Halo semua. Saya penulis pemula.
Mohon dilike dan diberi masukan, supaya saya semangat menulis.
Saya tidak pernah pacaran, saya tidak tahu apa itu jatuh cinta. Yang jelas saya tahu, sekarang kamu istri saya. Itu berarti saya bertanggung jawab menjaga dan melindungi kamu.
- Gerald Alexandro Bramasta
Kamu ganteng tapi kamu begitu dingin. Aku tidak akan menaruh cinta di atas pernikahan ini.
- Gita Ayu Berlian
Cerita ini mengisahkan sepasang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di universitas yang sama.
Mereka dinikahkan oleh nenek kandung Gerald yang sudah dianggap nenek sendiri oleh Gita. Nenek baik, begitu Gita menyebutnya. Nenek yang memberi namanya.
Akankah Gita bertahan dengan kesalahpahahamannya di awal pernikahan ini? Atau apakah nanti justru dia yang terlebih dahulu mencintai Gerald?
Selamat menikmati!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gelora Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Pernikahan.
Istana mewah kediaman nenek sangat heboh hari ini. Banyak orang yang datang membantu mendekorasi dan mempersiapkan pesta pernikahan untuk besok. Rumah semakin berwarna dengan kedatangan kedua orangtua Gerald dari Kalimantan. Seperti biasa, Gerald akan menghindar dari ayahnya. Dia bergegas meninggalkan ruang keluarga, pergi ke taman belakang. Sementara Gita sedang asiknya bercanda dengan bunda Siti calon mertuanya.
Banyak hal yang dipersiapkan, mulai dari percobaan gaun pengantin, menyulap ruang tamu menjadi panggung mewah bak kerajaan,, sampai dengan memastikan makanan yang tidak akan mengecewakan. Nenek telah mengundang pengusaha besar di Sumatera Utara, tak lupa juga dengan rekan almarhum suaminya. Dia ingin mereka ikut menyaksikan besok, hari bahagianya hari dimana kedua cucunya bersanding di pelaminan.
Gita yang tidak tahu apa-apa tentang hubungan Gerald dan ayahnya dibuat bingung oleh tingkah Gerald yang lama kelamaan dia sadari. Pasalnya, sejak ayahnya tiba di rumah nenek tak sekalipun Gerald muncul diantara mereka. Berbeda dengan Gita yang menyambut bahagia kedatangan mereka, memberi pelukan dan salam hormat terbaik darinya. Gita mencari keberadaan Gerald yang hilang entah kemana. Dia mulai berjalan menyusuri setiap ruangan, tidak ada. Dia berlari ke balkon atas, dari sana dia melihat Gerald duduk di kursi taman asik dengan laptopnya. Dasar manusia aneh. Apa kamu sangat membenci pernikahan ini, sampai sampai secuilpun tenaga tak kau berikan membantu yang lain? , Gita berdengus kesal dalam hati.
Sementara di taman belakang rumah, Gerald menyempatkan diri memantau perkembangan bisnisnya di Bandung. Rendi, teman sejurusannya di teknik elektro yang juga menjadi tangan kanannya dalam mengelola usahanya mengabari Gerald bahwa semua aman. Dia juga memberi tahu kabar baik, Persib Bandung memesan seribu paket perlengkapan sepak bola untuk pemain U-13 mereka. Gerald sedikit puas mendengarnya.
Belum lagi dia membaca grup mereka, MU memenangkan pertandingan kemarin. Dia adalah penggemar club yang satu itu. Nenek yang selalu bercerita padanya semalaman membuatnya tak bisa menonton pertandingan sengit itu. Dia tersenyum membaca info dari temannya. Timnya menang, dia merasa memenangkan sebuah pertandingan juga. Semua yang berhubungan dengan bola adalah candu untuknya, maka tak heran roomchat di ponselnya hampir dipenuhi dengan grup sepak bola.
Gita yang menatapnya dari atas makin dibuat kesal olehnya. " Dasar pria aneh. Mana ada lagi jomblo seganteng kamu. Segitu cintanya kamu sama kekasihmu sampai kamu mengasingkan diri dari yang lain yang justru sibuk mempersiapkan pernikahanmu. Tapi tenang, jika itu pilihanmu aku tak akan memberi cinta di atas pernikahan ini. Aku hanya ingin nenek bahagia, itu saja. Lanjutkan hubunganmu dengan wanitamu itu, senyummu begitu tulus untuknya, bahkan untuk ayahmu pun kau tak memberinya sedari tadi ", Gita meninggalkan balkon dan kembali ke bawah membantu wedding organizer.
Gita yang baru turun dari tangga dipanggil oleh bunda Siti. Dia memasangkan mahkota kecil di kepala Gita. " Mantap, kamu makin cantik menggunakan ini Git. Besok ini juga dipakai ya sayang, kamu pasti tampil kayak bidadari. Gerald pasti akan memujimu ya walaupun dalam hati, anaknya begitu Git, malu malu gak jelas hahahahah ", bunda Siti melepas mahkota itu dari kepala Gita. Gita mengutuki Gerald dalam hatinya, itu membuatnya tampak melamun. Bunda yang menyadarinya langsung bertanya, " Kenapa nak? Apa kamu tak menyukainya? Atau kita ganti ke warna yang lain? Katakan cantik ", ucapnya seraya memegang tangan Gita.
Jika sudah begini hati Gita pasti luluh, dia adem sekali melihat perlakuan dari calon mertuanya itu. " Enggak bunda, Gita suka. Terimakasih bunda ", mereka berdua berpelukan. Gerald yang hendak pindah tempat menuju lantai dua tak sengaja melihat pemandangan itu. Dia melihat senyum dan pelukan yang teramat tulus di antara dua wanita itu. Dalam hatinya dia berkata,
Kamu ternyata spesial juga di hati bunda saya. Hebat sekali kamu , dia melanjutkan langkahnya ke atas.
Herman izin pergi sebentar untuk survey ke salah satu usaha yang ditinggalkan oleh ayahnya. Dia baru mendapat kabar ada masalah yang terjadi disana, nenek mengizinkannya namun harus cepat kembali dan beristirahat untuk besok. Gerald yang sedang berada di lantai dua memandang kepergian ayahnya, diapun segera turun ke bawah membantu yang lain. Sayangnya Gita sedang mengobrol di kamar bersama bunda Siti. Dia tak melihat kerja keras Gerald kali ini.
Nenek tersenyum bahagia melihat cucu tampannya yang gagah, sebentar lagi akan jadi suami, pelindung anak orang. Nenek Ajeng bangga dengan cucunya, bahkan lebih dari itu.
" Kamu capek sayang ? ",sapanya pada Gerald yang sedang membantu mengangkat meja.
" Tidak nek, saya akan merasa badan saya sakit kalau tidak bekerja ", jawabnya seraya berjalan meninggalkan nenek. Iya, dia terbiasa olahraga dan melakukan sesuatu untuk menjaga kesehatan tubuhnya serta stamina untuk bermain sepak bola di lapangan.
Seharian sudah persiapan dilakukan, sekarang ruangan itu telah berdiri begitu megahnya. Semua orang yang ikut terlibat mengacungkan jempol dan tepuk tangannya. Mereka bahagia dengan kerja keras mereka. Sekarang saatnya Gita kembali ke rumahnya, besok dia akan datang bersama keluarganya. " Gerald, antarkan Gita ya nak " , titah bundanya. Gerald tak mungkin menolak permintaan itu. Dia segera mengambil kunci mobil.
Di perjalanan tak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Gita masih kesal dengan Gerald yang tidak ikut membantu sama sekali menurutnya, sedangkan Gerald seperti biasa tidak terlalu suka mengeluarkan suara. " Stop, rumahku disini. Silahkan pulang tuan sombong ", Gita turun dari mobil. Di depan rumah Gita berdiri kedua abangnya yang sudah tiba dari Jakarta sejak sore tadi. Mereka sengaja pulang untuk menyaksikan hari bahagia adik perempuan mereka itu. Melihat itu Gerald ikut turun menyusul Gita.
Tampak Gita sangat merindukan kedua abangnya. Mereka sangat dekat sejak kecil. Gita langsung berlari memeluk mereka berdua. Gerald yang sudah diberi tahu nenek tentang saudara Gita langsung mengerti. " Kamu Gerald? Gagah sekali kamu. Eh iya maafkan adik kami, dia terbiasa manja jika bertemu dengan kami ", ucap sang abang paling tua pada Gerald yang sudah mengulurkan tangannya.
Belum juga dibalas Gerald, Gita sudah kesal.
" Kenapa mesti minta maaf bang? Gita kan emang mencintai kedua abang Gita, Gita akan tetap jadi gadis kecilnya abang kan ", Gita menatap tajam ke arah Gerald. Gerald hanya memasang wajah datar, diapun pamit pulang seraya berkata " Sampai jumpa besok bang ". Kedua abang Gita membalasnya dengan senyuman, berbeda dengan Gita yang terus saja fokus pada kedua abangnya.
Gerald kembali ke rumah nenek, bercerita dengan nenek di kamarnya. Sengaja dia melakukannya, dia tidak ingin bertemu dengan ayahnya di ruangan keluarga. Nenek memeluknya erat, Gerald sangat menyayangi neneknya. Dia ingin neneknya selalu sehat dan bahagia. Dengan apapun itu pasti dia lakukan, termasuk dengan pernikahan ini.