hingga suatu saat ia harus mengambil suatu keputusan yang sulit.
Keputusan apa yang harus dia ambil???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FitriRahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya....
Dalam surat Al Baqarah ayat 227
disebutkan, "Dan jika mereka berketetapan hati
hendak menceraikan, maka sungguh, Allah maha mendengar, maha mengetahui."
Disini dijelaskan Allah SWT tidak melarang adanya perceraian, namun Allah SWT tidak menyukai perceraian.
...💕💕💕💕...
Lima bulan kemudian
Aku masih mondar mandir mencari pekerjaan, tapi sampai saat ini belum ada pekerjaan yang ku dapatkan. Usaha ku kali ini untuk mendapatkan penghasilan hanya berjualan diwarung sembako dan jualan online apa saja yang penting halal. Memang rezeki yang ku dapatkan tidak begitu besar! Tapi setidaknya ada pemasukkan setiap harinya. Yang terpenting lancar.
Terkadang harus terus memutar otak, bagaimana supaya pemasukkan terus bertambah dari pada pengeluaran.
Pusing memang kalau dipikirkan terus menerus, kepala ini rasanya mau pecah. Aku nikmati semua cobaan yang Allah berikan untuk ku. Menangis bukanlah jalan keluarnya, apalagi berdiam diri meratapi nasib yang tak kunjung ada akhirnya! Sedangkan waktu terus berjalan.
Belum lagi masalah perceraian ku yang menyita waktu dan biaya tidak ada akhirnya! Itu juga membuat ku geram pada seorang Abimanan. Tidak mau melepaskan ku, tapi terus saja menyakiti ku. Entah apa yang ada diotakknya, tidak dapat ku bayangkan.
****
Pada bulan kelima setelah mengajukan gugatan perceraian di pengadilan agama. Aku mendapatkan panggilan kembali untuk putusan gugatan perceraian ku dan Abim, kembali disindangkan.
Dipengadilan Agama
Jam 09.00 WIB
Aku datang bersama Luna dan adik ku. Sedangkan dipengadilan sudah ada pengacara ku yang menunggu sejak tadi.
Abim juga sudah datang bersama pengacaranya. Ia menatap ku dengan terus menerus. Aku hanya menunduk dan menjauh darinya.
Jantung ku berdebar tidak karuan. Berdoa dan berharap semoga putusan pengadilan kali ini memihak pada ku.
.
.
Selang waktu setengah jam, persidangan pun dimulai.
Pengacara ku dan pengacara Abim saling beradu argumentasi. Persidangan kali ini sangat luar biasa. Hingga memakan waktu yang begitu lama.
Aku sudah sangat takut jika kali ini, putusan hakim menyusahkan aku. Rasanya seperti menunggu bow waktu yang akan siap meledak.
Tok tok tok... (Hakim mengetok palu untuk beristirahat sebentar).
Mengapa harus istirahat, seharusnya lanjutkan saja. Jantung ku sudah tidak kuat lagi menunggu putusan mu pak hakim. Kata ku dalam hati yang kecewa.
Hakim pun meninggalkan ruang persidangan. Abim bersama pengacaranya ikut keluar juga. Sedangkan aku masih terduduk dikursi, kaki ku lemas karena terlalu gugup menanti putusan hakim.
Luna dan Arif mendekati ku yang masih duduk.
"Kamu gak mau keluar minum dulu, supaya lebih rileks. Gak tegang begitu!" Goda Luna yang matanya melirik kearah ku.
"Minum.. ehmm! Boleh juga! Tapi?" Kata ku yang masih merasakan lemasnya kaki ini.
Arif memotong pembicaraan ku. Kemudian ia berkata. "Udah ayok, gak pakai lama!"
Tangan ku ditarik oleh Arif lalu menuntun kearah kantin. Aku berjalan mengikuti langkah kaki Arif. Luna juga berjalan pas disamping ku.
Dikantin ..
Aku, Luna dan Arif duduk, kemudian Arif memanggil salah seorang penjaga kantin.
"Pak!" panggil Arif sambil melambaikan tangan ke arah seorang lelaki tua.
Lelaki tua itu menghampiri kami yang sedang duduk bertiga! "Mas dan mbak mau pesan apa?" Katanya!
"Aku mau kopi susu, kalian berdua?" Tanya Arif pada aku dan Luna.
"Kalau aku mau teh manis panas!" Jawab Luna.
"Aku es teh manis aja! Biar suasana hati ku gak panas lagi." Jawab ku bercanda!
"Ada yang lain lagi, mau dipesan?" Tanya Bapak tua itu.
"Gak ada pak! Terima kasih dan gak pakai lama!" Ucap Arif.
Bapak tua itu pergi, untuk membuat minuman yang kami pesan. Sekitar Lima menit pak tua kembali membawa pesanan kami.
Kopi, teh manis panas dan es teh manis ditaruhnya dimeja. Lalu berkata. "Silahkan diminum mas dan mbak!"
"Berapa semuanya pak?" Tanya Arif yang mengeluarkan dompetnya dari kantong celana.
"Dua belas ribu mas!" Katanya!
"Ini pak ambil aja kembaliannya! Dan terima kasih!" Kata Arif dan memberikan uang lima belas ribu rupiah kepada pak tua itu!
"Baik mas, terima kasih!" Diambilnya uang tersebut dari Arif kemudian ia pergi.
Aku meminum es teh manis dengan sekali tegukan. Rasanya begitu nikmat dengan rasa dingin yang menyenjukkan tenggorokan ku.
Ku taruh gelas kosong itu dimeja.
Luna dan Arif terlihat heran, ketika aku yang sudah menghabiskan minuman ku!
Luna lalu bertanya kepada ku! "Mau tambah lagi?"
"Enggak. Udah cukup!" Jawab ku dan tersenyum kemereka berdua.
Kami bertiga berbincang-bincang membahas apa saja sambil menghabiskan minuman dan menunggu waktu istirahat usai.
Dering ponsel ku bergetar, lalu aku mengeluarkan dari dalam tas. Ku lihat ada panggilan dari Abim. Tapi tidak kuangkat! Ku biarkan saja terus bergetar didalam tas ku!
Aku tidak mau berbicara dengan Abim untuk saat ini, buat apa? Jika ingin bicara, temui saja pengacara ku! Aku sudah lelah, kalau harus terus menerus bertengkar! Ada saja yang dibahas tidak ada akhirnya yang ada marah, ribut! Capek rasanya. Omel ku dalam hati.
****
Setengah jam istirahat, persidangan pun dimulai kembali!
Hakim sudah mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak. Sekarang tinggal hakim memutuskan sidang kali ini.
Suasana hening, ketika hakim berbicara untuk memberikan suatu putusan. Jantungku berdebar kencang. Mata ku pejamkan, tidak kuat rasanya kalau hakim tidak memihak ku.
Bismillah ku ucapkan dalam hati
Terdengar sangat jelas saat hakim mengatakan gugatan perceraian ku dikabulkan. Lalu mengetok palu sebanyak 3x. Yang artinya putusan hakim sudah final.
Tok tok tok..
Alhamdulillah ku ucapkan atas rasa syukur kepada sang khalik. Air mata ku menetes bahagia. Sungguh tak terkira rasanya, aku bahagia. Aku dan Abim akhirnya resmi berpisah.
Aku bangun dari duduk ku dan berdiri. Seketika Abim datang dan mendekat kearah ku. Ia berdiri pas dihadapan ku.
"Puas! Semua yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan!" Abim berkata dengan wajah sinisnya. Lalu pergi begitu saja dari hadapan ku.
Aku tidak membalas ucapan Abim. Ku lihat ia pergi semakin jauh dari hadapan ku! Ada sakit yang ku rasakan didada.
Lelaki yang dulu pernah mengisi hari-hari ku. Canda tawa, serta cerita sedih didalam rumah tangga kita ternyata sudah berakhir. Tidak bisa lagi aku merindukan lelaki itu.
Kerinduan yang mendalam tetapi memang ini harus ada akhirnya walaupun harus berpisah dengan cara seperti ini.
Ia akan tetap menjadi ayah anak-anak ku! Tidak akan pernah ku pisahkan anak-anak darinya. Walaupun putusan pengadilan hak asuh jatuh pada ku. Aku tidak akan melarangnya bertemu dengan anak-anak.
****
Pengacara memberi selamat pada ku. Begitu juga dengan Luna dan Arif.
"Mbak Manda, semua sudah jelas! Mengenai hak asuh sudah ditangan mbak Manda. Untuk yang lainnya nanti kita akan bicara dilain waktu lagi." Ungkap Tommy.
"Terima kasih pak!" kata ku lalu berjabat tangan dengannya.
Aku pulang bersama dengan Luna yang mengantar ku kerumah. Sedangkan Arif langsung pergi karena ada keperluan.
Terima kasih yang sudah setia dan mengikuti cerita ku. Dukungan kalian sangat membantu ku dalam berkarya.
...🙏🙏🙏...