"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Tiga Kata Di Antara Keraguan
Cahaya matahari pagi yang menerobos celah gorden terasa menyilaukan bagi mata Hannah yang masih bengkak. Ia mengerjap-erjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Rasa pening langsung menyerang kepalanya begitu ia mencoba bangun akibat terlalu banyak menangis semalam.
Ingatan tentang kejadian kemarin menghantamnya satu per satu. Ia menolak ikut ke Bogor karena insecure pada Annisa. Ia memasak Lasagna sendirian seperti orang gila. Ia menangis di meja makan. Dan akhirnya, ia tertidur dengan perasaan hancur karena merasa diabaikan.
Hannah menghela napas berat, menatap langit-langit kamar. Hari baru, kesedihan lama, batinnya pahit.
Ia turun dari ranjang, menyeret langkah kakinya keluar kamar menuju dapur. Ia sudah membayangkan pekerjaan rumah yang menantinya: mencuci tumpukan panci berminyak, membersihkan tepung yang bertebaran di lantai, dan membuang sisa Lasagna dingin yang mungkin sudah tidak enak karena didiamkan semalaman.
Namun, saat Hannah sampai di ambang pintu dapur, langkahnya terhenti mendadak.
Matanya membelalak.
Dapur itu bersih.
Sangat bersih. Tidak ada tepung di meja, tidak ada kulit bawang di lantai. Wastafel yang semalam penuh dengan perabotan kotor kini kosong dan kering. Piring-piring sudah tersusun rapi di rak peniris. Lantai dapur bahkan terasa kesat, tanda sudah dipel.
Hannah berjalan mendekat ke meja makan dengan bingung. Di sana, loyang Lasagna masih ada, tapi isinya sudah berkurang hampir setengahnya. Piring kotor bekas Hannah semalam juga sudah tidak ada, berganti dengan meja yang lapang.
Jantung Hannah berdegup kencang. Mas Akbar pulang? Mas Akbar makan ini? Dan dia... membereskan kekacauan ini?
Hannah merasakan dadanya menghangat. Ada rasa haru yang menyelip di antara rasa sedihnya. Suaminya yang lelah bekerja seharian, pulang larut malam, tapi masih menyempatkan diri membersihkan dapur demi istrinya.
Hannah berbalik hendak kembali ke kamar untuk mengambil ponsel, namun matanya tertumbuk pada nakas di samping tempat tidurnya ia baru sadar ada sesuatu yang berbeda di sana.
Ada buku resep bersampul tebal miliknya di atas nakas. Buku itu sedikit berpindah posisi.
Hannah ingat betul semalam ia meletakkannya begitu saja sebelum ia ketiduran.
Didorong rasa penasaran yang membuncah, Hannah duduk di tepi ranjang dan mengambil buku itu dengan tangan gemetar. Buku itu terbuka tepat di halaman resep Lasagna. Di bagian sudut kanan bawah, yang kertasnya sedikit keriting karena terkena noda saus, terdapat tulisan tangan tegak bersambung yang rapi. Tinta hitamnya terlihat kontras dan tegas.
Hannah membacanya perlahan.
”Rasanya bintang lima. Terima kasih sudah masak susah-susah buat Mas. Masakannya enak, tapi Mas lebih suka senyum kamu. I love you.”
Hannah terpaku. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Ia membaca kalimat terakhir itu berulang-ulang. I love you. Aku mencintaimu.
Tiga kata itu seharusnya membuat hati seorang istri melambung tinggi ke angkasa. Seharusnya membuat pipinya merona merah dan senyumnya merekah lebar. Tapi bagi Hannah, tiga kata itu justru terasa seperti beban berat yang menindih dadanya.
Bukannya bahagia, air mata Hannah justru menetes lagi. Kali ini bukan karena sedih, tapi karena takut dan ragu.
Cinta? tanya Hannah dalam hati, skeptis. Benarkah Mas Akbar mencintaiku?
Otak logis Hannah mulai bekerja, didorong oleh rasa insecure yang sudah mengakar kuat.
Tiga bulan.
Usia pernikahan mereka baru berjalan tiga bulan. Sembilan puluh hari. Waktu yang sangat singkat untuk sebuah perasaan bernama "cinta" yang mendalam. Mereka menikah bukan karena pacaran bertahun-tahun. Mereka menikah karena Abah dan orang tua Akbar bersahabat. Mereka menikah karena perjodohan.
Apa mungkin cinta tumbuh secepat ini? Dalam tiga bulan?
Hannah menggeleng pelan. Ia tidak percaya. Baginya, tulisan "I love you" itu hanyalah bentuk tanggung jawab Akbar. Akbar adalah pria yang sholeh, pria yang baik, pria yang memegang teguh komitmen. Dia menulis itu mungkin hanya untuk menghibur Hannah, agar Hannah tidak sedih, agar Hannah merasa dihargai setelah lelah memasak.
Itu adalah "cinta" dalam konteks kewajiban suami kepada istri (mawaddah wa rahmah yang dipaksakan), bukan "cinta" yang menggebu-gebu dan romantis antara pria dan wanita.
Dia cuma kasihan sama aku, bisik suara jahat di kepala Hannah. Dia lihat aku nangis, dia lihat aku masak capek-capek, jadi dia tulis itu sebagai upah lelahku. Itu bukan perasaan yang sebenarnya. Kalau dia punya pilihan, mungkin dia lebih memilih wanita yang setara dengannya.
Hannah menutup buku resep itu dengan perlahan, seolah menutup kotak harapan yang tak berani ia buka. Ia takut jika ia percaya tulisan itu, lalu suatu hari nanti Akbar bertemu dengan wanita yang benar-benar ia cintai wanita dewasa yang satu frekuensi dengannya maka hati Hannah akan hancur berkeping-keping. Lebih baik ia menganggap tulisan itu sebagai basa-basi manis rumah tangga. Lebih aman begitu.
"Hannah?"
Suara baritone yang serak khas bangun tidur terdengar dari arah pintu.
Hannah tersentak kaget. Ia buru-buru menyembunyikan buku resep itu di bawah bantal, lalu menghapus air matanya dengan punggung tangan secara kasar.
Akbar berdiri di sana. Rambutnya berantakan, wajahnya masih bantal, mengenakan kaos oblong putih dan sarung kotak-kotak. Ia tersenyum tipis melihat Hannah yang sudah bangun.
"Assalamualaikum," sapa Akbar.
"Wa’alaikumsalam," jawab Hannah lirih, tidak berani menatap mata suaminya.
Akbar melangkah masuk, lalu duduk di kursi meja rias, menghadap Hannah yang duduk di tepi ranjang. Jarak mereka hanya satu meter, tapi terasa berkilo-kilometer bagi Hannah.
"Sudah lihat dapurnya?" tanya Akbar lembut.
Hannah mengangguk. "Sudah. Makasih ya, Mas. Harusnya Hannah yang beresin. Mas pasti capek banget pulang dari Bogor, malah nyuci piring tengah malam."
"Nggak apa-apa. Mas senang melakukannya," jawab Akbar tulus. "Lagipula, bayarannya setimpal. Lasagna-nya enak banget, Dek. Mas nggak bohong. Itu Lasagna paling enak yang pernah Mas makan. Habis setengah loyang Mas makan."
Hannah meremas ujung selimutnya. Pujian itu. Tulisan itu. Semuanya terasa terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan.
"Mas..." Hannah memberanikan diri mengangkat wajah, menatap mata elang suaminya. "Mas nggak perlu nulis kayak gitu."
Kening Akbar berkerut bingung. Senyumnya memudar. "Nulis apa?"
"Tulisan di buku resep," suara Hannah bergetar. "Mas nggak perlu nulis... kata-kata cinta itu... cuma buat nyenengin hati Hannah. Hannah tahu kok, kita nikah karena dijodohin. Kita baru nikah tiga bulan, Mas. Hannah tahu Hannah masih banyak kurangnya, masih kanak-kanak. Mas nggak usah paksa perasaan Mas biar Hannah nggak sedih."
Akbar tertegun. Ia menatap istrinya dengan pandangan tak percaya. Ia menulis itu dari hati yang paling dalam, hasil kontemplasi sunyi semalam, tapi Hannah justru menganggapnya sebagai kepalsuan?
Akbar menghela napas panjang, lalu bergeser duduk di samping Hannah di tepi ranjang. Hannah refleks menggeser tubuhnya menjauh, tapi Akbar menahan tangannya. Genggaman Akbar hangat dan kuat.
"Dek, lihat Mas," pinta Akbar tegas.
Hannah menoleh ragu-ragu.
"Kamu pikir Mas tipe laki-laki yang suka main-main dengan kata cinta?" tanya Akbar serius. "Kamu pikir Mas akan nulis I love you cuma karena kasihan? Demi Allah, Hannah. Mas nggak pernah sembarangan bicara soal hati."
"Tapi kita baru tiga bulan, Mas..." cicit Hannah, air matanya mulai menggenang lagi. "Cinta itu butuh waktu. Di luar sana ada banyak wanita yang lebih pinter, lebih dewasa, lebih nyambung sama Mas. Hannah cuma gadis dua puluh tahun yang bisanya bikin repot."
Akbar menggeleng tegas.
"Tiga bulan itu bukan waktu yang kosong, Dek," bantah Akbar. "Tiga bulan itu sembilan puluh hari Mas bangun lihat wajah kamu, makan masakan kamu. Dengar celoteh kamu soal kuliah. Cinta itu nggak butuh waktu bertahun-tahun buat tumbuh. Kadang, dia datang diam-diam lewat hal-hal sederhana."
Akbar mengangkat dagu Hannah agar menatapnya lurus.
"Perjodohan itu cuma jalan, Dek. Cuma pintu masuknya. Tapi apa yang terjadi di dalam rumah ini, perasaan yang tumbuh setiap hari... itu nyata. Mas sayang sama kamu bukan karena disuruh Abah. Tapi karena kamu istri Mas. Kamu pelengkap Mas."
"Annisa..." gumam Hannah, menyebutkan akar ketakutannya.
"Annisa itu hanya rekan kerja. Titik," potong Akbar cepat dan tegas. "Yang ada di sini, di rumah ini, di masa depan Mas, cuma kamu."
Hannah menatap mata itu. Ia mencari kebohongan, tapi hanya menemukan ketulusan yang dalam dan sedikit rasa frustrasi karena sulit meyakinkan istrinya.
Hati Hannah goyah. Ia ingin percaya. Sungguh, ia ingin sekali menghambur ke pelukan Akbar dan menangis.
Namun, bayangan mimpi itu masih terlalu kuat. Rasa rendah dirinya terlalu dominan. Bagaimana jika rasa sayang Akbar itu hanya euforia pengantin baru? Tiga bulan masih fase bulan madu, bukan? Bagaimana jika nanti di bulan keenam atau setahun lagi, Akbar bosan dengan sifat kekanak-kanakannya?
Hannah melepaskan tangan Akbar perlahan. Ia berdiri, menciptakan jarak fisik lagi.
"Maaf, Mas," ucap Hannah pelan, memutus kontak mata. "Hannah... Hannah belum bisa percaya sepenuhnya. Hannah takut kalau Hannah percaya sekarang, nanti Hannah sakit hati."
"Hannah mau mandi. Nanti telat kuliah," lanjutnya, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi, meninggalkan Akbar yang duduk terpaku di tepi ranjang dengan tangan kosong.
Akbar menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Bahunya merosot lemas. Pernyataan cintanya yang pertama, ditanggapi dengan keraguan yang menyakitkan.
"Susah ya meyakinkan seseorang yang membenci dirinya sendiri," gumam Akbar pada dirinya sendiri, tersenyum kecut.
Namun, Akbar tidak marah. Ia justru semakin sadar bahwa luka insecure di hati Hannah cukup dalam. Tiga bulan pernikahan ternyata belum cukup untuk menghapus ketakutan gadis itu akan dunia mereka yang berbeda.
"Nggak apa-apa," bisik Akbar, menguatkan hatinya sendiri. "Hari ini kamu ragu. Besok Mas akan bilang lagi. Lusa Mas bilang lagi. Sampai kamu percaya kalau kamu pantas dicintai."
Di dalam kamar mandi, di bawah guyuran air shower, Hannah menangis lagi. Ia menangis karena ia membenci dirinya yang peragu. Ia membenci dirinya yang tidak bisa menerima kebahagiaan yang disodorkan di depan mata.