Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Bisik Tetangga
Bab 30
Bisik Tetangga
Dika sudah bersiap sejak tadi untuk berangkat kembali pulang menuju rumah dinasnya. Ia ingin segera bertemu dengan Lyra, memeluknya erat, dan membuktikan cintanya. Bayangan Lyra yang tersenyum senang menyambut kedatangan dirinya bersama sang ibu sudah menari-nari di pelupuk matanya, membuatnya semakin tidak sabar untuk segera tiba di rumah.
Tas berukuran sedang milik ibunya ia masukkan ke bagasi dengan hati-hati. Setelah memastikan sang ibu duduk dengan nyaman di kursi penumpang, barulah ia mengendarai mobilnya dengan perlahan, meninggalkan rumah masa kecilnya.
Jalanan tampak cukup sepi pagi itu. Mungkin karena hari Sabtu, jadi para pegawai sipil dan beberapa sekolah libur sehingga tidak ada aktivitas yang menyebabkan jalanan menjadi sesak.
"Iqbal kemana Bu?" tanya Dika, memecah keheningan di antara mereka.
"Biasa lah kalau harus libur begini. Sudah pergi mancing dia pagi-pagi sekali sama temen-temennya kalau hari sabtu begini."
"Bu, dia.... nggak tahu soal rencana ku mau menikah lagi kan Bu?" tanya Dika dengan nada khawatir, takut jika Iqbal sudah mengetahui niatnya.
"Nggak... Ibu nggak ada bilang apa-apa sama dia." Bohong Marina. "Tapi Dik, kamu nggak bisa selamanya menutupi hal ini. Ingat, keburukan apapun yang di tutupi pasti nggak akan bertahan lama," ujar Marina menasehati, berharap anaknya bisa sadar dan menghentikan perbuatannya. Ia tidak ingin anaknya semakin terjerumus dalam hal yang salah dan menyakiti banyak orang.
"Dika tahu Bu. Nanti Dika pasti bilang ke semua. Tapi nggak sekarang, Dika belum siap."
"Jangan sampai kamu mengecewakan perasaan orang Dik. Kalau sudah kecewa berat apalagi sakit hati, akan sulit membalikkan semua seperti sebelumnya."
Dika, terdiam. Apa yang ibunya katakan tidak lah salah dan ia menyadari hal itu. Tetapi, saat ini ia hanya fokus kepada Lyra, bagaimana ia harus bisa meyakinkan wanita itu, dan memilikinya tanpa harus kehilangan.
Sesekali, dengan gelisah, Dika melirik handphonenya yang tergeletak di dashboard mobil. Tidak ada pesan, apalagi telepon, dari Lyra sejak tadi malam. Hatinya mulai diliputi kecemasan dan kerinduan yang mendalam. Namun ia berusaha menepis pikiran buruk yang mulai menghantuinya, mengingat kejadian sebelumnya, saat ia berburuk sangka pada Lyra yang ternyata sedang sakit. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, tidak ingin menyakiti hati Lyra lagi.
-
-
-
"Siapa sih dari tadi ngetuk rumah si janda itu?" tanya Darsih salah satu warga yang tinggal di dekat situ. Ia melihat beberapa orang datang ke rumah Lyra dan mengetuk pintu.
"Nggak tahu, Dar. Dari tadi memang ku lihat mereka bolak balik. Tapi kemarin, aku sempat lihat si Lyra itu pergi bawa tas gede. Nggak tahu pergi kemana," kata Murti, pemilik warung yang dekat rumah Lyra.
Warung di pertigaan itu memang strategis, posisinya memungkinkan untuk mengamati keadaan depan rumah Lyra karena hanya berjarak sekitar 30 meter saja dari kontrakan. Di sana, Darmi, Darsih, dan Misna, yang merupakan tetangga Lyra seringkali menghabiskan waktu untuk nongkrong, berkumpul, dan bergosip. Namun, yang paling dekat dengan Lyra adalah Dwi, tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan Lyra. Ekspresi Dwi mencibir, sebelum akhirnya ia mulai berbicara.
"Aku juga lihat dari dalam. Jangan-jangan dia kabur bawa barang berharga Pak Dika." Cerca Dwi.
"Masa sih? Bukannya dia mau nikah ya sama Pak Dika?" Siti ikut menyela.
"Tau dari mana?" tanya Darsih.
"Tahu dari Pak Bakri, katanya Pak Dika minta carikan penghulu dekat sini, buat nikahnya dia minggu ini," jelas Siti lagi.
"Nah kan! Pasti kabur dia itu, nggak mau. Hanya mau morotin uang dan harta saja," cerca Dwi.
"Masa sih? Tapi masuk akal juga sih. Kalau lihat yang datang itu kan mereka kayak mau pasang tenda ya."
Semua memperhatikan mobil angkutan yang di gunakan orang-orang yang sejak tadi berdiri di pintu kontrakan Lyra. Dari luar memang terlihat besi-besi panjang yang biasa di gunakan untuk membangun tenda.
"Walah, jadi dia kabur? Eh, bener apa nggak sih?" tanya Darsih.
"Tinggal lihat saja besok. Kalau acaranya nggak jadi berarti beneran kabur. Perempuan nggak bener kan emang begitu," kata Dwi.
-
-
-
Di tempat berbeda ketika hari sudah beranjak siang. Lyra dan Monika baru pulang berbelanja. Lyra menjadi akrab dengan Monika hanya dalam sehari. Kepribadian Monika yang ramah namun tegas membuat Lyra merasa aman dan nyaman berada di dekatnya. Dan hari ini, lagi-lagi Monika banyak membantu Lyra.
"Terima kasih Mbak Monika. Rasanya, saya ngerepotin terus."
"Nggak kok, aku malah senang punya tetangga ramah dan baik seperti kamu. Dengan begini kamar kamu sudah aman, sudah ada kunci ganda di dalam juga sudah mengganti kunci luar. Jangan mudah percaya sama orang-orang sini, takut kamu menyesal nantinya."
Lyra tertegun. Ucapan Monika yang spontan keluar itu menampar dirinya yang dulu begitu polos mudah percaya pada omongan Dika.
"Iya Mbak. Saya akan ingat baik-baik itu."
"Oh ya, kita belum bertukar nomor kontak. Sini hape mu. Dan juga cukup panggil aku Monik saja, aku biasanya di panggil begitu.
"Hehehe, iya Mbak."
Lyra memberikan handphonenya tanpa ragu dan Monika mengetikan nomor kontaknya disana.
"Jangan sungkan menghubungi ku. Aku senang punya teman kosan seperti mu. Ya sudah, aku mau tidur dulu, ngantuk."
"Iya Mbak."
Monika masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Lyra merapikan beberapa barang yang ia beli.
Lyra melipat kasur kapur kosan dan menyimpannya di sudut ruangan. Lalu membentangkan karpet lantai spon juga sebuah bantal yang baru ia beli. Ada juga Rice Cooker mini dan dispenser kecil ia letakkan sejajar di dinding. Hanya itu saja, yang Lyra beli mengingat kosan tidak aman, juga ia harus menghemat uang tabungan.
Uang tabungan Lyra berasal dari hasil kerja membuat pesanan kue selama ini, juga hasil dari mahar dari Irwan berupa beberapa perhiasan emas yang ia jual dulu. Setelah membayar uang kosan untuk 3 bulan ke depan, tabungannya itu hanya cukup untuk ia bertahan selama 4 bulan dalam keadaan super hemat setelah mengeluarkan sebagian besar biaya perjalanannya menuju ke sini.
"Aku harus cepat cari kerja. Aku nggak bisa terus-terusan nganggur seperti ini," gumam Lyra lirih setelah memeriksa sisa uangnya.
-
-
-
Kembali kepada Dika di waktu yang hampir bersamaan, Dika dan Ibunya sudah sampai di kawasan rumahnya. Dika yang sejak dalam perjalanan selalu terbayang Lyra yang menyambutnya dengan senyum manis itu, ikut membuat lelaki itu tersenyum-senyum sendiri. Namun senyumnya tidak tidak bertahan lama ketika melihat dari kejauhan tak ada aktivitas di depan rumah Lyra. Seharusnya, hari tenda sudah berdiri dan nanti malam, akan di dekorasi minimalis untuk acara mereka besok pagi.
Dika jadi gelisah, apalagi sejak tadi malam ia tidak mendapat sedikit kabar pun dari kekasih gelapnya itu.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
benerannn psikopat cinta 🤣